Archive for the ‘politik’ Category

t

Kemarin, merupakan pagi yang cukup spesial untuk saya. Saya bangun tidur sembari tersenyum. Membayangkan kemenangan yang akan datang dalam tempo sesingkat-singkatnya. Teman, untuk kali pertama, saya memiliki keyakinan yang besar pada pemimpin yang akan saya pilih.

Bertemu tetangga sepanjang jalan menuju TPS, saya bertanya kepada beberapa tetangga: pilih siapa pagi ini? Beberapa menjawab JK, beberapa lainnya menjawab SBY. Tidak terdengar jawaban bahkan berbisik soal Mega. Saya terus berjalan menuju TPS 031. Pukul 7.45, sesampainya disana belum terlihat aktivitas, selain dua orang hansip yang berjaga. Kemana anggota KPPS yang lainnya? Biasa, Indonesia, karet.

Undangan memilih saya letakkan di meja pendaftaran. Akhirnya, anggota KPPS yang lain datang, seremoni kecil diadakan. Lima belas menit kemudian, saya akhirnya dipanggil. Dengan kaki kanan maju lebih dahulu dan bismillah di dalam hati, saya mengambil surat suara yang menjadi hak saya. Spidol merah saya goreskan pada kotak ketiga seperti logo sebuah merek sepatu kenamaan. Kelingking saya pun tercelup tinta biru yang kabarnya tak luntur seminggu itu.

Pesta Demokrasi kemarin pagi mengajarkan saya untuk saling menghormati pilihan politik sesama warga negara. Beruntung saya bukan orang yang punya kecenderungan untuk bersikap fanatik terhadap sesuatu. Ah, dan yang menyenangkan adalah ternyata banyak tetangga yang belum saling kenal karena selama ini mereka disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Pesta Demokrasi, mengajarkan kepada kita bahwa pilihan seseorang, siapapun dia, ditentukan oleh bagaimana dia memandang sesuatu.

Pendukung Mega-Pro buat saya pribadi, cenderung menginginkan kemudahan dalam hidupnya.  Tagline yang pro-kerakyatan kabarnya begitu mempesona mereka, BBM murah, Sembako bersubsidi, dan lain-lainnya. Hal-hal yang buat saya pribadi, agak mustahil dilakukan di negeri ini, karena minimnya dana yang ada di APBN.

Pendukung SBY-Boediono buat saya pribadi, cenderung mengagumi kharisma seorang SBY dan mungkin lebih senang kepada sosok yang santun dan terlihat seperti seorang pemikir. Beberapa pemilihnya merasakan adanya perbaikan dalam kehidupan mereka, seperti kesan yang saya tangkap pada beberapa supir taksi yang pernah saya temui. Banyak dari mereka yang menyatakan selama masa pemerintahan SBY, rejeki mereka semakin baik, dengan pendidikan anak-anak yang gratis karena kebetulan dana BOS di sekolah mencukupi. Saya rasa cukup banyak yang merasakan hal yang sama dengan para supir taksi tersebut. Pun banyak pula yang merasakan sebaliknya, karena sistem birokrasi kita yang juga masih jauh dari sempurna.

Lima tahun itu ya kurang lah, mas adit. Maka sebaiknya, kita lanjutkan saja, mas!“, begitu pesan seorang teman yang berusia cukup jauh diatas saya. Saya menjawab, “Iya, mas, idealnya sebenarnya SBY tetap bersama JK. Karena dengan begitu pemerintahan bisa kuat didukung dua partai yang besar. Tapi, apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. SBY lebih ingin partainya bertahan setelah 2014 ketimbang habis begitu saja setelah beliau lengser nantinya. Mungkin itulah sebabnya beliau lebih memilih cawapres yang bukan dari partai untuk kelangsungan Demokrat. Bayangkan bila anggota PKS atau partai lain yang dimajukan sebagai cawapres. Perlahan pasti Demokrat tenggelam …

Seperti yang diharapkan Denny JA, pasangan SBY-Boediono pun perlahan tapi pasti sepertinya akan memenangkan Pilpres 2009 ini, satu putaran.

