Archive for the ‘travelling’ Category

Post

Enrique Penalosa: Transportasi di Jakarta Mirip Penyakit Kanker

In Kliping, indonesiana, jakarta, sepeda, sosial, travelling on November 12, 2009 by aditya sani

Sebagai Walikota Bogota periode 1998-2001, Enrique Penalosa sukses membawa perubahan pada layanan transportasi publik dengan memperkenalkan konsep jaringan bus jalur cepat (Bus Rapid Transportation/BRT).

Diresmikan pada 2002, sistem bernama Trans Millenio ini secara signifikan bisa menekan tingkat kemacetan lalu lintas sekaligus mampu menyediakan kebutuhan transportasi umum yang cepat di ibu kota Kolombia itu.

Trans Millenio yang diperkenalkan Penalosa itu kini mengilhami banyak pemerintah kota di manca negara, termasuk DKI Jakarta, yang pada 2004 lalu membangun layanan bus jalur cepat yang populer disebut dengan Busway.

Selama memerintah Bogota, Penalosa pun menerapkan sejumlah aturan yang radikal, diantaranya adalah menutup jalan-jalan protokol setiap hari Minggu selama beberapa jam bagi kendaraan bermotor pribadi. Tujuannya untuk memberi kesempatan bagi warga untuk berekreasi, berolahraga, dan bersepeda di jalan-jalan utama mengingat terbatasnya ruang terbuka untuk publik di Bogota.

Pensiun sebagai walikota, Penalosa kini bekerja sebagai konsultan di bidang visi pembangunan kota. Dia berkeliling ke manca negara untuk memperkenalkan konsep pembangunan kota yang manusiawi, yang memperhatikan warga dari semua lapisan.

Saat berkunjung ke Jakarta awal pekan ini, Penalosa diundang sebagai panelis dalam suatu diskusi yang membicarakan pembangunan transportasi kota.

Di sela-sela kegiatannya di Jakarta, mantan walikota kelahiran Washington DC itu menerima dua wartawan VIVAnews, Anda Nurlaila dan Pipiet Tri Noorastuti, untuk mengungkapkan kesan-kesannya mengenai pembangunan transportasi massal di Jakarta.

Berikut petikan wawancara Penalosa.

Mengapa transportasi publik penting bagi suatu kota?

Setiap warga negara berhak mendapat transportasi. Transportasi bagi semua warga negara adalah simbol demokrasi. Sebanyak 30.000 sepeda sama pentingnya dengan 30.000 mobil. Penting untuk menciptakan jalur untuk semua warga, pengguna sepeda, pejalan kaki dan pengguna mobil.

Bagaimana Anda melihat transportasi di Jakarta?

Di Jakarta orang merasa malu menggunakan sepeda karena dianggap hanya transportasi untuk orang miskin. Kalau ada jalur sepeda yang nyaman masyarakat punya pilihan akan transportasi. Sebanyak 35 persen pendapatan masyarakat habis untuk transportasi.

Transportasi publik seharusnya bisa berguna untuk kesejahteraan. Jalan harus memiliki ruang bagi para penggunanya, pejalan kaki, sepeda, bus dan mobil. Harus ada keinginan politik yang kuat dari pemerintah, bukan sekedar teknis.

Bagaimana menciptakannya?

Harus dari sistem. Orang harus dipaksa untuk melaksanakannya. Sekarang semua orang punya kendaraan dan mereka pergi ke ke tempat kerja, pusat perbelanjaan, pusat kota. Akhirnya padatnya kendaraan membuat keadaan tidak nyaman dan membuat kemacetan.

Di negara maju, orang berjalan dari rumah dan menuju kantor beberapa blok. Di negara maju tidak ada pusat belanja di tengah kota karena membuat kota menjadi tidak nyaman dan semua orang lebih enak menggunakan pejalan kaki. Tetapi di negara seperti Indonesia dan Kolombia dan negara-negara terbelakang, pusat kota menjadi tidak teratur dan perbelanjaan terletak di tengah-tengah.

Bagaimana pendapat Anda mengenai pembangunan transportasi publik di Jakarta, seperti busway (BRT) dan kereta bawah tanah (MRT)?

