Archive for the ‘travelling’ Category

Post

20900 sepeda ramaikan sudirman-thamrin

In Kliping, indonesiana, jakarta, sepeda, travelling on March 30, 2009 by aditya sani

20900-sepedaJujur, saya tercengang membaca angka dalam artikel di pojok atas Kompas halaman 26 hari ini (30/03/09). Karena saya sendiri bersepeda hari minggu kemarin dari rumah (Ulujami) ke Sudirman-Thamrin, dan tidak melihat sepeda sebanyak yang disebutkan artikel.

Adakah yang bisa memberikan kebenaran berita di atas? Kawan-kawan B2W?

UPDATE:

Sore ini Ozy Sjarindra, salah satu punggawa dan humas b2w-indonesia, mengklarifikasi berita tersebut. Berikut klarifikasi beliau, melalui notes saya di facebook:

ozy-klarifikasi

It’s all clear now. Bahagia untuk Bumi! :D

Post

iri hati pada jogjakarta

In Kliping, indonesiana, inspirasi, jogjakarta, sepeda, sosial, travelling on March 2, 2009 by aditya sani

Pagi tadi saya membaca sebuah liputan Media Indonesia yang bercerita tentang peringatan Serangan Umum 1 Maret di Kota Jogjakarta, sebuah kota yang akan selalu mendapat tempat di hati saya. Apa yang menarik dalam berita tersebut? Pemerintah Kota Jogjakarta memperingati Serangan Umum 1 Maret dengan mengumpulkan lebih kurang 3000 (tiga ribu) pesepeda, tua-muda, dari pelajar hingga veteran perang, pengguna low-rider bicycle sampai onthelis. Ya, Jogjakarta telah mendeklarasikan dirinya dengan tagline “Jogjakarta kota Sepeda“. Hebat sekali, sangat modern, sangat metropolitan!

Program apa yang diusung Herry Zudianto, sang walikota? Namanya Sego Segawe (Sepeda kanggo Sekolah lan nyambut Gawe), atau bila diterjemahkan kurang lebih sebagai berikut: Sepeda untuk pergi ke Sekolah dan Bekerja. Herry berkata, “Mulai sekarang, kita harus membiasakan diri dengan bersepeda. Tindakan yang sederhana tapi visioner dan modern untuk lingkungan kita ke depan.” Ia juga menambahkan bahwa sepeda tidak identik dengan kemiskinan, dan menyalahkan warga Jogja yang beranggapan sepeda motor dan mobil lebih bergengsi ketimbang sepeda onthel.

sego-segawe

“Sepeda bukan berarti wong cilik atau alat transportasi jadul (jaman dulu). Justru sepeda adalah alat transportasi yang gaul. Kepada pemuda-pemudi, saya berpesan, kalau mencari pacar, carilah mereka yang gemar bersepeda.”, seloroh sang Walikota, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pengguna setia motor Harley Davidson ini.

Apa yang hebat dari Kota Jogjakarta dan Sepeda? Kota Jogjakarta memiliki 200 klub pesepeda; dalam waktu dekat Pemkot bersama Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Provinsi DIY akan membuat 34 jalur sepeda, dan mengintegrasikan program kerja lima tahunan-nya dengan program Sego Segawe. Hal tersebut juga akan didukung dengan pemasangan rambu-rambu bagi pesepeda, pembuatan jalur alternative sepeda dan melakukan gerakan penghijauan.

Ah, Hebat bukan buatan Kota Jogjakarta! Duhai kawan-kawan CahAndong, ayo dukung program Pak Herry! Ingin pulang dan bersepeda kembali di Jogja rasanya …

t

Saya terbiasa mengisi waktu selama naik taksi dengan mengajak supirnya ngobrol ngalor ngidul. Bila kira-kira pak supir, orang padang, saya gunakan bahasa padang saya seadanya untuk memulai pembicaraan. Bila ternyata batak, maka saya gunakan logat batak saya semampunya. Begitu seterusnya entah jawa, sunda, ambon, atau manapun pembicaraan akan saya mulai dengan mencoba berbahasa asli mereka. Dengan cara ini, saya melakukan ‘breaking the ice’. Mencairkan jarak antara saya dengan si supir.

