Archive for the ‘opini’ Category

Post

Suara Anda Menentukan

In indonesiana, politik on July 7, 2009 by aditya sani Tagged: , ,

Teman, esok hari negeri ini merayakan demokrasi. Pilih siapapun yang menurut Anda terbaik untuk Bangsa. Ketiga pasangan yang gambarnya terpampang di kertas suara merupakan yang terbaik dan berani maju memimpin negeri ini. Ingat, berani maju menjadi pemimpin itu saja sudah sesuatu yang hebat. Tidak banyak anak negeri ini yang berani seperti mereka.

Teman, mungkin besok Anda memilih untuk tidak memilih. Anda punya hak, namun Anda tidak ingin menggunakannya. Saya menghormati Anda. Namun, memilih untuk tidak memilih tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Memilih untuk tidak memilih hanya akan menambah masalah. Anda apatis, mungkin begitu juga teman Anda. Lantas siapa yang mau mengawasi mereka yang akan menjadi pemimpin negara kelak? Bayangkan jika kemudian mereka memimpin tanpa ada dukungan dari kita semua.

Teman, sore ini, dengan secangkir teh hangat duduklah di beranda rumah Anda. Hiruplah udara negeri ini. Sesap lamat dan dalam. Pejamkan mata Anda, sembari bayangkan Indonesia seperti apa yang Anda inginkan. Jangan lupa bayangkan pemimpin seperti apa yang Anda inginkan. Pikirkan baik-baik. Karena besok, menentukan 5 tahun ke depan.

Ingat teman, kita semua punya hak atas negeri ini. Kita semua juga punya kewajiban atas negeri ini. Pilihlah yang terbaik dari pasangan yang ada. Berfikirlah lalu ikuti kata hati, Anda. Istikharah lah bila memang Anda ragu.

Indonesia menunggu suaramu, Teman.

Post

Bicara Kemandirian

In indonesiana, opini, politik on June 27, 2009 by aditya sani

Bicara soal memilih siapa yang akan saya dukung, akhirnya keputusannya sudah bulat. Saya memilih menjadi pendukung Pak Jusuf. Pun saya tidak terlalu menyukai Jenderal yang mendampingi Ketua Umum Partai Golkar tersebut. Karena issue-issue terkait pelanggaran HAM sebelum masa reformasi. Saya tidak terlalu mau ambil pusing. Saya yakin keduanya individu yang sama-sama memiliki integritas.

Bila memang lembaga peradilan kita bersungguh-sungguh untuk menuntaskan masalah pelanggaran HAM, sudah barang tentu dituntaskan sejak lama. Pun masalah ini diluruskan, tetap akan menjadi issue yang seksi untuk dimainkan sebagai salah satu komoditas dalam kampanye politik. Masalahnya sekarang yang terdengar di telinga awam (seperti saya) semua Jenderal yang maju menjadi Capres/Cawapres kala itu sedang menduduki jabatan-jabatan dalam struktur komando TNI. Hampir tidak mungkin bila hanya salah satu Jenderal saja yang dikenai sanksi/hukuman. Semua terlibat, karena berada dalam satu rantai komando.

Maka bila issue ini memang harus diungkap, ketiga Jenderal yang sedang beradu dalam Pilpres harus bersepakat dulu, mengambil tanggung jawab masa lalu bersama-sama. Ketimbang terlarut dalam saling tuding dan perdebatan tak lekang waktu di ranah publik.

Walaupun perdebatan semacam itu mungkin menguntungkan bagi penulis-penulis ‘buku putih’ untuk menerbitkan sesuatu dan melakukan cross publishing, bila tidak ingin dikatakan saling copy-paste isi tulisan. Bila saatnya masyarakat bosan dan terdesak kebutuhan yang lebih melekat, pasti issue-issue ini teralihkan dengan sendirinya. Sama seperti kasus Manohara yang menurut Budi Suwarna, Kompas: melodramatis. Heran kan kenapa drama dan melankolisme laku keras di negeri ini?

