Catatan tentang “Solo Initiatives” dan Rio+20
July 20th, 2011 § Leave a Comment
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup berusaha untuk memperkuat perannya dalam tatanan global dengan meramu paket rekomendasi yang beberapa hari lagi disebut sebagai “Solo Initiatives”. Karenanya, Indonesia menjadi host-country dari sebuah dialog yang dinamakan: High Level Dialogue on Institutional Framework on Sustainable Development yang diadakan di Solo, 19-21 Juli 2011. Catatan ini bukan catatan harian si boy, tapi hasil pendengaran saya.
—-
Mengenai “Sustainable Development” atau juga dikenal sebagai Pembangunan Berkelanjutan, ada beberapa yang harus dirubah, utamanya adalah studi-studi yang dilakukan dari sekedar mendalami masalah lingkungan hidup, kini lebih jauh hingga keterkaitannya dengan masalah-masalah ekonomi dan sosial. Dus, tidak lagi sekedar membahas masalah seperti: preservasi ekosistem; sustain life support system, biodiversity, biocapacity; adaptasi dan mitigasi perubahan iklim; dan manajemen air bersih.
Tapi juga membahas hal-hal yang lebih kompleks seperti: (a) dari sisi ekonomi; ketahanan pangan, ketahanan energi, kebutuhan dasar, pembangunan infrastruktur, penghapusan kemiskinan, (b) dari sisi sosial; pembangunan sumber daya manusia, kesehatan, keadilan sosial, dan keterhubungan sosial. Luasnya bidang yang menjadi concern dari Pembangunan Berkelanjutan, membuat koordinasi lintas sektoral menjadi sangat penting di tingkat nasional dan lokal. Dan bila dipetakan dalam peta stakeholders kepentingan, dapat dibagi menjadi tiga: (1) Pemerintah, terkait sumber daya alam yang digunakan untuk pembangunan; (2) Pengusaha, terkait keuntungan ekonomi dari pembangunan; dan (3) Masyarakat Sipil, terkait keuntungan sosial dari pembangunan.
Saya tidak mewakili Pemerintah maupun Pengusaha ketika hadir dalam dialog ini, maka saya mewakili Masyarakat Sipil; saya, anda, kita semua. Dari catatan yang saya punya, Prof. Emil Salim menekankan pentingnya partisipasi masyarakat sipil dalam pembangunan yang berkelanjutan, karena mereka-lah yang paling berkepentingan di setiap masalah-masalah yang dibahas lebih lanjut di atas.
Pada tatanan global, negara-negara yang terlibat dalam penyusunan segala hal yang berkaitan dengan Pembangunan Berkelanjutan tentu saja memiliki kepentingan masing-masing yang dibawa dari tingkat regional, nasional dan lokal. Bayangkan tumpukan kepentingan-kepentingan itu dan bayangkan bagaimana cara membuatnya menjadi satu.
Oke, pembahasan ini masih panjang, nanti saya lanjutkan lagi. hehe…
Bersambung.
Indonesia di AFF
December 29th, 2010 § 6 Comments
Saya memang bukan pengamat persepakbolaan yang baik. Tapi, kali ini saya ingin menulis sesuatu yang mungkin dirasakan juga oleh mereka yang sesama -bukan pengamat bola-.
Selama 10 tahun terakhir, sepakbola tidak pernah menjadi olahraga kebanggaan Indonesia. Kita bahkan hampir tidak punya kebanggaan sama sekali, hampir untuk semua hal. Saya ulangi, hampir semua hal. Kecuali mungkin pada beberapa olimpiade ilmu pengetahuan, seperti fisika, matematika dan dunia. Itu pun sangat jarang mendapatkan momentum hingga menjadi kebanggaan Indonesia. Nah, sepakbola dalam dua minggu terakhir mendapatkan momentum tersebut.
Momentum, momentum, momentum.
Titik yang mungkin belum tentu bisa dicapai lagi bahkan dalam hitungan dekade. Sebuah titik yang bila bisa dicapai akan membuat perubahan yang begitu besar pada suatu keadaan, keadaannya Indonesia.
Kenapa momentum dalam pertandingan-pertandingan sejak semifinal piala AFF menjadi begitu penting? Jawabannya sesederhana, rakyat Indonesia membutuhkan sesuatu yang bisa dibanggakan oleh mereka, yang bisa dibagikan dalam cerita di hari-hari esok walaupun kepada teman sendiri yang mungkin juga menyaksikan hal yang sama. Tapi, toh mereka bisa tersenyum mengenangnya.
Anda lihat kekecewaan rakyat Indonesia saat menyaksikan timnas yang kalah saat bermain tandang di Kuala Lumpur? Anda, harusnya bisa sadar dan dengan jelas mengatakan bagaimana wajah Anda saat melihat kiper timnas, Markus, di sorot dengan laser hijau? Atau saat Firman Utina sebagai pemimpin tim di lapangan memilih mengajak walk-out dari pertandingan setelah berusaha menerjemahkan kekhawatiran rekan-rekannya karena ditekan secara psikologis oleh pendukung tim Malaysia?