Namanya Wiyoto, ayah dari satu orang putra, dan suami dari seorang istri. Sehari-hari Wiyoto bekerja sebagai supir taksi Blue Bird dengan penghasilan yang pas-pasan untuk menghidupi kedua anggota keluarga kecilnya. Wiyoto dan saya baru saling kenal ketika saya menumpang mobilnya.

Wiyoto lahir dan besar di Purworejo, merantau ke Jakarta sekitar tahun 1998. Sebuah langkah nekad (baca: penuh tekad)yang diambil pada masa yang sulit. Kerja pertamanya di ibukota sebagai buruh pembuat engsel mobil, begitu ia bercerita. Hanya bertahan setahun, lalu pabriknya bankrut dihajar krisis moneter. Sempat Ia luntang-lantung bekerja serabutan. Wiyoto cukup pintar memanfaatkan situasi, sambil bekerja serabutan Ia juga belajar mengemudikan mobil dengan sesekali menarik Angkot. Maka, bertambahlah keahliannya dengan tehnik mengemudi.

“Namanya juga usaha, Mas. Kalo ndak gitu, saya ndak maju-maju, Mas.”, Wiyoto mengomentari ceritanya sendiri. Saya senang sekali mendengar semangatnya. Dengan keahlian menyupirnya, Ia mencoba menekuni pekerjaan baru, menjadi supir angkot dengan trayek BSD-Ciputat. Sayang, nasib baik belum menyambanginya kala itu. “Walah, sepi banget, Mas! Sampe stress saya nyupir trayek itu …”, keluhnya.

Rahasia nasib memang ditangan Tuhan. Saat menumpang angkot, Ia bertemu seorang kru film dari MD Entertainment yang sedang mencari supir. Bergegas diambil posisi itu. Tugasnya mensupiri mobil pengangkut alat-alat film. Dari sana Ia mulai bisa melihat dunia dengan kacamata yang lebih besar, dengan cara pandang yang lebih luas.

Keahliannya mengendarai mobil semakin baik. Ia pun mulai hafal sudut-sudut kota Jakarta. Dilepasnya kerja menjadi supir kru film. Hijrah ke dunia supir taksi. Tiga tahun sudah kini Wiyoto menjadi supir taksi.

Bukan Wiyoto namanya kalau tidak senang berusaha. Dalam hatinya, Ia selalu meminta kepada Allah SWT agar diberikan tambahan ilmu dan pengetahuan, lebih luas dan lebih luas lagi. Saya mengangguk  kagum padanya. Cerita Wiyoto lalu bergulir pada keinginannya untuk belajar komputer. Ia pernah ditawari pekerjaan sebagai penjaga stok gudang di Hotel Mulia oleh seorang pelanggan taksinya, dengan syarat harus bisa menguasai Microsoft Office. Sayangnya, langkah Wiyoto kala itu terhambat oleh ketidakmampuannya.

“Saya cuma supir mas, entah gimana caranya saya belajar komputer. Sekarang dikit-dikit saya nabung, Mas. Mudah-mudahan nanti terbeli komputernya.”, saya terenyuh mendengar semangat dan do’anya. Lalu saya bertanya,berapa harga komputer second padanya. Temannya, ujar Wiyoto, menawari sebuah komputer dengan Intel Pentium 4 seharga 1,7 juta. “Insya Allah, istri bulan depan dapet arisan Mas, lumayan buat nambahin celengan dirumah.”, imbuhnya.

Mendengarnya, saya berfikir cepat. Pikiran saya melayang mengingat sebuah film berjudul “Pay It Forward”. Film yang bercerita tentang jejaring kebaikan dengan meminta orang yang dibantu untuk membantu orang lainnya lagi, terus begitu hingga semua orang terus berbuat baik satu sama lain.

