Archive for the ‘sosial’ Category

t

jejaring-bagi-ilmu1

Gambar ini berkaitan dengan posting sebelumnya (berjudul: Semangat Wiyoto). Direka dari novel dan film berjudul "Pay It Forward".

Setiap orang bisa melakukan kerangka kerja yang terlihat pada gambar. Bagaimana? Mudah saja. Kenali terlebih dulu, keahlian apa yang mungkin Kawan-kawan miliki. Setelah dikenali, temukanlah orang-orang yang tidak anda kenal, yang terlihat memiliki semangat yang lebih namun terbatas karena tidak didukung cukup keahlian. Seperti contoh yang saya tuliskan pada posting sebelumnya, Wiyoto begitu bersemangat untuk bisa mengembangkan diri, tetapi untuk bisa lebih berkembang dia memerlukan kemampuan menguasai komputer. Maka saya coba ajarkan dia cara menguasai MS.Office, dll, supaya nantinya dia bisa berkembang. Atas ilmu yang diberikan, jangan pernah meminta biaya. Mintalah dia yang sudah kita bantu, untuk berjanji agar membantu 3 orang lain lagi. Yang diharapkan adalah, dengan cara ini, semua orang akhirnya bisa tersadar bahwa berbagi itu penting. Semua akan lebih baik, bila kita sebagai manusia tidak lagi mengejar keuntungan diri sendiri, tetapi juga membantu manusia lainnya yang membutuhkan bantuan.

Percayalah, banyak hal yang bisa kita lakukan dengan skema diatas. Indonesia punya banyak orang yang pintar, tapi Indonesia juga punya banyak orang yang kurang memiliki kemampuan. Saya membayangkan, semua orang di negeri ini melakukan hal yang sama, membentuk sebuah jejaring kebaikan yang sinergis. Kurang indah apa hidup ini, bila melihat hal tersebut terjadi? :)

jejaring berbagi ilmu

on January 20, 2009 by aditya sani

22 Comments

Post

blogger peduli Manokwari

In indonesiana, sosial on January 6, 2009 by aditya sani Tagged:

BloggerPeduli.org adalah sebuah gerakan membangun jejaring blogger yang bergerak sebagai sebuah komunitas nirlaba. Jaringan ini diprakarsai oleh Epat Muqtafin dan mendapat sokongan penuh dari Ndorokakung. Bung Epat mengawalinya dengan melempar umpan ke milis kopdarjakarta, lalu tanpa ba..bi..bu disambut dengan riuh oleh kawan-kawan lain di milis tersebut. Bung Epat meleleh melihat reaksi ini. Tak kalah sigap dengan kawan-kawan lainnya, Goen segera membuat akun milis dengan nama id-bloggerforhumanity[at]googlegroups.com. Alamat baru milis ini segera menyebar ke segala penjuru mata angin. Kawan-kawan blogger lainnya segera merapat dan aktif di milis ini.

antv-liputan-di-angkringan

Atas kesepakatan di milis, kami pun mengadakan rapat perdana di wetiga, 5 Januari 2009 malam. Rapat dihadiri oleh Epat Muqtafin, Enda Nasution, Ndorokakung, Wicak Soegijoko, Mr.Bambang, Adrianus Tumewu, Sultan Zam, Goenrock, Edy Caplang dan saya sendiri. Rembugan pun dimulai, meraba-raba batasan gerakan Blogger Peduli, menyesuaikan dengan kemampuan kami dan kawan-kawan lainnya sebagai blogger. Maka yang pertama menjadi bahan rembug adalah persoalan kategori kerja kami. Pertanyaan yang muncul adalah apa yang kami bisa lakukan sebagai blogger? Menulis, mengumpulkan informasi semutakhir mungkin, menyebarluaskan gerakan ke segala penjuru Nusantara, berkoordinasi dengan komunitas-komunitas daerah dan tentu saja mengumpulkan Donasi dari para dermawan.

Anda mungkin kemudian bertanya, “Kenapa lingkup kerjanya hanya sebatas itu?”. Jawabannya sederhana saja. Kami tidak ingin keteteran. Realistis saja, gerakan ini akan serupa berlari dalam kejuaraan marathon. Nafas perlu kami jaga demi kelangsungan gerakan. Buang-buang nafas dengan lingkup kerja yang terlalu luas justru akan membuat gerakan ini mandeg kehabisan tenaga.

