Archive for the ‘indonesiana’ Category

Post

Enrique Penalosa: Transportasi di Jakarta Mirip Penyakit Kanker

In Kliping, indonesiana, jakarta, sepeda, sosial, travelling on November 12, 2009 by aditya sani

Sebagai Walikota Bogota periode 1998-2001, Enrique Penalosa sukses membawa perubahan pada layanan transportasi publik dengan memperkenalkan konsep jaringan bus jalur cepat (Bus Rapid Transportation/BRT).

Diresmikan pada 2002, sistem bernama Trans Millenio ini secara signifikan bisa menekan tingkat kemacetan lalu lintas sekaligus mampu menyediakan kebutuhan transportasi umum yang cepat di ibu kota Kolombia itu.

Trans Millenio yang diperkenalkan Penalosa itu kini mengilhami banyak pemerintah kota di manca negara, termasuk DKI Jakarta, yang pada 2004 lalu membangun layanan bus jalur cepat yang populer disebut dengan Busway.

Selama memerintah Bogota, Penalosa pun menerapkan sejumlah aturan yang radikal, diantaranya adalah menutup jalan-jalan protokol setiap hari Minggu selama beberapa jam bagi kendaraan bermotor pribadi. Tujuannya untuk memberi kesempatan bagi warga untuk berekreasi, berolahraga, dan bersepeda di jalan-jalan utama mengingat terbatasnya ruang terbuka untuk publik di Bogota.

Pensiun sebagai walikota, Penalosa kini bekerja sebagai konsultan di bidang visi pembangunan kota. Dia berkeliling ke manca negara untuk memperkenalkan konsep pembangunan kota yang manusiawi, yang memperhatikan warga dari semua lapisan.

Saat berkunjung ke Jakarta awal pekan ini, Penalosa diundang sebagai panelis dalam suatu diskusi yang membicarakan pembangunan transportasi kota.

Di sela-sela kegiatannya di Jakarta, mantan walikota kelahiran Washington DC itu menerima dua wartawan VIVAnews, Anda Nurlaila dan Pipiet Tri Noorastuti, untuk mengungkapkan kesan-kesannya mengenai pembangunan transportasi massal di Jakarta.

Berikut petikan wawancara Penalosa.

Mengapa transportasi publik penting bagi suatu kota?

Setiap warga negara berhak mendapat transportasi. Transportasi bagi semua warga negara adalah simbol demokrasi. Sebanyak 30.000 sepeda sama pentingnya dengan 30.000 mobil. Penting untuk menciptakan jalur untuk semua warga, pengguna sepeda, pejalan kaki dan pengguna mobil.

Bagaimana Anda melihat transportasi di Jakarta?

Di Jakarta orang merasa malu menggunakan sepeda karena dianggap hanya transportasi untuk orang miskin. Kalau ada jalur sepeda yang nyaman masyarakat punya pilihan akan transportasi. Sebanyak 35 persen pendapatan masyarakat habis untuk transportasi.

Transportasi publik seharusnya bisa berguna untuk kesejahteraan. Jalan harus memiliki ruang bagi para penggunanya, pejalan kaki, sepeda, bus dan mobil. Harus ada keinginan politik yang kuat dari pemerintah, bukan sekedar teknis.

Bagaimana menciptakannya?

Harus dari sistem. Orang harus dipaksa untuk melaksanakannya. Sekarang semua orang punya kendaraan dan mereka pergi ke ke tempat kerja, pusat perbelanjaan, pusat kota. Akhirnya padatnya kendaraan membuat keadaan tidak nyaman dan membuat kemacetan.

Di negara maju, orang berjalan dari rumah dan menuju kantor beberapa blok. Di negara maju tidak ada pusat belanja di tengah kota karena membuat kota menjadi tidak nyaman dan semua orang lebih enak menggunakan pejalan kaki. Tetapi di negara seperti Indonesia dan Kolombia dan negara-negara terbelakang, pusat kota menjadi tidak teratur dan perbelanjaan terletak di tengah-tengah.

Bagaimana pendapat Anda mengenai pembangunan transportasi publik di Jakarta, seperti busway (BRT) dan kereta bawah tanah (MRT)?