Kepala saya lalu dipenuhi ide. “Gini aja, Kang. Kang Wiyoto catat nomor saya. Saya catat nomor Kang Wiyoto. Saya janji sama njenengan, saya akan ajari cara pakai Microsoft Office. Tapi ada syaratnya, Kang. Njenengan harus mengajarkan kembali ke orang lain, siapapun dia, apa yang saya ajarkan pada njenengan. Gimana Kang?”, ucap saya. “Nanti kita ketemu di daerah bintaro, saya bawa laptop saya. Kita belajar tiap ada waktu luang. Mudah-mudahan njenengan dapet rejeki supaya cepet bisa beli komputernya.”, imbuh saya lagi. Wiyoto terdiam.

“Siap, Mas. Insya Allah nanti saya pegang amanahnya, Mas.”, ucapnya sembari tersenyum dan menerawang.

“Rumah saya di kanan jalan ini, Kang. Berhenti disini saja. Jangan lupa sms saya nanti.”, saya menutup pembicaraan kami setelah bertukar nomor hp.

Sepulang ke rumah, mudah-mudahan Wiyoto dapat membagi semangatnya pada istri dan anaknya. Saya berharap, jejaring yang sedang kami coba rintis, dapat berkembang dan terus berkembang.

Amiien..

semangat Wiyoto

on January 20, 2009 by aditya sani

30 Comments

Post

Jakarta Urban Park Connector

In indonesiana, jakarta, opini, sepeda on January 2, 2009 by aditya sani

Desember lalu, kota Jakarta kabarnya akan segera memiliki Urban Park Connector (UPC) atau Jalur Penghubung Taman Kota. Bagi para cyclist, berita ini tentu saja seperti angin segar ditengah gersangnya jalanan ibukota. Bagaimana tidak? Sudah hampir dua tahun terakhir komunitas bike to work (B2W) Indonesia memperjuangkan keberadaan lajur sepeda di tengah kota Jakarta.

urban-park-connector
UPC yang digagas Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) dan B2W ini kabarnya akan menghubungkan Taman Suropati – Situ Lembang – Taman Menteng, koridor lajur Blok M-Kota, Taman terintegrasi di wilayah Kota Baru, dan lajur aktifitas di seputaran Blok M – Pasar Mayestik – Pasar Santa – Taman Ayodhya – Taman Barito – Taman Puring. Lajur yang dimaksud akan mengambil sebagian badan trotoar yang ada. Sehingga tercipta integrasi antara lajur pejalan kaki dengan sepeda. Kabarnya, bila memang tidak ada aral melintang dan hambatan menghadang, bulan Desember ini para pesepeda sudah bisa menikmati fasilitas yang dimaksud walaupun masih dalam taraf uji coba.

Apakah UPC yang dimaksud sudah dikerjakan? Sepenglihatan saya pada saat Car Free Day (28/12/2008) di jalan protokol Sudirman-MH Thamrin-Monas belum ada tanda-tanda proyek ini sedang dikerjakan. Nah lho?

Bang Foke, Sang Ahli, suatu kali pernah ngeles dengan mengatakan bahwa dia akan menyediakan infrastruktur publik bagi para pesepeda HANYA JIKA jumlah mereka sudah mencapai 1.000.000 di kota Jakarta. Jika, sudah sejumlah itu baru akan dipikirkan. Angka yang disebut Foke tentu saja target yang cukup berat bagi B2W Indonesia. Sampai saat ini, B2W mengumpulkan 5.000-an pesepeda di Ibukota dan 5.000-an pesepeda di kota-kota lainnya.

Tidak hanya lajur sepeda
Seharusnya untuk memancing perubahan kebiasaan menggunakan kendaraan bermotor dan mengalihkannya ke sepeda, pemerintah dan para pengusaha perlu membangunan infrastruktur dan menerapkan kebijakan-kebijakan yang mendukung. Misalnya, dengan menaikkan pajak untuk kendaraan bermotor yang usianya sudah lebih dari 5 tahun. Masyarakat akan mulai berfikir untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi, dan beralih ke transportasi umum atau sepeda.

