
In puisi on November 3, 2009 by aditya sani
:pas
daun-daun menguning berjatuhan, ranting-ranting yang mengering dan menua, ada yang tertinggal, ada yang tanggal. seperti musim gugur, aku berbalik pada saatnya.
sosokmu membayang di benakku, dalam monochromatic, serupa jejak hitam putih, serupa gambar bisu, tak bersuara, tak terdengar olehku. tapi, aku melihatnya.
kamu,
diantara musim yang lewat ada jurang, antara kamu dan aku, kita bersenjangan. diantara musim yang lewat ada jalan, untuk kamu dan aku, lalu kita.
kamu pergi aku hilang. jangan kira aku lupa musim-musim yang lewat bersama. daun-daun, kotak makan, dan kita.
kamu datang aku hilang, jangan kira aku percaya mimpi-mimpi yang dibagi bersama. dijalan-jalan yang lewat, dibangku-bangku taman, dirumah makan.
ketika kita bicara: daun jatuh, kamu hilang, ada jejak, jalan dan jurang. sayangnya kini, aku dan kamu bersenjangan. dan aku lupa, siapa kita

Ma, aku kangen mama/ kangen rumah/ kangen patin asam padeh buatan mama/Ma, aku minta maaf sering ngerepotin mama/ gak ngerti cara ngebales kebaikan hati mama gimana/aku pengen jadi anak yang baik buat mama/ maaf aku sering buat mama marah/ bingung/ kesel/ sebel/aku janji ma/ akan jadi anak yang bisa bikin mama papa bangga/ gak lagi ngerepotin/ bisa berguna juga buat masyarakat/ terimakasih ya ma/ nanti kalo aku udah jadi orang aku ajak mama papa jalan-jalan ke luar negeri ya ma/ kita naik haji bareng ya ma/ amien/
buat mama,
ma, skripsiku udah beres kok ma, bu ilien udah kasi acc, tinggal nunggu ujian aja juni depan. mama jgn khawatir lagi ya ma, aku sekarang lagi ngerjain kerjaan dari dekanat fakultas, jadi masih harus di jogja sampe agustus ma. Makasi ya Ma, maaf selalu ngerepotin mama.
Anakmu,
Aditya
on May 12, 2008 by aditya sani

In opini, puisi on April 3, 2008 by aditya sani
Ada sebuah puisi yang indah dan mengharukan. puisi ini merupakan bagian dari scene akhir penutup film 9 Naga (garapan Rudi Soedjarwo). Puisi itu begini…
Istriku Ajeng,
Manusia terkuat yang pernah ku kenal….
Terima kasih atas rumah terindah yang telah ku tempati….
Terima kasih untuk memberi maaf… sebelum aku meminta…
Terima kasih untuk bersabar… sampai aku tahu…
kalau hal-hal terbaik dalam hidup…
Tidak memerlukan uang…
Seperti suara mu yang selalu setia… menuntun ku…
pulang ke hati mu…
rumah ku yang terindah…
Suami mu, . . .
Marwan*)
Dalam cinta kadang manusia dibutakan untuk melakukan apa saja untuk orang yang kita cintai, dalam film 9 Naga cinta secara tidak langsung digambarkan melalui tindakan-tindakan Marwan (tokoh utama) yang cenderung melakukan tindakan kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Ajeng (Istri) dan anaknya. Ajeng sendiri menunjukkan cintanya dengan memberikan perhatian pada Marwan, termasuk dengan membuatkan Marwan sebuah sweater, yang akhirnya dipakai Marwan dalam scene dimana puisi diatas dibacakan. Alur film yang menanjak dramatis bagi Marwan memaksa Marwan untuk sadar bahwa cinta tidak dihargai dengan uang, bahwa cinta dihargai dengan tindakan yang tulus (scene Marwan menemani anaknya bermain disebuah kamar, dan mengantarnya berimunisasi). Overall, puisi berupa narasi monolog Marwan dalam suratnya, bagi saya sangat indah. Bahwa hidup bukan melulu materi, bahwa cinta butuh wujud hidup/tindakan/keberadaan seseorang, bahwa hati adalah rumah terindah bagi hati yang lain.
*)puisi dikutip dari sher’s sheer thoughts .

In puisi on April 3, 2008 by aditya sani
it move day by day
chasing me, my day
no talking, nor listening
no words, nothings
only a hope that might be empty
there I live
from a smile I wing myself
float upon the room
silent picture bounded
picture of you that day
by day
absorb my missing pieces of puzzle
to you
the silences
2007

In puisi on April 3, 2008 by aditya sani
let me talk to you
just the two of us, without others
just the two of us, without reasons
this time barely we talk
this time barely,
oh god give fifteen minutes to wing it all
let smile float without burden
let smile sought without restriction
let ears listen without
let my mouth vomit
i’m falling to you
to yours
let me talk to you
this time barely
regardless the burdens
nor the reasons
~december 2006