Archive for the ‘politik’ Category

Post

mimpi bogota

In indonesiana, internasional, jakarta, politik, sepeda, sosial on December 10, 2008 by aditya sani

“Kami membangun sebuah kota bukan untuk bisnis dan kendaraan, melainkan bagi anak-anak dan juga masyarakat, … Daripada harus membangun jalan layang, kami melarang penggunaan kendaraan bermotor. … Kami berinvestasi pada lajur-lajur pejalan kaki yang berkualitas, taman-taman kota, lajur sepeda, dan perpustakaan; kami juga memusnahkan berbagai reklame yang memenuhi kota dan menanam pohon kembali. … Semua yang kami lakukan setiap hari di Bogota punya satu tujuan: Kebahagiaan.”

Kalimat diatas merupakan bagian dari pidato Enrique Penalosa dalam kunjungan ke Jakarta delapan tahun yang lalu, saat-saat awal pemprov DKI berencana membangun busway. Penalosa sendiri merupakan Mayor yang memimpin kota Bogota pada periode 1998-2001. Ia berhasil menciptakan sistem bus yang baru dan mendesain jaringan lajur sepeda di kotanya.

Penalosa tidak bekerja sendiri. Sebelum kepemimpinannya, hadir Antanus Mockus, seorang professor matematika, telah lebih dulu memimpin Bogota. Keduanya bekerja sama melakukan transformasi kota berisi lebih kurang delapan juta orang itu menjadi sebuah model pembangunan urban yang progresif.

Mentransformasi kota Bogota adalah tugas dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Bagaimana tidak, Bogota lama dikenal sebagai kota penculikan dan pembunuhan, yang selama 38 tahun terjebak dalam sebuah perang sipil, dipenuhi dengan para pemadat, dan koruptor politik. Belum cukup dengan gelar tadi, Bogota juga dikenal dengan tingkat kemacetan dan polusi udaranya yang tinggi. Bogota boleh jadi sempurna sebagai neraka dunia.

Kolombia, kurang lebih sama dengan Indonesia. Tingkat pengangguran yang tinggi, kesenjangan ekonomi yang lebar, penurunan nilai ekspor, dan tidak stabil secara politik. Lingkungannya pun begitu, sama menyedihkan, deforestasi yang tinggi, penggunaan pestisida yang berlebihan, polusi udara yang tinggi. Sebagai tambahan, Bogota memiliki lingkungan masyarakat yang sangat latin, hidup a la Bronx. Maka daerah kumuh pun berkembang seperti cendawan di musim hujan, dengan tingkat pemenuhan kebutuhan yang sangat rendah. Pertumbuhan yang tidak terencana kemudian juga menyebabkan riuhnya sistem pembuangan limbah, saling tumpang tindih, kemudian disempurnakan oleh minimnya air bersih. Nah, Kolombia boleh jadi salah satu negara yang sempurna sebagai neraka dunia.

Transformasi

mimpi-bogota-resize

Pada masa awal kepemimpinan Penalosa, ia meluncurkan sebuah program yang obsesif (kabarnya seperti perang salib) untuk mereformasi sistem transformasi kota. Dicanangkannya perang terhadap kendaraan bermotor, pelarangan penggunaan kendaraan selama jam-jam sibuk untuk mengurangi kemacetan hingga 40 persen. Ia juga meyakinkan dewan kota untuk menaikkan pajak atas bahan bakar. Sebagian dari pendapatan yang diperoleh pajak kemudian digunakan untuk membiayai sistem bus yang melayani lebih kurang 500.000 warga Bogota per hari.

“Setiap hari minggu, kami menutup 120 kilometer jalan-jalan utama dari segala kendaraan bermotor. … Satu setengah juta orang dari segala usia dan kondisi keluar untuk mengendarai sepeda, jogging, bersilaturahmi, dan menghargai kotanya. Selama Natal, kami menutup jalan yang sama sehari penuh dan hamper tiga juta orang keluar dari rumah masing-masing untuk sekedar melihat lampu-lampu Natal gemerlapan, serta untuk bersama yang lainnya dalam sebuah komunitas.”, imbuh Penalosa.

