Archive for the ‘sosial’ Category

Post

Enrique Penalosa: Transportasi di Jakarta Mirip Penyakit Kanker

In Kliping, indonesiana, jakarta, sepeda, sosial, travelling on November 12, 2009 by aditya sani

Sebagai Walikota Bogota periode 1998-2001, Enrique Penalosa sukses membawa perubahan pada layanan transportasi publik dengan memperkenalkan konsep jaringan bus jalur cepat (Bus Rapid Transportation/BRT).

Diresmikan pada 2002, sistem bernama Trans Millenio ini secara signifikan bisa menekan tingkat kemacetan lalu lintas sekaligus mampu menyediakan kebutuhan transportasi umum yang cepat di ibu kota Kolombia itu.

Trans Millenio yang diperkenalkan Penalosa itu kini mengilhami banyak pemerintah kota di manca negara, termasuk DKI Jakarta, yang pada 2004 lalu membangun layanan bus jalur cepat yang populer disebut dengan Busway.

Selama memerintah Bogota, Penalosa pun menerapkan sejumlah aturan yang radikal, diantaranya adalah menutup jalan-jalan protokol setiap hari Minggu selama beberapa jam bagi kendaraan bermotor pribadi. Tujuannya untuk memberi kesempatan bagi warga untuk berekreasi, berolahraga, dan bersepeda di jalan-jalan utama mengingat terbatasnya ruang terbuka untuk publik di Bogota.

Pensiun sebagai walikota, Penalosa kini bekerja sebagai konsultan di bidang visi pembangunan kota. Dia berkeliling ke manca negara untuk memperkenalkan konsep pembangunan kota yang manusiawi, yang memperhatikan warga dari semua lapisan.

Saat berkunjung ke Jakarta awal pekan ini, Penalosa diundang sebagai panelis dalam suatu diskusi yang membicarakan pembangunan transportasi kota.

Di sela-sela kegiatannya di Jakarta, mantan walikota kelahiran Washington DC itu menerima dua wartawan VIVAnews, Anda Nurlaila dan Pipiet Tri Noorastuti, untuk mengungkapkan kesan-kesannya mengenai pembangunan transportasi massal di Jakarta.

Berikut petikan wawancara Penalosa.

Mengapa transportasi publik penting bagi suatu kota?

Setiap warga negara berhak mendapat transportasi. Transportasi bagi semua warga negara adalah simbol demokrasi. Sebanyak 30.000 sepeda sama pentingnya dengan 30.000 mobil. Penting untuk menciptakan jalur untuk semua warga, pengguna sepeda, pejalan kaki dan pengguna mobil.

Bagaimana Anda melihat transportasi di Jakarta?

Di Jakarta orang merasa malu menggunakan sepeda karena dianggap hanya transportasi untuk orang miskin. Kalau ada jalur sepeda yang nyaman masyarakat punya pilihan akan transportasi. Sebanyak 35 persen pendapatan masyarakat habis untuk transportasi.

Transportasi publik seharusnya bisa berguna untuk kesejahteraan. Jalan harus memiliki ruang bagi para penggunanya, pejalan kaki, sepeda, bus dan mobil. Harus ada keinginan politik yang kuat dari pemerintah, bukan sekedar teknis.

Bagaimana menciptakannya?

Harus dari sistem. Orang harus dipaksa untuk melaksanakannya. Sekarang semua orang punya kendaraan dan mereka pergi ke ke tempat kerja, pusat perbelanjaan, pusat kota. Akhirnya padatnya kendaraan membuat keadaan tidak nyaman dan membuat kemacetan.

Di negara maju, orang berjalan dari rumah dan menuju kantor beberapa blok. Di negara maju tidak ada pusat belanja di tengah kota karena membuat kota menjadi tidak nyaman dan semua orang lebih enak menggunakan pejalan kaki. Tetapi di negara seperti Indonesia dan Kolombia dan negara-negara terbelakang, pusat kota menjadi tidak teratur dan perbelanjaan terletak di tengah-tengah.

Bagaimana pendapat Anda mengenai pembangunan transportasi publik di Jakarta, seperti busway (BRT) dan kereta bawah tanah (MRT)?