Mungkin, karena Bangsa Indonesia punya kadar empati dan simpati yang tinggi? Lalu kemana kadar keduanya ketika berurusan dengan tetangga di lingkungan sekitar yang kekurangan secara ekonomi? Lupa? Atau jangan-jangan buat kita mereka kurang melodramatis? Hidupnya kurang sulit sehingga belum menyentuh rasa hati dan mengajak kita berfikir?

Kembali ke Jusuf Kalla. Mungkin ada pertanyaan: kenapa memilih berada dibarisannya? Hanya satu hal yang menjadi alasan saya. Dari ketiga pasang calon yang maju hanya Pak Jusuf yang berani mengajak kita kepada Kemandirian. Buat saya, itu hal yang paling penting untuk dieksplorasi lebih jauh. Ketimbang berdebat soal mana yang lebih baik antara prinsip neoliberalisme dengan ekonomi kerakyatan. Tak akan selesai, dan sekali lagi terlalu melodramatis. Nanti diujung perdebatan pasti seolah ada yang teraniaya, seolah menjadi korban dari black campaign. Ajang kampanye yang seharusnya diisi dengan unjuk kualitas malah berubah menjadi episode sinetron ala India.

Kemandirian harus dimulai dengan memberikan keteladanan, itu yang dikatakan Pak Jusuf suatu kali. Tanpa keteladanan tidak akan ada proses meniru di masyarakat. Usaha yang dilakukan beliau dalam mengangkat industri sepatu nasional merupakan salah satu contoh yang bagus. Tapi, ingat problem kita bukan hanya industri sepatu. Indonesia punya potensi pasar industri kreatif yang luas, demand begitu tinggi, tapi masih under supply. Kita punya Bandung dan Jogjakarta, anak-anak muda di dua kota tersebut begitu dinamis dan menjadi trend-setter. Mereka butuh dukungan yang nyata, bukan sekedar pidato yang menginspirasi.

Sekarang soal bagaimana kita, orang Indonesia, bisa mengoptimalkan fungsi, baik sebagai pelaku industri, konsumen, maupun pembuat kebijakan. Pertanyaan saya, apakah kita memiliki kemauan yang kuat untuk memajukan Indonesia?

Ah iya, pada dasarnya Indonesia dipimpin siapapun sama saja..karena sejauh yang saya tahu, Bappenas sudah memiliki Rencana Pembangunan Jangka Panjang (untuk 25 tahun kalau saya tidak salah). Jadi apa yang dikoar2kan para Capres/Cawapres sebagai program sebetulnya sudah memiliki acuan dasar. Salah bila Ibu Mega mengatakan bahwa negara ini seolah tidak punya arah, karena tidak punya GBHN.

Jadi mau lebih cepat lebih baik, mau melanjutkan, asal tidak sekedar slogan ekonomi kerakyatan, ndak masalah..hahaha

Post

Politik Makpret

In indonesiana, jakarta, opini, politik, sosial on April 22, 2009 by aditya sani

Politik..eh Politisi (kata @ndorokakung politisinya yang gak mutu) sebulan ini menjadi komoditas..eh tontonan paling tak bermutu, benang kusut yang terjadi pada masa koalisi ternyata hanya setarik garis kepentingan, dan..umm..’persepsi’ (seperti kata Suryadharma Ali tempo hari-red).

Apa kepentingannya? Bangsa? Atau jatah kursi di Kabinet? Atau Departemen/Kementerian  yang paling basah?   Tergantung Partai banyak diisi teknokrat/industrialis/pedagang akan menentukan siapa dapat apa. Karenanya pula, Suryadharma lebih senang menari bersama PDI-P, jangan-jangan setelah posisi di Departemen Koperasi dan UKM, beliau dijanjikan posisi Meneg BUMN oleh PDIP? Jangan-jangan. Jangan-jangan pula, Bachtiar Chamsyah dijanjikan tetap di posisi Menteri Sosial atau malahan Menkokesra yang lebih basah oleh PD.

Untuk Partai, mungkin Departemen/Kementerian bisa menjadi sapi peras, demi pembiayaan konstituen di daerah, para pahlawan tanpa tanda jasa yang berdarah-darah mengumpulkan massa agar supaya Kampanye terlihat ramai.

