Empat hari lagi ..

November 7th, 2011 § 6 Comments

Ini tanggal 7 November 2011 kan? 4 hari lagi sebelum SEA Games dimulai.

Siap tidak siap, Harus siap. Apa kata negara tetangga kalau SEA Games tidak terselenggara. Tentu saya malu, semua juga malu.

Buat saya pribadi, layar sudah terkembang, pantang mundur ke belakang. Terserah orang mau bicara apa. Kekurangan ada disana sini. Waktu semakin menipis, pekerjaan semakin padat.

Saya tidak ingin mengeluh, orang boleh mencemooh. Di twitter di cemooh, seolah panitia tidak bekerja dengan baik. Boleh percaya boleh tidak, kami sudah bekerja sepenuh hati. Ikhlas.. Tetap ingin mencemooh. Silakan.. :)

Dengan lapang hati, kritik diterima. Dengan senang hati, saran diterima. Saya tidak lagi berfikir, apa lagi masalah yang datang, tapi bagaimana menyelesaikan masalah tersebut.

Saya belajar banyak, saya harus bersyukur untuk itu.

ps:

Kepada kedua orang tua di rumah, mohon maafkan anaknya, waktu anaknya dihabiskan untuk SEA Games. Mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mohon dukungan penuhnya.  Terima kasih atas pengertiannya.

 

 

 

Semoga …

August 3rd, 2011 § 16 Comments

Setahun waktu yang relatif, bisa terasa singkat, bisa terasa padat. Itu tergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Saya manusia yang masih belajar ini-itu, kesana-kemari, jauh jauh jauh dari baik. Masih banyak yang masih bolong-bolong, apalagi kalau soal ibadah. Padahal, dulu saya menghabiskan waktu yang cukup panjang di Al-Azhar. Kembali lagi, waktu itu relatif, dan manusia tidak boleh merasa cukup, kecuali untuk urusan rezeki. Kabarnya, untuk urusan rezeki harus merasa cukup, supaya gak serakah.

Manusia datang dan pergi, manusia berubah setiap detik, seperti juga alam semesta. Pada setiap manusia selalu ada sifat sosial, yang ingin mengenal satu sama lain, ingin berbagi, berbagi dan berbagi. Saya menilai diri saya sangat sosial, saya senang berkenalan, bertemu teman baru, berbagi dan mendengarkan cerita baru. Setiap teman, keluarga, dan orang yang kita kenal adalah guru, dari pengalaman mereka kita bisa belajar. Terima kasih untuk semua ilmu yang saya dapat dari pengalaman yang dibagi.

Sampai hari ini, kalau boleh saya evaluasi, saya belum mahir betul menjaga relasi. Kadang ada janji yang belum terbayar, kadang ada perilaku yang kurang berkenan, kadang ada ucapan yang tidak mengenakkan hati. Saya minta maaf untuk kesilapan-kesilapan itu.

Naik ke tangga yang baru, bukan hal yang mudah. Beban terus bertambah, waktu semakin sedikit. Siapa yang tahu sampai kapan saya bernafas?

Semalam di perjalanan ke rumah, ayah saya sempat berpesan cukup panjang. Pesan yang lebih kurangnya berisi agar saya menjaga hablum-mina-allah dan hablum-minan-nas. Pesan yang selalu berulang, dan menempel di kepala saya. Pesan yang sampai detik ini masih banyak bolong-bolongnya begitu menyoal pada implementasi.

Belakangan ini, saya disibukkan dengan banyak hal yang agak baru. Belajar lagi, mengejar ketinggalan lagi dan lagi. Sebuah proses yang menyenangkan.

Dalam soal pekerjaan, saya belajar banyak dari @beradadisini, @a_budiman, @nanamarha dan @vidiyama. Keempat orang ini yang membuat saya bisa sedikit banyak bekerja menghasilkan sesuatu. Sebagai atasan (mereka tidak mau disebut demikian) mereka memposisikan diri sebagai sahabat sekaligus mentor, saya berhutang ilmu pada mereka. Dari urusan komunikasi konvensional, komunikasi digital, perpolitikan di Indonesia, jejaring tingkat tinggi dengan prominent person di Indonesia saya dapat dari mereka. Mudah-mudahan panjang kesabaran mereka menghadapi saya.

