Archive for the ‘inspirasi’ Category

t

It takes a crane to build a crane/ It takes two floors to make a story/ It takes an egg to make a hen/ It takes a hen to make an egg/ There is no end to what I’m saying

It takes a thought to make a word/ And it takes some words to make an action/ It takes some work to make it work/ It takes some good to make it hurt/ It takes some bad for satisfaction

La la la la la la la life is wonderful/ Ah la la la la la la life goes full circle/ Ah la la la la la la life is wonderful/ Al la la la la

It takes a night to make it dawn/ And it takes a day to make you yawn brother/ And it takes some old to make you young/ It takes some cold to know the sun/ It takes the one to have the other

And it takes no time to fall in love/ But it takes you years to know what love is/ It takes some fears to make you trust/ It takes those tears to make it rust/ It takes the dust to have it polished

Ha la la la la la la life is wonderful/ Ah la la la la la la life goes full circle/ Ah la la la la la la life is so full of/ Ah la la la la la la life is so rough/ Ah la la la la la la life is wonderful/ Ah la la la la la la life goes full circle/ Ah la la la la la la life is our love/ Ah la la la la la

It takes some silence to make sound/ It takes a loss before you found it/ And it takes a road to go nowhere/ It takes a toll to make you care/ It takes a hole to make a mountain

Ah la la la la la la life is wonderful/ Ah la la la la la la life goes full circle/ Ha la la la la la life is wonderful/ Ha la la la la la life is meaningful/ Ha la la la la la life is wonderful/ Ha la la la la la life it is…so… wonderful/ It is so meaningful/ It is so wonderful/ It is meaningful/ It is wonderful/ It is meaningful/ It goes full circle/ Wonderful/ Meaningful/ Full circle/ Wonderful

~Life Is Wonderful, Jason Mraz, from the Album Mr.A-Z

I have this simple question, my dear friend, do you believe that life is a matter of a process? Or do you believe that everything was instantly happened?  Earth was there at a snap, without any evolution process from hydrogen and other molecules. A kid can instantly walk, without learning to crawl on the floor. A bird can instantly fly, without learning how to move it’s wings. They learn, a one long process, sometimes. A short process, the other times.

You might don’t want the process, maybe you want it as easy as snapping your finger. Maybe. Do you know the easiest way to go through it? You’ve got to love the process, and the object at the same time. Got to love it. Remember a phrase from Jogja, “No love, No honey”. If you were a bee, your duty is to absorb the sweet extract from a flower, could you do it if you don’t even love the flower? could you do it if you don’t even like the flower?  Sure, you couldn’t do it.

My dear friend, you’ve got to love the flower, then you’ll get the honey. Remember, my dear friend, No love, No honey.  :)

Process

on September 27, 2009 by aditya sani

3 Comments

Post

iri hati pada jogjakarta

In Kliping, indonesiana, inspirasi, jogjakarta, sepeda, sosial, travelling on March 2, 2009 by aditya sani

Pagi tadi saya membaca sebuah liputan Media Indonesia yang bercerita tentang peringatan Serangan Umum 1 Maret di Kota Jogjakarta, sebuah kota yang akan selalu mendapat tempat di hati saya. Apa yang menarik dalam berita tersebut? Pemerintah Kota Jogjakarta memperingati Serangan Umum 1 Maret dengan mengumpulkan lebih kurang 3000 (tiga ribu) pesepeda, tua-muda, dari pelajar hingga veteran perang, pengguna low-rider bicycle sampai onthelis. Ya, Jogjakarta telah mendeklarasikan dirinya dengan tagline “Jogjakarta kota Sepeda“. Hebat sekali, sangat modern, sangat metropolitan!

