Saya terbiasa mengisi waktu selama naik taksi dengan mengajak supirnya ngobrol ngalor ngidul. Bila kira-kira pak supir, orang padang, saya gunakan bahasa padang saya seadanya untuk memulai pembicaraan. Bila ternyata batak, maka saya gunakan logat batak saya semampunya. Begitu seterusnya entah jawa, sunda, ambon, atau manapun pembicaraan akan saya mulai dengan mencoba berbahasa asli mereka. Dengan cara ini, saya melakukan ‘breaking the ice’. Mencairkan jarak antara saya dengan si supir.
Namanya Wiyoto, ayah dari satu orang putra, dan suami dari seorang istri. Sehari-hari Wiyoto bekerja sebagai supir taksi Blue Bird dengan penghasilan yang pas-pasan untuk menghidupi kedua anggota keluarga kecilnya. Wiyoto dan saya baru saling kenal ketika saya menumpang mobilnya.
Wiyoto lahir dan besar di Purworejo, merantau ke Jakarta sekitar tahun 1998. Sebuah langkah nekad (baca: penuh tekad)yang diambil pada masa yang sulit. Kerja pertamanya di ibukota sebagai buruh pembuat engsel mobil, begitu ia bercerita. Hanya bertahan setahun, lalu pabriknya bankrut dihajar krisis moneter. Sempat Ia luntang-lantung bekerja serabutan. Wiyoto cukup pintar memanfaatkan situasi, sambil bekerja serabutan Ia juga belajar mengemudikan mobil dengan sesekali menarik Angkot. Maka, bertambahlah keahliannya dengan tehnik mengemudi.
“Namanya juga usaha, Mas. Kalo ndak gitu, saya ndak maju-maju, Mas.”, Wiyoto mengomentari ceritanya sendiri. Saya senang sekali mendengar semangatnya. Dengan keahlian menyupirnya, Ia mencoba menekuni pekerjaan baru, menjadi supir angkot dengan trayek BSD-Ciputat. Sayang, nasib baik belum menyambanginya kala itu. “Walah, sepi banget, Mas! Sampe stress saya nyupir trayek itu …”, keluhnya.
Rahasia nasib memang ditangan Tuhan. Saat menumpang angkot, Ia bertemu seorang kru film dari MD Entertainment yang sedang mencari supir. Bergegas diambil posisi itu. Tugasnya mensupiri mobil pengangkut alat-alat film. Dari sana Ia mulai bisa melihat dunia dengan kacamata yang lebih besar, dengan cara pandang yang lebih luas.
Keahliannya mengendarai mobil semakin baik. Ia pun mulai hafal sudut-sudut kota Jakarta. Dilepasnya kerja menjadi supir kru film. Hijrah ke dunia supir taksi. Tiga tahun sudah kini Wiyoto menjadi supir taksi.
Bukan Wiyoto namanya kalau tidak senang berusaha. Dalam hatinya, Ia selalu meminta kepada Allah SWT agar diberikan tambahan ilmu dan pengetahuan, lebih luas dan lebih luas lagi. Saya mengangguk kagum padanya. Cerita Wiyoto lalu bergulir pada keinginannya untuk belajar komputer. Ia pernah ditawari pekerjaan sebagai penjaga stok gudang di Hotel Mulia oleh seorang pelanggan taksinya, dengan syarat harus bisa menguasai Microsoft Office. Sayangnya, langkah Wiyoto kala itu terhambat oleh ketidakmampuannya.
“Saya cuma supir mas, entah gimana caranya saya belajar komputer. Sekarang dikit-dikit saya nabung, Mas. Mudah-mudahan nanti terbeli komputernya.”, saya terenyuh mendengar semangat dan do’anya. Lalu saya bertanya,berapa harga komputer second padanya. Temannya, ujar Wiyoto, menawari sebuah komputer dengan Intel Pentium 4 seharga 1,7 juta. “Insya Allah, istri bulan depan dapet arisan Mas, lumayan buat nambahin celengan dirumah.”, imbuhnya.
Mendengarnya, saya berfikir cepat. Pikiran saya melayang mengingat sebuah film berjudul “Pay It Forward”. Film yang bercerita tentang jejaring kebaikan dengan meminta orang yang dibantu untuk membantu orang lainnya lagi, terus begitu hingga semua orang terus berbuat baik satu sama lain.
Kepala saya lalu dipenuhi ide. “Gini aja, Kang. Kang Wiyoto catat nomor saya. Saya catat nomor Kang Wiyoto. Saya janji sama njenengan, saya akan ajari cara pakai Microsoft Office. Tapi ada syaratnya, Kang. Njenengan harus mengajarkan kembali ke orang lain, siapapun dia, apa yang saya ajarkan pada njenengan. Gimana Kang?”, ucap saya. “Nanti kita ketemu di daerah bintaro, saya bawa laptop saya. Kita belajar tiap ada waktu luang. Mudah-mudahan njenengan dapet rejeki supaya cepet bisa beli komputernya.”, imbuh saya lagi. Wiyoto terdiam.
“Siap, Mas. Insya Allah nanti saya pegang amanahnya, Mas.”, ucapnya sembari tersenyum dan menerawang.
“Rumah saya di kanan jalan ini, Kang. Berhenti disini saja. Jangan lupa sms saya nanti.”, saya menutup pembicaraan kami setelah bertukar nomor hp.
Sepulang ke rumah, mudah-mudahan Wiyoto dapat membagi semangatnya pada istri dan anaknya. Saya berharap, jejaring yang sedang kami coba rintis, dapat berkembang dan terus berkembang.
Amiien..