Kawan,  Gerakan Blogger Peduli ini tanpa batasan, kami membuka pintu seluas-luasnya bagi bantuan-bantuan baik berupa tenaga relawan, maupun donasi. Siang ini saya mengajak Anda bergabung bersama, ringankan tangan Anda dan sisakan rupiah Anda sebagai donasi.

Terima kasih, Kawan!

Post

mimpi bogota

In indonesiana, internasional, jakarta, politik, sepeda, sosial on December 10, 2008 by aditya sani

“Kami membangun sebuah kota bukan untuk bisnis dan kendaraan, melainkan bagi anak-anak dan juga masyarakat, … Daripada harus membangun jalan layang, kami melarang penggunaan kendaraan bermotor. … Kami berinvestasi pada lajur-lajur pejalan kaki yang berkualitas, taman-taman kota, lajur sepeda, dan perpustakaan; kami juga memusnahkan berbagai reklame yang memenuhi kota dan menanam pohon kembali. … Semua yang kami lakukan setiap hari di Bogota punya satu tujuan: Kebahagiaan.”

Kalimat diatas merupakan bagian dari pidato Enrique Penalosa dalam kunjungan ke Jakarta delapan tahun yang lalu, saat-saat awal pemprov DKI berencana membangun busway. Penalosa sendiri merupakan Mayor yang memimpin kota Bogota pada periode 1998-2001. Ia berhasil menciptakan sistem bus yang baru dan mendesain jaringan lajur sepeda di kotanya.

Penalosa tidak bekerja sendiri. Sebelum kepemimpinannya, hadir Antanus Mockus, seorang professor matematika, telah lebih dulu memimpin Bogota. Keduanya bekerja sama melakukan transformasi kota berisi lebih kurang delapan juta orang itu menjadi sebuah model pembangunan urban yang progresif.

Mentransformasi kota Bogota adalah tugas dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Bagaimana tidak, Bogota lama dikenal sebagai kota penculikan dan pembunuhan, yang selama 38 tahun terjebak dalam sebuah perang sipil, dipenuhi dengan para pemadat, dan koruptor politik. Belum cukup dengan gelar tadi, Bogota juga dikenal dengan tingkat kemacetan dan polusi udaranya yang tinggi. Bogota boleh jadi sempurna sebagai neraka dunia.

Kolombia, kurang lebih sama dengan Indonesia. Tingkat pengangguran yang tinggi, kesenjangan ekonomi yang lebar, penurunan nilai ekspor, dan tidak stabil secara politik. Lingkungannya pun begitu, sama menyedihkan, deforestasi yang tinggi, penggunaan pestisida yang berlebihan, polusi udara yang tinggi. Sebagai tambahan, Bogota memiliki lingkungan masyarakat yang sangat latin, hidup a la Bronx. Maka daerah kumuh pun berkembang seperti cendawan di musim hujan, dengan tingkat pemenuhan kebutuhan yang sangat rendah. Pertumbuhan yang tidak terencana kemudian juga menyebabkan riuhnya sistem pembuangan limbah, saling tumpang tindih, kemudian disempurnakan oleh minimnya air bersih. Nah, Kolombia boleh jadi salah satu negara yang sempurna sebagai neraka dunia.

Transformasi

mimpi-bogota-resize

Pada masa awal kepemimpinan Penalosa, ia meluncurkan sebuah program yang obsesif (kabarnya seperti perang salib) untuk mereformasi sistem transformasi kota. Dicanangkannya perang terhadap kendaraan bermotor, pelarangan penggunaan kendaraan selama jam-jam sibuk untuk mengurangi kemacetan hingga 40 persen. Ia juga meyakinkan dewan kota untuk menaikkan pajak atas bahan bakar. Sebagian dari pendapatan yang diperoleh pajak kemudian digunakan untuk membiayai sistem bus yang melayani lebih kurang 500.000 warga Bogota per hari.

“Setiap hari minggu, kami menutup 120 kilometer jalan-jalan utama dari segala kendaraan bermotor. … Satu setengah juta orang dari segala usia dan kondisi keluar untuk mengendarai sepeda, jogging, bersilaturahmi, dan menghargai kotanya. Selama Natal, kami menutup jalan yang sama sehari penuh dan hamper tiga juta orang keluar dari rumah masing-masing untuk sekedar melihat lampu-lampu Natal gemerlapan, serta untuk bersama yang lainnya dalam sebuah komunitas.”, imbuh Penalosa.