Pendukung JK-Wiranto, masuk kepada kelompok yang sudah bosan melihat lambatnya gerak pemerintahan SBY,  hutang negara 5 tahun terakhir yang semakin menumpuk, dan ketakutan atas Rezim baru yang langgeng kelak (pun saya percaya rakyat tidak akan membiarkan sejarah Orba berulang). Dan percaya bahwa JK yang  ceplas-ceplos bin cas cis cus geraknya ini, mampu membawa Indonesia lebih mandiri.

Hmm,.. Hasil Quick Count muncul berbondong-bondong, yang patut disayangkan hasil tersebut keluar saat pemilihan berlangsung. Lucu memang, bagaimana media hari ini bisa melanggar batas api. Sadar atau tidak , mereka menggiring publik untuk memilih salah satu pasangan, seperti yang dilakukan banyak lembaga survey elektabilitas pasangan yang ber’sponsor’ sebulan terakhir. Begitulah politik dan tehnik pemasarannya yang semakin hebat tahun-tahun belakangan ini. Dan begitu pula rakyat kita yang akhirnya membeli pasangan itu untuk menjadi pemimpin Indonesia. Wisdom of the crowds, suara rakyat yang mewakili suara Tuhan. Kubu SBY-Boediono dan kubu JK-Wiranto sama-sama menggelar Zikir Akbar pada malam 7 Juli. Dan Allah Azza Wa Jalla nampaknya lebih memilih mengabulkan do’a pasangan SBY-Boediono.

Untuk mereka yang kemarin membayar hak sebagai pemilih. Teman, kita sudah sama-sama memilih, tangan ini sudah turut serta memasang batu pertama pemerintahan lima tahun kedepan. Kita punya tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia untuk terus mendukung pemerintahan yang menjadi pemenang kelak. Mendukung bukan sekedar mendukung, tetapi juga mengawasi dan memberikan kritik. Percayalah bahwa pemerintah yang baik pada dasarnya mencintai kritik, karena dari sanalah perbaikan bisa dimulai. Maka kritiklah sebaik yang bisa kita lakukan, karena dengan begitu kita lagi-lagi membayar hak kita sebagai warga negara yang baik.

Pelajaran dari Demokrasi

on July 9, 2009 by aditya sani

5 Comments

Post

Suara Anda Menentukan

In indonesiana, politik on July 7, 2009 by aditya sani Tagged: , ,

Teman, esok hari negeri ini merayakan demokrasi. Pilih siapapun yang menurut Anda terbaik untuk Bangsa. Ketiga pasangan yang gambarnya terpampang di kertas suara merupakan yang terbaik dan berani maju memimpin negeri ini. Ingat, berani maju menjadi pemimpin itu saja sudah sesuatu yang hebat. Tidak banyak anak negeri ini yang berani seperti mereka.

Teman, mungkin besok Anda memilih untuk tidak memilih. Anda punya hak, namun Anda tidak ingin menggunakannya. Saya menghormati Anda. Namun, memilih untuk tidak memilih tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Memilih untuk tidak memilih hanya akan menambah masalah. Anda apatis, mungkin begitu juga teman Anda. Lantas siapa yang mau mengawasi mereka yang akan menjadi pemimpin negara kelak? Bayangkan jika kemudian mereka memimpin tanpa ada dukungan dari kita semua.

Teman, sore ini, dengan secangkir teh hangat duduklah di beranda rumah Anda. Hiruplah udara negeri ini. Sesap lamat dan dalam. Pejamkan mata Anda, sembari bayangkan Indonesia seperti apa yang Anda inginkan. Jangan lupa bayangkan pemimpin seperti apa yang Anda inginkan. Pikirkan baik-baik. Karena besok, menentukan 5 tahun ke depan.

Ingat teman, kita semua punya hak atas negeri ini. Kita semua juga punya kewajiban atas negeri ini. Pilihlah yang terbaik dari pasangan yang ada. Berfikirlah lalu ikuti kata hati, Anda. Istikharah lah bila memang Anda ragu.