Pengembangan transportasi umum bisa dilakukan dengan banyak cara. Mengembangkan subway maupun busway sama-sama baik. Tetapi yang dipertimbangkan adalah investasi. DKI Jakarta merencanakan US$ 900 juta untuk membangun subway sepanjang 14 km. Sedangkan investasi untuk Busway US$ 5 juta, itu sudah termasuk konsultan, manajerial, kontrak, operator, base elekrotnik kartu dan legal konsultan. Dengan nilai yang sama, US$900 juta, maka bisa membangun 180 km jalur BRT.

Tapi BRT tampaknya tidak mengurangi kemacetan. Menurut Anda?

Kemacetan dan mobilitas adalah dua  hal yang berbeda dan punya solusi berbeda pula. Setiap tahun ada 100.000 mobil baru  di Jakarta, dan ada jalur baru yang dibangun. Tetapi tetap saja ada kemacetan. Sebab mobilitas orang  yang semakin sering dan jarak tempuh yang semakin jauh.

Kemacetan bukan saja disebabkan dari jumlah kendaraan, tapi juga jumlah perjalanan yang bertambah. Kemacetan tidak akan berkurang karena penambahan jalan.

Selain itu soal keamanan dan kenyamanan. Di MRT London, banyak wanita yang tidak merasa aman berada di subway. Di bus, lebih aman karena bisa mengawasi sekeliling. Kereta memang lebih cepat tapi jarak antara stasiun jauh dan harus menempuh jarak lebih jauh.

Sementara busway, memang lebih lambat tetapi dengan satu tiket orang bisa bepergian ke tempat yang jauh dan ada interseksi busway yang memungkinkan orang berpindah rute.

Setelah lima tahun layanan busway di Jakarta atau TransJakarta masih dianggap belum berhasil. Apa sebabnya?

Menyelenggarakan transportasi publik TransJakarta harus dilakukan dengan keinginan untuk bertahan. Jakarta adalah kota di Asia yang pertama menggunakan BRT. Tetapi sekarang kota Guangzhou, China, memiliki sistem BRT yang  bagus.

Saya pikir Jakarta mampu menjadi lebih baik. Solusinya TransJakarta harus dibenahi kembali.

Sudah mencoba TransJakarta? Bagaimana kesannya?

Saya mencoba Trans Jakarta dua kali. Saya lihat pintunya kurang lebar sehingga sulit bagi pengguna kursi roda, tidak mendukung bagi orang cacat.

Waktu menunggunya lebih lama. Di Bogota kami menggunakan bus yang lebih banyak mengangkut penumpang, sekali jalan bisa menggunakan tiga bus konvensional yang disambung. BRT juga terintergrasi dengan feeder bus kecil yang beroperasi di jalan ke stasiun tetapi tidak di disediakan jalur khusus.

Saran terhadap TransJakarta?

Harus lebih banyak perubahan detail. Saran saya, para ahli berkumpul untuk membahas mengenai kontrak, manajemen, operator untuk membenahi TransJakarta. Membenahi transportasi di Jakarta yang sarat dengan kemacetan memang  tidak menyenangkan.

Tapi harus ada yang melakukannya. Ini seperti mengobati penyakit kanker. Prioritas Gubernur adalah menempatkan manager TransJakarta tepat di depan kantornya agar selalu bisa diawasi.

Soal kemacetan Jakarta, apakah ada saran untuk mengatasinya?

Jalan yang sangat sempit dan hanya dilalui bus membuat lalu lintas bertambah macet. Di New York, ada 10 jalur jalan tapi tetap macet.

Pemerintah harus menjadikan bus sebagai prioritas dalam transportasi publik. Sekarang, pengemudi Jakarta menganggap dirinya paling penting daripada pengguna jalan yang lain.

Contoh kecilnya, pengguna sepeda motor tidak boleh menggunakan jalan tol. Mengapa? karena mereka tidak punya kekuatan ekonomi dan politik. Tidak ada kesetaraan disini, padahal hak warga negara dijamin Undang-Undang.

Setelah Bogota Trans Millenio di Bogota apakah pengguna mobil berkurang?

Tidak. Di Bogota juga Trans Millenio hanya 20 persen dan sisanya transportasi konvensional. Tapi 40 persen pengguna BRT di Bogota  adalah pemilik mobil.  Jalur  BRT 60 km mengangkut satu juta penumpang perhari.

