28 Oktober — Mengisi Sumpah Pemuda
October 28, 2011 § 1 Comment
Demonstrasi tidak salah, hanya saja tidak lagi efektif untuk menyuarakan kepentingan pemuda. Itu pendapat saya.
Tweet saya hari ini:
- Jam kuliah malah demo, begitu lulus paling-paling skillnya culun. Kerja gak bisa.. Bisanya baris aje ikut korlap.
- Kuliah bayarnya mahal, cari kerjaan part-time biar bisa nambahin biaya kuliah sambil cari pengalaman. Jadi, ntar lo lulus gak culun2 amat..
- Lo bisa jadi pemuda yg ngubah keadaan negara hari ini, tanpa harus ikut-ikut demo. Lo kuliah yg bener, cari pengalaman yang bagus.
- Kalo seneng demo, karena suka teriak-teriak. Mending les vokal sono.. Masuk ke elfa’s secioria, ikut Choir games, bikin Bangga Indonesia.
- Kalo seneng demo, krn suka kumpul-kumpul bikin aksi. Mending gabung sm
@IndonesianYouth sana. Bikin gerakan yg jelas. Ya gak@AlandaKariza?
Demikian pesan singkat saya untuk pemuda-pemudi Indonesia. Ada pendapat lain?
ps: gambar diatas hasil karya dari komikus favorit saya di http://ndableg.com ..
Catatan tentang “Solo Initiatives” dan Rio+20
July 20, 2011 § Leave a Comment
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup berusaha untuk memperkuat perannya dalam tatanan global dengan meramu paket rekomendasi yang beberapa hari lagi disebut sebagai “Solo Initiatives”. Karenanya, Indonesia menjadi host-country dari sebuah dialog yang dinamakan: High Level Dialogue on Institutional Framework on Sustainable Development yang diadakan di Solo, 19-21 Juli 2011. Catatan ini bukan catatan harian si boy, tapi hasil pendengaran saya.
—-
Mengenai “Sustainable Development” atau juga dikenal sebagai Pembangunan Berkelanjutan, ada beberapa yang harus dirubah, utamanya adalah studi-studi yang dilakukan dari sekedar mendalami masalah lingkungan hidup, kini lebih jauh hingga keterkaitannya dengan masalah-masalah ekonomi dan sosial. Dus, tidak lagi sekedar membahas masalah seperti: preservasi ekosistem; sustain life support system, biodiversity, biocapacity; adaptasi dan mitigasi perubahan iklim; dan manajemen air bersih.
Tapi juga membahas hal-hal yang lebih kompleks seperti: (a) dari sisi ekonomi; ketahanan pangan, ketahanan energi, kebutuhan dasar, pembangunan infrastruktur, penghapusan kemiskinan, (b) dari sisi sosial; pembangunan sumber daya manusia, kesehatan, keadilan sosial, dan keterhubungan sosial. Luasnya bidang yang menjadi concern dari Pembangunan Berkelanjutan, membuat koordinasi lintas sektoral menjadi sangat penting di tingkat nasional dan lokal. Dan bila dipetakan dalam peta stakeholders kepentingan, dapat dibagi menjadi tiga: (1) Pemerintah, terkait sumber daya alam yang digunakan untuk pembangunan; (2) Pengusaha, terkait keuntungan ekonomi dari pembangunan; dan (3) Masyarakat Sipil, terkait keuntungan sosial dari pembangunan.
Saya tidak mewakili Pemerintah maupun Pengusaha ketika hadir dalam dialog ini, maka saya mewakili Masyarakat Sipil; saya, anda, kita semua. Dari catatan yang saya punya, Prof. Emil Salim menekankan pentingnya partisipasi masyarakat sipil dalam pembangunan yang berkelanjutan, karena mereka-lah yang paling berkepentingan di setiap masalah-masalah yang dibahas lebih lanjut di atas.
Pada tatanan global, negara-negara yang terlibat dalam penyusunan segala hal yang berkaitan dengan Pembangunan Berkelanjutan tentu saja memiliki kepentingan masing-masing yang dibawa dari tingkat regional, nasional dan lokal. Bayangkan tumpukan kepentingan-kepentingan itu dan bayangkan bagaimana cara membuatnya menjadi satu.
Oke, pembahasan ini masih panjang, nanti saya lanjutkan lagi. hehe…
Bersambung.