Indonesia menunggu suaramu, Teman.

Post

Bicara Kemandirian

In indonesiana, opini, politik on June 27, 2009 by aditya sani

Bicara soal memilih siapa yang akan saya dukung, akhirnya keputusannya sudah bulat. Saya memilih menjadi pendukung Pak Jusuf. Pun saya tidak terlalu menyukai Jenderal yang mendampingi Ketua Umum Partai Golkar tersebut. Karena issue-issue terkait pelanggaran HAM sebelum masa reformasi. Saya tidak terlalu mau ambil pusing. Saya yakin keduanya individu yang sama-sama memiliki integritas.

Bila memang lembaga peradilan kita bersungguh-sungguh untuk menuntaskan masalah pelanggaran HAM, sudah barang tentu dituntaskan sejak lama. Pun masalah ini diluruskan, tetap akan menjadi issue yang seksi untuk dimainkan sebagai salah satu komoditas dalam kampanye politik. Masalahnya sekarang yang terdengar di telinga awam (seperti saya) semua Jenderal yang maju menjadi Capres/Cawapres kala itu sedang menduduki jabatan-jabatan dalam struktur komando TNI. Hampir tidak mungkin bila hanya salah satu Jenderal saja yang dikenai sanksi/hukuman. Semua terlibat, karena berada dalam satu rantai komando.

Maka bila issue ini memang harus diungkap, ketiga Jenderal yang sedang beradu dalam Pilpres harus bersepakat dulu, mengambil tanggung jawab masa lalu bersama-sama. Ketimbang terlarut dalam saling tuding dan perdebatan tak lekang waktu di ranah publik.

Walaupun perdebatan semacam itu mungkin menguntungkan bagi penulis-penulis ‘buku putih’ untuk menerbitkan sesuatu dan melakukan cross publishing, bila tidak ingin dikatakan saling copy-paste isi tulisan. Bila saatnya masyarakat bosan dan terdesak kebutuhan yang lebih melekat, pasti issue-issue ini teralihkan dengan sendirinya. Sama seperti kasus Manohara yang menurut Budi Suwarna, Kompas: melodramatis. Heran kan kenapa drama dan melankolisme laku keras di negeri ini?

Mungkin, karena Bangsa Indonesia punya kadar empati dan simpati yang tinggi? Lalu kemana kadar keduanya ketika berurusan dengan tetangga di lingkungan sekitar yang kekurangan secara ekonomi? Lupa? Atau jangan-jangan buat kita mereka kurang melodramatis? Hidupnya kurang sulit sehingga belum menyentuh rasa hati dan mengajak kita berfikir?

Kembali ke Jusuf Kalla. Mungkin ada pertanyaan: kenapa memilih berada dibarisannya? Hanya satu hal yang menjadi alasan saya. Dari ketiga pasang calon yang maju hanya Pak Jusuf yang berani mengajak kita kepada Kemandirian. Buat saya, itu hal yang paling penting untuk dieksplorasi lebih jauh. Ketimbang berdebat soal mana yang lebih baik antara prinsip neoliberalisme dengan ekonomi kerakyatan. Tak akan selesai, dan sekali lagi terlalu melodramatis. Nanti diujung perdebatan pasti seolah ada yang teraniaya, seolah menjadi korban dari black campaign. Ajang kampanye yang seharusnya diisi dengan unjuk kualitas malah berubah menjadi episode sinetron ala India.

Kemandirian harus dimulai dengan memberikan keteladanan, itu yang dikatakan Pak Jusuf suatu kali. Tanpa keteladanan tidak akan ada proses meniru di masyarakat. Usaha yang dilakukan beliau dalam mengangkat industri sepatu nasional merupakan salah satu contoh yang bagus. Tapi, ingat problem kita bukan hanya industri sepatu. Indonesia punya potensi pasar industri kreatif yang luas, demand begitu tinggi, tapi masih under supply. Kita punya Bandung dan Jogjakarta, anak-anak muda di dua kota tersebut begitu dinamis dan menjadi trend-setter. Mereka butuh dukungan yang nyata, bukan sekedar pidato yang menginspirasi.

