Archive for the ‘cerpen’ Category

t

i’ve been through some cities. living life with all its characteristics and values.

i used to have a car, accompanying my trip. driving all the way, through those cities. adapting myself to its routines, habits and rituals. it’s been fun and sad. it’s been full of laugh, sometimes it feels simply horrible. the cities.

yeah, the option is only whether you take it as it is, or leave it. sometimes, for some reason, i’m taking it with all the risks, with all my heart. get adapted with it.

until, one day i’m fed up. the city whereby i’m contributing as ordinary citizen for a few years losing its hospitality and security. i’m so insecure.

friends said, leave your car. let it be. take it slowly. take another vehicle. go slow. be more patient. adapt. adapt. adapt.

and i’m leaving that beloved city. using a bicycle, instead of a car. moving into a big greeny yard, with big oak tree that i can climb to. it’s where i live now.

let me get this clear: it’s a big greeny yard, with a big oak tree on a village, with an old-ruined city nearby.

a village, where i can do anything. leaving all norms and values. only me, myself, and my own values.

so, one very night. i climb the oak tree, and sat down its branch. light on my cigar. looking to the old-ruined city.

somehow, someway, the city is so beautiful. i’m quite sure that she has something. this city must have been going through a glorius history. also the inglorius one, as the reason. but, what is it? the inglorius one.

and so, i took my bicycle,with all hearts, aiming to get to know it. to know all it’s characteristics and values. learn its history attached.

now, i’m riding on the street, an empty one, on a quiet old-ruined city. i’m wondering why the city was lefted empty. i’m curious now, this would be a long trip on my bicycle.

***

a few weeks passed by, and you know what? i’m in love with this city.

one, that i want to ask to this city, live is somehow feels and looks like a circle, don’t you think?

the old-ruined city

on October 28, 2009 by aditya sani

1 Comment

t

(soundtrack: lemar, what about love)

rindu, mungkin aku mulai terdengar ragu ketika mencoba menyamakan apa maumu, apa mauku. ya, aku takut. kamu pasti tau betul aku suka padamu.

define suka, mungkin begitu kamu bertanya. suka itu: ketika hanya dengan melihatmu pun aku bisa tersenyum. suka itu: ketika aku dengan senang hati menemanimu berjalan menuju depan kampus untuk mencari taksi. suka itu: ketika aku dengan langkah seribu turun ke lantai dasar dan berkeliling ke warung dan toko untuk mencari minyak telon yang kamu mau.

itu suka menurutku, menurutmu?

***

rindu, pernah kamu merasa kesepian?

ketika seolah ruang kamar tempat kamu memang terbiasa sendiri, terasa begitu luas dan lapang. tapi ketika itu juga kamu merasa ada yang kosong. seisi ruang itu terasa kosong, bahkan terasa tanpa daya gravitasi. lalu kamu merasa mengambang, terhuyung ke kanan dan kekiri. dan oh, yang menemanimu hanya bayanganmu yang dibentuk oleh satu-satunya lampu yang tergantung diatas kepala. itu pun terlihat kerdil.

aku kadang merasakannya, rindu.

***

aku masih duduk di pinggir balkon setinggi 50meter. menatap langit menjelang senja, merona merah. malu-malu.

rindu duduk disampingku, berjarak. bukan aku tak mau berimpitan, tapi jarak harus selalu ada. sesempit apapun ruang dan waktu, selalu ada yang pribadi bagi kami berdua. saat-saat dimana aku memikirkan aku, dan rindu memikirkan rindu. tapi, aku selalu memikirkan rindu, tidak memikirkan aku.

***

kamu tau apa yang dapat menghilangkan kesepianku?

kamu, rindu.

***

kepingan fragmen #3

on October 26, 2009 by aditya sani

7 Comments

t

(soundtrack: yiruma, kiss the rain)

jarum jam tangan menunjuk ke angka sembilan, di lorong gedung tempat kami biasa berjalan. dedaunan kering terserak seolah musim gugur. rindu tidak lagi datang mulai malam ini.

bangku kelas yang biasanya kubiarkan kosong untuk didudukinya. kali ini benar-benar kosong. jadilah aku pura-pura sibuk membaca buku, padahal pikiranku pada rindu.

aku tidak mengerti pada apa yang dialaminya. low self-esteem? anxiety attack? manic depression?

lantas tidak lagi datang solusinya.

***

rindu. rindu. rindu. gadis jawa bali yang periang. kehadirannya selalu mengundang tawa. candanya selalu mengundang decak. kadang mengejutkan mendengar bagaimana rindu mencecar orang lain pun dengan canda.

hingga datang suatu masa, dia yang pergi, kembali. pulang mencarinya. pria yang ditunggu rindu, kembali.

departure

lalu, tawa candanya hilang. seolah pria itu memakannya habis. tapi, dia yang ditunggu rindu. bukan aku.