Program apa yang diusung Herry Zudianto, sang walikota? Namanya Sego Segawe (Sepeda kanggo Sekolah lan nyambut Gawe), atau bila diterjemahkan kurang lebih sebagai berikut: Sepeda untuk pergi ke Sekolah dan Bekerja. Herry berkata, “Mulai sekarang, kita harus membiasakan diri dengan bersepeda. Tindakan yang sederhana tapi visioner dan modern untuk lingkungan kita ke depan.” Ia juga menambahkan bahwa sepeda tidak identik dengan kemiskinan, dan menyalahkan warga Jogja yang beranggapan sepeda motor dan mobil lebih bergengsi ketimbang sepeda onthel.

sego-segawe

“Sepeda bukan berarti wong cilik atau alat transportasi jadul (jaman dulu). Justru sepeda adalah alat transportasi yang gaul. Kepada pemuda-pemudi, saya berpesan, kalau mencari pacar, carilah mereka yang gemar bersepeda.”, seloroh sang Walikota, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pengguna setia motor Harley Davidson ini.

Apa yang hebat dari Kota Jogjakarta dan Sepeda? Kota Jogjakarta memiliki 200 klub pesepeda; dalam waktu dekat Pemkot bersama Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Provinsi DIY akan membuat 34 jalur sepeda, dan mengintegrasikan program kerja lima tahunan-nya dengan program Sego Segawe. Hal tersebut juga akan didukung dengan pemasangan rambu-rambu bagi pesepeda, pembuatan jalur alternative sepeda dan melakukan gerakan penghijauan.

Ah, Hebat bukan buatan Kota Jogjakarta! Duhai kawan-kawan CahAndong, ayo dukung program Pak Herry! Ingin pulang dan bersepeda kembali di Jogja rasanya …

t

jejaring-bagi-ilmu1

Gambar ini berkaitan dengan posting sebelumnya (berjudul: Semangat Wiyoto). Direka dari novel dan film berjudul "Pay It Forward".

Setiap orang bisa melakukan kerangka kerja yang terlihat pada gambar. Bagaimana? Mudah saja. Kenali terlebih dulu, keahlian apa yang mungkin Kawan-kawan miliki. Setelah dikenali, temukanlah orang-orang yang tidak anda kenal, yang terlihat memiliki semangat yang lebih namun terbatas karena tidak didukung cukup keahlian. Seperti contoh yang saya tuliskan pada posting sebelumnya, Wiyoto begitu bersemangat untuk bisa mengembangkan diri, tetapi untuk bisa lebih berkembang dia memerlukan kemampuan menguasai komputer. Maka saya coba ajarkan dia cara menguasai MS.Office, dll, supaya nantinya dia bisa berkembang. Atas ilmu yang diberikan, jangan pernah meminta biaya. Mintalah dia yang sudah kita bantu, untuk berjanji agar membantu 3 orang lain lagi. Yang diharapkan adalah, dengan cara ini, semua orang akhirnya bisa tersadar bahwa berbagi itu penting. Semua akan lebih baik, bila kita sebagai manusia tidak lagi mengejar keuntungan diri sendiri, tetapi juga membantu manusia lainnya yang membutuhkan bantuan.

Percayalah, banyak hal yang bisa kita lakukan dengan skema diatas. Indonesia punya banyak orang yang pintar, tapi Indonesia juga punya banyak orang yang kurang memiliki kemampuan. Saya membayangkan, semua orang di negeri ini melakukan hal yang sama, membentuk sebuah jejaring kebaikan yang sinergis. Kurang indah apa hidup ini, bila melihat hal tersebut terjadi? :)

jejaring berbagi ilmu

on January 20, 2009 by aditya sani

22 Comments

t

Saya terbiasa mengisi waktu selama naik taksi dengan mengajak supirnya ngobrol ngalor ngidul. Bila kira-kira pak supir, orang padang, saya gunakan bahasa padang saya seadanya untuk memulai pembicaraan. Bila ternyata batak, maka saya gunakan logat batak saya semampunya. Begitu seterusnya entah jawa, sunda, ambon, atau manapun pembicaraan akan saya mulai dengan mencoba berbahasa asli mereka. Dengan cara ini, saya melakukan ‘breaking the ice’. Mencairkan jarak antara saya dengan si supir.

Namanya Wiyoto, ayah dari satu orang putra, dan suami dari seorang istri. Sehari-hari Wiyoto bekerja sebagai supir taksi Blue Bird dengan penghasilan yang pas-pasan untuk menghidupi kedua anggota keluarga kecilnya. Wiyoto dan saya baru saling kenal ketika saya menumpang mobilnya.