Penalosa berperang, Mockus menjadi ‘super-hero’.. Mockus memulai masa-masa awal kepemimpinannya dengan tindakan yang terlihat konyol, namun heroik. Dengan tujuan utama, mendidik warga kota agar lebih beradab. Ditengah kota, ia berjalan-jalan menggunakan pakaian berwarna merah dan biru, dan menamakan dirinya ‘super citizen’. Tugas seorang ‘super citizen’ adalah memberikan saran tentang bermasyarakat dan berperadaban. Mockus bahkan menghadirkan dirinya dalam iklan layanan masyarakat dengan memperagakan bagaimana mandi yang baik demi konservasi air. Kampanye terakhirnya yang berfokus pada isu-isu mengenai transportasi kota, telah memaksa penduduk kota untuk mempersenjatai diri sendiri dengan cinta, dan mengurangi maraknya jumlah polisi yang korup. Mockus mungkin kadang menggunakan cara yang aneh, pun pada akhirnya rencananya berhasil.

Sepuluh tahun yang lalu, Penalosa pernah mendeskripsikan Bogota sebagai a city hated by its inhabitants, who felt powerless and felt that in the future things would only get worse (sebuah kota yang di benci oleh penduduknya, yang merasa tidak punya kekuatan dan merasa masa depan hanya akan menjadi lebih buruk). Dan setelah transformasi besar berlangsung Penalosa kembali berujar bahwa masyarakat Bogota punya rasa memiliki atas kotanya. Mereka merasa mampu mengontrol takdir mereka sendiri.

***

Ada 5 hal besar yang dilakukan pemerintah kota Bogota pada periode 1995-1998 dan 1998-2001, yakni :
1. Memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk kesadaran atas peradaban sipil yang baik;
2. Mengurangi kebiasaan penggunaan kendaraan pribadi, lalu melarang penggunaannya;
3. Menciptakan sistem transportasi massal kota (bus dan lajur sepeda) dengan matang dan serius;
4. Membangun kembali taman-taman kota, dan perpustakaan-perpustakaan di sudut-sudut kota;
5. Menjaga kesinambungan project-project yang ada.

Kelima hal tersebut diatas tidak berjalan begitu saja, keberhasilan Bogota (selain karena keseriusan pemerintahnya) juga didukung penuh oleh kemauan warga masyarakatnya untuk berubah menjadi lebih beradab. Ada yang serupa bila kita melihat kondisi Kolombia dan Bogota (belasan tahun yang lalu) dengan Indonesia dan Jakarta saat ini. Maka kalau saya boleh menyimpulkan, belum terlambat bagi pemerintah kita untuk melakukan kerja besar, seperti yang pernah dilakukan Penalosa dan Mockus di Bogota.

Semoga.

Post

pilih idenya

In indonesiana, opini, politik, sosial on December 5, 2008 by aditya sani Tagged: , , , , , ,

Masa kampanye yang sesungguhnya semakin dekat dengan kita, Kawan. Spanduk, poster, kalender sampai leaflet sudah memenuhi sudut-sudut kota. Jakarta atau daerah, sama saja. Seminggu terakhir di kampung betawi, tempat saya tinggal, sudah berdiri dua posko partai. Satu partai ‘kebo ireng’ dan yang satu partai ‘pake hati’.

Begini ceritanya.. di mobil pribadinya, caleg yang kabarnya berhati nurani itu memajang stiker besar logo partai. Di atas kap mesin, di kanan-kiri pintu, dan di atas kap bagasi mobil. Sebagai pemanis ditambahkan stiker dengan latar bendera partai dan foto dua orang calon: tetangga saya, anggota legislatif dan koleganya, jenderal wiranto. Mobil itu mendadak terasa ramai, seolah siap ikut karnaval. Saya geleng-geleng kepala melihatnya.

Pak caleg dari partai kebo ireng lain lagi caranya. Suatu kali di suatu sore yang lengas, mushola mengumandangkan sebuah pengumuman. Konon katanya akan diadakan pengajian, eh syukuran di rumah pak caleg. Semua orang diundang, begitu kata berita yang tersiar. Pengajian pun dimulai ba’da isya’. Khidmat pengajian dipimpin oleh imam mushola yang kabarnya pendukung partai ‘pake hati’. Bubar pengajian sembako senilai dua puluh ribu rupiah dibagikan. Yang lucu, beberapa tetangga kemudian mendesis,

“ah mending juga dibagiin duit, kita mah gak butuh sembako…”.