Di kota-kota maju seperti London,  Paris mereka menggunakan publik karena harus. Selain tidak ada tempat parkir, menggunakan angkutan umm jauh lebih cepat. Waktu tempuh dengan mobil selama 1 jam, sementara kalau menggunakan transportasi umum hanya 15 menit. Walaupun punya mobil orang-orang tetap menggunakan transportasi massal. Untuk meningkatkan mobilitas, solusinya menambah transportasi publik.

Solusi kemacetan apa saja?

Kemacetan solusinya hanya mengurangi penggunaan mobil. Di  London, Paris, Hong Kong untuk  masuk pusat  dengan  mobil harus membayar pajak US$ 20. Pemerintah juga membatasi ruana parkir di gedung-gedung. Parkir itu bukan kewajiban negara dan itu masalah pribadi. Negara wajib menyediakan  pendidikan, kesehatan, transportasi termasuk jalur pejalan kaki.

Cara lain  dengan menaikkan pajak bahan bakar. Seperti  pada air`dan listrik, orang kaya membayar lebih mahal untuk subsidi penduduk miskin. Tapi di transportasi sama, tidak ada subsidi. Kalau ada subsidi hasilnya bisa digunakan untuk investasi transportasi massal yang lebih murah.

Apa bedanya MRT dan BRT?

Dari sisi investasi, MRT butuh lebih banyak daripada BRT. Investasi US$900 juta, hanya membangun MRT 14 km, dengan nilai sama bisa membangun 10 kali lebih banyak.

Biaya operasional MRT lebih mahal daripada BRT. Biaya operasional penumpang MRT US$1-3 per penumpang, BRT hanya 60-70 sen, bahkan kurang dari itu.

Apa kunci keberhasilan BRT di Bogota?

Keinginan kuat pemerintah untuk menjalankan. Tetap konsisten dan tetap bertahan. Di jakarta, secara legal pelaksanaannya lebih sulit karena ada tumpangtindih antara pemerintah pusat dan daerah mengenai pengelolaan jalan.

Padahal di UU, semua penumpang punya hak yang sama terhadap jalan. 60 persen warga Jakarta menggunakan sepeda motor bukan karena idiologi tetapi karena kebutuhan.

Apa kesulitan dalam BRT di Bogota?

BRT memang sangat sulit secara politik dan manajerial. Yang harus dilakukan adalah tetap melanjutkan dan bertahan. Kalau tidak Jakarta akan kemacetan akan memburuk dan akhirnya berhenti.

Selain itu, citra mempengaruhi transportasi. Di Manila, yang punya 3 kalur MRT kemacetannya lebih parah dari Jakarta.  Pada 1940-an kereta api adalah idola. 1970-an bus yang lebih diminati karena dianggap lebih baik.

Apakah BRT mengurangi kendaraan pribadi?

Tranportasi publik tidak mengurangi jumlah penggunaan mobil. Di Bogota 20 persen pengguna  BRT  punya mobil.  Kami punya kebijakan  mobil di  Bogota tidak boleh di jalankan tiap hari. Ada hari dimana mobil tidak boleh ke jalan beberapa hari dalam seminggu. Pengaturannya disesuaikan dengan nomor akhir di pelatnya.

Operasi manajemen bagaimana, apakah ditangani Pemerintah atau Swasta?
Pengelolaan BRT di Bogota sama  dengan Jakarta. Operator  dilaksanakan pihak swasta melalui kontrak dengan Pemerintah. Pembayarannya dihitung per kilometer. Semua bis milik swasta, infrastrukturnya milik pemerintah.

(Via • VIVAnews)

t

Assalamu ‘alaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu

Bang Fauzi,

Jakarta punya kita semua kan, Bang? Kota yang Abang pimpin mingkin keliatan gegap gempita. Bukan cuman gedung nyang nambah banyak dan numpuk di pusat, rumah-rumah bedeng juga numpuk noh di belakang proyek. Tumpek blek, Bang. Abang, kan nyang punya tangan buat ngatur yang namanye peraturan kan bang. Coba, Bang diatur lagi ini Kota. Itu peraturan soal emisi gas buang ditegakkin lagi dah, Bang. Ane ngeri Bang, Jakarta udah kaya pembantai bayi sekarang. Anak-anak tetangga ane pada megap-megap, Bang.