Pengembangan transportasi umum bisa dilakukan dengan banyak cara. Mengembangkan subway maupun busway sama-sama baik. Tetapi yang dipertimbangkan adalah investasi. DKI Jakarta merencanakan US$ 900 juta untuk membangun subway sepanjang 14 km. Sedangkan investasi untuk Busway US$ 5 juta, itu sudah termasuk konsultan, manajerial, kontrak, operator, base elekrotnik kartu dan legal konsultan. Dengan nilai yang sama, US$900 juta, maka bisa membangun 180 km jalur BRT.

Tapi BRT tampaknya tidak mengurangi kemacetan. Menurut Anda?

Kemacetan dan mobilitas adalah dua  hal yang berbeda dan punya solusi berbeda pula. Setiap tahun ada 100.000 mobil baru  di Jakarta, dan ada jalur baru yang dibangun. Tetapi tetap saja ada kemacetan. Sebab mobilitas orang  yang semakin sering dan jarak tempuh yang semakin jauh.

Kemacetan bukan saja disebabkan dari jumlah kendaraan, tapi juga jumlah perjalanan yang bertambah. Kemacetan tidak akan berkurang karena penambahan jalan.

Selain itu soal keamanan dan kenyamanan. Di MRT London, banyak wanita yang tidak merasa aman berada di subway. Di bus, lebih aman karena bisa mengawasi sekeliling. Kereta memang lebih cepat tapi jarak antara stasiun jauh dan harus menempuh jarak lebih jauh.

Sementara busway, memang lebih lambat tetapi dengan satu tiket orang bisa bepergian ke tempat yang jauh dan ada interseksi busway yang memungkinkan orang berpindah rute.

Setelah lima tahun layanan busway di Jakarta atau TransJakarta masih dianggap belum berhasil. Apa sebabnya?

Menyelenggarakan transportasi publik TransJakarta harus dilakukan dengan keinginan untuk bertahan. Jakarta adalah kota di Asia yang pertama menggunakan BRT. Tetapi sekarang kota Guangzhou, China, memiliki sistem BRT yang  bagus.

Saya pikir Jakarta mampu menjadi lebih baik. Solusinya TransJakarta harus dibenahi kembali.

Sudah mencoba TransJakarta? Bagaimana kesannya?

Saya mencoba Trans Jakarta dua kali. Saya lihat pintunya kurang lebar sehingga sulit bagi pengguna kursi roda, tidak mendukung bagi orang cacat.

Waktu menunggunya lebih lama. Di Bogota kami menggunakan bus yang lebih banyak mengangkut penumpang, sekali jalan bisa menggunakan tiga bus konvensional yang disambung. BRT juga terintergrasi dengan feeder bus kecil yang beroperasi di jalan ke stasiun tetapi tidak di disediakan jalur khusus.

Saran terhadap TransJakarta?

Harus lebih banyak perubahan detail. Saran saya, para ahli berkumpul untuk membahas mengenai kontrak, manajemen, operator untuk membenahi TransJakarta. Membenahi transportasi di Jakarta yang sarat dengan kemacetan memang  tidak menyenangkan.

Tapi harus ada yang melakukannya. Ini seperti mengobati penyakit kanker. Prioritas Gubernur adalah menempatkan manager TransJakarta tepat di depan kantornya agar selalu bisa diawasi.

Soal kemacetan Jakarta, apakah ada saran untuk mengatasinya?

Jalan yang sangat sempit dan hanya dilalui bus membuat lalu lintas bertambah macet. Di New York, ada 10 jalur jalan tapi tetap macet.

Pemerintah harus menjadikan bus sebagai prioritas dalam transportasi publik. Sekarang, pengemudi Jakarta menganggap dirinya paling penting daripada pengguna jalan yang lain.

Contoh kecilnya, pengguna sepeda motor tidak boleh menggunakan jalan tol. Mengapa? karena mereka tidak punya kekuatan ekonomi dan politik. Tidak ada kesetaraan disini, padahal hak warga negara dijamin Undang-Undang.

Setelah Bogota Trans Millenio di Bogota apakah pengguna mobil berkurang?

Tidak. Di Bogota juga Trans Millenio hanya 20 persen dan sisanya transportasi konvensional. Tapi 40 persen pengguna BRT di Bogota  adalah pemilik mobil.  Jalur  BRT 60 km mengangkut satu juta penumpang perhari.