Sekarang soal bagaimana kita, orang Indonesia, bisa mengoptimalkan fungsi, baik sebagai pelaku industri, konsumen, maupun pembuat kebijakan. Pertanyaan saya, apakah kita memiliki kemauan yang kuat untuk memajukan Indonesia?

Ah iya, pada dasarnya Indonesia dipimpin siapapun sama saja..karena sejauh yang saya tahu, Bappenas sudah memiliki Rencana Pembangunan Jangka Panjang (untuk 25 tahun kalau saya tidak salah). Jadi apa yang dikoar2kan para Capres/Cawapres sebagai program sebetulnya sudah memiliki acuan dasar. Salah bila Ibu Mega mengatakan bahwa negara ini seolah tidak punya arah, karena tidak punya GBHN.

Jadi mau lebih cepat lebih baik, mau melanjutkan, asal tidak sekedar slogan ekonomi kerakyatan, ndak masalah..hahaha

Post

Politik Makpret

In indonesiana, jakarta, opini, politik, sosial on April 22, 2009 by aditya sani

Politik..eh Politisi (kata @ndorokakung politisinya yang gak mutu) sebulan ini menjadi komoditas..eh tontonan paling tak bermutu, benang kusut yang terjadi pada masa koalisi ternyata hanya setarik garis kepentingan, dan..umm..’persepsi’ (seperti kata Suryadharma Ali tempo hari-red).

Apa kepentingannya? Bangsa? Atau jatah kursi di Kabinet? Atau Departemen/Kementerian  yang paling basah?   Tergantung Partai banyak diisi teknokrat/industrialis/pedagang akan menentukan siapa dapat apa. Karenanya pula, Suryadharma lebih senang menari bersama PDI-P, jangan-jangan setelah posisi di Departemen Koperasi dan UKM, beliau dijanjikan posisi Meneg BUMN oleh PDIP? Jangan-jangan. Jangan-jangan pula, Bachtiar Chamsyah dijanjikan tetap di posisi Menteri Sosial atau malahan Menkokesra yang lebih basah oleh PD.

Untuk Partai, mungkin Departemen/Kementerian bisa menjadi sapi peras, demi pembiayaan konstituen di daerah, para pahlawan tanpa tanda jasa yang berdarah-darah mengumpulkan massa agar supaya Kampanye terlihat ramai.

Ah, soal konstituen, saya punya cerita..

Sewaktu pemilihan legislatif, saya terkaget-kaget dibuatnya oleh orang-orang di kampung saya. “Lo milih ape, cing?“, sapa teman saya di mushola kampung. “Eits, rahasia..“, ucap saya sembari tersenyum penuh misteri. Halah.. Teman-teman yang lain ikut bertanya, “Et dah, milih ape tadi??“. “PKS..“, ucap saya pelan. Serentak mereka berkomentar satu sama lain, “Dulu gw milih PKS..skrg mah males..bla..bla..bla…” “Iya, PKS kan..bid’ah sudahlah…“. Saya tertawa cekikian. Seorang teman kembali bertanya, “Cing, lo emang ikut-ikutan kumpul sama anak-anak PKS?”. “Enggak, ngapain emang?“, saya balik bertanya.”Mereka tiap kali pengajian kan ngelarang kita sodaqoh, tahlilan buat yang udah meninggal, bla..bla..bla…“, sergap teman saya beribu alasan.

Saya kembali tertawa, “Jadi berkurang yak jatah tahunan lo dari Sodaqoh…“, tanya saya sembari menyindir. Teman saya tadi tidak meneruskan pembicaraan. “Lo pilih Demokrat aja kalo gitu, biar dapet BLT lagi..siapa tau kan..ada lagi kalo menang…“, lagi-lagi saya menyindir. Dasar mulut sendiri nyinyir, pikir saya dalam hati.

——

Ada cerita lainnya..