Kendaraan nambah terus ya Bang, padahal ruas jalan kagak bakal ditambah. Ntar Abang tambah jalan, pohon kena tebas. Ane yakin, ruas jalan Abang tambah juga jalanan kagak bakal kerasa lengang, Bang.

Nyatanye Jakarta sekarang isinye individualis, ane liat jelas di atas aspal hitam yang nomprokin Jakarta. Semuen orang buru-buru, semua orang mikirin diri sendiri aje. Nantinye, semuen orang kejebak di ujung botolnyang namanye macet total.

Bang, ude berapa taon ibukota begini? Lime taon? Sepuluh taon? Lime belas taon? Mingkin baek kagak? Boro-boro. Kejadiannye tambah ancur. Mobil mingkin banyak menuhin sisi-sisi jalan, motor juga mingkin yoi. Denger-denger, banyak OKB di ibukota. OKB yang kendaraannye nyicil, nyang gayanye nyetir juga nyicil: “yah..dikit-dikit bisa dah …”

Jakarta punye cerita. Kota ini dibandingin same Bogota nun di Kolombia. Bogota bise, Jakarta harusnye juga bise. Dulu, Bogota itu emang busuk. Kriminalitasnye nomor wahid, polusinye wahid, daerah kumuhnye ape lagi. Sampe ade “pitungnye Bogota” alias “Bang Mayor” sono nyang jadi teladan. Uswatun Hasanah (Suri tauladan nyang baek), Bang kalo kata Nabi Muhammad. Walopun Bang Mayor Bogota bukan muslim, Bang..hehe. Tapi, die teladan nyang ngegugah hati seisi kota sampe lunak, nyang bise ngajak perilaku warga buat berube, bukan tambah berabe. Die nyang punya due solusi besar: ngerube gaya hidup sama mbangun fasilitas infrastruktur nyang mencukupi.

Jakarta punya gaye. Kabarnye, ntu dua solusi besar bakal diadaptasi. Awalnye pembangunan fasilitas transportasi publik: kereta nyang pake listrik, bus nyang merah-oranye, same ape lagi ntu kapal di Ciliwung. Di Bogota, pan mereka ngebangun Trans-Bogota same Bicycle Lane di seluruh penjuru kota. Ntu due cara tadi ditambah teladan sama tegasnye Bang Mayor Bogota, masalah disono beres Bang..

Nah di Jakarta, pemerintahan Abang baru ngebangun Trans Jakarta aje kan, Bang..Jujur ni Bang, naek Bus ntu mahal, Bang..Dibandingin same nyicil same beli bengsin motor, jauh lebih mahal. Abang kagak percaya? Coba aje Abang itung ndiri. Nah, biar kagak mahal lagi Bang, solusi Bicycle Lane ntu Abang adaptasi juga dong. Banyak lagi Bang rakyat Jakarta nyang mau sepedaan. Yakin dah, Bang.. Pan mereka tau, sepedaan sehat. Ntu liat, anak buah Abang, nyang Walikota Jakarta Selatan, ntu biangnye Sepedaan die. Ane liat sepeda ontelnya aje ngiri..

Sekarang mah ye Bang, orang mau sepedaan kemane-mane dianggepnye gila. Lha kota Abang sama sekali kagak bisa dipake buat sepedaan (ntu juga paling hari minggu pas jalanan kosong plong). Ampir same Bang same nyang namanye bunuh diri, berarti kalo diliat dari sisi agamenye same aje dose. Biar dose kite nyang naik sepeda kagak nambah lagi, Abang buatin dong fasilitasnye, Bang. Kagak bakal lebih mahal Bang daripade biaya rugi nyang nimbul gara-gara Jakarta macet. Bener dah

Ni Bang, ane kasi list dah ape-ape aje nyang diperluin bakal Bicyle Lane:

1. Bicycle Lane..hehe (Cat kuning bakal ngecet lajur di trotoar, Konblok Segitiga nyang banyak).

2. Marka Jalan, kasih tande biar keliatan kalo ntu jalur buat sepeda, bukan jalur motor..

3. Tempat Penitipan / Parkiran Sepeda, yang dilengkapi dengan ruang locker dan kamar mandi. Ane denger, soal yang ini sudah ada Mall yang mau mulai. Di FX Jl. Jend. Sudirman sana kalo ane kagak salah, Bang. Harapan ane, Abang bisa ngasi anjuran untuk pengelola gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan untuk bikin ini. Insya Allah Bang, jumlah pesepeda di Jakarta bakal terus nambah.