Di kota-kota maju seperti London,  Paris mereka menggunakan publik karena harus. Selain tidak ada tempat parkir, menggunakan angkutan umm jauh lebih cepat. Waktu tempuh dengan mobil selama 1 jam, sementara kalau menggunakan transportasi umum hanya 15 menit. Walaupun punya mobil orang-orang tetap menggunakan transportasi massal. Untuk meningkatkan mobilitas, solusinya menambah transportasi publik.

Solusi kemacetan apa saja?

Kemacetan solusinya hanya mengurangi penggunaan mobil. Di  London, Paris, Hong Kong untuk  masuk pusat  dengan  mobil harus membayar pajak US$ 20. Pemerintah juga membatasi ruana parkir di gedung-gedung. Parkir itu bukan kewajiban negara dan itu masalah pribadi. Negara wajib menyediakan  pendidikan, kesehatan, transportasi termasuk jalur pejalan kaki.

Cara lain  dengan menaikkan pajak bahan bakar. Seperti  pada air`dan listrik, orang kaya membayar lebih mahal untuk subsidi penduduk miskin. Tapi di transportasi sama, tidak ada subsidi. Kalau ada subsidi hasilnya bisa digunakan untuk investasi transportasi massal yang lebih murah.

Apa bedanya MRT dan BRT?

Dari sisi investasi, MRT butuh lebih banyak daripada BRT. Investasi US$900 juta, hanya membangun MRT 14 km, dengan nilai sama bisa membangun 10 kali lebih banyak.

Biaya operasional MRT lebih mahal daripada BRT. Biaya operasional penumpang MRT US$1-3 per penumpang, BRT hanya 60-70 sen, bahkan kurang dari itu.

Apa kunci keberhasilan BRT di Bogota?

Keinginan kuat pemerintah untuk menjalankan. Tetap konsisten dan tetap bertahan. Di jakarta, secara legal pelaksanaannya lebih sulit karena ada tumpangtindih antara pemerintah pusat dan daerah mengenai pengelolaan jalan.

Padahal di UU, semua penumpang punya hak yang sama terhadap jalan. 60 persen warga Jakarta menggunakan sepeda motor bukan karena idiologi tetapi karena kebutuhan.

Apa kesulitan dalam BRT di Bogota?

BRT memang sangat sulit secara politik dan manajerial. Yang harus dilakukan adalah tetap melanjutkan dan bertahan. Kalau tidak Jakarta akan kemacetan akan memburuk dan akhirnya berhenti.

Selain itu, citra mempengaruhi transportasi. Di Manila, yang punya 3 kalur MRT kemacetannya lebih parah dari Jakarta.  Pada 1940-an kereta api adalah idola. 1970-an bus yang lebih diminati karena dianggap lebih baik.

Apakah BRT mengurangi kendaraan pribadi?

Tranportasi publik tidak mengurangi jumlah penggunaan mobil. Di Bogota 20 persen pengguna  BRT  punya mobil.  Kami punya kebijakan  mobil di  Bogota tidak boleh di jalankan tiap hari. Ada hari dimana mobil tidak boleh ke jalan beberapa hari dalam seminggu. Pengaturannya disesuaikan dengan nomor akhir di pelatnya.

Operasi manajemen bagaimana, apakah ditangani Pemerintah atau Swasta?
Pengelolaan BRT di Bogota sama  dengan Jakarta. Operator  dilaksanakan pihak swasta melalui kontrak dengan Pemerintah. Pembayarannya dihitung per kilometer. Semua bis milik swasta, infrastrukturnya milik pemerintah.

(Via • VIVAnews)

Post

Daftar Rekomendasi National Summit 2009

In Kliping, ekonomi, indonesiana on November 3, 2009 by aditya sani

Berikut adalah Daftar Rekomendasi untuk Pembangungan dari National Summit:

1. Rekomendasi bidang perekonomian:
Sektor infrastruktur:

  • Perlunya perppu pengadaan tanah,
  • Pengelolaan dana BLU,
  • Perbaikan skema kerjasama pendanaan pemerintah dan swasta dan
  • Pengadaan lembaga pembiayaan infrastruktur

Sektor revitalisasi industri dan jasa:

  • Perbaikan kinerja PLN untuk meminimalkan pemadaman,
  • Perbaikan kinerja perusahaan gas negara sehingga suplai gas kepada industri stabil.

