Saya tengah mengingat sebuah dusun yang asri di pinggiran Bantul, DIY. Letaknya persis di pinggir stadion Sultan Agung, Bantul. Disana, kami, sekumpulan mahasiswa Gadjah Mada mengikuti program KKN. Masa dua bulan yang diberikan kampus, kami pakai untuk mendekatkan diri dengan sebagian besar warga dusun tempat kami tinggal. Tentu saja, membantu memberdayakan warga dusun tersebut.
Tidak seperti KKN pada umumnya, kami tinggal dalam sebuah rumah yang (hebatnya) bisa diisi lebih dari 30 orang. Karenanya, hubungan antar anggota kelompok menjadi semakin dekat. Begitu juga hubungan dengan pemilik rumah tempat kami tinggal. Rumah tersebut dihuni oleh 5 orang sebelum kami datang: Pak Zam, Ibu Zam, Fa’i, Dewi dan Si mbah. Kedatangan kami membuat rumah menjadi riuh nan ramai.
Dewi, si kecil, paling senang bermain dengan banyak “mas” barunya yang jago ngemong anak kecil. Sedang Fa’i, si sulung, paling senang mendapatkan teman main bola saban sore hari di sebuah halaman rumput luas persis di samping stadion Sultan Agung, Bantul. Ibu dan Bapak Zam tentu saja senang karena anak-anaknya mendapatkan banyak saudara baru. Lalu si Mbah? Ah dia punya kesenangan sendiri di dapur dan di belakang rumah: memasak dan mencuci, lagi dan lagi.
Dalam tiap KKN, mahasiswa diharuskan membuat program-program yang disesuaikan dengan jurusan yang diambil di kampus. Saya yang berasal dari jurusan HI, tentu saja bingung. Apa yang bisa diperbuat mahasiswa HI disini? Dengan beberapa teman yang juga berasal dari fakultas ilmu sosial dan politik akhirnya kami putuskan untuk membuat program belajar tambahan di sore hari, membangun perpustakaan, dan membuat layar tancap untuk muda-mudi disana. Kebetulan kala itu Deddy Mizwar sedang menanjak naik kembali dengan Naga Bonarnya.
Program belajar tambahan dilakukan melalui kerja sama dengan SD Muhammadiyah terdekat dan TPA di musholla dusun. Semuanya berjalan lancar setelah tugas dibagi-bagi oleh salah satu ketua kelompok kami. Perpustakaan pun lancar setelah kami mengumpulkan buku-buku dari teman kampus lainnya serta dukungan dana dari pelaksanaan bazaar baju bekas di dusun tersebut.
Nah, di program ketiga kami (layar tancap) ada yang lucu. Kami melakukan survey kecil-kecilan mengenai film yang disukai oleh muda-mudi setempat. Beberapa orang diutus ke karang taruna dan pengajian untuk bertanya. Apa hasilnya? Hampir 80% responden survey kecil-kecilan kami menjawab ingin menonton film Avatar. Ajaib bukan? Haha.. ternyata tidak tua, tidak muda, hampir semuanya menyukai film anak-anak tersebut. Saya pun kelabakan menanggapi hasil survey tersebut. Bagaimana mungkin memutar film seri dalam sebuah layar tancap? Memangnya sewa projector gratis apa?! Haha..
Setelah kami berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk membagi genre film yang akan diputar: film untuk anak-anak dan film untuk remaja dan dewasa. Warga dusun sempat kecewa karena film yang diharapkan tidak diputar. Namun kemudian terobati oleh film-film animasi untuk keluarga dan Nagabonar. Maka masalah kami pun selesai.
KKN kami ditutup dengan mengadakan perayaan tujuh belasan. Lomba-lomba yang memalukan disiapkan. Dari mulai main bola bersarung hingga gigit koin dari pepaya ber-margarine. KKN ditutup dengan isak tangis anggota yang merasa akan sangat kehilangan suasana di dusun ini. Seisi keluarga pun menangis, karena rumah itu kembali sepi ditinggal tamunya.
Ada beberapa hal yang saya sangat rindukan dari sana. Lapangan berumput hijau yang luas dengan dua buah gawang bambu. Sebuah cangkruk (pos ronda) yang langsung menghadap sawah berangin semilir dengan desir suara bambu bergesekan. Keramahan khas yang mungkin tak dapat lagi saya temukan dimanapun. Dan pengalaman-pengalaman lainnya yang betul-betul hanya bisa didapatkan disana.