Kejadian diatas mungkin tidak hanya terjadi di kampung saya saja. Satu kejadian lagi kemudian berlaku pada saya. Suatu siang di dalam angkot (angkutan kota), mata saya memicing pada kaca belakang kendaraan ini. Pemandangan cutting stiker besar, tertulis disana “DJUANDA, SH : Mari lawan ketidakadilan” dengan pemanis foto sang caleg berhati nurani. Senyum saya menyimpul, tergelitik untuk mencari tau apakah ada angkot lain yang memasang stiker yang sama. Saya turun di depan pasar kebayoran lama, tempat menumpuknya segala jurusan angkot -dari dan ke- ciledug. Lima belas menit saya mencari-cari, sudah lima angkot yang memajang stiker yang sama. Pikir saya, narsis juga bapak yang satu itu.

Belum cukup rupanya hanya menempel cutting stiker diangkot. Dipasangnya pula bendera-bendera berukuran satu kali setengah meter. Entah berapa ratus jumlahnya. Tak lupa, namanya, logo partai dan nomor yang kabarnya sakti, enam. Puas dengan cutting stiker dan bendera? Oh belum. Ada satu trik lagi untuk membantu ingatan masyarakat. Spanduk-spanduk besar dengan tulisan yang sama besar, DJUANDA SH. Entah apa tujuan spanduk itu, karena kali ini hanya namanya saja, tanpa embel-embel. Mengambang, persis seperti masyarakat pemilih Indonesia pada umumnya.

Sampai dirumah, saya merasa ‘mabuk djuanda’. Bagaimana tidak? di angkot, di ujung gang, di atas ruko, di pagar pembatas jalan layang, di mana-mana.

***

Setiap kali saya berfikir tentang siapa yang akan saya pilih Pemilu nanti. Tiap kali itu juga saya diam karena tidak punya jawaban. Apa kiranya kriteria caleg atau capres yang layak dipilih?

1. Sering mengadakan pengajian lalu bagi-bagi sembako atau duit
2. Foto, dan taglinenya mejeng dimana-mana
3. Kebetulan ‘yang bersangkutan’ tetangga sendiri

Tiga kriteria diatas mungkin sering menjadi acuan para pemilih mengambang. Masalahnya, bila hanya tiga poin diatas yang jadi bahan pertimbangan, bisa-bisa berabe semua urusan yang berhubungan dengan publik.

Lalu apa ya yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan?

Ide atau solusi yang dibawa oleh sang caleg atau capres. Ide bukan sekedar janji, apalagi tagline beo seperti Mari Lawan Ketidakadilan. Kita sama-sama tahu masalah publik di masyarakat dan negara begitu banyak. Tapi, sudah seharusnyalah seorang caleg atau capres maju ke depan dan menyampaikan ide-ide yang mereka ingin tanamkan dalam rencana kerja setelah terpilih. Kenapa? sederhana saja, orang Indonesia sudah lelah dijanjikan ini itu.

Saya ambil contoh sederhana saja, Kawan. Indonesia misalnya punya beberapa issue penting, sebutlah ketahanan pangan, penanaman modal asing, dan penguatan industri nasional. Ketiganya saling berkaitan, langsung maupun tidak langsung. Lalu timbul pertanyaan, dari ketiga issue tadi mana yang harus didahulukan sehingga ketiganya tumbuh-kembang secara berkelanjutan dan mendorong kesejahteraan?

Nah, caleg atau capres yang layak pilih akan dengan berani mengajukan sebuah proposal berisi ide-ide untuk menjadi solusi permasalahan yang ada.

***

Sudah bertemu caleg atau capres yang punya proposal seperti itu, Kawan?

Anyway, Kawan merasa ‘mabuk djuanda’ juga gak? hahaha..

Post

pahlawan teror

In indonesiana, opini, politik, sosial on November 9, 2008 by aditya sani Tagged: , , ,

Mereka yang pernah berjuang untuk membantu negeri ini menjadi nyata, tidak pernah mengharapkan gelar. Hidup mereka memang sudah digariskan menjadi seorang pejuang. Gelar “pahlawan” ditambah embel-embel kata “nasional”, saya rasa tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran. Saya percaya mereka saat ini sudah tenang karena tugas sudah dibayar tunai. Walaupun perjuangan tidak pernah mengenal garis final. Soal bagaimana sebuah perjuangan dilanjutkan, itu sudah menjadi urusan kita-kita, generasi yang masih bernafas di bumi pertiwi.