Hari itu Kampanye Akbar PDI-P, tetangga saya yang caleg DPRD melalui Ketua RT ,yang juga fans beratnya ,memanggil pemuda-pemudi harapan bangsa, yang entah kenapa lebih memilih jaga kontrakan dan ngojek ketimbang sekolah, untuk menghadiri acara tersebut. Di Gelora Bung Karno, bisik Ketua RT kepada perwakilan pemuda. “Ada uang bengsin sama rangsum buat anak-anak ntar..“, Ketua RT kembali berbisik. “Berape bang?“, tanya pemuda harapan bangsa yang matanya kini hijau seperti usianya yang belia. “Ade lah gocap (Rp 50.000,-) mah..“, bisik Ketua RT lagi. “Mane duitnye?“, tanya pemuda yang tiba-tiba ileran. “Nih … “, Ketua RT menggenggam dua buah amplop coklat, tanpa logo, tanpa wajah. “Eit..ceban (Rp 10.000,-) dulu yak buat panjer (uang muka), bakal beli bensin dulu. Sisanya ntar gampang…“, tegas Ketua RT melihat pemuda hendak meraih amplop.  “Ya elaaah..medit lo kaya arab!“, cela si pemuda. “Ya udah, ntar gw panggil anak-anak biar berangkat, gw siapin knalpot dulu biar berisik…“, ucap si pemuda setengah bersemangat.

“Reng..teng..teng..teng..treeenng..treeeng…”, suara motor bertalu-talu (gendaaang kali bertalu-talu!). Tet teret teret…Pasukan Bonek majuu jalaan!!

Sepulangnya kampanye, dengan perut lapar lagi keroncongan, masih berbaju merah marah meriah, perwakilan pemuda mendatangi rumah caleg. “Salamlekuum..“, teriak pemuda sembari mengetuk pintu. Seorang pembantu tergopoh-gopoh, “Nyari siapa bang?“. “Bapak ada?“, tanya si pemuda tak tau basa-basi. “Ada keperluan apa Bang?“, tanya si pembantu. “Mau ambil duit rangsum..“, tegas si pemuda. “Ohh, tadi Bapak pesan, duitnya dititipkan ke Ketua RT katanya…

“Jreng jreng jreeeeengg….”, suara gitar spanyol mengiringi aksi ‘banteng-banteng muda’ yang marah mendengar jawaban si pembantu.

Tergopoh-gopoh dengan hati yang panas seperti matahari siang itu, pemuda-pemudi mencari Ketua RT dari pangkalan ojek sampai kantor kelurahan. Dan ditemukanlah sang Ketua RT sedang bermain catur bersama tukang ojek di pangkalan ojek merah. “Bang, mana janji lo?“, tanya pemuda setengah berteriak. “Apaan? Kagak ada, yang dateng kagak rame, lo gagal ngejalanin tugas!“, tegas Ketua RT, masih asik memegang pion catur.

“Jreng jreeng jreeeeenggg….”, suara gitar kedua kali ini dengan sebuah kain merah melambai-lambai, memancing banteng marah.

Lo liat ya bang! PDI P kagak bakal menang di kampung kite! Pegang omongan gw!“, si pemuda kali ini berteriak sembari meludah dan menunjuk muka Ketua RT. Ketua RT tak bergidik, ah bahkan berfikir pun sepertinya tidak.

Kemana ya duit sisanya? Hehehe..Jangan tanya saya, Bapak tadi pesan, duitnya sudah dititipkan ke Ketua RT!

Sore, dihari pemilihan legislatif, sang caleg DPRD, duduk termangu. Feeling-nya buruk, tak lagi murah senyum, wajahnya kusut. Ia tak terpilih menjadi anggota legislatif DPRD.