Pemerintah juga seharusnya menekan para produsen kendaraan bermotor dan perusahaan pendanaan kredit untuk memperbaiki skema kredit. Mosok dengan uang 500ribu sudah bisa bawa pulang motor atau dengan uang 15an juta sudah bisa bawa pulang mobil. Padahal cicilan-cicilan itu belum tentu terbayar. Lebih baik disediakan kredit untuk pembelian sepeda.

Untuk para pengusaha bisa dengan memotivasi pekerjanya untuk memulai bersepeda. Beberapa perusahaan besar sudah melakukan ini, diantaranya: Bank Mandiri dan Unilever.

Pemerintah salah kaprah bila mereka menunggu hingga jumlah pesepeda mencapai satu juta, lantas masyarakat difasilitasi dengan infrastruktur. Yang seharusnya dilakukan adalah memfasilitasi dulu dengan infrastruktur yang memadai, baru akan memotivasi masyarakat menjadi pesepeda.

Post

mimpi bogota

In indonesiana, internasional, jakarta, politik, sepeda, sosial on December 10, 2008 by aditya sani

“Kami membangun sebuah kota bukan untuk bisnis dan kendaraan, melainkan bagi anak-anak dan juga masyarakat, … Daripada harus membangun jalan layang, kami melarang penggunaan kendaraan bermotor. … Kami berinvestasi pada lajur-lajur pejalan kaki yang berkualitas, taman-taman kota, lajur sepeda, dan perpustakaan; kami juga memusnahkan berbagai reklame yang memenuhi kota dan menanam pohon kembali. … Semua yang kami lakukan setiap hari di Bogota punya satu tujuan: Kebahagiaan.”

Kalimat diatas merupakan bagian dari pidato Enrique Penalosa dalam kunjungan ke Jakarta delapan tahun yang lalu, saat-saat awal pemprov DKI berencana membangun busway. Penalosa sendiri merupakan Mayor yang memimpin kota Bogota pada periode 1998-2001. Ia berhasil menciptakan sistem bus yang baru dan mendesain jaringan lajur sepeda di kotanya.

Penalosa tidak bekerja sendiri. Sebelum kepemimpinannya, hadir Antanus Mockus, seorang professor matematika, telah lebih dulu memimpin Bogota. Keduanya bekerja sama melakukan transformasi kota berisi lebih kurang delapan juta orang itu menjadi sebuah model pembangunan urban yang progresif.

Mentransformasi kota Bogota adalah tugas dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Bagaimana tidak, Bogota lama dikenal sebagai kota penculikan dan pembunuhan, yang selama 38 tahun terjebak dalam sebuah perang sipil, dipenuhi dengan para pemadat, dan koruptor politik. Belum cukup dengan gelar tadi, Bogota juga dikenal dengan tingkat kemacetan dan polusi udaranya yang tinggi. Bogota boleh jadi sempurna sebagai neraka dunia.

Kolombia, kurang lebih sama dengan Indonesia. Tingkat pengangguran yang tinggi, kesenjangan ekonomi yang lebar, penurunan nilai ekspor, dan tidak stabil secara politik. Lingkungannya pun begitu, sama menyedihkan, deforestasi yang tinggi, penggunaan pestisida yang berlebihan, polusi udara yang tinggi. Sebagai tambahan, Bogota memiliki lingkungan masyarakat yang sangat latin, hidup a la Bronx. Maka daerah kumuh pun berkembang seperti cendawan di musim hujan, dengan tingkat pemenuhan kebutuhan yang sangat rendah. Pertumbuhan yang tidak terencana kemudian juga menyebabkan riuhnya sistem pembuangan limbah, saling tumpang tindih, kemudian disempurnakan oleh minimnya air bersih. Nah, Kolombia boleh jadi salah satu negara yang sempurna sebagai neraka dunia.