Ah, soal konstituen, saya punya cerita..

Sewaktu pemilihan legislatif, saya terkaget-kaget dibuatnya oleh orang-orang di kampung saya. “Lo milih ape, cing?“, sapa teman saya di mushola kampung. “Eits, rahasia..“, ucap saya sembari tersenyum penuh misteri. Halah.. Teman-teman yang lain ikut bertanya, “Et dah, milih ape tadi??“. “PKS..“, ucap saya pelan. Serentak mereka berkomentar satu sama lain, “Dulu gw milih PKS..skrg mah males..bla..bla..bla…” “Iya, PKS kan..bid’ah sudahlah…“. Saya tertawa cekikian. Seorang teman kembali bertanya, “Cing, lo emang ikut-ikutan kumpul sama anak-anak PKS?”. “Enggak, ngapain emang?“, saya balik bertanya.”Mereka tiap kali pengajian kan ngelarang kita sodaqoh, tahlilan buat yang udah meninggal, bla..bla..bla…“, sergap teman saya beribu alasan.

Saya kembali tertawa, “Jadi berkurang yak jatah tahunan lo dari Sodaqoh…“, tanya saya sembari menyindir. Teman saya tadi tidak meneruskan pembicaraan. “Lo pilih Demokrat aja kalo gitu, biar dapet BLT lagi..siapa tau kan..ada lagi kalo menang…“, lagi-lagi saya menyindir. Dasar mulut sendiri nyinyir, pikir saya dalam hati.

——

Ada cerita lainnya..

Hari itu Kampanye Akbar PDI-P, tetangga saya yang caleg DPRD melalui Ketua RT ,yang juga fans beratnya ,memanggil pemuda-pemudi harapan bangsa, yang entah kenapa lebih memilih jaga kontrakan dan ngojek ketimbang sekolah, untuk menghadiri acara tersebut. Di Gelora Bung Karno, bisik Ketua RT kepada perwakilan pemuda. “Ada uang bengsin sama rangsum buat anak-anak ntar..“, Ketua RT kembali berbisik. “Berape bang?“, tanya pemuda harapan bangsa yang matanya kini hijau seperti usianya yang belia. “Ade lah gocap (Rp 50.000,-) mah..“, bisik Ketua RT lagi. “Mane duitnye?“, tanya pemuda yang tiba-tiba ileran. “Nih … “, Ketua RT menggenggam dua buah amplop coklat, tanpa logo, tanpa wajah. “Eit..ceban (Rp 10.000,-) dulu yak buat panjer (uang muka), bakal beli bensin dulu. Sisanya ntar gampang…“, tegas Ketua RT melihat pemuda hendak meraih amplop.  “Ya elaaah..medit lo kaya arab!“, cela si pemuda. “Ya udah, ntar gw panggil anak-anak biar berangkat, gw siapin knalpot dulu biar berisik…“, ucap si pemuda setengah bersemangat.

“Reng..teng..teng..teng..treeenng..treeeng…”, suara motor bertalu-talu (gendaaang kali bertalu-talu!). Tet teret teret…Pasukan Bonek majuu jalaan!!

Sepulangnya kampanye, dengan perut lapar lagi keroncongan, masih berbaju merah marah meriah, perwakilan pemuda mendatangi rumah caleg. “Salamlekuum..“, teriak pemuda sembari mengetuk pintu. Seorang pembantu tergopoh-gopoh, “Nyari siapa bang?“. “Bapak ada?“, tanya si pemuda tak tau basa-basi. “Ada keperluan apa Bang?“, tanya si pembantu. “Mau ambil duit rangsum..“, tegas si pemuda. “Ohh, tadi Bapak pesan, duitnya dititipkan ke Ketua RT katanya…

“Jreng jreng jreeeeengg….”, suara gitar spanyol mengiringi aksi ‘banteng-banteng muda’ yang marah mendengar jawaban si pembantu.