Pengembangan transportasi umum bisa dilakukan dengan banyak cara. Mengembangkan subway maupun busway sama-sama baik. Tetapi yang dipertimbangkan adalah investasi. DKI Jakarta merencanakan US$ 900 juta untuk membangun subway sepanjang 14 km. Sedangkan investasi untuk Busway US$ 5 juta, itu sudah termasuk konsultan, manajerial, kontrak, operator, base elekrotnik kartu dan legal konsultan. Dengan nilai yang sama, US$900 juta, maka bisa membangun 180 km jalur BRT.

Tapi BRT tampaknya tidak mengurangi kemacetan. Menurut Anda?

Kemacetan dan mobilitas adalah dua  hal yang berbeda dan punya solusi berbeda pula. Setiap tahun ada 100.000 mobil baru  di Jakarta, dan ada jalur baru yang dibangun. Tetapi tetap saja ada kemacetan. Sebab mobilitas orang  yang semakin sering dan jarak tempuh yang semakin jauh.

Kemacetan bukan saja disebabkan dari jumlah kendaraan, tapi juga jumlah perjalanan yang bertambah. Kemacetan tidak akan berkurang karena penambahan jalan.

Selain itu soal keamanan dan kenyamanan. Di MRT London, banyak wanita yang tidak merasa aman berada di subway. Di bus, lebih aman karena bisa mengawasi sekeliling. Kereta memang lebih cepat tapi jarak antara stasiun jauh dan harus menempuh jarak lebih jauh.

Sementara busway, memang lebih lambat tetapi dengan satu tiket orang bisa bepergian ke tempat yang jauh dan ada interseksi busway yang memungkinkan orang berpindah rute.

Setelah lima tahun layanan busway di Jakarta atau TransJakarta masih dianggap belum berhasil. Apa sebabnya?

Menyelenggarakan transportasi publik TransJakarta harus dilakukan dengan keinginan untuk bertahan. Jakarta adalah kota di Asia yang pertama menggunakan BRT. Tetapi sekarang kota Guangzhou, China, memiliki sistem BRT yang  bagus.

Saya pikir Jakarta mampu menjadi lebih baik. Solusinya TransJakarta harus dibenahi kembali.

Sudah mencoba TransJakarta? Bagaimana kesannya?

Saya mencoba Trans Jakarta dua kali. Saya lihat pintunya kurang lebar sehingga sulit bagi pengguna kursi roda, tidak mendukung bagi orang cacat.

Waktu menunggunya lebih lama. Di Bogota kami menggunakan bus yang lebih banyak mengangkut penumpang, sekali jalan bisa menggunakan tiga bus konvensional yang disambung. BRT juga terintergrasi dengan feeder bus kecil yang beroperasi di jalan ke stasiun tetapi tidak di disediakan jalur khusus.

Saran terhadap TransJakarta?

Harus lebih banyak perubahan detail. Saran saya, para ahli berkumpul untuk membahas mengenai kontrak, manajemen, operator untuk membenahi TransJakarta. Membenahi transportasi di Jakarta yang sarat dengan kemacetan memang  tidak menyenangkan.

Tapi harus ada yang melakukannya. Ini seperti mengobati penyakit kanker. Prioritas Gubernur adalah menempatkan manager TransJakarta tepat di depan kantornya agar selalu bisa diawasi.

Soal kemacetan Jakarta, apakah ada saran untuk mengatasinya?

Jalan yang sangat sempit dan hanya dilalui bus membuat lalu lintas bertambah macet. Di New York, ada 10 jalur jalan tapi tetap macet.

Pemerintah harus menjadikan bus sebagai prioritas dalam transportasi publik. Sekarang, pengemudi Jakarta menganggap dirinya paling penting daripada pengguna jalan yang lain.

Contoh kecilnya, pengguna sepeda motor tidak boleh menggunakan jalan tol. Mengapa? karena mereka tidak punya kekuatan ekonomi dan politik. Tidak ada kesetaraan disini, padahal hak warga negara dijamin Undang-Undang.

Setelah Bogota Trans Millenio di Bogota apakah pengguna mobil berkurang?

Tidak. Di Bogota juga Trans Millenio hanya 20 persen dan sisanya transportasi konvensional. Tapi 40 persen pengguna BRT di Bogota  adalah pemilik mobil.  Jalur  BRT 60 km mengangkut satu juta penumpang perhari.