Sektor ketenagakerjaan:

  • Perbaikan infrastruktur transportasi khususnya di pelabuhan besar dan peningkatan kapasitas.

Sektor pariwisata:

  • Pengurusan visa di bandara

Sektor energi:

  • Jaminan pasokan energi dari pemerintah,
  • Merevisi perpres no.71 tahun 2005 tentang penyediaan dan pendistribusian jenis bbm tertentu,
  • Menerbitkan perpres tentang proyek percepatan pembangunan proyek pembangkit listrik 10.000 mw tahap ii.

Sektor energi terbarukan:

  • Keringanan pajak untuk energi terbarukan

Sektor pemberdayaan umkm:

  • Pembentukan lembaga keuangan mikro (LKM) melalui Undang-Undang,
  • Perbaikan prosedur pemberian kredit usaha rakyat (KUR)

Sektor transportasi:

  • Penyelesaian kerangka regulasi logistik di antaranya menyusun jaringan transportasi laut yang terintegrasi untuk wilayah kalimantan, sulawesi, maluku, papua,
  • Dan meningkatkan pelayanan angkutan umum massal di kota-kota besar.

Sektor pangan:

  • Penelaahan kembali peraturan terkait tata ruang dan ketersediaan lahan termasuk hutan.

2. Rekomendasi bidang kesra:

Perundingan antara buruh dengan pengusaha:

  • Harus diselesaikan jika terjadi perselisihan hubungan industrial,
  • Penguatan kelembangaan antara bnp2tki antara depnakertrans dan lain-lain.

Bidang kesehatan:

  • Upaya peningkatan pelayanan kesehatan,
  • Peningkatan kesejahteran masyarakat,
  • Pengendalian penyakit yang disebabkan oleh bencana dan lain-lain.

Bidang pendidikan:

  • Peningkatan kualitas lulusan terbaik,
  • Peningkatan pendidikan dasar 9 tahun,
  • Penyediaan bantuan operasional sekolah (BOS) yang efektif dan akuntable.
  • Peningkatan kesempatan lulusan sd/mi keluarga miskin untuk melanjutkan ke smp,
  • Peningkatan mutu proses pembelajaran,
  • Peningkatan kualitas dan distribusi guru,
  • Peningkatan kompetensi guru dan lain-lain.


3. Rekomendasi bidang polkam:

Pemantapan otonomi daerah dan pembangunan daerah:

  • Evaluasi terhadap keinginan pemekaran daerah,
  • Pilkada diselenggarakan daerah lebih efisien, efektif dan tidak berdampak pada kenyaman masyarakat,
  • Perimbangan dana alokasi umum ke daerah,
  • Pelayanan publik, aparatur perlu memenuhi pelayanan yang lebih cepat
  • Pelayanan publik dan reformasi birokrasi,
  • Penguatan pengaduan lembaga masyarakat terkait pemerantasan korupsi.
  • Masalah perizinan yang lebih cepat

Pencegahan dan pemberantasan korupsi:

  • Bagaimana interaksi pemantapan hubungan antar lembaga hukum kpk, kepolisian, kejaksaan dan pengadilan,
  • Lembaga perlindungan saksi perlu diberdayakan

Reformasi bidang hukum dan perlindungan ham:

  • Koordinasi antara produk hukum di pusat dan daerah atau sektoral yang tumpang tindih,
  • Rekrutmen aparat bidang hukum dengan calon harus bagus,
  • Kepastian hukum bagi pengusaha,
  • Birokrat yang melaksanakan program pemerintah.

Pemberantasan dan pencegahan terorisme dan pertahanan:

  • Rumusan UU 15 (anti teror) untuk dipertajam,
  • Untuk memperkuat undang-undang,
  • Hasil penyelidikan intelejen bisa dipakai penegak hukum terkait teroris,
  • Teroris tidak hanya ditangani oleh aparat yaitu polisi, harus tanggung jawab semua komponen bangsa, sebagai bagian pencegahan.

