28 Oktober — Mengisi Sumpah Pemuda
October 28th, 2011 § 1 Comment
Demonstrasi tidak salah, hanya saja tidak lagi efektif untuk menyuarakan kepentingan pemuda. Itu pendapat saya.
Tweet saya hari ini:
- Jam kuliah malah demo, begitu lulus paling-paling skillnya culun. Kerja gak bisa.. Bisanya baris aje ikut korlap.
- Kuliah bayarnya mahal, cari kerjaan part-time biar bisa nambahin biaya kuliah sambil cari pengalaman. Jadi, ntar lo lulus gak culun2 amat..
- Lo bisa jadi pemuda yg ngubah keadaan negara hari ini, tanpa harus ikut-ikut demo. Lo kuliah yg bener, cari pengalaman yang bagus.
- Kalo seneng demo, karena suka teriak-teriak. Mending les vokal sono.. Masuk ke elfa’s secioria, ikut Choir games, bikin Bangga Indonesia.
- Kalo seneng demo, krn suka kumpul-kumpul bikin aksi. Mending gabung sm
@IndonesianYouth sana. Bikin gerakan yg jelas. Ya gak@AlandaKariza?
Demikian pesan singkat saya untuk pemuda-pemudi Indonesia. Ada pendapat lain?
ps: gambar diatas hasil karya dari komikus favorit saya di http://ndableg.com ..
Anak muda .. sibuk apa? (bagian 2)
July 6th, 2011 § 3 Comments
… lanjutan.
Saya punya pertanyaan, siapa yang tidak khawatir dengan kenyataan bahwa banyak anak muda yang baru lulus (mungkin dari jurusan tehnik) akhirnya bekerja sebagai sales penjual kendaraan bermotor atau penjual unit asuransi?
Tidak adanya sinkronisasi antara dunia pendidikan dengan dunia kerja menyebabkan banyaknya pengangguran di Indonesia. Padahal, seharusnya bangku pendidikan dimanfaatkan untuk mempersiapkan calon-calon manusia yang produktif. Teman-teman yang masih di bangku kuliah, coba tanyakan pada diri sendiri, apakah kalian terbayang pekerjaan semacam apa yang bisa kalian kerjakan setelah lulus? Karena rasanya, kecuali kalian ingin menjadi dosen dengan jurusan yang sama dengan yang diambil saat kuliah, kalian tidak akan tahu apa-apa mengenai dunia kerja. Apa yang kalian pelajari di bangku kuliah, buku-buku teori yang tebal itu, tidak selalu relevan dengan dunia kerja.
Yang kalian dapat dari bangku kuliah, hanya gelar S1, S2, S3 … tidak ada gunanya kalau kalian tidak siap bekerja. Lantas, harus apa? Bagi saya, menjadi anak muda yang aktif membangun insiatif publik untuk lingkungan terdekat (rumah atau kampus) bisa menjadi pilihan untuk membangun kapasitas dan kapabilitas kita untuk berkarya di dunia kerja.
Saya berikan contoh ya …
Sekarang:
Apa yang paling memprihatinkan buat kalian … dari Kota tempat kalian tinggal, dari Negara tempat kalian mengabdikan diri? Banyak masalah disana, berlapis-lapis ada. Apa yang bisa kalian kontribusikan untuk Kota tempat tinggal? atau Negara tempat mengabdi? Coba pelajari apa yang menjadi hobi kalian, bagaimana hobi itu bisa dikembangkan sebagai bagian dari kontribusi.
Yang mungkin dilakukan:
Banyak hal. Kembalikan ke hobi kalian.
- Taruhlah hobi kalian berkumpul dan berdiskusi, kenapa tidak buat (atau ikut serta) dalam acara seperti Indonesia Youth Conference.
- Kalian tertarik untuk membantu anak-anak kecil yang putus sekolah, kenapa tidak bergabung dengan gerakan Coin A Chance.
- Kalian sedih melihat anak-anak kecil di pinggir jalan yang mengemis, kenapa tidak membuat sekolah terbuka. Jadi pengajar bagi anak-anak itu.
- Kalian bingung melihat kenapa Jakarta macet, kenapa tidak bergabung dengan gerakan #savejkt, atau komunitas-komunitas pesepeda: ada b2wIndonesia, ada komunitas pesepeda singlespeed, banyak komunitas lain.
- dan lain-lain.
Gerakan atau inisiatif publik apapun itu, yang kalian buat atau menjadi tempat kalian berpartisipasi, pastikan membawa manfaat! Pastikan ada nilai yang kalian tularkan. Pastikan cara pandang/ berfikir kalian itu dipahami dan bisa digunakan orang lain. Pastikan kalian mengajak tempat kalian bergerak bersama, sebanyak-banyaknya!
Anak Muda … sibuk apa? (bagian 1)
July 5th, 2011 § 4 Comments
Anak muda, hobi/ interest, pengetahuan dan komunitas. Keempat hal itu sejak lama sudah menjadi kunci perubahan sebuah peradaban. Mohon maafkan bahasa saya yang … lebay. Pun lebay, yang saya katakan ini benar lho.
Anak-anak muda dengan segala dinamika-nya lah yang berperan penting menjadi agen perubahan bagi peradaban. Menjadi mengkhawatirkan bila kita lebih sering melihat anak-anak muda hanya sekolah/ kuliah dan tidak bekerja/ aktif berorganisasi. Karena sekolah/ kuliah nyatanya tidak memberikan apapun yang applicable untuk diterapkan di dunia kerja. Misalnya, seorang anak muda yang lulus dengan predikat cum-laude tapi dia tidak aktif bekerja magang/ aktif berorganisasi/ mengembangkan hobi, saya yakin setelah lulus dia tidak akan siap masuk dunia kerja. Siapa yang salah? Tempat mengenyam pendidikan? Kurikulum yang diberikan? Teori dan praktik yang tidak seimbang? Siapa?
Bayangkan adik-adik kita yang masih sekolah/ kuliah, panik karena setelah lulus mereka tidak mampu bekerja. Ok, mereka berhasil masuk ke tempat kerja, sebuah kantor yang bergengsi, setelah dua-tiga bulan sangat mungkin mereka mulai depresi karena kebutuhan kantornya bukan teori-teori yang dijejali dan dihafal mati selama mengenyam pendidikan. Bangku kuliah gak pernah mengajarkan hal-hal yang praktis dan siap diimplementasikan di dunia kerja. Ini menakutkan dan saya percaya menjadi salah satu penyebab tingginya angka pengangguran di Indonesia.
Kalian yang sedang siap-siap lulus kuliah, mumpung masih ada waktu, cari program magang di perusahaan-perusahaan yang bagus atau kembangkan hobi kalian. Hobi itu kan bisa bermacam-macam, yang sederhana saja misalnya: orang seperti saya, punya hobi bertemu dan berkenalan dengan teman baru dari berbagai latar belakang dan membangun jaringan, maka saya cocok bekerja di air. … eh, maaf di bidang komunikasi. Kalian yang hobinya fotografi, mungkin lebih cocok menjadi entrepreneur yang berhubungan dengan dunia tersebut. Begitu seterusnya …
Saya punya pertanyaan, siapa yang tidak khawatir dengan kenyataan bahwa banyak anak muda yang baru lulus (mungkin dari jurusan tehnik) akhirnya bekerja sebagai sales penjual kendaraan bermotor atau penjual unit asuransi?
… tulisan ini nanti saya sambung. :p
—
