Kelompok

February 21st, 2011 § 2 Comments

Berbicara mengenai Fraksi mungkin tidak menarik, tapi mungkin banyak yang tidak tahu betapa pentingnya entitas ini bagi stabilitas sebuah Negara seperti Indonesia. Saya mencoba membuat penyederhanaan, anggaplah sebuah Fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat menjadi sebuah kelompok biasa tanpa punya kekuatan politik dan embel-embel lainnya.

Pertanyaan yang paling sederhana, apa elemen yang paling penting sehingga sekumpulan individu bisa dilabeli “kelompok”?

Menurut saya, yang membuat sekumpulan individu bisa dilabeli sebagai “kelompok” adalah soliditas mereka secara internal maupun external. Soliditas ini hanya bisa terjadi bila terjadi kesepahaman yang dibentuk lewat komunikasi (dengan medium apapun) dan konsolidasi (pertemuan seperti rapat, meeting atau apapunlah namanya).

Menjaga komunikasi dalam internal kelompok mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya tidak juga. Menjadi sederhana bila kelompok tersebut terdiri atas kurang dari sepuluh individu, dan menjadi kompleks ketika kelompok tersebut terdiri atas lebih dari seratus individu. Apa yang penting dari komunikasi internal? Kejelasan dari isi pesan yang disampaikan kepada seisi kelompok menentukan efektivitas komunikasi internal.

Bila kelompok tadi memiliki seorang pemimpin dan sistem yang dipegangnya adalah top-down, maka kejelasan pesan yang di komunikasikan menjadi faktor yang teramat penting. Pesan tersebut harus sampai ke level paling bawah dengan pemaknaan yang sama. Pesan yang mengambang dan menggunakan bahasa yang remang, hanya akan merusak soliditas kelompok karena pemaknaan pesan yang begitu subjektif. Di titik pemaknaan pesan pemimpin ini, konsolidasi melalui pertemuan-pertemuan harus dilakukan untuk mencapai kesepahaman dan soliditas internal.

Nah, bagaimana bila kelompok tadi memiliki seorang pemimpin dan sistem yang dipegangnya adalah bottom-up dengan menjunjung tinggi demokrasi? Maka pemimpin hanya perlu memberikan arahan dan memastikan mekanisme pendukung serta ruang-ruang yang mampu menampung suara dari level terbawah bisa berjalan dengan baik. Konsolidasi dibentuk melalui ruang-ruang bagi perdebatan yang adil tanpa memandang siapa yang berbicara, tetapi lebih kepada ide/ pesan apa yang disampaikan. Setelahnya, bila keadaan ideal mungkin akan terjadi soliditas. Bila tidak, paling terbentuk faksi dalam sebuah kelompok. Ketika faksi-faksi terbentuk, idealnya pemimpin turun tangan untuk memberikan pemahaman.

Demikianlah dongeng singkat mengenai sebuah kelompok. Jadi, apa kata kuncinya? Komunikasi, Konsolidasi, dan Soliditas.

 

—–

p.s.: di negeri dongeng semuanya pasti ideal, sayangnya kita tidak pernah hidup di negeri dongeng. ayo bangun! :)

Semoga Tuhan bersama kami

February 18th, 2011 § 2 Comments

Mengubah sebuah sistem bukan hal yang mudah, terlebih bila sistem yang ada sudah berjalan puluhan tahun. Pun manusia datang dan pergi, sistem yang sama sudah menjadi kebiasaan. Terlepas dari baik atau buruk sistem tersebut. Perubahan yang diinginkan tentu perubahan yang baik. Kami menonton sistem yang berjalan di kongres amerika serikat dan sulit bagi saya dan teman-teman di kantor untuk tidak menginginkan hal yang sama.

Darimana memulai perubahan kemudian menjadi pertanyaan awal, kami beruntung tidak perlu meraba terlalu jauh karena ada pengalaman yang dibagi oleh sahabat saya yang bernama Arief Budiman yang pernah terjun langsung menjadi Staf Khusus bagi Ketua DPR. Seluk beluk mengenai bagaimana lembaga legislatif bekerja masih lekat di kepalanya. Dan kami membentuk tim yang sampai hari ini solid dengan visi misi yang sama, membawa perubahan yang baik di lembaga legislatif yang seharusnya menjadi kebanggaan bagi Bangsa Indonesia.

Pendekatan di lakukan dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Begitu berulang, berusaha membombardir dengan gagasan, gagasan dan gagasan. Kami beruntung memiliki individu muda dengan gagasan yang cemerlang seperti Andika Putraditama dan Wildan Kesuma, yang gagasannya terus berkembang dan berkembang. Dari gagasan yang mereka kembangkan, saya sampaikan kepada individu-individu lainnya yang memang berada di dalam sistem. Disana, saya bertemu individu-individu yang menarik, mencoba berbagi visi dan misi yang sama hingga menemukan akhirnya kesepahaman.  Selama waktu berjalan, kadang tersandung, kadang bertemu halang rintang, kadang juga berjalan begitu saja seolah Tuhan mendengar setiap do’a di dalam pikiran.

Tugas masih menumpuk, yang harus ditemui dan diajak bersepaham masih banyak. Suara miring kadang datang dari kanan kiri, tapi kapal tidak boleh terbawa arus yang mengubah arah, apalagi karam. Semoga Tuhan bersama kami. Semoga.

 

a Song

November 29th, 2010 § 4 Comments

Where Am I?

You are currently browsing the Racau category at Aditya Sani.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,802 other followers