Di kota-kota maju seperti London,  Paris mereka menggunakan publik karena harus. Selain tidak ada tempat parkir, menggunakan angkutan umm jauh lebih cepat. Waktu tempuh dengan mobil selama 1 jam, sementara kalau menggunakan transportasi umum hanya 15 menit. Walaupun punya mobil orang-orang tetap menggunakan transportasi massal. Untuk meningkatkan mobilitas, solusinya menambah transportasi publik.

Solusi kemacetan apa saja?

Kemacetan solusinya hanya mengurangi penggunaan mobil. Di  London, Paris, Hong Kong untuk  masuk pusat  dengan  mobil harus membayar pajak US$ 20. Pemerintah juga membatasi ruana parkir di gedung-gedung. Parkir itu bukan kewajiban negara dan itu masalah pribadi. Negara wajib menyediakan  pendidikan, kesehatan, transportasi termasuk jalur pejalan kaki.

Cara lain  dengan menaikkan pajak bahan bakar. Seperti  pada air`dan listrik, orang kaya membayar lebih mahal untuk subsidi penduduk miskin. Tapi di transportasi sama, tidak ada subsidi. Kalau ada subsidi hasilnya bisa digunakan untuk investasi transportasi massal yang lebih murah.

Apa bedanya MRT dan BRT?

Dari sisi investasi, MRT butuh lebih banyak daripada BRT. Investasi US$900 juta, hanya membangun MRT 14 km, dengan nilai sama bisa membangun 10 kali lebih banyak.

Biaya operasional MRT lebih mahal daripada BRT. Biaya operasional penumpang MRT US$1-3 per penumpang, BRT hanya 60-70 sen, bahkan kurang dari itu.

Apa kunci keberhasilan BRT di Bogota?

Keinginan kuat pemerintah untuk menjalankan. Tetap konsisten dan tetap bertahan. Di jakarta, secara legal pelaksanaannya lebih sulit karena ada tumpangtindih antara pemerintah pusat dan daerah mengenai pengelolaan jalan.

Padahal di UU, semua penumpang punya hak yang sama terhadap jalan. 60 persen warga Jakarta menggunakan sepeda motor bukan karena idiologi tetapi karena kebutuhan.

Apa kesulitan dalam BRT di Bogota?

BRT memang sangat sulit secara politik dan manajerial. Yang harus dilakukan adalah tetap melanjutkan dan bertahan. Kalau tidak Jakarta akan kemacetan akan memburuk dan akhirnya berhenti.

Selain itu, citra mempengaruhi transportasi. Di Manila, yang punya 3 kalur MRT kemacetannya lebih parah dari Jakarta.  Pada 1940-an kereta api adalah idola. 1970-an bus yang lebih diminati karena dianggap lebih baik.

Apakah BRT mengurangi kendaraan pribadi?

Tranportasi publik tidak mengurangi jumlah penggunaan mobil. Di Bogota 20 persen pengguna  BRT  punya mobil.  Kami punya kebijakan  mobil di  Bogota tidak boleh di jalankan tiap hari. Ada hari dimana mobil tidak boleh ke jalan beberapa hari dalam seminggu. Pengaturannya disesuaikan dengan nomor akhir di pelatnya.

Operasi manajemen bagaimana, apakah ditangani Pemerintah atau Swasta?
Pengelolaan BRT di Bogota sama  dengan Jakarta. Operator  dilaksanakan pihak swasta melalui kontrak dengan Pemerintah. Pembayarannya dihitung per kilometer. Semua bis milik swasta, infrastrukturnya milik pemerintah.

(Via • VIVAnews)

t

Assalamu ‘alaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu

Bang Fauzi,

Jakarta punya kita semua kan, Bang? Kota yang Abang pimpin mingkin keliatan gegap gempita. Bukan cuman gedung nyang nambah banyak dan numpuk di pusat, rumah-rumah bedeng juga numpuk noh di belakang proyek. Tumpek blek, Bang. Abang, kan nyang punya tangan buat ngatur yang namanye peraturan kan bang. Coba, Bang diatur lagi ini Kota. Itu peraturan soal emisi gas buang ditegakkin lagi dah, Bang. Ane ngeri Bang, Jakarta udah kaya pembantai bayi sekarang. Anak-anak tetangga ane pada megap-megap, Bang.