Dalam soal hidup, tentu saja saya belajar banyak dari ayahanda Kartono Sani, ibunda Retno Widiastuti dan adik saya Isanova. Mereka yang selalu meluruskan jalan saya ketika saya silap, menyentil saya ketika saya berjalan kelewatan, menarik saya dari lubang ketika saya dalam kesulitan. Seumur hidup saya berterima kasih pada ketiganya. Mudah-mudahan kesabaran selalu bersama mereka untuk mendampingi saya di keluarga.

Tulisan ini sudah cukup panjang, sebaiknya saya hentikan sampai disini, saya menulisnya sambil sesenggukan sendiri. Hehe.. bukan cengeng, tapi banyak hal dan nikmat yang harus saya syukuri.

Kalau ditanya, saya mau kado apa untuk pertambahan tahun kali ini, saya hanya berharap kalian bisa berdo’a bersama saya, supaya diberi umur yang panjang, kesehatan dan rejeki yang cukup untuk memperbaiki negeri ini.

Semoga …

Kelompok

February 21st, 2011 § 2 Comments

Berbicara mengenai Fraksi mungkin tidak menarik, tapi mungkin banyak yang tidak tahu betapa pentingnya entitas ini bagi stabilitas sebuah Negara seperti Indonesia. Saya mencoba membuat penyederhanaan, anggaplah sebuah Fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat menjadi sebuah kelompok biasa tanpa punya kekuatan politik dan embel-embel lainnya.

Pertanyaan yang paling sederhana, apa elemen yang paling penting sehingga sekumpulan individu bisa dilabeli “kelompok”?

Menurut saya, yang membuat sekumpulan individu bisa dilabeli sebagai “kelompok” adalah soliditas mereka secara internal maupun external. Soliditas ini hanya bisa terjadi bila terjadi kesepahaman yang dibentuk lewat komunikasi (dengan medium apapun) dan konsolidasi (pertemuan seperti rapat, meeting atau apapunlah namanya).

Menjaga komunikasi dalam internal kelompok mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya tidak juga. Menjadi sederhana bila kelompok tersebut terdiri atas kurang dari sepuluh individu, dan menjadi kompleks ketika kelompok tersebut terdiri atas lebih dari seratus individu. Apa yang penting dari komunikasi internal? Kejelasan dari isi pesan yang disampaikan kepada seisi kelompok menentukan efektivitas komunikasi internal.

Bila kelompok tadi memiliki seorang pemimpin dan sistem yang dipegangnya adalah top-down, maka kejelasan pesan yang di komunikasikan menjadi faktor yang teramat penting. Pesan tersebut harus sampai ke level paling bawah dengan pemaknaan yang sama. Pesan yang mengambang dan menggunakan bahasa yang remang, hanya akan merusak soliditas kelompok karena pemaknaan pesan yang begitu subjektif. Di titik pemaknaan pesan pemimpin ini, konsolidasi melalui pertemuan-pertemuan harus dilakukan untuk mencapai kesepahaman dan soliditas internal.

Nah, bagaimana bila kelompok tadi memiliki seorang pemimpin dan sistem yang dipegangnya adalah bottom-up dengan menjunjung tinggi demokrasi? Maka pemimpin hanya perlu memberikan arahan dan memastikan mekanisme pendukung serta ruang-ruang yang mampu menampung suara dari level terbawah bisa berjalan dengan baik. Konsolidasi dibentuk melalui ruang-ruang bagi perdebatan yang adil tanpa memandang siapa yang berbicara, tetapi lebih kepada ide/ pesan apa yang disampaikan. Setelahnya, bila keadaan ideal mungkin akan terjadi soliditas. Bila tidak, paling terbentuk faksi dalam sebuah kelompok. Ketika faksi-faksi terbentuk, idealnya pemimpin turun tangan untuk memberikan pemahaman.

Demikianlah dongeng singkat mengenai sebuah kelompok. Jadi, apa kata kuncinya? Komunikasi, Konsolidasi, dan Soliditas.

 

—–

p.s.: di negeri dongeng semuanya pasti ideal, sayangnya kita tidak pernah hidup di negeri dongeng. ayo bangun! :)

Where Am I?

You are currently browsing the Personal category at Aditya Sani.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,802 other followers