Wiyoto lahir dan besar di Purworejo, merantau ke Jakarta sekitar tahun 1998. Sebuah langkah nekad (baca: penuh tekad)yang diambil pada masa yang sulit. Kerja pertamanya di ibukota sebagai buruh pembuat engsel mobil, begitu ia bercerita. Hanya bertahan setahun, lalu pabriknya bankrut dihajar krisis moneter. Sempat Ia luntang-lantung bekerja serabutan. Wiyoto cukup pintar memanfaatkan situasi, sambil bekerja serabutan Ia juga belajar mengemudikan mobil dengan sesekali menarik Angkot. Maka, bertambahlah keahliannya dengan tehnik mengemudi.

“Namanya juga usaha, Mas. Kalo ndak gitu, saya ndak maju-maju, Mas.”, Wiyoto mengomentari ceritanya sendiri. Saya senang sekali mendengar semangatnya. Dengan keahlian menyupirnya, Ia mencoba menekuni pekerjaan baru, menjadi supir angkot dengan trayek BSD-Ciputat. Sayang, nasib baik belum menyambanginya kala itu. “Walah, sepi banget, Mas! Sampe stress saya nyupir trayek itu …”, keluhnya.

Rahasia nasib memang ditangan Tuhan. Saat menumpang angkot, Ia bertemu seorang kru film dari MD Entertainment yang sedang mencari supir. Bergegas diambil posisi itu. Tugasnya mensupiri mobil pengangkut alat-alat film. Dari sana Ia mulai bisa melihat dunia dengan kacamata yang lebih besar, dengan cara pandang yang lebih luas.

Keahliannya mengendarai mobil semakin baik. Ia pun mulai hafal sudut-sudut kota Jakarta. Dilepasnya kerja menjadi supir kru film. Hijrah ke dunia supir taksi. Tiga tahun sudah kini Wiyoto menjadi supir taksi.

Bukan Wiyoto namanya kalau tidak senang berusaha. Dalam hatinya, Ia selalu meminta kepada Allah SWT agar diberikan tambahan ilmu dan pengetahuan, lebih luas dan lebih luas lagi. Saya mengangguk  kagum padanya. Cerita Wiyoto lalu bergulir pada keinginannya untuk belajar komputer. Ia pernah ditawari pekerjaan sebagai penjaga stok gudang di Hotel Mulia oleh seorang pelanggan taksinya, dengan syarat harus bisa menguasai Microsoft Office. Sayangnya, langkah Wiyoto kala itu terhambat oleh ketidakmampuannya.

“Saya cuma supir mas, entah gimana caranya saya belajar komputer. Sekarang dikit-dikit saya nabung, Mas. Mudah-mudahan nanti terbeli komputernya.”, saya terenyuh mendengar semangat dan do’anya. Lalu saya bertanya,berapa harga komputer second padanya. Temannya, ujar Wiyoto, menawari sebuah komputer dengan Intel Pentium 4 seharga 1,7 juta. “Insya Allah, istri bulan depan dapet arisan Mas, lumayan buat nambahin celengan dirumah.”, imbuhnya.

Mendengarnya, saya berfikir cepat. Pikiran saya melayang mengingat sebuah film berjudul “Pay It Forward”. Film yang bercerita tentang jejaring kebaikan dengan meminta orang yang dibantu untuk membantu orang lainnya lagi, terus begitu hingga semua orang terus berbuat baik satu sama lain.

Kepala saya lalu dipenuhi ide. “Gini aja, Kang. Kang Wiyoto catat nomor saya. Saya catat nomor Kang Wiyoto. Saya janji sama njenengan, saya akan ajari cara pakai Microsoft Office. Tapi ada syaratnya, Kang. Njenengan harus mengajarkan kembali ke orang lain, siapapun dia, apa yang saya ajarkan pada njenengan. Gimana Kang?”, ucap saya. “Nanti kita ketemu di daerah bintaro, saya bawa laptop saya. Kita belajar tiap ada waktu luang. Mudah-mudahan njenengan dapet rejeki supaya cepet bisa beli komputernya.”, imbuh saya lagi. Wiyoto terdiam.

“Siap, Mas. Insya Allah nanti saya pegang amanahnya, Mas.”, ucapnya sembari tersenyum dan menerawang.