***

kelas kami begitu tenang. kecuali kami yang duduk di sudut, saling berbisik dengan kertas. ya, berbisik, suara gesekan karbon pada pensil bertemu kertas seadanya.

aku mengajaknya makan malam itu. aku butuh ruang. dimana orang lain tidak lagi mengenal kami. soal ruang dan waktu.

ruang yang tak pernah cukup, waktu yang selalu sempit. itu yang membuat setiap detik bersama rindu menjadi begitu berharga.

kepingan fragmen #2

on October 15, 2009 by aditya sani

4 Comments

t

(soundtrack: noriyuki asakura, departure, ost.rurouni kenshin)

malam itu, hujan terasa hangat. lingkar mata yang sembab. beriring dengan aroma hujan yang lembab. aneh memang suasananya terasa begitu hangat. ada rasa percaya, lalu lahir cerita. hanya masa lalu, katanya.

di langit-langit kota, gedung-gedung itu terasa begitu asing. yang ramai dibawah sana, terasa senyap. kulit kota yang bergeliat merayap, tak nampak di ujung mata. lagi, sembap.

***

namanya rindu. ia akan datang esok pagi, gadis jawa-bali yang pernah duduk bersama, beberapa tahun lalu. datang setelah hilang asa.

berpuluh kartu pos, dengan gambar belakang sebuah negeri di timur tengah. tak pernah terbalas. ada keinginan, namun entah apa yang harus dikatakan. semua tak pernah cukup untuk berakhir dalam satu baris kalimat, paragraf, bahkan lembaran kertas.

tak ada kata cukup, tak ada kata henti. ia selalu datang di saat riak hati tenang. sayangnya, hati ini tak pernah cukup untuk memenuhi puluhan kartu pos. berisi rindu itu sendiri.

***

wajah di dalam kaca taksi biru itu sayu. pilu. cahayanya yang terpancar beberapa tahun lalu lenyap.

***

kartu pos terakhir dari jakarta:

define what love is again, dear..is it only about trust? is it about understanding? or is it about the experience you’ve been through with him?

if your love, was all about experiencing. then, you don’t have to talk to me, there’s no need to go back to jakarta. you don’t need me. the only experience that i have with you, was on the phone. always on it. yes, we shared the same laugh and cry. but, it’s on the phone.

you never want to see me inside my eyes. my eyes, dear. you know, eyes never lied.

it’s me who likes you. it’s him that you chose, a few years ago.

let me ask you, once again, can you define what love is.


kepingan fragmen

on October 12, 2009 by aditya sani

2 Comments

Post

Aku dan Gadis

In cerpen on April 3, 2008 by aditya sani

H

ari itu langit tersenyum. Dibawanya gadis tepat ke depanku. Gadis penuh keramahan khas sunda. Sedang aku berfikir untuk pergi dari kota dalam hitungan hari. Melanjutkan hidupku yang menjadi mahasiswa baru.

Akhir-akhir ini, beberapa kisah gagal karena rencana kepergianku. Dipikir mereka aku akan terus meninggalkan kota selamanya. Tak lagi bertemu. Grafik hatiku sejak rencana ini terus mundur. Selalu muncul keinginan untuk menunda studi dan mencoba peruntungan di kota ini. terlebih setelah mengenal gadis.

Aku menunggu matahari disaat ia akan tenggelam oleh malam.

Aku menunggu bulan disaat ia akan terlelap oleh pagi.

Akankah itu menjadi sia-sia saat kulakukan(?) Untukmu.

Gadis belum mengenalku dengan baik, tapi hari ke hari kami semakin dekat. Hingga, aku ragu menyampaikan rencanaku pergi. Aku takut dia meninggalkanku. Aku tau seminggu tak kan cukup untuk saling mengenal. Yang aku tau, aku mulai menyukainya. Dan aku tau dia.

“Kenalilah aku pada saatnya, Aku akan bersabar menunggumu.”

Maafkan aku yang lambat memberitahumu, gadisku. Disini kabut begitu tebal membayangiku. Pening aku dibuatnya. Aku hanya ingin yakin pada diriku sendiri. Tidak seperti pada lainnya.

Dari titik nol hingga sebuah ledakan, Aku ingin berjalan lambat.

Aku ingin berjalan penuh keyakinan, Hingga aku mengerti apa arti hidup.