———-

Lucu ya kelakuan orang-orang, gak caleg, gak ketua RT, gak anak-anak muda, sama saja. Politik dan Koalisi seperti kata Ketua Umum PPP, memerlukan kesamaan persepsi. Persepsi yang sama: dimana ada uang, disana disayang.

t

Reriungan Blogger bersama Prabowo Subianto, seperti sudah diduga lebih di format sebagai bagian dari kampanye Gerindra dan dirinya sendiri. Bukan sebagai sebuah diskusi yang memberikan pencerahan, jawaban-jawaban yang diberikan oleh Prabowo, cenderung ke arah diplomatis nan teoritis. Seperti pengakuannya Prabowo memang bukan seorang ekonom, Ia bergantung kepada para ekonom yang sering disebutnya sebagai kolega, yang tergabung dalam Institut Garuda Nusantara.

Dua hal yang menurut Prabowo paling penting yaitu Solve the problem to boost Indonesia’s economy dan Clean Bureaucracy. Prabowo berulangkali menekankan pentingnya meningkatkan pendapatan para birokrat dan pejabat, untuk mendorong kinerja dan mencegah terjadinya korupsi.

Dalam kapasitas sebagai ketua umum HKTI, dia cukup memiliki kompetensi dalam menjelaskan masalah pertanian di Indonesia. Walaupun, jelas belum sekaliber Siswono Yudo Husodo. Audience pun nampaknya kurang tertarik mendengarkan penjelasannya mengenai competitive advantage Indonesia dalam bidang Pangan dan Pertanian.

Yang patut disayangkan, Prabowo berulang juga membandingkan Indonesia dengan Singapura, yang menurut saya bukan perbandingan yang pas, jauh dari pas. Karena, Singapura secara demografis bahkan tidak lebih besar dari Jakarta. Dalam hal yang lain pun tak sebanding. Untuk sebuah impian, bolehlah kita memimpikan Indonesia yang sesejahtera Singapura, walaupun Singapura pada akhirnya bergantung pada sumber daya negara lain.

Satu hal lagi, ketika menjawab setiap pertanyaan, Prabowo sering melakukan ‘lari marathon’ sebelum akhirnya mengarah ke finish, tanpa menjawab pertanyaan dengan lengkap.

Pertanyaan ‘How-to‘ atas two-digit growth yang diimpikan Prabowo, dijawab dengan case study pada pengembangan Pohon Aren di berbagai Negara seperti Tanzania, Brazil, dll untuk pengembangan bio-ethanol. Yang ironis menurut Prabowo, bibit pohon aren yang digunakan diberbagai negara diperoleh dari Tomohon, Sulawesi Utara. Masih menurutnya, apa yang diceritakannya merupakan salah satu bagian dari Program yang akan dia jalankan. AFAIK, bio-ethanol saat ini justru menjadi masalah di AS karena pengembangannya ternyata mengganggu ketahanan pangan. Karena, petani pada akhirnya lebih memilih memproduksi bahan bio-ethanol ketimbang bahan pangan.

Best part of today’s show:  Menjelang tutup acara, ada dua perwakilan ‘anggota masyarakat’ yang seolah bersimpati pada Prabowo Subianto. Perwakilan pertama dari seorang ibu yang mengapresiasi dan percaya pada usaha Prabowo. Sedang yang kedua dari anak-anak muda yang katanya sebelumnya berfikir ‘Golput’, saya sendiri ragu antara mereka golput atau mereka belum cukup umur. Ah ya, sebelum anak-anak muda itu menyampaikan ‘isi hati’-nya terlebih dulu diputar sebuah jingle Tidar (Tunas Indonesia Raya), Kelompok Pemuda-Pemudi yang berafiliasi dengan Gerindra. Mereka yang hadir nampak bingung melihat kejanggalan ini.

Sekian resume yang bisa saya berikan atas pertemuan dengan Prabowo malam ini. Di akhir acara tadi, juga dibagikan sebuah buku berjudul ‘Membangun Kembali Indonesia Raya: Haluan Baru Menuju Kemakmuran’ yang ditulis oleh Prabowo Subianto dan tim Institut Garuda Nusantara (Fadly Zon, dkk.). Mengenai buku itu, bila sempat, nanti akan saya baca dengan seksama sembari di kritisi. Bila sempat, dan tidak membosankan isinya.

Reriungan Blogger bersama Prabowo Subianto

on April 1, 2009 by aditya sani

38 Comments