Penalosa berperang, Mockus menjadi ‘super-hero’.. Mockus memulai masa-masa awal kepemimpinannya dengan tindakan yang terlihat konyol, namun heroik. Dengan tujuan utama, mendidik warga kota agar lebih beradab. Ditengah kota, ia berjalan-jalan menggunakan pakaian berwarna merah dan biru, dan menamakan dirinya ‘super citizen’. Tugas seorang ‘super citizen’ adalah memberikan saran tentang bermasyarakat dan berperadaban. Mockus bahkan menghadirkan dirinya dalam iklan layanan masyarakat dengan memperagakan bagaimana mandi yang baik demi konservasi air. Kampanye terakhirnya yang berfokus pada isu-isu mengenai transportasi kota, telah memaksa penduduk kota untuk mempersenjatai diri sendiri dengan cinta, dan mengurangi maraknya jumlah polisi yang korup. Mockus mungkin kadang menggunakan cara yang aneh, pun pada akhirnya rencananya berhasil.

Sepuluh tahun yang lalu, Penalosa pernah mendeskripsikan Bogota sebagai a city hated by its inhabitants, who felt powerless and felt that in the future things would only get worse (sebuah kota yang di benci oleh penduduknya, yang merasa tidak punya kekuatan dan merasa masa depan hanya akan menjadi lebih buruk). Dan setelah transformasi besar berlangsung Penalosa kembali berujar bahwa masyarakat Bogota punya rasa memiliki atas kotanya. Mereka merasa mampu mengontrol takdir mereka sendiri.

***

Ada 5 hal besar yang dilakukan pemerintah kota Bogota pada periode 1995-1998 dan 1998-2001, yakni :
1. Memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk kesadaran atas peradaban sipil yang baik;
2. Mengurangi kebiasaan penggunaan kendaraan pribadi, lalu melarang penggunaannya;
3. Menciptakan sistem transportasi massal kota (bus dan lajur sepeda) dengan matang dan serius;
4. Membangun kembali taman-taman kota, dan perpustakaan-perpustakaan di sudut-sudut kota;
5. Menjaga kesinambungan project-project yang ada.

Kelima hal tersebut diatas tidak berjalan begitu saja, keberhasilan Bogota (selain karena keseriusan pemerintahnya) juga didukung penuh oleh kemauan warga masyarakatnya untuk berubah menjadi lebih beradab. Ada yang serupa bila kita melihat kondisi Kolombia dan Bogota (belasan tahun yang lalu) dengan Indonesia dan Jakarta saat ini. Maka kalau saya boleh menyimpulkan, belum terlambat bagi pemerintah kita untuk melakukan kerja besar, seperti yang pernah dilakukan Penalosa dan Mockus di Bogota.

Semoga.

Post

transport di jakarta

In ekonomi, jakarta, opini, sosial on December 5, 2008 by aditya sani Tagged: , , , , ,

Kita mungkin tahu sama tahu kalau jalanan di Jakarta sudah sangat padat dengan kendaraan. Tapi kita sama-sama belum sadar untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Semua orang ingin naik kendaraan pribadi, motor maupun mobil. Alasannya bisa jadi beragam, dari masalah kepraktisan dan kenyamanan, hingga alasan keamanan menggunakan kendaraan umum. Buat saya, alasan-alasan itu sah-sah saja disampaikan, toh kita tinggal di negara demokrasi.

Masalahnya, apakah kita sadar bahwa penggunaan mobil pribadi yang berlebihan, selain memicu pemborosan biaya di berbagai sektor, juga mempercepat pemanasan global. Menurut Kompas, jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta ada 9.529.259 unit (dengan pertumbuhan rata-rata 9%-11% per tahun). Jumlah tadi terdiri atas 2.021.168 unit kendaraan pribadi, 6.663.564 unit motor, 536.150 unit truk, dan 308.377 unit angkutan umum.