Kendaraan nambah terus ya Bang, padahal ruas jalan kagak bakal ditambah. Ntar Abang tambah jalan, pohon kena tebas. Ane yakin, ruas jalan Abang tambah juga jalanan kagak bakal kerasa lengang, Bang.

Nyatanye Jakarta sekarang isinye individualis, ane liat jelas di atas aspal hitam yang nomprokin Jakarta. Semuen orang buru-buru, semua orang mikirin diri sendiri aje. Nantinye, semuen orang kejebak di ujung botolnyang namanye macet total.

Bang, ude berapa taon ibukota begini? Lime taon? Sepuluh taon? Lime belas taon? Mingkin baek kagak? Boro-boro. Kejadiannye tambah ancur. Mobil mingkin banyak menuhin sisi-sisi jalan, motor juga mingkin yoi. Denger-denger, banyak OKB di ibukota. OKB yang kendaraannye nyicil, nyang gayanye nyetir juga nyicil: “yah..dikit-dikit bisa dah …”

Jakarta punye cerita. Kota ini dibandingin same Bogota nun di Kolombia. Bogota bise, Jakarta harusnye juga bise. Dulu, Bogota itu emang busuk. Kriminalitasnye nomor wahid, polusinye wahid, daerah kumuhnye ape lagi. Sampe ade “pitungnye Bogota” alias “Bang Mayor” sono nyang jadi teladan. Uswatun Hasanah (Suri tauladan nyang baek), Bang kalo kata Nabi Muhammad. Walopun Bang Mayor Bogota bukan muslim, Bang..hehe. Tapi, die teladan nyang ngegugah hati seisi kota sampe lunak, nyang bise ngajak perilaku warga buat berube, bukan tambah berabe. Die nyang punya due solusi besar: ngerube gaya hidup sama mbangun fasilitas infrastruktur nyang mencukupi.

Jakarta punya gaye. Kabarnye, ntu dua solusi besar bakal diadaptasi. Awalnye pembangunan fasilitas transportasi publik: kereta nyang pake listrik, bus nyang merah-oranye, same ape lagi ntu kapal di Ciliwung. Di Bogota, pan mereka ngebangun Trans-Bogota same Bicycle Lane di seluruh penjuru kota. Ntu due cara tadi ditambah teladan sama tegasnye Bang Mayor Bogota, masalah disono beres Bang..

Nah di Jakarta, pemerintahan Abang baru ngebangun Trans Jakarta aje kan, Bang..Jujur ni Bang, naek Bus ntu mahal, Bang..Dibandingin same nyicil same beli bengsin motor, jauh lebih mahal. Abang kagak percaya? Coba aje Abang itung ndiri. Nah, biar kagak mahal lagi Bang, solusi Bicycle Lane ntu Abang adaptasi juga dong. Banyak lagi Bang rakyat Jakarta nyang mau sepedaan. Yakin dah, Bang.. Pan mereka tau, sepedaan sehat. Ntu liat, anak buah Abang, nyang Walikota Jakarta Selatan, ntu biangnye Sepedaan die. Ane liat sepeda ontelnya aje ngiri..

Sekarang mah ye Bang, orang mau sepedaan kemane-mane dianggepnye gila. Lha kota Abang sama sekali kagak bisa dipake buat sepedaan (ntu juga paling hari minggu pas jalanan kosong plong). Ampir same Bang same nyang namanye bunuh diri, berarti kalo diliat dari sisi agamenye same aje dose. Biar dose kite nyang naik sepeda kagak nambah lagi, Abang buatin dong fasilitasnye, Bang. Kagak bakal lebih mahal Bang daripade biaya rugi nyang nimbul gara-gara Jakarta macet. Bener dah

Ni Bang, ane kasi list dah ape-ape aje nyang diperluin bakal Bicyle Lane:

1. Bicycle Lane..hehe (Cat kuning bakal ngecet lajur di trotoar, Konblok Segitiga nyang banyak).

2. Marka Jalan, kasih tande biar keliatan kalo ntu jalur buat sepeda, bukan jalur motor..

3. Tempat Penitipan / Parkiran Sepeda, yang dilengkapi dengan ruang locker dan kamar mandi. Ane denger, soal yang ini sudah ada Mall yang mau mulai. Di FX Jl. Jend. Sudirman sana kalo ane kagak salah, Bang. Harapan ane, Abang bisa ngasi anjuran untuk pengelola gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan untuk bikin ini. Insya Allah Bang, jumlah pesepeda di Jakarta bakal terus nambah.