4. Ayo Bang, Jalur hijau dengan pepohonan yang rindang dibangkitkan lagi. Jangan takut sama pemilik bangunan yang melanggar, apalagi yang SPBU itu, Bang.. hehehe.. Hajar aja, Bang. Tegas dikit dah..

Abang Foke yang ahli nan bijaksana. Kite sama-sama tau, Abang kan lulusan Arsitektur Perencanaan Kota dan Wilayah dari negeri Jerman sono, buktiin keahlian Abang. Rakyat Jakarta nunggu kebijaksanaan Abang. Bang, baca surat ane ya, Bang…

Wassalam,

Aditya Sani

Surat buat Bang Fauzi

Tagged: , on July 31, 2009 by aditya sani

9 Comments

t

Saya tengah mengingat sebuah dusun yang asri di pinggiran Bantul, DIY. Letaknya persis di pinggir stadion Sultan Agung, Bantul. Disana, kami, sekumpulan mahasiswa Gadjah Mada mengikuti program KKN. Masa dua bulan yang diberikan kampus, kami pakai untuk mendekatkan diri dengan sebagian besar warga dusun tempat kami tinggal. Tentu saja, membantu memberdayakan warga dusun tersebut.

Tidak seperti KKN pada umumnya, kami tinggal dalam sebuah rumah yang (hebatnya) bisa diisi lebih dari 30 orang. Karenanya, hubungan antar anggota kelompok menjadi semakin dekat. Begitu juga hubungan dengan pemilik rumah tempat kami tinggal. Rumah tersebut dihuni oleh 5 orang sebelum kami datang: Pak Zam, Ibu Zam, Fa’i, Dewi dan Si mbah. Kedatangan kami membuat rumah menjadi riuh nan ramai.

Dewi, si kecil, paling senang bermain dengan banyak “mas” barunya yang jago ngemong anak kecil. Sedang Fa’i, si sulung, paling senang mendapatkan teman main bola saban sore hari di sebuah halaman rumput luas persis di samping stadion Sultan Agung, Bantul. Ibu dan Bapak Zam tentu saja senang karena anak-anaknya mendapatkan banyak saudara baru. Lalu si Mbah? Ah dia punya kesenangan sendiri di dapur dan di belakang rumah: memasak dan mencuci, lagi dan lagi.

Dalam tiap KKN, mahasiswa diharuskan membuat program-program yang disesuaikan dengan jurusan yang diambil di kampus. Saya yang berasal dari jurusan HI, tentu saja bingung. Apa yang bisa diperbuat mahasiswa HI disini? Dengan beberapa teman yang juga berasal dari fakultas ilmu sosial dan politik akhirnya kami putuskan untuk membuat program belajar tambahan di sore hari, membangun perpustakaan, dan membuat layar tancap untuk muda-mudi disana. Kebetulan kala itu Deddy Mizwar sedang menanjak naik kembali dengan Naga Bonarnya.

Program belajar tambahan dilakukan melalui kerja sama dengan SD Muhammadiyah terdekat dan TPA di musholla dusun. Semuanya berjalan lancar setelah tugas dibagi-bagi oleh salah satu ketua kelompok kami. Perpustakaan pun lancar setelah kami mengumpulkan buku-buku dari teman kampus lainnya serta dukungan dana dari pelaksanaan bazaar baju bekas di dusun tersebut.

Nah, di program ketiga kami (layar tancap) ada yang lucu. Kami melakukan survey kecil-kecilan mengenai film yang disukai oleh muda-mudi setempat. Beberapa orang diutus ke karang taruna dan pengajian untuk bertanya. Apa hasilnya? Hampir 80% responden survey kecil-kecilan kami menjawab ingin menonton film Avatar. Ajaib bukan? Haha.. ternyata tidak tua, tidak muda, hampir semuanya menyukai film anak-anak tersebut. Saya pun kelabakan menanggapi hasil survey tersebut. Bagaimana mungkin memutar film seri dalam sebuah layar tancap? Memangnya sewa projector gratis apa?! Haha..