Wanita menjadi bagian hidup yang memiliki porsi besar dalam hidupku. Aku selalu ingin berpindah. Terus berpindah.Sering aku merasa beruntung, hidupku ada. Tak pernah aku merasa cukup. Kadang aku jatuh, kadang aku terbang tinggi.Pertanyaan besarku adalah apa yang aku cari dalam hidup?

Tak taulah aku. Aku hanya ingin terus mencoba. Dan aku ingin celah ini aku dapatkan sekarang. Harus sekarang gadis.

berikan aku kesempatan
untuk kembali tenggelam dalam palungmu yang dalam
untuk kembali merenangi samuderamu yang luas
untuk kembali menempuh gurun pasirmu yang tandus
untuk kembali menerobos hutanmu yang begitu liar
untuk kembali menembus langitmu yang tinggi
untuk mencintaimu
itu saja

Siang itu aku bersiap bertemu gadis. Aku menunggunya di bawah pohon besar dimana aku biasa duduk seminggu terakhir. Cemas. Mungkinkah ini hari terakhirku bertemu. Ataukah jalan ini masih panjang gadis.

Dia keluar dari tempatku meng-aku. Tersenyum dia melihatku. Aku menunduk. Hari itu berbeda. Dia lebih cantik dari sebelumnya. Aghh.

aku menatap ke langitmu yang teduh
mungkinkah kamu
jejak yang kucari
apa yang dapat kulakukan agar tetap ada didekatmu

Tiket sudah ditangan. Bandara disesaki dengan kebiruan. Musim merantau nampaknya. Aku hanya duduk termangu. Sulit rasanya menghubungi atasanku.

sayang, jawablah aku
kenapa saat ini aku menemukannya
adakah rahasia hidup yang kau adakan untukku
adakah sesuatu yang besar yang kuharapkan datang
jawab aku, sayang
adakah kau akan menyimpannya untukku
dimana kamu
kuasaku hanya setitik dari kuasamu

K

ota baruku ini sepi, terlebih saat malam. Di depan jalan hanya lampu redup dengan bayangannya sendiri menanti pagi. Tapi aku justru nyaman dengan keadaan ini. Memberiku banyak waktu untuk berfikir. Gadis. Gadis. Aku kangen kamu.

seandainya..seandainya..
seandainya aku dapat memilih tetap disana menjagamu. setiap pagi saatku terbangun. kaulah yang pertama terlintas. setiap malam sebelum aku tertidur. kaulah yang terakhir terlintas. cintakah.
setiap saat aku melihat wajahmu. senyuman itu membuatku hanyut dalam palung yang dalam. cintakah.
aku hanya ingin kau tau. bahwa itulah yang kurasakan.
aku akan kembali.

aku tetap disini mencintaimu..

Sejak terakhir kali bertemu gadis, berulang kali aku mencoba keberuntunganku kembali ke kota itu untuk menemuinya. Salahku selalu mendadak memberi kabar, dan berulang kali gagal aku bertemu. Rencanaku pulang, selalu diakhiri dengan memutar ulang CD Keane pemberiannya di hari terakhirku bertemu. Hanya itu obat hatiku.

semua berawal dari sebuah tawa dan senyuman mungil yang menyimpul.

“mungkin hujan di dalam sana”.

entah ada atau tidak indah itu ketika terawali.
jengah dengan sesuatu yang muda.
“karna belum saatnya”.
lega. jiwa sendiri.
senyuman itu dekat sekali dgn hati ini.
hanya terpisah jarak dan waktu yang begitu dingin.
membisu. kaku.
tapi, jika kata itu hanya. lalu mengapa hujan di dalam sana.
jengah ketika saat semakin lambat. dan penantian berakhir lama.
membatu. semakin dingin. membisu. kaku.
semuanya diawali dan diakhiri oleh sebuah tawa.
senyum manis menyimpul.

Belakangan aku semakin dekat dengan atasanku, rajin aku meminta.

Kuliahku semakin padat, semakin lama aku tidak pulang ke kotaku. Kadang aku bisa lupa pada gadis, tapi bila hariku mulai kosong, dan insomniaku semakin menjadi. Terasa pahit bertemu gadis karena waktu yang salah.

langit tak mendengar sujudku
aku berdoa agar kau beri dia kesabaran
aku berdoa agar kau beri dia ketabahan
aku berdoa agar kau beri dia senyuman

aku merindukannya sayang
adakah kau mendengarkanku

Malam ini, malam yang sama aku merasakan sepinya kota ini. Aku pergi ke warnet. Ku ambil semua foto yang dia simpan di frenster. Diam diam aku mengumpulkannya. Semakin lama memoriku dipenuhi dengan senyumnya.