4. Ayo Bang, Jalur hijau dengan pepohonan yang rindang dibangkitkan lagi. Jangan takut sama pemilik bangunan yang melanggar, apalagi yang SPBU itu, Bang.. hehehe.. Hajar aja, Bang. Tegas dikit dah..

Abang Foke yang ahli nan bijaksana. Kite sama-sama tau, Abang kan lulusan Arsitektur Perencanaan Kota dan Wilayah dari negeri Jerman sono, buktiin keahlian Abang. Rakyat Jakarta nunggu kebijaksanaan Abang. Bang, baca surat ane ya, Bang…

Wassalam,

Aditya Sani

Surat buat Bang Fauzi

Tagged: , on July 31, 2009 by aditya sani

9 Comments

t

Kemarin, merupakan pagi yang cukup spesial untuk saya. Saya bangun tidur sembari tersenyum. Membayangkan kemenangan yang akan datang dalam tempo sesingkat-singkatnya. Teman, untuk kali pertama, saya memiliki keyakinan yang besar pada pemimpin yang akan saya pilih.

Bertemu tetangga sepanjang jalan menuju TPS, saya bertanya kepada beberapa tetangga: pilih siapa pagi ini? Beberapa menjawab JK, beberapa lainnya menjawab SBY. Tidak terdengar jawaban bahkan berbisik soal Mega. Saya terus berjalan menuju TPS 031. Pukul 7.45, sesampainya disana belum terlihat aktivitas, selain dua orang hansip yang berjaga. Kemana anggota KPPS yang lainnya? Biasa, Indonesia, karet.

Undangan memilih saya letakkan di meja pendaftaran. Akhirnya, anggota KPPS yang lain datang, seremoni kecil diadakan. Lima belas menit kemudian, saya akhirnya dipanggil. Dengan kaki kanan maju lebih dahulu dan bismillah di dalam hati, saya mengambil surat suara yang menjadi hak saya. Spidol merah saya goreskan pada kotak ketiga seperti logo sebuah merek sepatu kenamaan. Kelingking saya pun tercelup tinta biru yang kabarnya tak luntur seminggu itu.

Pesta Demokrasi kemarin pagi mengajarkan saya untuk saling menghormati pilihan politik sesama warga negara. Beruntung saya bukan orang yang punya kecenderungan untuk bersikap fanatik terhadap sesuatu. Ah, dan yang menyenangkan adalah ternyata banyak tetangga yang belum saling kenal karena selama ini mereka disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Pesta Demokrasi, mengajarkan kepada kita bahwa pilihan seseorang, siapapun dia, ditentukan oleh bagaimana dia memandang sesuatu.

Pendukung Mega-Pro buat saya pribadi, cenderung menginginkan kemudahan dalam hidupnya.  Tagline yang pro-kerakyatan kabarnya begitu mempesona mereka, BBM murah, Sembako bersubsidi, dan lain-lainnya. Hal-hal yang buat saya pribadi, agak mustahil dilakukan di negeri ini, karena minimnya dana yang ada di APBN.

Pendukung SBY-Boediono buat saya pribadi, cenderung mengagumi kharisma seorang SBY dan mungkin lebih senang kepada sosok yang santun dan terlihat seperti seorang pemikir. Beberapa pemilihnya merasakan adanya perbaikan dalam kehidupan mereka, seperti kesan yang saya tangkap pada beberapa supir taksi yang pernah saya temui. Banyak dari mereka yang menyatakan selama masa pemerintahan SBY, rejeki mereka semakin baik, dengan pendidikan anak-anak yang gratis karena kebetulan dana BOS di sekolah mencukupi. Saya rasa cukup banyak yang merasakan hal yang sama dengan para supir taksi tersebut. Pun banyak pula yang merasakan sebaliknya, karena sistem birokrasi kita yang juga masih jauh dari sempurna.