Untuk mengatasi kemacetan, PEMDA DKI Jakarta berencana menerbitkan sebuah Peraturan Gubernur yang isinya memajukan jam masuk anak sekolah (dari jam 7.00 menjadi jam 6.30 wib). Kabarnya peraturan ini akan efektif berlaku sejak Januari 2009. Buat saya peraturan ini mungkin bisa berguna untuk melatih disiplin anak sekolah supaya bangun lebih pagi, apalagi mereka yang jarak antara rumah dan sekolahnya jauh. Tapi, tidak sesederhana itu kan. Ada para orang tua yang juga kemudian akan terpengaruh oleh peraturan ini.

Ya, ketidaktersediaan angkutan publik dan pertimbangan biaya (doubled) akan memaksa orang tua untuk juga berangkat kerja lebih pagi. Padahal si orang tua (misalnya PNS) mungkin baru masuk akan masuk kerja jam delapan pagi. Mesakke tenan to yo..

Kesimpulannya, kemacetan mungkin akan berpindah menjadi lebih awal, tapi kemudian tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya yaitu soal ketersediaan moda transportasi publik.

***

Lagi-lagi kita tahu sama tahu bahwa Jakarta sebagai sebuah kota sangat tidak ramah dalam mengelola mobilitas penduduknya. Kabar yang berdesis pemerintah sejak beberapa tahun yang lalu telah merencanakan sebuah pola transportasi makro untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Keempat pola tersebut adalah penyediaan Bus TransJakarta, MRT, kereta dan angkutan air. Belakangan, malah terdengar kabar baru bahwa pemerintah akan membangun jalur subway di bawah tanah untuk menghubungkan Terminal Lebak Bulus dengan stasiun kereta Dukuh Atas. Berarti sudah lima pola yang ditawarkan pemerintah. Lalu implementasinya bagaimana?

Hingga penghujung tahun 2008 ini, baru Bus TransJakarta yang terealisasi, pun hanya sebagian. Bus TransJakarta kini memiliki tujuh koridor (sdh beroperasi) dan tiga koridor (dalam persiapan). Lalu apakabar pola lainnya? tanyakan pada Ahlinya.

***

Saya punya ide, bagaimana bila semua orang beralih menggunakan kendaraan umum. Ide yang buruk ya? Ya ya ya, saya tau. Anda mungkin akan menjawab,

“enggak ah naek ‘umum’ panas. Sumpek. Bau. Penuh.“

Oke. Oke. Bagaimana dengan ide semua orang menggunakan sepeda, seperti di Bogota sana itu?

“ealah, capek mas. Kemeringet. Mana panas banget lagi!”

Anyway, Anda tahu gak berapa nilai kerugian (nilai waktu, biaya bahan bakar, biaya kesehatan) per tahun karena kemacetan lalu lintas? 12, 8 trilliun rupiah! Lalu kerugian lainnya seperti: Pencemaran dan kerusakan lingkungan; Infeksi saluran pernafasan (ISPA) dan kanker; Gangguan otak pada anak-anak dan ancaman bagi ibu hamil.

Satu informasi lagi, menurut survey Bank Dunia, pencemaran udara merupakan pembunuh kedua bagi balita di Jakarta. Nah lho!

Cuntel*.


*cuntel : rumit seperti benang kusut

Post

pilih idenya

In indonesiana, opini, politik, sosial on December 5, 2008 by aditya sani Tagged: , , , , , ,

Masa kampanye yang sesungguhnya semakin dekat dengan kita, Kawan. Spanduk, poster, kalender sampai leaflet sudah memenuhi sudut-sudut kota. Jakarta atau daerah, sama saja. Seminggu terakhir di kampung betawi, tempat saya tinggal, sudah berdiri dua posko partai. Satu partai ‘kebo ireng’ dan yang satu partai ‘pake hati’.

Begini ceritanya.. di mobil pribadinya, caleg yang kabarnya berhati nurani itu memajang stiker besar logo partai. Di atas kap mesin, di kanan-kiri pintu, dan di atas kap bagasi mobil. Sebagai pemanis ditambahkan stiker dengan latar bendera partai dan foto dua orang calon: tetangga saya, anggota legislatif dan koleganya, jenderal wiranto. Mobil itu mendadak terasa ramai, seolah siap ikut karnaval. Saya geleng-geleng kepala melihatnya.