Hingga mungkin memoriku pun bosan mendengar lagu yang sama tiap hari. Ahahahahaha. Maafkan aku memori. Kamu perantaraku bertemu dengannya. Cuma kamu.

Pagi ini : dan kau temani sepi

aku ingin berulang.
masa hanya diam.
bisu.

begitupun senyummu.
getir.

wajah itu terlalu sejuk untuk mampu menamparku dari sepi.

aku ingin diam.
membiarkan masa berlalu.
hingga jejak itu kembali.

aku merindu.
pada pagi: dan wajahmu teman sepiku.
5 Februari 2005

Februari dekat denganku kini, aku punya ide bodoh untuk pulang lagi lagi tanpa permisi. Ah, 14 februari siapa juga yang membakukannya menjadi hari kasih sayang. Kenapa aku pun jadi baku karena orang itu. Aku ingin pulang sayang.

manusia berlalu batu

karma berlaku.
tajam.

seolah aku pembunuh.
dingin.

dimana kamu saat aku minta.
dimana cinta saat aku ada.

senyap.
langit kembali gelap.

aku ingin bisu.
aku ingin tuli.
aku ingin buta.

wajahmu menyayat dagingku.
pelan.
pelan.

tipis.
namun pasti.

suaramu.
AaaGhh!!
apa yang kau simpan disana.

aku ingin belajar lupa.
aku hanya ingin belajar mencinta.
entah bagaimana.

tapi kau berlalu.
seperti batu.

*catatan malamku pada kejadian 11-02-05 . . .

She is taken, honey she is taken. What should I do now?

Gadis, kapan aku bisa bertemu denganmu. Nyata.

Aku mencoba melupakan gadis. Sekali aku kembali pada mantanku. Dan sekali aku mencoba dengan teman baru. Selalu gagal.

H

ubungan gadis dengan pria itu berjalan lancar. Mereka didukung orang tua yang kebetulan kolega. Aku tidak peduli pada mereka, tapi kadang aku kangen pada gadis. Aku harus pulang, aku harus punya rencana matang.

Akhirnya, sore itu aku bertemu dengannya di sebuah mal, dia bersama adiknya. Menyenangkan sekali hari itu. Kami bicara banyak. Tentang pacarnya. Tentang hidupku di jogja. Tapi aku tak pernah berani bicara tentang hatiku untuknya. Selama kepulanganku itu, aku terus menelfonnya, sekedar melampiaskan rasa kangenku. Menyenangkan.

Malam itu harusnya aku tenang, karena telah bertemu. Tapi, entah kenapa aku yang harusnya tidak peduli. Berulang ulang melintasi dirinya. Aku sendiri di balkon rumahku. Apa yang membuatnya bisa bersamanya. Apa. Apa. Pesimismeku bangkit. Obsesiku muncul lagi. Pria itu. Bajingan! Bisa bisanya kamu bersamanya gadis. Adakah kamu senang bertemu denganku gadis.

di pelabuhan senja

aku ingin menutup mataku..
andai.. aku tak perlu melihatmu..
andai.. aku tak bisa lagi melihatmu..
apa yg kau tertawakan..
aku disini sendiri..
sedang kau disana tertawa bersama..

aku ingin menutup telingaku..
andai,, aku tak perlu mendengarmu..
andai.. aku tak bisa mendengarmu..
apa yang kau bicarakan,,
aku disini bisu..
sedang kau disana bicara
bersama..

aku ingin menutup mulutku..
andai.. aku tak perlu bicara tentangmu..
andai.. aku bisa tak bicara tentangmu..
banyak yang bisa aku banggakan tentangmu..
tapi,. kenapa
kau lebih memilih bersama..

bagaimana dengan cinta yang ku simpan..
terlalu mahal sakit yang harus kubayar untuk
menebus semuanya..
Apakah terlalu lama..
Apakah terlalu lama..
waktuku menunggumu..
di pelabuhan senja saatku menutup mata..
07/04/05 2:24 a.m

Just a few hour after i met her somewhere. hope god knows best.
Aku ingin semua orang tau kerinduanku, dengarkan aku jakarta. Dengarkan aku..
Aku menghubungi temanku di prambors, aku berharap suratku dibacakan. Aku menunggu. Dan. Yak.