Bidang pertahanan:

  • Tambahan anggaran rp5 trilun di 2010 tidak bisa mengejar ketinggalan selama 15 tahun,
  • Sehingga perlu terobosan, yaitu memberdayakan industri dalam negeri dan pembiayaan dalam negeri.

 

(sumber: Kadin Indonesia)

t

Meritocracy (Wikipedia explained) is a system of a government or other organization wherein appointments are made and responsibilities are given based on demonstrated talent and ability (merit)[1], rather than by wealth (plutocracy), family connections (nepotism), class privilege (oligarchy), friends (cronyism), seniority (gerontocracy), popularity (as in democracy) or other historical determinants of social position and political power. In a meritocracy, society rewards (by wealth, position, and social status) those who show talent and competence as demonstrated by past actions or by competition.

An effective and efficient government was filled by the right man of course on the right place. Indonesia on Soekarno’s era once had this kind of system, called as the Zakken government. It was maybe the last time where the governments do it.

chibi
The Oh-So-Big Government ~courtesy of Chibi Maruko Chan, taken from Dimas Novriandi. FB Profile

Today, SBY, the incumbent, who’ll about to be another president for the next five years period got a task to call for his own government-winning team. Most people working on certain industries was hoping that SBY will choose professionals rather than the so called party-loyalist-member. As Wikipedia explained, it was important to have the system whereby people filled it, got a great (sorry, good was not going to be enough) track record and specialties.

Question is what’s the deal between SBY and its coalition party member? Are they pushing SBY to give them any ‘wet’ (oh so wet  … means: yeah, you know the oh-so-corrupted department) position? Or their coalition was pure because they would love to be behind SBY’s leadership? This is what I doubt oh-so-much, since political parties were running onto some interests (in economy or politics)! A position promised for a party member would cause another catastrophic-structured-corruption.

If I’m not mistaken, SBY got three months to develop his own government. Quite a long period to pick up the right man. SBY also need to evaluate today’s government, lengthen the contract of those who does great with their job, and kick-out those pain-in-the-ass ministers who didn’t work well (not to say that they’re corrupted).

Economy has to be the first priority to be considered by, thus Ministers in the field needs to be lengthening of course to keep sustainability of some policies and regulations. Then it goes to ministries/departments taking care of people’s sovereignty and development (Education, Religion, Citizen’s Sovereignty, etc). These are the wet and yet oh-so-political ministries that needs special attention from SBY. Yeah, you know why.

Last but not least, it goes to so on and so on. Hahaha… Department taking care of defense and resilience, hmm… SBY might need to consider changing people on the office, since it was shown that they’re not capable enough. Hendropriyono would be good to be posted on Defense Ministries replacing J.S., a terrorist has started another war and he is a Doctor on terrorism. And Sir, please replace S.S. from your intelligent biro (err… you don’t want to remove him, eh? Since, he’s helping you on your election campaign).

This morning, I read shocking news that there will be a loyalty contract between SBY and his future government member. Problem? The contract is confidential, no public disclosure, no transparency, no-such-things. What if, it was political? Yes, we need a strong and stable government, but we need no political interests on government internals.

Sir, if there’s any political contract with your coalition party; please … please … just break it. People’s interests are a much more important thing than those interests smuggler.

Meritocracy

on August 1, 2009 by aditya sani

4 Comments

t

Assalamu ‘alaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu

Bang Fauzi,

Jakarta punya kita semua kan, Bang? Kota yang Abang pimpin mingkin keliatan gegap gempita. Bukan cuman gedung nyang nambah banyak dan numpuk di pusat, rumah-rumah bedeng juga numpuk noh di belakang proyek. Tumpek blek, Bang. Abang, kan nyang punya tangan buat ngatur yang namanye peraturan kan bang. Coba, Bang diatur lagi ini Kota. Itu peraturan soal emisi gas buang ditegakkin lagi dah, Bang. Ane ngeri Bang, Jakarta udah kaya pembantai bayi sekarang. Anak-anak tetangga ane pada megap-megap, Bang.

Kendaraan nambah terus ya Bang, padahal ruas jalan kagak bakal ditambah. Ntar Abang tambah jalan, pohon kena tebas. Ane yakin, ruas jalan Abang tambah juga jalanan kagak bakal kerasa lengang, Bang.