“Rumah saya di kanan jalan ini, Kang. Berhenti disini saja. Jangan lupa sms saya nanti.”, saya menutup pembicaraan kami setelah bertukar nomor hp.

Sepulang ke rumah, mudah-mudahan Wiyoto dapat membagi semangatnya pada istri dan anaknya. Saya berharap, jejaring yang sedang kami coba rintis, dapat berkembang dan terus berkembang.

Amiien..

semangat Wiyoto

on January 20, 2009 by aditya sani

30 Comments

Post

koin dan kesempatan

In indonesiana, inspirasi on December 27, 2008 by aditya sani

Kawan-kawan, mungkin kita sama-sama mengenal istilah CSR (Corporate Social Responsibility). Wikipedia mendefinisikan CSR sebagai “a concept whereby organizations consider the interests of society by taking responsibility for the impact of their activities on customers, suppliers, employees, shareholders, communities and other stakeholders, as well as the environment”. Saat ini, hampir semua perusahaan-perusahaan di level lokal dan global membentuk sebuah divisi yang bertugas khusus untuk melaksanakan program terkait.

Program-program CSR bisa dilakukan melalui berbagai hal, mulai dari penanaman pohon di lingkungan perusahaan hingga pemberian beasiswa pendidikan. Pemberian pelayanan kesehatan gratis hingga pembangunan sarana infrastruktur. Secara umum, program CSR (paling tidak) berfungsi untuk ‘membayar’ tanggung jawab sosial kepada lingkungan dan mengingatkan ke masyarakat awam atau publik menyoal eksistensi mereka. Secara filosofis, CSR bertujuan untuk mencari titik keadilan sosial dalam lingkungan dimana korporasi berada.

Sekarang anggaplah para blogger beserta komunitasnya sebagai sebuah organisasi yang besar walaupun bentuknya abstrak, maya. Saya sebut abstrak karena tidak ada yang mengikat diantara blogger yang satu dengan yang lain. Pun begitu, sifat yang abstrak tadi tak mengurangi dan menghalangi kesempatan blogger-blogger untuk berbuat sesuatu, dalam konteks CSR. Beberapa minggu yang lalu, seorang teman yang baik hatinya merencanakan sebuah program sosial blogger melalui pengumpulan koin-koin (recehan) untuk ditukarkan dengan sebuah kesempatan mengenyam pendidikan bagi mereka yang kurang beruntung. Hanny, teman saya ini, berkolaborasi bersama temannya untuk membuat sebuah blog bernama Coin A Chance.

bannercoin4251

Pada dasarnya yang dilakukan cukup sederhana. Para coiners (sebutan untuk mereka yang ingin ikut serta) mengumpulkan keping demi keping koin yang mereka miliki. Koin-koin ini mungkin saja terserak di sudut-sudut rumah. Teronggok begitu saja, kadang sampai berdebu, bahkan ikut tersapu. Buat mereka-mereka yang ‘mampu’, mungkin koin-koin ini tidak berharga. Namun untuk mereka yang kurang beruntung? Koin-koin yang bersama-sama dikumpulkan mungkin akan sangat bermanfaat. Tidak main-main, bisa mengangkat harkat martabat!

Diawal tulisan tadi, saya sempat membahas soal CSR. Sekarang bolehlah kita berkenalan dengan teman baru kita, panggil dia PSR (Personal Social Responsibility). Bagi saya, PSR merupakan jalan alternatif untuk mencapai keadilan sosial. Mungkin terlalu jauh ya, tapi tidak ada salahnya kan bermimpi tentangnya. PSR sangat bergantung pada individu-individu yang hidup didalam sebuah lingkungan sosial. Seperti juga CSR, PSR bisa dilakukan dengan berbagai cara, besar dan kecilnya yang dilakukan pun tidak menjadi masalah. Kadang apa yang dilakukan pun tidak terlalu penting, karena yang terpenting pada akhirnya adalah semangat saling berbagi.

Semangat berbagi yang sama pernah ada di zaman Pak Harto dulu, disebutnya sebagai Kesetiakawanan Sosial. Dulu, setiap tanggal 23 Desember dirayakanlah Hari Kesetiakawanan Sosial.