Lima tahun itu ya kurang lah, mas adit. Maka sebaiknya, kita lanjutkan saja, mas!“, begitu pesan seorang teman yang berusia cukup jauh diatas saya. Saya menjawab, “Iya, mas, idealnya sebenarnya SBY tetap bersama JK. Karena dengan begitu pemerintahan bisa kuat didukung dua partai yang besar. Tapi, apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. SBY lebih ingin partainya bertahan setelah 2014 ketimbang habis begitu saja setelah beliau lengser nantinya. Mungkin itulah sebabnya beliau lebih memilih cawapres yang bukan dari partai untuk kelangsungan Demokrat. Bayangkan bila anggota PKS atau partai lain yang dimajukan sebagai cawapres. Perlahan pasti Demokrat tenggelam …

Seperti yang diharapkan Denny JA, pasangan SBY-Boediono pun perlahan tapi pasti sepertinya akan memenangkan Pilpres 2009 ini, satu putaran.

Pendukung JK-Wiranto, masuk kepada kelompok yang sudah bosan melihat lambatnya gerak pemerintahan SBY,  hutang negara 5 tahun terakhir yang semakin menumpuk, dan ketakutan atas Rezim baru yang langgeng kelak (pun saya percaya rakyat tidak akan membiarkan sejarah Orba berulang). Dan percaya bahwa JK yang  ceplas-ceplos bin cas cis cus geraknya ini, mampu membawa Indonesia lebih mandiri.

Hmm,.. Hasil Quick Count muncul berbondong-bondong, yang patut disayangkan hasil tersebut keluar saat pemilihan berlangsung. Lucu memang, bagaimana media hari ini bisa melanggar batas api. Sadar atau tidak , mereka menggiring publik untuk memilih salah satu pasangan, seperti yang dilakukan banyak lembaga survey elektabilitas pasangan yang ber’sponsor’ sebulan terakhir. Begitulah politik dan tehnik pemasarannya yang semakin hebat tahun-tahun belakangan ini. Dan begitu pula rakyat kita yang akhirnya membeli pasangan itu untuk menjadi pemimpin Indonesia. Wisdom of the crowds, suara rakyat yang mewakili suara Tuhan. Kubu SBY-Boediono dan kubu JK-Wiranto sama-sama menggelar Zikir Akbar pada malam 7 Juli. Dan Allah Azza Wa Jalla nampaknya lebih memilih mengabulkan do’a pasangan SBY-Boediono.

Untuk mereka yang kemarin membayar hak sebagai pemilih. Teman, kita sudah sama-sama memilih, tangan ini sudah turut serta memasang batu pertama pemerintahan lima tahun kedepan. Kita punya tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia untuk terus mendukung pemerintahan yang menjadi pemenang kelak. Mendukung bukan sekedar mendukung, tetapi juga mengawasi dan memberikan kritik. Percayalah bahwa pemerintah yang baik pada dasarnya mencintai kritik, karena dari sanalah perbaikan bisa dimulai. Maka kritiklah sebaik yang bisa kita lakukan, karena dengan begitu kita lagi-lagi membayar hak kita sebagai warga negara yang baik.

Pelajaran dari Demokrasi

on July 9, 2009 by aditya sani

5 Comments

Post

Politik Makpret

In indonesiana, jakarta, opini, politik, sosial on April 22, 2009 by aditya sani

Politik..eh Politisi (kata @ndorokakung politisinya yang gak mutu) sebulan ini menjadi komoditas..eh tontonan paling tak bermutu, benang kusut yang terjadi pada masa koalisi ternyata hanya setarik garis kepentingan, dan..umm..’persepsi’ (seperti kata Suryadharma Ali tempo hari-red).

Apa kepentingannya? Bangsa? Atau jatah kursi di Kabinet? Atau Departemen/Kementerian  yang paling basah?   Tergantung Partai banyak diisi teknokrat/industrialis/pedagang akan menentukan siapa dapat apa. Karenanya pula, Suryadharma lebih senang menari bersama PDI-P, jangan-jangan setelah posisi di Departemen Koperasi dan UKM, beliau dijanjikan posisi Meneg BUMN oleh PDIP? Jangan-jangan. Jangan-jangan pula, Bachtiar Chamsyah dijanjikan tetap di posisi Menteri Sosial atau malahan Menkokesra yang lebih basah oleh PD.