Nyatanye Jakarta sekarang isinye individualis, ane liat jelas di atas aspal hitam yang nomprokin Jakarta. Semuen orang buru-buru, semua orang mikirin diri sendiri aje. Nantinye, semuen orang kejebak di ujung botolnyang namanye macet total.

Bang, ude berapa taon ibukota begini? Lime taon? Sepuluh taon? Lime belas taon? Mingkin baek kagak? Boro-boro. Kejadiannye tambah ancur. Mobil mingkin banyak menuhin sisi-sisi jalan, motor juga mingkin yoi. Denger-denger, banyak OKB di ibukota. OKB yang kendaraannye nyicil, nyang gayanye nyetir juga nyicil: “yah..dikit-dikit bisa dah …”

Jakarta punye cerita. Kota ini dibandingin same Bogota nun di Kolombia. Bogota bise, Jakarta harusnye juga bise. Dulu, Bogota itu emang busuk. Kriminalitasnye nomor wahid, polusinye wahid, daerah kumuhnye ape lagi. Sampe ade “pitungnye Bogota” alias “Bang Mayor” sono nyang jadi teladan. Uswatun Hasanah (Suri tauladan nyang baek), Bang kalo kata Nabi Muhammad. Walopun Bang Mayor Bogota bukan muslim, Bang..hehe. Tapi, die teladan nyang ngegugah hati seisi kota sampe lunak, nyang bise ngajak perilaku warga buat berube, bukan tambah berabe. Die nyang punya due solusi besar: ngerube gaya hidup sama mbangun fasilitas infrastruktur nyang mencukupi.

Jakarta punya gaye. Kabarnye, ntu dua solusi besar bakal diadaptasi. Awalnye pembangunan fasilitas transportasi publik: kereta nyang pake listrik, bus nyang merah-oranye, same ape lagi ntu kapal di Ciliwung. Di Bogota, pan mereka ngebangun Trans-Bogota same Bicycle Lane di seluruh penjuru kota. Ntu due cara tadi ditambah teladan sama tegasnye Bang Mayor Bogota, masalah disono beres Bang..

Nah di Jakarta, pemerintahan Abang baru ngebangun Trans Jakarta aje kan, Bang..Jujur ni Bang, naek Bus ntu mahal, Bang..Dibandingin same nyicil same beli bengsin motor, jauh lebih mahal. Abang kagak percaya? Coba aje Abang itung ndiri. Nah, biar kagak mahal lagi Bang, solusi Bicycle Lane ntu Abang adaptasi juga dong. Banyak lagi Bang rakyat Jakarta nyang mau sepedaan. Yakin dah, Bang.. Pan mereka tau, sepedaan sehat. Ntu liat, anak buah Abang, nyang Walikota Jakarta Selatan, ntu biangnye Sepedaan die. Ane liat sepeda ontelnya aje ngiri..

Sekarang mah ye Bang, orang mau sepedaan kemane-mane dianggepnye gila. Lha kota Abang sama sekali kagak bisa dipake buat sepedaan (ntu juga paling hari minggu pas jalanan kosong plong). Ampir same Bang same nyang namanye bunuh diri, berarti kalo diliat dari sisi agamenye same aje dose. Biar dose kite nyang naik sepeda kagak nambah lagi, Abang buatin dong fasilitasnye, Bang. Kagak bakal lebih mahal Bang daripade biaya rugi nyang nimbul gara-gara Jakarta macet. Bener dah

Ni Bang, ane kasi list dah ape-ape aje nyang diperluin bakal Bicyle Lane:

1. Bicycle Lane..hehe (Cat kuning bakal ngecet lajur di trotoar, Konblok Segitiga nyang banyak).

2. Marka Jalan, kasih tande biar keliatan kalo ntu jalur buat sepeda, bukan jalur motor..

3. Tempat Penitipan / Parkiran Sepeda, yang dilengkapi dengan ruang locker dan kamar mandi. Ane denger, soal yang ini sudah ada Mall yang mau mulai. Di FX Jl. Jend. Sudirman sana kalo ane kagak salah, Bang. Harapan ane, Abang bisa ngasi anjuran untuk pengelola gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan untuk bikin ini. Insya Allah Bang, jumlah pesepeda di Jakarta bakal terus nambah.