Pak caleg dari partai kebo ireng lain lagi caranya. Suatu kali di suatu sore yang lengas, mushola mengumandangkan sebuah pengumuman. Konon katanya akan diadakan pengajian, eh syukuran di rumah pak caleg. Semua orang diundang, begitu kata berita yang tersiar. Pengajian pun dimulai ba’da isya’. Khidmat pengajian dipimpin oleh imam mushola yang kabarnya pendukung partai ‘pake hati’. Bubar pengajian sembako senilai dua puluh ribu rupiah dibagikan. Yang lucu, beberapa tetangga kemudian mendesis,

“ah mending juga dibagiin duit, kita mah gak butuh sembako…”.

Kejadian diatas mungkin tidak hanya terjadi di kampung saya saja. Satu kejadian lagi kemudian berlaku pada saya. Suatu siang di dalam angkot (angkutan kota), mata saya memicing pada kaca belakang kendaraan ini. Pemandangan cutting stiker besar, tertulis disana “DJUANDA, SH : Mari lawan ketidakadilan” dengan pemanis foto sang caleg berhati nurani. Senyum saya menyimpul, tergelitik untuk mencari tau apakah ada angkot lain yang memasang stiker yang sama. Saya turun di depan pasar kebayoran lama, tempat menumpuknya segala jurusan angkot -dari dan ke- ciledug. Lima belas menit saya mencari-cari, sudah lima angkot yang memajang stiker yang sama. Pikir saya, narsis juga bapak yang satu itu.

Belum cukup rupanya hanya menempel cutting stiker diangkot. Dipasangnya pula bendera-bendera berukuran satu kali setengah meter. Entah berapa ratus jumlahnya. Tak lupa, namanya, logo partai dan nomor yang kabarnya sakti, enam. Puas dengan cutting stiker dan bendera? Oh belum. Ada satu trik lagi untuk membantu ingatan masyarakat. Spanduk-spanduk besar dengan tulisan yang sama besar, DJUANDA SH. Entah apa tujuan spanduk itu, karena kali ini hanya namanya saja, tanpa embel-embel. Mengambang, persis seperti masyarakat pemilih Indonesia pada umumnya.

Sampai dirumah, saya merasa ‘mabuk djuanda’. Bagaimana tidak? di angkot, di ujung gang, di atas ruko, di pagar pembatas jalan layang, di mana-mana.

***

Setiap kali saya berfikir tentang siapa yang akan saya pilih Pemilu nanti. Tiap kali itu juga saya diam karena tidak punya jawaban. Apa kiranya kriteria caleg atau capres yang layak dipilih?

1. Sering mengadakan pengajian lalu bagi-bagi sembako atau duit
2. Foto, dan taglinenya mejeng dimana-mana
3. Kebetulan ‘yang bersangkutan’ tetangga sendiri

Tiga kriteria diatas mungkin sering menjadi acuan para pemilih mengambang. Masalahnya, bila hanya tiga poin diatas yang jadi bahan pertimbangan, bisa-bisa berabe semua urusan yang berhubungan dengan publik.

Lalu apa ya yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan?

Ide atau solusi yang dibawa oleh sang caleg atau capres. Ide bukan sekedar janji, apalagi tagline beo seperti Mari Lawan Ketidakadilan. Kita sama-sama tahu masalah publik di masyarakat dan negara begitu banyak. Tapi, sudah seharusnyalah seorang caleg atau capres maju ke depan dan menyampaikan ide-ide yang mereka ingin tanamkan dalam rencana kerja setelah terpilih. Kenapa? sederhana saja, orang Indonesia sudah lelah dijanjikan ini itu.

Saya ambil contoh sederhana saja, Kawan. Indonesia misalnya punya beberapa issue penting, sebutlah ketahanan pangan, penanaman modal asing, dan penguatan industri nasional. Ketiganya saling berkaitan, langsung maupun tidak langsung. Lalu timbul pertanyaan, dari ketiga issue tadi mana yang harus didahulukan sehingga ketiganya tumbuh-kembang secara berkelanjutan dan mendorong kesejahteraan?

Nah, caleg atau capres yang layak pilih akan dengan berani mengajukan sebuah proposal berisi ide-ide untuk menjadi solusi permasalahan yang ada.

***

Sudah bertemu caleg atau capres yang punya proposal seperti itu, Kawan?

Anyway, Kawan merasa ‘mabuk djuanda’ juga gak? hahaha..