Menyoal penghormatan cukup diberikan dengan melanjutkan perjuangan mereka setulus hati. Tidak perlu kemudian berpolemik soal siapa yang pantas dan kriteria apa yang menjadi standar baku agar seseorang bisa mendapat gelar. Sudahlah, mereka yang pahlawan saja tidak pernah meributkan soal itu. Kenapa kita yang masih hidup malah ribut? Apa iya mereka sempat menulis wasiat kepada anak cucunya agar suatu hari diajukan proposal mengenai pemberian gelar pahlawan nasional? Kan tidak.

Kalaupun ada sebuah wasiat misalnya, pasti isinya pesan yang singkat soal melanjutkan tugas yang mereka perjuangkan selama ini. Itu yang lebih penting. Negeri ini hanya butuh satu hal : mereka yang mau berjuang. Tidak lagi butuh mereka yang senang beradu otot, atau senang berteriak-teriak. Ibu pertiwi sudah lelah melihat darah yang mengalir. Ini sedikit ribut. Itu sedikit lempar batu. Agh STOP!

Teror. Itu kata yang melompat-lompat di kepala saya. Negeri ini penuh teror. Ada yang hanya main-main. Mungkin otak dan hatinya sudah pindah ke bawah kaki. Ada juga yang dengan semangat, mengepalkan tangan, dan berteriak, “Kami akan melanjutkan perjuanganmu Ya Amrozi! Ya Mukhlas! Ya Imam Samudera!”. Nah yang ini mungkin otaknya sudah digadai dengan dendam. Lugu, berwawasan sempit, dan yang paling berbahaya, gelap mata.

Saya mengelus dada, ketika melihat berbagai tayangan di televisi mengenai eksekusi mati trio bomber Bali. Beragam komentar, beragam argumen, dan lagi-lagi polemik menyoal hal-hal yang buat saya non-sense. Yang satu melarang mereka menggunakan kata ‘mujahidin’, yang satu tidak mau kalah ‘bombastis’. Dikatakan, “mereka yang melarang kami menggunakan kata ‘mujahidin’ berarti melanggar HAM!”.

Seminggu terakhir ini melihat berita di televisi terasa melelahkan. Ya ya ya, silahkanlah kalau anda-anda mau pakai gelar pahlawan. Terserah sajalah. Bukan tidak peduli, bukan. Satu hal yang diinginkan orang awam seperti saya ini, kedamaian, itu saja.

Ya Allah, berikan negeri kami hidayahMu, luruskan pandangan kami tentang agamaMu, bersihkan pikiran dan hati kami dari kata dendam, dan suudzon, rahmati kami dengan keadilanMu, jauhkan negeri kami dari kemiskinan, dan lapangkan kami rizkiMu, Ya Allah. Sesungguhnya Engkau yang Maha Mengabulkan segala permintaan. Kabulkanlah permohonan kami. Amiin.

Post

karakter

In indonesiana, opini, politik, sosial on October 28, 2008 by aditya sani Tagged: , , , ,

Manners maketh man’, ucap William of Wykeham, seorang uskup dari Winchester, Inggris. ‘Manners make us human’, mungkin itu yang dimaksud sang uskup. ‘Manners’, secara luas dapat dimaknai sebagai karakter, kepribadian, dan menjadi diri sendiri. Uskup William menggunakan kalimat ini sebagai motto yang dipegang teguh oleh Winchester dan New College nun di Oxford, Inggris sana. Beliau menginginkan para pemuda yang tengah dididik di kemudian hari dapat memiliki karakter, seperti apapun itu, yang utamanya bertata krama, dan menjadi diri sendiri.

Dari pengantar diatas kemudian kita mengenal sebuah lagu Sting yang mengamini ungkapan uskup William.

