Dokter Fulan yang cinta pada Bumi
March 22nd, 2010 § 2 Comments
Bumi yang biasa kita pijak, tempat kita hidup sehari-hari, sedang sakit. Diserang demam tinggi. Tubuhnya panas dingin. Bergerak tidak stabil. Seorang dokter di bidang lingkungan pernah bilang: “Ada virus ganas yang menyebabkannya!”.
Kala itu, saya bertanya-tanya dalam hati, berusaha menangkap maksud Dokter Fulan yang kabarnya ahli menangani penyakit karena lingkungan hidup. Apa gerangan virus ganas yang menyebabkan Bumi yang saya cintai sepenuh hati jadi demam tinggi … ?
Dokter Fulan memotong lamunan saya, “Apa yang kamu pikir, Ki Sanak? Virus ganas yang saya maksud itu ya kelakuan manusia-manusia seperti kita! Mereka tidak sadar, bahwa apa yang setiap hari dilakukan itu berpengaruh pada Bumi!”. “Itu sebabnya beberapa tahun terakhir Bumi seperti manusia yang terkena demam tinggi! Manusia penyebabnya!”, tambahnya sambil berteriak, wajah Dokter Fulan tampak merah padam. Dan saya terkejut mendengarnya marah seperti itu. Cukup lama saya mengenalnya, dan belum pernah saya melihatnya semarah itu. Buat saya pribadi, itu pertanda bahwa penyakit yang dihadapi Bumi sudah sangat parah, dan Dokter Fulan sudah berada di titik batas kesabarannya.
Saya tidak tahu berapa tepatnya jumlah Dokter yang ahli di bidang lingkungan seperti Pak Fulan, yang saya bayangkan hanya bagaimana dokter-dokter seperti Fulan terus berusaha mengatasi penyakit yang menyerang Bumi dan mulai kewalahan. Ya, kabarnya karena manusia seperti kita cenderung memilih untuk tidak peduli pada Bumi yang selama ini menjadi tempat kita hidup!
Setelah Dokter Fulan terlihat lebih tenang dan reda kemarahannya saya berinisiatif untuk bertanya sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar bodoh bagi seorang Dokter sekaliber Fulan. Pertanyaan itu: “apa saja si Dok yang dilakukan manusia sehingga Bumi jadi sakit?”
Raut wajah Dokter Fulan kembali mengeluarkan aura kemarahan, kepala saya di keplak dengan sebuah booklet tentang Pemanasan Global alias Global Warning. “Itu saudara baca sendiri! Sudah lelah saya menjelaskan kepada manusia bodoh macam saudara ini!”, jawab Dokter Fulan ketus.
Inti booklet itu … (eits, jangan lupa cari tahu lebih lanjut ya!)
- – - -
Definisi Pemanasan Global
Pemanasan global adalah peningkatan suhu udara di permukaan Bumi dan di lautan yang dimulai sejak abad ke-20 dan diprediksikan terus mengalami peningkatan. Ilmuwan lebih sering menggunakan terminologi “perubahan iklim” dengan asumsi: yang terjadi sekarang ini tidak hanya fenomena bertambah panasnya suhu udara, tetapi juga iklim yang berubah-ubah. Lho kok bisa? Ya, semuanya berasal dari bertambah panasnya suhu udara di Bumi yang kemudian terbawa oleh arus angin dan laut ke segala penjuru bumi. Pergerakan panas ini kemudian merubah pola iklim secara global, seiring berubahnya curah hujan dan salju yang turun ke suatu tempat.
Penyebab Pemanasan Global
Dalam laporan, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), satu badan PBB yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas. Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir! IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan nitro oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.
(Klik disini untuk tahu lebih lanjut … )
- – - -
Setelah saya membaca booklet tiba-tiba HP-nya Dokter Fulan berdering, ringtone yang dia pakai lagu-nya Naif yang judulnya “Dia…Adalah pusaka sejuta umat manusia yang ada di seluruh dunia”.