Saya ingin bertanya, bagaimana kecewanya wajah Anda saat menyaksikan pertandingan final AFF leg-1 di TV/ mendengarkannya di Radio? Bahwa setelah ditekan secara psikologis, mental pemain timnas Indonesia merosot tajam, dan kehilangan fokus untuk menjaga pertahanan hingga akhirnya gawang jebol tiga kali? Bagaimana kecewanya wajah Anda? Hancur ya? Berkeping-keping ya? :p
Agregat skor sementara untuk Indonesia 0-3.
Tim Indonesia sebetulnya beruntung karena pertandingan berlangsung dua kali menggunakan sistem home and away. Dan kita beruntung karena kesempatan kedua adalah pertandingan home, yang berarti kita punya home-supporters advantages. Karenanya, jangan kecewa dulu, sadari keuntungan itu. Hidupkan energi positif yang kita punya sehingga mental pemain tim kita bisa bangkit kembali. Anda sadarkan kalau energi, baik positif maupun negatif bisa menular? Bayangkan bila kita keburu kecewa, dan menularkan energi negatif kepada para pemain timnas? Habislah mereka. Sejarah tentang Indonesia yang juara piala AFF bisa batal ditulis. Kan?
Sekarang bayangkan juga bila rakyat Indonesia bisa menularkan energi yang positif kepada para pemain timnas? Terbayang kelak hasilnya? Mungkin, mungkin agregat skor sementara yang 0-3 itu bisa berubah menjadi 6-3. Mungkin? Kan?
Ingat energi dari Rakyat kita bila dikumpulkan bisa begitu besar. Semuanya dikembalikan kepada Anda, apakah ingin membantu timnas dengan membentuk medan energi positif dan mendorong timnas untuk segera bangkit, atau menjatuhkan timnas sendiri karena medan energi negatif yang tidak terkontrol, menular dan membuat mental pemain terperosok lebih jauh?
Saya? Saya sudah memilih untuk menularkan energi positif. Bagaimana dengan Anda?
Tiga cara pandang sebuah Partai Politik
November 4th, 2010 § 1 Comment
National Institute for Democratic Governance (NIDG) tempat saya saat ini membangun karier merupakan sebuah lembaga yang berusaha untuk menjadi motor yang dapat mengubah Dewan Perwakilan Rakyat menjadi Lembaga Legislasi yang memiliki tata-kelola yang lebih akuntable, transparan, efektif dan efisien.
Dalam keseharian kerja kami, kerap berlangsung diskusi yang menarik terkait issue-issue tertentu. Di suatu sore yang sejuk, Bapak Marzuki Darusman, Advisor NIDG berbagi sedikit ilmu yang beliau miliki setelah bertahun-tahun berkarya di dunia politik. Berikut catatan saya ..
Cara pandang sebuah Partai Politik dapat dibagi ke dalam tiga hal, yaitu:
1. Cara pandang atas Pertumbuhan
Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang muncul adalah: Bagaimana Partai Politik melihat sektor ekonomi sebagai pendukung kehidupan berbangsa dan bernegara? Bagaimana kepentingan nasional itu akan diperjuangkan oleh Partai Politik untuk negara?
Partai Politik harus memiliki sikap dan cara pandang yang jelas dalam melihat, dan mendorong aspek Pertumbuhan Ekonomi.
Partai Politik sebagai representasi konstituen perlu menjadi yang terdepan dalam menjaga eksistensi (survivalitas) Bangsa dalam aspek pertumbuhan ekonomi.
Partai Politik saat ini cenderung bersikap oportunistik, ketimbang pragmatis. Seharusnya, sebuah Partai Politik memandang segala hal dengan pendekatan Pragmatis, sehingga dengan sadar mencari jalan keluar dari masalah yang menimpa Negara dan Bangsa tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dan nilai yang ada.
2. Cara pandang atas Persatuan dan Kesatuan
Dalam berbangsa dan bernegara, Partai Politik harus menjunjung prinsip Keadilan dan Kesamarataan. Karena kedua prinsip itu yang menjadi dasar penggerak dari terbentuknya Persatuan dan Kesatuan.
Bagaimana Partai Politik memandang individu yang hidup dalam sebuah masyarakat? Aspek tersebut bisa dilihat dari bagaimana Partai Politik memandang individu dalam masyarakat.
Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti: Bagaimana cara pandang dalam konservatifisme memperlakukan individu sebagai entitas yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri? Bagaimana cara pandang dalam liberalisme memperlakukan individu sebagai bagian utuh dan pelengkap dari masyarakat?
3. Cara pandang atas Hubungan Internasional
Bagaimana Partai Politik memperjuangkan nilai-nilai yang dijunjung oleh negara-negara di dunia?
Dalam memandang negara sebagai bagian dari lingkungan regional dan atau Internasional, Partai Politik harus mendorong negara dalam menginternasionalisasikan nilai-nilai universal yang dijunjung bersama. Sebagai negara demokrasi, misalnya, maka Indonesia harus menyebarkan nilai-nilai yang selama ini terinstitusionalisasi di dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.
Bagaimana Indonesia bisa bertahan dengan prinsip-prinsip demokrasi bila lingkungan negara-negara di sekitarnya tidak demokratis. Hal ini menjadi penting karena berpengaruh terhadap ruang gerak dalam internal lingkungan regional seperti ASEAN, atau dalam scope lainnya yang lebih kecil.
—
Demikian pointers acak yang bisa saya catat mengenai diskusi tersebut. Sebetulnya tulisan ini baru draft saja, nanti saya coba kembangkan lagi ya.