If, “Manners maketh man” as someone said/ Then he’s the hero of the day/ It takes a man to suffer ignorance and smile/ Be yourself no matter what they say … … Modesty, propriety can lead to notoriety/ You could end up as the only one/ Gentleness, sobriety are rare in this society/ At night a candle’s brighter than the sun/ Takes more than combat gear to make a man/ Takes more than a license for a gun/ Confront your enemies, avoid them when you can/ A gentleman will walk but never run …  (Sting, Englishman in New York)

Sejarah manusia telah mengajarkan kita banyak hal, begitu banyak manusia yang sejak muda sudah berani memiliki karakternya sendiri, dan berakhir dengan menjadi sesuatu. From nothing to something, a nobody to somebody. Arnold Toynbee menyebut mereka yang ‘membentuk’ sejarah ini sebagai, “Minoritas Kreatif”, kaum minoritas yang bergerak melawan zaman.

Mereka yang menjadi minoritas kreatif seperti disebut Toynbee tidak pernah menunggu, mereka pemain dan selalu bergerak bersama mimpi. Hidupnya penuh gairah dan gelora. Optimisme sudah terpatri didalam pikirannya. Merekalah yang berdiri ditengah keberagaman. Sorot matanya tajam, menunjukkan dedikasi yang tinggi bahkan pada hal-hal yang kecil mendetil. Tangannya selalu diatas dan penuh kelembutan, walaupun terbiasa menghantam batuan zaman yang keras. Kakinya selalu memijak bumi, seolah dunia hanya sementara, sedang tujuan akhir adalah beribadah kepada Tuhannya.

Bukan tugas ringan menjadi manusia semacam itu, tetapi keIndonesiaan belum final. Proses itu masih terus berjalan. Terus dan terus hingga akhir zaman. YB Mangunwijaya berucap mengutip ungkapan yang menjadi semboyan Raja-raja Ligne, “Quo res cumque cadant, stat semper linea recta!” Biarpun semua roboh, tetaplah di garis lurus!

sumber : Kompas, 28 Oktober 2008
gambar : Youth of the nation, Lazulyte, 2007

Post

Jong Indonesia

In indonesiana, opini, politik, sosial on October 27, 2008 by aditya sani Tagged: , , , ,

Kata ‘Jong adalah aksara belanda yang sepadan dengan kata ‘young‘, mungkin bila diterjemahkan menjadi ‘anak muda’. Istilah ‘jong’ di Indonesia sudah lama tidak kita dengar. Yang lebih sering kita dengar mungkin istilah ‘kawula muda’ (prambors fm), ‘anak nongkrong’ (mtv), ‘boys and girls‘ (mustang fm), dan sebutan lainnya yang biasa digunakan oleh penyiar di radio-radio bergenre anak muda. Kaum muda memiliki peranan tersendiri yang tentu saja penting untuk menggerakkan sebuah bangsa, terutama ketika generasi yang memimpin sudah terlalu larut dalam  jebakan kekuasaan.

Penggunaan bahasa secara seragam merupakan elemen penting dalam penyatuan sebuah bangsa. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, kita pernah mengalami masa dimana kaum intelektual Indonesia yang kebanyakan didikan negeri belanda menggunakan bahasa penjajah karena terlanjur terbiasa. Bisa dibayangkan bagaimana kaum intelektual tersebut bisa kembali mengabdi pada ibu pertiwi, bila bahasa berkelas intelektual dipadankan dengan bahasa yang bukan mother-tongue orang Indonesia. Tentu saja kemudian ada ketimpangan yang terjadi, terutama dalam ketersampaian pesan kepada masyarakat awam yang jauh dari pendidikan.

Kaum intelektual didikan Belanda yang menggagas kebangsaan Indonesia memulai penyatuan dengan bahasa melayu awalnya. Para jong ini sempat kesulitan menggunakan bahasa melayu, karena mereka tidak terbiasa, dan bahasa asing yang mungkin terlanjur melekat. Atas desakan dari Muhammad Yamin, Kongres Pemuda Indonesia yang diadakan para Jong se-Hindia Belanda kala itu menggunakan bahasa melayu. Walaupun sebagian besar peserta yang datang masih dalam tahap kembali belajar bahasa Ibu pertiwi.