Tergopoh-gopoh dengan hati yang panas seperti matahari siang itu, pemuda-pemudi mencari Ketua RT dari pangkalan ojek sampai kantor kelurahan. Dan ditemukanlah sang Ketua RT sedang bermain catur bersama tukang ojek di pangkalan ojek merah. “Bang, mana janji lo?“, tanya pemuda setengah berteriak. “Apaan? Kagak ada, yang dateng kagak rame, lo gagal ngejalanin tugas!“, tegas Ketua RT, masih asik memegang pion catur.

“Jreng jreeng jreeeeenggg….”, suara gitar kedua kali ini dengan sebuah kain merah melambai-lambai, memancing banteng marah.

Lo liat ya bang! PDI P kagak bakal menang di kampung kite! Pegang omongan gw!“, si pemuda kali ini berteriak sembari meludah dan menunjuk muka Ketua RT. Ketua RT tak bergidik, ah bahkan berfikir pun sepertinya tidak.

Kemana ya duit sisanya? Hehehe..Jangan tanya saya, Bapak tadi pesan, duitnya sudah dititipkan ke Ketua RT!

Sore, dihari pemilihan legislatif, sang caleg DPRD, duduk termangu. Feeling-nya buruk, tak lagi murah senyum, wajahnya kusut. Ia tak terpilih menjadi anggota legislatif DPRD.

———-

Lucu ya kelakuan orang-orang, gak caleg, gak ketua RT, gak anak-anak muda, sama saja. Politik dan Koalisi seperti kata Ketua Umum PPP, memerlukan kesamaan persepsi. Persepsi yang sama: dimana ada uang, disana disayang.

t

Reriungan Blogger bersama Prabowo Subianto, seperti sudah diduga lebih di format sebagai bagian dari kampanye Gerindra dan dirinya sendiri. Bukan sebagai sebuah diskusi yang memberikan pencerahan, jawaban-jawaban yang diberikan oleh Prabowo, cenderung ke arah diplomatis nan teoritis. Seperti pengakuannya Prabowo memang bukan seorang ekonom, Ia bergantung kepada para ekonom yang sering disebutnya sebagai kolega, yang tergabung dalam Institut Garuda Nusantara.

Dua hal yang menurut Prabowo paling penting yaitu Solve the problem to boost Indonesia’s economy dan Clean Bureaucracy. Prabowo berulangkali menekankan pentingnya meningkatkan pendapatan para birokrat dan pejabat, untuk mendorong kinerja dan mencegah terjadinya korupsi.

Dalam kapasitas sebagai ketua umum HKTI, dia cukup memiliki kompetensi dalam menjelaskan masalah pertanian di Indonesia. Walaupun, jelas belum sekaliber Siswono Yudo Husodo. Audience pun nampaknya kurang tertarik mendengarkan penjelasannya mengenai competitive advantage Indonesia dalam bidang Pangan dan Pertanian.

Yang patut disayangkan, Prabowo berulang juga membandingkan Indonesia dengan Singapura, yang menurut saya bukan perbandingan yang pas, jauh dari pas. Karena, Singapura secara demografis bahkan tidak lebih besar dari Jakarta. Dalam hal yang lain pun tak sebanding. Untuk sebuah impian, bolehlah kita memimpikan Indonesia yang sesejahtera Singapura, walaupun Singapura pada akhirnya bergantung pada sumber daya negara lain.

Satu hal lagi, ketika menjawab setiap pertanyaan, Prabowo sering melakukan ‘lari marathon’ sebelum akhirnya mengarah ke finish, tanpa menjawab pertanyaan dengan lengkap.

Pertanyaan ‘How-to‘ atas two-digit growth yang diimpikan Prabowo, dijawab dengan case study pada pengembangan Pohon Aren di berbagai Negara seperti Tanzania, Brazil, dll untuk pengembangan bio-ethanol. Yang ironis menurut Prabowo, bibit pohon aren yang digunakan diberbagai negara diperoleh dari Tomohon, Sulawesi Utara. Masih menurutnya, apa yang diceritakannya merupakan salah satu bagian dari Program yang akan dia jalankan. AFAIK, bio-ethanol saat ini justru menjadi masalah di AS karena pengembangannya ternyata mengganggu ketahanan pangan. Karena, petani pada akhirnya lebih memilih memproduksi bahan bio-ethanol ketimbang bahan pangan.