“ah malam ini langit kelabu..

tadi lampu temaram menghilang..
aku berdiri dibawahnya..
dan tiba-tiba saja malam datang..
dimana awan yang biasanya ada??

ah dia menghilang begitu saja..

kau bukan angin sayang..
kau adalah bagian dari cerita hidupku..
yang bila ku buat kronologinya..
90% hidupku itu kamu..
yang 10% lagi ya aku, sayang..

sayang, kalau kamu baca puisi ini..
aku sedang merindu..
ya, merindu pada temaram lampu..
yang setemaram kisah kita..
redup..

tapi, menikamku dengan pisau kata-kata..

aku buta sayang..
aku buta oleh gelapnya lampu tadi..
terlalu gelap untukku..

jalan ini tidak buntu kutau..
haha..
di ujung sana ada kamu..
di ujung sana ada kita..
perpaduan unik antara ego dan kalahan..
kau ego itu..
dan kau injak perasaanku..
injak sayang..
puaskan egomu itu..
hahaha..

aku tidak apa-apa..
aku tidak apa..
hahahahaha
aku tidaakkkk appaaaaaaa..
hahahahahahaha…

jiwaku terlalu kuat untuk menerima sakit ini..
aku siap untuk semuanya sayang..
diamlah disana..
nyalakan sinyalmu..
dan biarkan aku terus mencarimu sayang..

aku sayang kamu..
aku sayang kamu..

3 juni 2005 : 8.30pm”

“Itu tadi puisi dari ujang untuk gadis yang katanya ni, lagi kangen bgt sama gadis.”
Suara penyiar itu terdengar menyenangkan. Hahahahahahahaha. Aku tersenyum sendiri, aku menyamarkan namaku. Mudah-mudahan gadis mendengarnya.

D

ua bulan lewat, tiba-tiba firasatku buruk. Ada yang salah. Apa. Apa. … Aku mencoba menghubunginya. Suaranya berat. Ada yang dia simpan.

pahit

jengah.
kapan lagi saat terakhir aku menghunus belati.
pada diri sendiri.

semut yang datang tak lagi.
sahabat.
pemanis pergi.
diganti dengan brotowali.
Puih!!

tubuhku perlu energi baru.
seperti juga tubuhmu.
aku sudah terlalu kotor.
banyak sudah yang mati.
menggunung sudah dosaku.

dan kau terus berlari untuk berlalu.

aku ingin kau disini.
MENEMANIKU.
TEMANI AKU.
menanti nasibku.
kumohon.

banyak sudah kuhunus belati yang kupunya.
pada manusia yang salah.
dan.
semuanya semakin terasa.

pahit.
tanpamu.
. . . pahit
2005, suatu hari

A

ku mencari rumahku sayang. Tempat aku bernaung saat sulit. Temanku berbagi saat bahagia. Dimana rumahku sayang.

pencarianku terus berlalu
akan semakin menyakitkan

kau rencana terbesar dalam hidup yang
penuh persimpangan

tapi, aku terus berjalan di tepi jalan
pelan
pelan

membiarkan masa berlalu

menunggumu
kau hari besarku yang terus berlangsung
kau teman sepiku yang paling setia

tidak ada yang pernah mengerti

aku menyayangimu.

entah kenapa
andai kaupun tahu,
[catatan sepi jogja dini hari tanpa awan atau bintang, 2005]

s

atu tahun itu sudah lewat. berlalu begitu saja. aku merasa baru kemarin aku menangis meninggalkan jakarta. aku merasa baru kemarin cinta datang dan setan tertawa meniupnya. aku merasa baru kemarin aku terbangun dan tersadar tidak baik memulai hubungan. aku merasa baru kemarin si putih terduduk di mobil dengan seonggok bunga. aku merasa baru kemarin. aku selalu merasa baru kemarin. saat kalian menangis. padahal itu terjadi setahun yang lalu. aku merasa baru kemarin aku terbang.
aku merasa baru kemarin aku duduk terdiam melihat seorang yang bernasib sama sedang menangis karena cupid pergi menandaskan panahnya. aku merasa baru kemarin si putih ku gotong tergopoh gopoh dari sebuah toko. aku merasa baru kemarin, aku terdiam berdiri di depan mobil, di depan sebuah sekolah seraya terdiam sedang didepanku ada seseorang dengan si putih dan seonggok bunga. dan aku merasa baru saja kemarin aku terdiam mengingat Tuhan. seandainya setahun ini aku membuat mu terluka. satu maaf yang aku minta. aku bersyukur hidup masih menyenangkan
karena ada kalian.

jogja, 13 agustus 2005

A

da yang mengganjal, aku berharap ini kali terakhirku menulis untuknya.

if there’s something called destiny, then
someday everyone will meet someone
who destined to be with
then, i’ll seek for that chance
i’m trying to be real
without any regret
with hope that one day will be a day
with a lot of things to remember
see you in the next chance
thanks for everything

Posted 07/15/2005

[soundtrack : Yiruma -  the things i really - the view seen from my window - remaining together with the memory - river flows in you-]