Setelah kami berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk membagi genre film yang akan diputar: film untuk anak-anak dan film untuk remaja dan dewasa. Warga dusun sempat kecewa karena film yang diharapkan tidak diputar. Namun kemudian terobati oleh film-film animasi untuk keluarga dan Nagabonar. Maka masalah kami pun selesai.

KKN kami ditutup dengan mengadakan perayaan tujuh belasan. Lomba-lomba yang  memalukan disiapkan. Dari mulai main bola bersarung hingga gigit koin dari pepaya ber-margarine. KKN ditutup dengan isak tangis anggota yang merasa akan sangat kehilangan suasana di dusun ini. Seisi keluarga pun menangis, karena rumah itu kembali sepi ditinggal tamunya.

Ada beberapa hal yang saya sangat rindukan dari sana. Lapangan berumput hijau yang luas dengan dua buah gawang bambu. Sebuah cangkruk (pos ronda) yang langsung menghadap sawah berangin semilir dengan desir suara bambu bergesekan. Keramahan khas yang mungkin tak dapat lagi  saya temukan dimanapun. Dan pengalaman-pengalaman lainnya yang betul-betul hanya bisa didapatkan disana.

Cerita dari Bantul

on July 7, 2009 by aditya sani

4 Comments

Post

Bersepeda Demi Lingkungan, Yuk!

In indonesiana, jakarta, sepeda, travelling on June 5, 2009 by aditya sani

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Komunitas B2W Indonesia mengundang seluruh pencinta sepeda untuk hadir pada acara “Bersepeda Demi Lingkungan” yang  rencananya akan dihadiri juga oleh Presiden RI Bp. Susilo Bambang Yudhoyono yang -bila memungkinkan- berkenan
datang dengan bersepeda.

Adapun acara ini akan diselenggarakan pada:

Titik Kumpul & Start: PARKIR TIMUR GELORA BUNG KARNO – SENAYAN
Hari & Tanggal: Minggu, 7 Juni 2009
Waktu : pk. 06.00 – selesai

Rute :

Kumpul di Parkir Timur Gelora Bung Karno, Senayan pk. 06.00, bersama Meneg KLH menuju Monas melalui Taman
Menteng dan Tugu Tani

Rundown sementara:

05.00 – 06.30 Persiapan karnaval & bersepeda (kumpul di Parkir Timur, Pembagian kaos peserta)
06.30 – 07.00 Aksi Karnaval & Start Bersepeda
07.30 Tiba & Rehat
07.30 – 07.35 Laporan Meneg KLH
07.35 – 07.45 Sambutan Presiden RI
07.45 – 08.00 Penanaman pohon, Membuat Biopori dan Tanda tangan Petisi Lingkungan secara simbolik oleh Presiden RI
08.00 – selesai Pembagian snacks, Opening MC, Kuis (pembagian door prize), hiburan.

Karena B2W Indonesia merupakan bagian dari panitia acara, maka dibutuhkan volunteer untuk fungsi-fungsi sbb:

1 Tim Pembagian Kaos peserta
2 Tim Marshal VIP
3 Tim Marshal Peserta

Dimohon kepada Koordinator Rombongan dari B2W Wilayah Jabodetabek untuk mempersiapkan masing-masing 20 orang volunteer untuk semua fungsi tersebut. Korwil juga dimohon bersiap untuk rapat koordinasi mulai Rabu malam (03/06) ini.

Demikian disampaikan undangan ini dan dimohon partisipasi semua rekan-rekan demi kelestarian lingkungan kita bersama.
__________________________
Humas & Publikasi
Komunitas B2W Indonesia

LET’S ACT BEYOND GREEN BY RIDING OUR BICYCLE TO WORK

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Kementerian Lingkungan
Hidup dan. Komunitas B2W Indonesia mengundang seluruh pencinta sepeda untuk
hadir pada acara “Bersepeda Demi Lingkungan” yang rencananya akan dihadiri juga
oleh Presiden RI Bp. Susilo Bambang Yudhoyono yang -bila memungkinkan- berkenan
datang dengan bersepeda.