Best part of today’s show:  Menjelang tutup acara, ada dua perwakilan ‘anggota masyarakat’ yang seolah bersimpati pada Prabowo Subianto. Perwakilan pertama dari seorang ibu yang mengapresiasi dan percaya pada usaha Prabowo. Sedang yang kedua dari anak-anak muda yang katanya sebelumnya berfikir ‘Golput’, saya sendiri ragu antara mereka golput atau mereka belum cukup umur. Ah ya, sebelum anak-anak muda itu menyampaikan ‘isi hati’-nya terlebih dulu diputar sebuah jingle Tidar (Tunas Indonesia Raya), Kelompok Pemuda-Pemudi yang berafiliasi dengan Gerindra. Mereka yang hadir nampak bingung melihat kejanggalan ini.

Sekian resume yang bisa saya berikan atas pertemuan dengan Prabowo malam ini. Di akhir acara tadi, juga dibagikan sebuah buku berjudul ‘Membangun Kembali Indonesia Raya: Haluan Baru Menuju Kemakmuran’ yang ditulis oleh Prabowo Subianto dan tim Institut Garuda Nusantara (Fadly Zon, dkk.). Mengenai buku itu, bila sempat, nanti akan saya baca dengan seksama sembari di kritisi. Bila sempat, dan tidak membosankan isinya.

Reriungan Blogger bersama Prabowo Subianto

on April 1, 2009 by aditya sani

38 Comments

Post

iri hati pada jogjakarta

In Kliping, indonesiana, inspirasi, jogjakarta, sepeda, sosial, travelling on March 2, 2009 by aditya sani

Pagi tadi saya membaca sebuah liputan Media Indonesia yang bercerita tentang peringatan Serangan Umum 1 Maret di Kota Jogjakarta, sebuah kota yang akan selalu mendapat tempat di hati saya. Apa yang menarik dalam berita tersebut? Pemerintah Kota Jogjakarta memperingati Serangan Umum 1 Maret dengan mengumpulkan lebih kurang 3000 (tiga ribu) pesepeda, tua-muda, dari pelajar hingga veteran perang, pengguna low-rider bicycle sampai onthelis. Ya, Jogjakarta telah mendeklarasikan dirinya dengan tagline “Jogjakarta kota Sepeda“. Hebat sekali, sangat modern, sangat metropolitan!

Program apa yang diusung Herry Zudianto, sang walikota? Namanya Sego Segawe (Sepeda kanggo Sekolah lan nyambut Gawe), atau bila diterjemahkan kurang lebih sebagai berikut: Sepeda untuk pergi ke Sekolah dan Bekerja. Herry berkata, “Mulai sekarang, kita harus membiasakan diri dengan bersepeda. Tindakan yang sederhana tapi visioner dan modern untuk lingkungan kita ke depan.” Ia juga menambahkan bahwa sepeda tidak identik dengan kemiskinan, dan menyalahkan warga Jogja yang beranggapan sepeda motor dan mobil lebih bergengsi ketimbang sepeda onthel.

sego-segawe

“Sepeda bukan berarti wong cilik atau alat transportasi jadul (jaman dulu). Justru sepeda adalah alat transportasi yang gaul. Kepada pemuda-pemudi, saya berpesan, kalau mencari pacar, carilah mereka yang gemar bersepeda.”, seloroh sang Walikota, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pengguna setia motor Harley Davidson ini.

Apa yang hebat dari Kota Jogjakarta dan Sepeda? Kota Jogjakarta memiliki 200 klub pesepeda; dalam waktu dekat Pemkot bersama Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Provinsi DIY akan membuat 34 jalur sepeda, dan mengintegrasikan program kerja lima tahunan-nya dengan program Sego Segawe. Hal tersebut juga akan didukung dengan pemasangan rambu-rambu bagi pesepeda, pembuatan jalur alternative sepeda dan melakukan gerakan penghijauan.

Ah, Hebat bukan buatan Kota Jogjakarta! Duhai kawan-kawan CahAndong, ayo dukung program Pak Herry! Ingin pulang dan bersepeda kembali di Jogja rasanya …