Ada kejadian lucu, seperti dikutip oleh majalah tempo edisi khusus 80 tahun Sumpah Pemuda. Kala itu Amir Sjarifuddin (ketua sidang), bertanya pada para peserta tentang kesiapan mereka menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa pengantar selama kongres berlangsung. Para peserta kongres pemuda yang memang masih dalam tahap belajar bahasa pun menjawab secara serentak dan lantang, “Siiikaaaap!”.

Dulu dan kini, waktu merentang diri dari 1928 sampai 2008, 80 tahun sudah Sumpah Pemuda dilewati bangsa ini. Perkembangan bahasa dan kaum muda Indonesia telah melintasi berbagai masa dan memiliki ciri khas masing-masing. Ciri khas tersebut pun bergantung pada latar belakang tertentu, tergantung pada lingkungan (komunitas) apa mereka berkembang. Seperti dalam dunia penyiaran misalnya, ada pakem tertentu yang digunakan oleh radio siaran tertentu. Begitu pun dengan komunitas berbasis budaya, agama, bahkan sekedar kesamaan ide tau hobby.

Masing-masing komunitas berkembang dan terkadang menciptakan benteng atau gap yang sangat mungkin menciptakan kesalahpahaman bila dipandang dengan sempit. Namun sebaliknya, hal ini justru sebenarnya bisa memperkaya budaya Indonesia, karena proses perkembangan sebuah bangsa tidak akan pernah berhenti. Dan tentu saja, tak bisa dipungkiri perubahan akan hal-hal tertentu terjadi.

Seorang kolumnis, Rikard Bagun, menulis dalam Harian Kompas hari ini bahwa dibutuhkan banyak sumpah pemuda untuk bisa membangkitkan bangsa ini kembali. Rikard juga menekankan bahwa sebuah bangsa tidak boleh kehilangan nilai-nilai dasar kebangsaannya. Permasalahannya kemudian adalah apa kontribusi para Jong baru Indonesia ini sekarang? Apakah mereka sudah tenggelam dalam arus? Dan sedang mengalami kesulitan menantang arus besar konsumsi dan hedonisme yang riuh ramai? Yang perlu diingat saat ini sistem ditentukan dengan model survival of the fastest, bukan lagi survival of the fittest.

Islam saja bisa terpecah-pecah, bagaimana dengan Indonesia? Bung Karno pernah menulis saat pengasingan di Ende, Flores, 18 Agustus 1936 ketika mengomentari persoalan ummat yang memandang sempit keberagaman. Dalam suratnya kepada Ustad A. Hassan (pemimpin Persatuan Islam di Bandung), Ia berkata,

“…Tetapi apa jang kita ‘tjutat’ dari Kalam Allah dan Sunnah Rasul itu? Bukan apinja, bukan njalanja, bukan flamenja, tetapi abunja, debunja, asbesnja. Abunja jang berupa tjelak mata dan sorban, abunja yang yang mentjintai kemenjan dan tunggangan onta, abunja jang bersifat Islam mulut dan Islam-ibadat — zonder taqwa, abunja jang cuma tahu batja Fatihah dan tahlil sahaja — tetapi bukan apinja jang menjala-njala dari udjung zaman jang satu ke udjung zaman jang lain …”.

Indonesia, dan para ‘Jong-baru’nya dari berbagai kalangan, entah komunitas, agama, budaya, sosial dan politik, perlu mengingat satu hal bahwa perjalanan dan perkembangan sebuah bangsa adalah sesuatu yang pasti. Persoalan keberagaman sudah seharusnya dipandang sebagai kekayaan bangsa ini, yang perlu dilakukan adalah menelaah ke belakang dan berkaca pada sejarah Sumpah Pemuda sebagai awal kelahiran Indonesia. Dan ingat kata Bung Karno, ambil api(jiwa/semangat)nya(persatuan dalam sumpah pemuda) yang menyala-nyala dari ujung zaman(awal lahirnya sebuah bangsa) yang satu ke ujung zaman yang lain(hingga kematangan bangsa tersebut dalam melewati masa).

Bagaimana kawula muda, anak nongkrong, boys and girls, siap bersumpah untuk mengabdi pada bangsa dan negara ini? Bangsa ini perlu darah segar untuk bangkit.

sumber : Kompas 27 Oktober 2008, dan Tempo Edisi 80 Tahun Sumpah Pemuda
gambar : Kompas, 27 Oktober (Arsip Museum Sumpah Pemuda, Jakarta)