Untuk Partai, mungkin Departemen/Kementerian bisa menjadi sapi peras, demi pembiayaan konstituen di daerah, para pahlawan tanpa tanda jasa yang berdarah-darah mengumpulkan massa agar supaya Kampanye terlihat ramai.

Ah, soal konstituen, saya punya cerita..

Sewaktu pemilihan legislatif, saya terkaget-kaget dibuatnya oleh orang-orang di kampung saya. “Lo milih ape, cing?“, sapa teman saya di mushola kampung. “Eits, rahasia..“, ucap saya sembari tersenyum penuh misteri. Halah.. Teman-teman yang lain ikut bertanya, “Et dah, milih ape tadi??“. “PKS..“, ucap saya pelan. Serentak mereka berkomentar satu sama lain, “Dulu gw milih PKS..skrg mah males..bla..bla..bla…” “Iya, PKS kan..bid’ah sudahlah…“. Saya tertawa cekikian. Seorang teman kembali bertanya, “Cing, lo emang ikut-ikutan kumpul sama anak-anak PKS?”. “Enggak, ngapain emang?“, saya balik bertanya.”Mereka tiap kali pengajian kan ngelarang kita sodaqoh, tahlilan buat yang udah meninggal, bla..bla..bla…“, sergap teman saya beribu alasan.

Saya kembali tertawa, “Jadi berkurang yak jatah tahunan lo dari Sodaqoh…“, tanya saya sembari menyindir. Teman saya tadi tidak meneruskan pembicaraan. “Lo pilih Demokrat aja kalo gitu, biar dapet BLT lagi..siapa tau kan..ada lagi kalo menang…“, lagi-lagi saya menyindir. Dasar mulut sendiri nyinyir, pikir saya dalam hati.

——

Ada cerita lainnya..

Hari itu Kampanye Akbar PDI-P, tetangga saya yang caleg DPRD melalui Ketua RT ,yang juga fans beratnya ,memanggil pemuda-pemudi harapan bangsa, yang entah kenapa lebih memilih jaga kontrakan dan ngojek ketimbang sekolah, untuk menghadiri acara tersebut. Di Gelora Bung Karno, bisik Ketua RT kepada perwakilan pemuda. “Ada uang bengsin sama rangsum buat anak-anak ntar..“, Ketua RT kembali berbisik. “Berape bang?“, tanya pemuda harapan bangsa yang matanya kini hijau seperti usianya yang belia. “Ade lah gocap (Rp 50.000,-) mah..“, bisik Ketua RT lagi. “Mane duitnye?“, tanya pemuda yang tiba-tiba ileran. “Nih … “, Ketua RT menggenggam dua buah amplop coklat, tanpa logo, tanpa wajah. “Eit..ceban (Rp 10.000,-) dulu yak buat panjer (uang muka), bakal beli bensin dulu. Sisanya ntar gampang…“, tegas Ketua RT melihat pemuda hendak meraih amplop.  “Ya elaaah..medit lo kaya arab!“, cela si pemuda. “Ya udah, ntar gw panggil anak-anak biar berangkat, gw siapin knalpot dulu biar berisik…“, ucap si pemuda setengah bersemangat.

“Reng..teng..teng..teng..treeenng..treeeng…”, suara motor bertalu-talu (gendaaang kali bertalu-talu!). Tet teret teret…Pasukan Bonek majuu jalaan!!

Sepulangnya kampanye, dengan perut lapar lagi keroncongan, masih berbaju merah marah meriah, perwakilan pemuda mendatangi rumah caleg. “Salamlekuum..“, teriak pemuda sembari mengetuk pintu. Seorang pembantu tergopoh-gopoh, “Nyari siapa bang?“. “Bapak ada?“, tanya si pemuda tak tau basa-basi. “Ada keperluan apa Bang?“, tanya si pembantu. “Mau ambil duit rangsum..“, tegas si pemuda. “Ohh, tadi Bapak pesan, duitnya dititipkan ke Ketua RT katanya…

“Jreng jreng jreeeeengg….”, suara gitar spanyol mengiringi aksi ‘banteng-banteng muda’ yang marah mendengar jawaban si pembantu.