Saya ingin membagi sebuah cerita tentang seorang tukang ojek di Pasar Taman Puring. Namanya Husin, suami dari seorang istri dan bapak dari dua orang anak. Perjumpaan kami diawali ketika saya kelelahan dan lebih memilih untuk menumpang ojek daripada angkot. Dia bertanya pada saya, “Biasanya berapa bang emang kalo ke rumahnye?”. Saya menjawab dengan harga terendah, “Lima belas rebu, bang!”. Lalu saya takjub mendengar Husin bereaksi terhadap jawaban saya, “Sip, berangkat. Gimana biasanya aja dah, kagak usah tawar-tawaran.” Perjalanan kami dimulai.

Selang beberapa menit, ditengah perjalanan Husin meminta izin untuk menepikan kendaraan. “Bentar ya bang, ane mau bayar zakat ya…”, ucap Husin. Dalam genggaman tangannya beberapa lembar uang tergulung. Gulungan tadi diserahkannya pada seorang tukang parkir di depan sebuah apotik. Tukang parkir ini memiliki tubuh yang kurang sempurna –maaf-, jalannya terseok ke kanan dan ke kiri akibat polio yang mendera kakinya, badannya bungkuk dengan mata yang agak juling. Bapak tukang parkir tersenyum bahagia, senyuman yang sama seperti ketika seseorang mendadak menerima hadiah undian. Husin membalas dengan senyuman yang tulus dan tatapan mata benderang serupa bintang. Saya sedang menumpang malaikat yang menjelma sebagai tukang ojek, pikir saya.

Saya merenteng pertanyaan pada Husin, “Itu zakat apa bang? Bapak tadi itu keluarga abang? Apa tetangga abang? Emang abang tau dia berhak apa enggak?”.

Husin menjawab perlahan seperti da’i yang sedang menasehati muridnya, “Saya orang Islam. Dalam Islam, kita kenal yang namanya zakat penghasilan atawa maal. Saya yang cuman tukang ojek, penghasilannya gak nentu tiap harinya bang. Saya kumpulin duit saya kalo lagi ‘ada’. Yang penting kewajiban buat nafkahin keluarge, sama ngasih duit jajan anak ude kepenuin. Nah kalo udah gitu tu, baru dah duit bisa dibagi bang. Dibersiin kalo kata ustad. Emang si gak nentu, kadang baru bisa mbagi seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Yang ente perlu tau ni ye bang, abis ngebagi zakat yang 2,5% ntu, hati rasanya adem bang, pikiran tenang, tidur juga nyenyak. Walopun misalnya seharian ane narik cuma dapet lima belas rebu. Rasanye ane masi beruntung bisa dapet duit segitu bang. Banyak yang lebih miskin dari kite. Pan yang terpenting bang, kaya hatinye. Ya gak bang?

Saya terenyuh mendengar jawaban Husin malam itu. Dia sudah dua tahun lebih berusaha membagi penghasilannya kepada mereka yang kurang mampu. Ada dua orang yang ia bantu secara rutin. Kadang ia mengajak teman-teman sesama pengojek untuk bantingan (patungan) memberikan sumbangan. Husin bercerita kadang ada temannya yang menolak memberikan bantingan sembari beralasan ‘kite nyang kerja, ngapa mereka nyang dapet, Sin’. Husin maklum dengan jawaban itu. ”Yang namanya manusia, kadang susah sadarnye…,” gumam Husin.

Kawan, apa yang dilakukan Hanny dan Bang Husin merupakan salah satu contoh dari Personal Social Responsibility dan implementasi dari istilah Kesetiakawanan Sosial. Hanny yang kabarnya berduit meteran dan bekerja di salah satu perusahaan komunikasi punya kesadaran untuk berbagi. Begitu juga Bang Husin yang hanya tukang ojek di Pasar Taman Puring. Keduanya memang tidak saling mengenal, tapi berbagi ide dan semangat yang sama untuk membantu mereka yang kurang beruntung.

Kawan, mereka bisa, kenapa kita tidak?  Bergabunglah bersama Hanny dan kawan-kawan sebagai pengumpul koin di sini.