Manusia berkembang menurut perkembangan jaman yang ada/ Tengoklah kiri dan kanan sudah banyak gedung yang tinggi menjulang/ Pohon-pohon yang dulu hijau kini telah berubah menjadi batu/ Kurasa manusia kini tak pernah peduli lagi dengan alamnya/
Dia… Adalah pusaka sejuta umat/ manusia yang ada di seluruh dunia/
Langit biru cerah tak mungkin lagi terlihat bersih dan ceria/ Pelangi yang berwarna-warni warnanya semakin tak menentu/Bunga-bunga yang indah tak pernah semerbak lagi seperti dulu/ Udara segar yang dulu ada kini tak pernah lagi kurasakan/
Saya jadi ngelangut dan merinding mendengarkan lagu-nya Naif yang diputar dari HP Dokter Fulan, padahal sebelumnya saya sering mendengar lagu itu dan tidak merasakan apa-apa. Melamun lagi saya dibuatnya … Dan dikeplak lagi kepala saya! Hahaha … Kali ini dengan sebuah gulungan poster. Saya rebut poster itu dari tangan Dokter Fulan, dan saya pukul balik kepalanya! *gak diiing, bercanda*
Eh, posternya beneran saya rebut lho, tapi gak saya pukulkan ke kepalanya si Dokter Fulan kok.. ;p tapi, saya buka gulungan poster itu dan … *jeng jeng jeng*
Wohooo, ternyata ada yang namanya Earth Hour yang dilaksanakan setiap Hari Bumi. Begini penjelasan di salah satu websitenya:
EARTH HOUR berawal dari kampanye kolaborasi antara WWF-Australia, Fairfax Media, dan Leo Burnett untuk kota Sydney, Australia, dengan tujuan mengurangi gas rumah kaca di kota tersebut sebanyak 5% pada tahun 2007. Sudah tiga kali Earth Hour diadakan, sedangkan tahun ini adalah kali ke-dua Indonesia bergabung dalam Earth Hour.
Tujuan utama kampanye EARTH HOUR tahun ini adalah untuk melanjutkan target efisiensi energi bahkan jauh setelah kegiatan kampanye EARTH HOUR berakhir. Jadi kampanye ini mengingatkan semua orang bahwa bergaya hidup hemat energi tidak hanya dengan berpartisipasi di EARTH HOUR saja, tetapi aksi kecil ini harus terus dilakukan setiap hari untuk secara efektif mengurangi gas rumah kaca.
Mengapa Earth Hour digalakkan di Jakarta? Karena berdasarkan data konsumsi listrik tahun 2008, total 29.605 GWH atau 23% total konsumsi listrik Indonesia, terfokus di DKI Jakarta dan Tangerang. Apabila 10% penduduk Jakarta berpartisipasi dalam EARTH HOUR, maka Jakarta dapat menghemat konsumsi listriknya sebesar 300MWh, yakni setara dengan:
- Mematikan 1 pembangkit listrik
- Menghemat 267,3 ton CO2
- Menghemat lebih dari 267 pohon (1 pohon mampu menyerap 1 ton CO2 dalam 20 tahun masa hidupnya)
- Persediaan O2 untuk lebih dari 535 orang (1 pohon mampu memberikan O2 bagi 2 orang dalam 20 tahun masa hidupnya)
- Apabila (300MWh = 1.080.000MJ) X Rp 200/MJ = menghemat hingga Rp 216.600.000,-
—–
Dokter Fulan mungkin mulai gusar melihat saya terlalu lama melamun. Dia menutup pembicaraan kami dengan berkata “Beristirahatlah barang satu jam pada hari Sabtu, 27 Maret 2010, pukul 20.30-21.30! Demi Bumi!”
—————–
Catatan: Untuk ikut menyelamatkan bumi, buka website resmi Earth Hour di Earth Hour Indonesia. Klik lampu di sebelah kanan, submit data, dan Anda akan terhitung sebagai partisipan Earth Hour. Untuk mengetahui update harian tentang Earth Hour, follow twitternya di @EHindonesia dan bantu sebarkan infonya kepada followers Anda.