Tergopoh-gopoh dengan hati yang panas seperti matahari siang itu, pemuda-pemudi mencari Ketua RT dari pangkalan ojek sampai kantor kelurahan. Dan ditemukanlah sang Ketua RT sedang bermain catur bersama tukang ojek di pangkalan ojek merah. “Bang, mana janji lo?“, tanya pemuda setengah berteriak. “Apaan? Kagak ada, yang dateng kagak rame, lo gagal ngejalanin tugas!“, tegas Ketua RT, masih asik memegang pion catur.

“Jreng jreeng jreeeeenggg….”, suara gitar kedua kali ini dengan sebuah kain merah melambai-lambai, memancing banteng marah.

Lo liat ya bang! PDI P kagak bakal menang di kampung kite! Pegang omongan gw!“, si pemuda kali ini berteriak sembari meludah dan menunjuk muka Ketua RT. Ketua RT tak bergidik, ah bahkan berfikir pun sepertinya tidak.

Kemana ya duit sisanya? Hehehe..Jangan tanya saya, Bapak tadi pesan, duitnya sudah dititipkan ke Ketua RT!

Sore, dihari pemilihan legislatif, sang caleg DPRD, duduk termangu. Feeling-nya buruk, tak lagi murah senyum, wajahnya kusut. Ia tak terpilih menjadi anggota legislatif DPRD.

———-

Lucu ya kelakuan orang-orang, gak caleg, gak ketua RT, gak anak-anak muda, sama saja. Politik dan Koalisi seperti kata Ketua Umum PPP, memerlukan kesamaan persepsi. Persepsi yang sama: dimana ada uang, disana disayang.

Post

iri hati pada jogjakarta

In Kliping, indonesiana, inspirasi, jogjakarta, sepeda, sosial, travelling on March 2, 2009 by aditya sani

Pagi tadi saya membaca sebuah liputan Media Indonesia yang bercerita tentang peringatan Serangan Umum 1 Maret di Kota Jogjakarta, sebuah kota yang akan selalu mendapat tempat di hati saya. Apa yang menarik dalam berita tersebut? Pemerintah Kota Jogjakarta memperingati Serangan Umum 1 Maret dengan mengumpulkan lebih kurang 3000 (tiga ribu) pesepeda, tua-muda, dari pelajar hingga veteran perang, pengguna low-rider bicycle sampai onthelis. Ya, Jogjakarta telah mendeklarasikan dirinya dengan tagline “Jogjakarta kota Sepeda“. Hebat sekali, sangat modern, sangat metropolitan!

Program apa yang diusung Herry Zudianto, sang walikota? Namanya Sego Segawe (Sepeda kanggo Sekolah lan nyambut Gawe), atau bila diterjemahkan kurang lebih sebagai berikut: Sepeda untuk pergi ke Sekolah dan Bekerja. Herry berkata, “Mulai sekarang, kita harus membiasakan diri dengan bersepeda. Tindakan yang sederhana tapi visioner dan modern untuk lingkungan kita ke depan.” Ia juga menambahkan bahwa sepeda tidak identik dengan kemiskinan, dan menyalahkan warga Jogja yang beranggapan sepeda motor dan mobil lebih bergengsi ketimbang sepeda onthel.

sego-segawe

“Sepeda bukan berarti wong cilik atau alat transportasi jadul (jaman dulu). Justru sepeda adalah alat transportasi yang gaul. Kepada pemuda-pemudi, saya berpesan, kalau mencari pacar, carilah mereka yang gemar bersepeda.”, seloroh sang Walikota, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pengguna setia motor Harley Davidson ini.

Apa yang hebat dari Kota Jogjakarta dan Sepeda? Kota Jogjakarta memiliki 200 klub pesepeda; dalam waktu dekat Pemkot bersama Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Provinsi DIY akan membuat 34 jalur sepeda, dan mengintegrasikan program kerja lima tahunan-nya dengan program Sego Segawe. Hal tersebut juga akan didukung dengan pemasangan rambu-rambu bagi pesepeda, pembuatan jalur alternative sepeda dan melakukan gerakan penghijauan.

Ah, Hebat bukan buatan Kota Jogjakarta! Duhai kawan-kawan CahAndong, ayo dukung program Pak Herry! Ingin pulang dan bersepeda kembali di Jogja rasanya …