Transformasi

mimpi-bogota-resize

Pada masa awal kepemimpinan Penalosa, ia meluncurkan sebuah program yang obsesif (kabarnya seperti perang salib) untuk mereformasi sistem transformasi kota. Dicanangkannya perang terhadap kendaraan bermotor, pelarangan penggunaan kendaraan selama jam-jam sibuk untuk mengurangi kemacetan hingga 40 persen. Ia juga meyakinkan dewan kota untuk menaikkan pajak atas bahan bakar. Sebagian dari pendapatan yang diperoleh pajak kemudian digunakan untuk membiayai sistem bus yang melayani lebih kurang 500.000 warga Bogota per hari.

“Setiap hari minggu, kami menutup 120 kilometer jalan-jalan utama dari segala kendaraan bermotor. … Satu setengah juta orang dari segala usia dan kondisi keluar untuk mengendarai sepeda, jogging, bersilaturahmi, dan menghargai kotanya. Selama Natal, kami menutup jalan yang sama sehari penuh dan hamper tiga juta orang keluar dari rumah masing-masing untuk sekedar melihat lampu-lampu Natal gemerlapan, serta untuk bersama yang lainnya dalam sebuah komunitas.”, imbuh Penalosa.

Penalosa berperang, Mockus menjadi ‘super-hero’.. Mockus memulai masa-masa awal kepemimpinannya dengan tindakan yang terlihat konyol, namun heroik. Dengan tujuan utama, mendidik warga kota agar lebih beradab. Ditengah kota, ia berjalan-jalan menggunakan pakaian berwarna merah dan biru, dan menamakan dirinya ‘super citizen’. Tugas seorang ‘super citizen’ adalah memberikan saran tentang bermasyarakat dan berperadaban. Mockus bahkan menghadirkan dirinya dalam iklan layanan masyarakat dengan memperagakan bagaimana mandi yang baik demi konservasi air. Kampanye terakhirnya yang berfokus pada isu-isu mengenai transportasi kota, telah memaksa penduduk kota untuk mempersenjatai diri sendiri dengan cinta, dan mengurangi maraknya jumlah polisi yang korup. Mockus mungkin kadang menggunakan cara yang aneh, pun pada akhirnya rencananya berhasil.

Sepuluh tahun yang lalu, Penalosa pernah mendeskripsikan Bogota sebagai a city hated by its inhabitants, who felt powerless and felt that in the future things would only get worse (sebuah kota yang di benci oleh penduduknya, yang merasa tidak punya kekuatan dan merasa masa depan hanya akan menjadi lebih buruk). Dan setelah transformasi besar berlangsung Penalosa kembali berujar bahwa masyarakat Bogota punya rasa memiliki atas kotanya. Mereka merasa mampu mengontrol takdir mereka sendiri.

***

Ada 5 hal besar yang dilakukan pemerintah kota Bogota pada periode 1995-1998 dan 1998-2001, yakni :
1. Memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk kesadaran atas peradaban sipil yang baik;
2. Mengurangi kebiasaan penggunaan kendaraan pribadi, lalu melarang penggunaannya;
3. Menciptakan sistem transportasi massal kota (bus dan lajur sepeda) dengan matang dan serius;
4. Membangun kembali taman-taman kota, dan perpustakaan-perpustakaan di sudut-sudut kota;
5. Menjaga kesinambungan project-project yang ada.

Kelima hal tersebut diatas tidak berjalan begitu saja, keberhasilan Bogota (selain karena keseriusan pemerintahnya) juga didukung penuh oleh kemauan warga masyarakatnya untuk berubah menjadi lebih beradab. Ada yang serupa bila kita melihat kondisi Kolombia dan Bogota (belasan tahun yang lalu) dengan Indonesia dan Jakarta saat ini. Maka kalau saya boleh menyimpulkan, belum terlambat bagi pemerintah kita untuk melakukan kerja besar, seperti yang pernah dilakukan Penalosa dan Mockus di Bogota.

Semoga.