4. Ayo Bang, Jalur hijau dengan pepohonan yang rindang dibangkitkan lagi. Jangan takut sama pemilik bangunan yang melanggar, apalagi yang SPBU itu, Bang.. hehehe.. Hajar aja, Bang. Tegas dikit dah..

Abang Foke yang ahli nan bijaksana. Kite sama-sama tau, Abang kan lulusan Arsitektur Perencanaan Kota dan Wilayah dari negeri Jerman sono, buktiin keahlian Abang. Rakyat Jakarta nunggu kebijaksanaan Abang. Bang, baca surat ane ya, Bang…

Wassalam,

Aditya Sani

Surat buat Bang Fauzi

Tagged: , on July 31, 2009 by aditya sani

9 Comments

Post

Jumat Kelabu

In indonesiana on July 17, 2009 by aditya sani Tagged: , , , ,

Speechless. Jakarta kembali dibuat resah oleh ledakan 2 buah bom yang terjadi hanya berselang hitungan menit. Ada rasa marah dan sedih yang menyesap hati dan pikiran. Keduanya bercampur aduk. Lalu berulang-ulang pertanyaan berputar di kepala ini. Kenapa? Kenapa? Kenapa lagi?!

1044176p

JW Marriot beberapa saat setelah ledakan. sumber: Kompas.com

Apapun alasannya yang muncul kelak, pasti akan sangat sulit untuk diterima akal. Saya pribadi tidak ingin motif agama yang kemudian diangkat menjadi yang bersalah. Apakah memang masih ada penganut fundamentalisme agama yang sebegitu teganya? Apakah mereka tidak pernah berhitung jumlah korban yang kebanyakan justru umat sendiri?   Apa mungkin kelompok Cilacap dan Malang yang melakukannya? Apakah mereka benar-benar ada?

Pun saya tidak ingin motif politik yang menjadi alasan. Apa iya ada orang yang sebegitu naifnya melakukan peledakan hanya untuk meneror secara politis? Apa iya ada yang sebegitu tergesa-gesanya sehingga tidak mau menunggu pasangan incumbent lima tahun lagi? Kalau memang motifnya politik, kenapa hotel yang ber-asosiasi dengan ‘barat’ itu yang menjadi target? Kenapa tidak institusi yang ber-politik juga?

Terus terang saya agak kecewa mendengar siaran pers yang disampaikan Presiden SBY. Apa yang beliau sampaikan, untuk saya pribadi terlalu prematur, berani, personal/politis dan berlebihan. Sebagai seorang pemimpin, seharusnya beliau bisa memberikan siaran pers yang tujuannya menenangkan publik, bukan membagi sesuatu yang sebenernya hanya konsumsi aparat untuk penyelidikan. Walaupun tentu saja sulit untuk berkepala dingin dan berusaha menenangkan publik dengan sebuah siaran pers. Tapi masyarakat butuh optimisme dari pemimpinnya agar bisa diteladani, bukan menelan mentah-mentah emosi pemimpinnya. Ayolah Pak Presiden, Anda pasti bisa, Pak! Kami percaya pada Anda!

Teman-teman, setelah ledakan tadi pagi kemudian bermunculan isyu-isyu yang buat saya sangat tidak lucu, misalnya masih ada 8 bom lagi yang akan di tebar oleh pelaku teror. Malahan ada yang dengan isengnya mengirim sms ke teman-temannya mengenai isyu lainnya. Yang lebih menyebalkan adalah mereka yang sekedar meributkan pembatalan kedatangan tim MU ke Jakarta, apakah mereka tidak berfikir soal korban ledakan?

Hmm.. mungkin untuk sekarang-sekarang ini, ada baiknya kita berdiam di rumah, berikan waktu untuk para penyidik dari BIN, Kepolisian dan TNI mencari tahu siapa yang bersalah. Jangan berikan kesempatan untuk pelaku teror menyerang lagi. Jangan biarkan waktu ini habis untuk berpolemik dan apalagi berdebat secara politis soal siapa yang salah.

Hah.. sedih saya …