Adapun acara ini akan diselenggarakan pada:

Hari & Tanggal: Minggu, 7 Juni 2009
Waktu. : pk. 06.00 – selesai
Tempat. : Bundaran HI dan Silang Monas Jakarta

Rute :

Kumpul di Bund. HI pk. 06.00, bersama Meneg KLH menuju Monas melalui Taman
Menteng dan Tugu Tani

Rundown sementara:

05.00 – 06.30 Persiapan karnaval & bersepeda (kumpul di Bundaran HI,
Pembagian kaos peserta)
06.30 – 07.00 Aksi Karnaval & Start Bersepeda
07.30 Tiba & Rehat
07.30 – 07.35 Laporan Meneg KLH
07.35 – 07.45 Sambutan Presiden RI
07.45 – 08.00 Penanaman pohon, Membuat Biopori dan Tanda tangan Petisi
Lingkungan secara simbolik oleh Presiden RI
08.00 – selesai Pembagian snacks, Opening MC, Kuis (pembagian door prize),
hiburan.

Karena B2W Indonesia merupakan bagian dari panitia acara, maka dibutuhkan
volunteer untuk fungsi-fungsi sbb:

1 Tim Pembagian Kaos peserta
2 Tim Marshal VIP
3 Tim Marshal Peserta

Dimohon kepada Koordinator Rombongan dari B2W Wilayah Jabodetabek untuk
mempersiapkan masing-masing 20 orang volunteer untuk semua fungsi tersebut.
Korwil juga dimohon bersiap untuk rapat koordinasi mulai Rabu malam (03/06) ini.

Demikian disampaikan undangan ini dan dimohon partisipasi semua rekan-rekan demi
kelestarian lingkungan kita bersama.
__________________________
Humas & Publikasi
Komunitas B2W Indonesia

Let’s act beyond green by riding our bicycle to work

Post

Politik Makpret

In indonesiana, jakarta, opini, politik, sosial on April 22, 2009 by aditya sani

Politik..eh Politisi (kata @ndorokakung politisinya yang gak mutu) sebulan ini menjadi komoditas..eh tontonan paling tak bermutu, benang kusut yang terjadi pada masa koalisi ternyata hanya setarik garis kepentingan, dan..umm..’persepsi’ (seperti kata Suryadharma Ali tempo hari-red).

Apa kepentingannya? Bangsa? Atau jatah kursi di Kabinet? Atau Departemen/Kementerian  yang paling basah?   Tergantung Partai banyak diisi teknokrat/industrialis/pedagang akan menentukan siapa dapat apa. Karenanya pula, Suryadharma lebih senang menari bersama PDI-P, jangan-jangan setelah posisi di Departemen Koperasi dan UKM, beliau dijanjikan posisi Meneg BUMN oleh PDIP? Jangan-jangan. Jangan-jangan pula, Bachtiar Chamsyah dijanjikan tetap di posisi Menteri Sosial atau malahan Menkokesra yang lebih basah oleh PD.

Untuk Partai, mungkin Departemen/Kementerian bisa menjadi sapi peras, demi pembiayaan konstituen di daerah, para pahlawan tanpa tanda jasa yang berdarah-darah mengumpulkan massa agar supaya Kampanye terlihat ramai.

Ah, soal konstituen, saya punya cerita..

Sewaktu pemilihan legislatif, saya terkaget-kaget dibuatnya oleh orang-orang di kampung saya. “Lo milih ape, cing?“, sapa teman saya di mushola kampung. “Eits, rahasia..“, ucap saya sembari tersenyum penuh misteri. Halah.. Teman-teman yang lain ikut bertanya, “Et dah, milih ape tadi??“. “PKS..“, ucap saya pelan. Serentak mereka berkomentar satu sama lain, “Dulu gw milih PKS..skrg mah males..bla..bla..bla…” “Iya, PKS kan..bid’ah sudahlah…“. Saya tertawa cekikian. Seorang teman kembali bertanya, “Cing, lo emang ikut-ikutan kumpul sama anak-anak PKS?”. “Enggak, ngapain emang?“, saya balik bertanya.”Mereka tiap kali pengajian kan ngelarang kita sodaqoh, tahlilan buat yang udah meninggal, bla..bla..bla…“, sergap teman saya beribu alasan.