Remember, it’s not about what country you’re from, but it’s about what planet you’re from. Vote Earth Hour, Vote For Earth!
the old-ruined city
October 28th, 2009 § 1 Comment
i’ve been through some cities. living life with all its characteristics and values.
i used to have a car, accompanying my trip. driving all the way, through those cities. adapting myself to its routines, habits and rituals. it’s been fun and sad. it’s been full of laugh, sometimes it feels simply horrible. the cities.
yeah, the option is only whether you take it as it is, or leave it. sometimes, for some reason, i’m taking it with all the risks, with all my heart. get adapted with it.
until, one day i’m fed up. the city whereby i’m contributing as ordinary citizen for a few years losing its hospitality and security. i’m so insecure.
friends said, leave your car. let it be. take it slowly. take another vehicle. go slow. be more patient. adapt. adapt. adapt.
and i’m leaving that beloved city. using a bicycle, instead of a car. moving into a big greeny yard, with big oak tree that i can climb to. it’s where i live now.
let me get this clear: it’s a big greeny yard, with a big oak tree on a village, with an old-ruined city nearby.
a village, where i can do anything. leaving all norms and values. only me, myself, and my own values.
so, one very night. i climb the oak tree, and sat down its branch. light on my cigar. looking to the old-ruined city.
somehow, someway, the city is so beautiful. i’m quite sure that she has something. this city must have been going through a glorius history. also the inglorius one, as the reason. but, what is it? the inglorius one.
and so, i took my bicycle,with all hearts, aiming to get to know it. to know all it’s characteristics and values. learn its history attached.
now, i’m riding on the street, an empty one, on a quiet old-ruined city. i’m wondering why the city was lefted empty. i’m curious now, this would be a long trip on my bicycle.
***
a few weeks passed by, and you know what? i’m in love with this city.
one, that i want to ask to this city, live is somehow feels and looks like a circle, don’t you think?
kepingan fragmen #3
October 26th, 2009 § 7 Comments
(soundtrack: lemar, what about love)
rindu, mungkin aku mulai terdengar ragu ketika mencoba menyamakan apa maumu, apa mauku. ya, aku takut. kamu pasti tau betul aku suka padamu.
define suka, mungkin begitu kamu bertanya. suka itu: ketika hanya dengan melihatmu pun aku bisa tersenyum. suka itu: ketika aku dengan senang hati menemanimu berjalan menuju depan kampus untuk mencari taksi. suka itu: ketika aku dengan langkah seribu turun ke lantai dasar dan berkeliling ke warung dan toko untuk mencari minyak telon yang kamu mau.
itu suka menurutku, menurutmu?
***
rindu, pernah kamu merasa kesepian?
ketika seolah ruang kamar tempat kamu memang terbiasa sendiri, terasa begitu luas dan lapang. tapi ketika itu juga kamu merasa ada yang kosong. seisi ruang itu terasa kosong, bahkan terasa tanpa daya gravitasi. lalu kamu merasa mengambang, terhuyung ke kanan dan kekiri. dan oh, yang menemanimu hanya bayanganmu yang dibentuk oleh satu-satunya lampu yang tergantung diatas kepala. itu pun terlihat kerdil.
aku kadang merasakannya, rindu.
***
aku masih duduk di pinggir balkon setinggi 50meter. menatap langit menjelang senja, merona merah. malu-malu.
rindu duduk disampingku, berjarak. bukan aku tak mau berimpitan, tapi jarak harus selalu ada. sesempit apapun ruang dan waktu, selalu ada yang pribadi bagi kami berdua. saat-saat dimana aku memikirkan aku, dan rindu memikirkan rindu. tapi, aku selalu memikirkan rindu, tidak memikirkan aku.
***
kamu tau apa yang dapat menghilangkan kesepianku?
kamu, rindu.
***