Saya kembali tertawa, “Jadi berkurang yak jatah tahunan lo dari Sodaqoh…“, tanya saya sembari menyindir. Teman saya tadi tidak meneruskan pembicaraan. “Lo pilih Demokrat aja kalo gitu, biar dapet BLT lagi..siapa tau kan..ada lagi kalo menang…“, lagi-lagi saya menyindir. Dasar mulut sendiri nyinyir, pikir saya dalam hati.

——

Ada cerita lainnya..

Hari itu Kampanye Akbar PDI-P, tetangga saya yang caleg DPRD melalui Ketua RT ,yang juga fans beratnya ,memanggil pemuda-pemudi harapan bangsa, yang entah kenapa lebih memilih jaga kontrakan dan ngojek ketimbang sekolah, untuk menghadiri acara tersebut. Di Gelora Bung Karno, bisik Ketua RT kepada perwakilan pemuda. “Ada uang bengsin sama rangsum buat anak-anak ntar..“, Ketua RT kembali berbisik. “Berape bang?“, tanya pemuda harapan bangsa yang matanya kini hijau seperti usianya yang belia. “Ade lah gocap (Rp 50.000,-) mah..“, bisik Ketua RT lagi. “Mane duitnye?“, tanya pemuda yang tiba-tiba ileran. “Nih … “, Ketua RT menggenggam dua buah amplop coklat, tanpa logo, tanpa wajah. “Eit..ceban (Rp 10.000,-) dulu yak buat panjer (uang muka), bakal beli bensin dulu. Sisanya ntar gampang…“, tegas Ketua RT melihat pemuda hendak meraih amplop.  “Ya elaaah..medit lo kaya arab!“, cela si pemuda. “Ya udah, ntar gw panggil anak-anak biar berangkat, gw siapin knalpot dulu biar berisik…“, ucap si pemuda setengah bersemangat.

“Reng..teng..teng..teng..treeenng..treeeng…”, suara motor bertalu-talu (gendaaang kali bertalu-talu!). Tet teret teret…Pasukan Bonek majuu jalaan!!

Sepulangnya kampanye, dengan perut lapar lagi keroncongan, masih berbaju merah marah meriah, perwakilan pemuda mendatangi rumah caleg. “Salamlekuum..“, teriak pemuda sembari mengetuk pintu. Seorang pembantu tergopoh-gopoh, “Nyari siapa bang?“. “Bapak ada?“, tanya si pemuda tak tau basa-basi. “Ada keperluan apa Bang?“, tanya si pembantu. “Mau ambil duit rangsum..“, tegas si pemuda. “Ohh, tadi Bapak pesan, duitnya dititipkan ke Ketua RT katanya…

“Jreng jreng jreeeeengg….”, suara gitar spanyol mengiringi aksi ‘banteng-banteng muda’ yang marah mendengar jawaban si pembantu.

Tergopoh-gopoh dengan hati yang panas seperti matahari siang itu, pemuda-pemudi mencari Ketua RT dari pangkalan ojek sampai kantor kelurahan. Dan ditemukanlah sang Ketua RT sedang bermain catur bersama tukang ojek di pangkalan ojek merah. “Bang, mana janji lo?“, tanya pemuda setengah berteriak. “Apaan? Kagak ada, yang dateng kagak rame, lo gagal ngejalanin tugas!“, tegas Ketua RT, masih asik memegang pion catur.

“Jreng jreeng jreeeeenggg….”, suara gitar kedua kali ini dengan sebuah kain merah melambai-lambai, memancing banteng marah.

Lo liat ya bang! PDI P kagak bakal menang di kampung kite! Pegang omongan gw!“, si pemuda kali ini berteriak sembari meludah dan menunjuk muka Ketua RT. Ketua RT tak bergidik, ah bahkan berfikir pun sepertinya tidak.

Kemana ya duit sisanya? Hehehe..Jangan tanya saya, Bapak tadi pesan, duitnya sudah dititipkan ke Ketua RT!

Sore, dihari pemilihan legislatif, sang caleg DPRD, duduk termangu. Feeling-nya buruk, tak lagi murah senyum, wajahnya kusut. Ia tak terpilih menjadi anggota legislatif DPRD.

———-

Lucu ya kelakuan orang-orang, gak caleg, gak ketua RT, gak anak-anak muda, sama saja. Politik dan Koalisi seperti kata Ketua Umum PPP, memerlukan kesamaan persepsi. Persepsi yang sama: dimana ada uang, disana disayang.