t

There’s a lot of things I understand. And there’s a lot of things that. I don’t want to know.
But you’re the only face I recognize. It’s so damn sweet of you, to look me in the eyes.

It’s alright, I’m O.K., I think God can explain.
I believe I’m the same, I get carried away.
I’m relieved I’m relaxed, I’ll get over it yet.

The sent of vasoline, in the summertime. The feel of an ice cube, melting overtime.
The world seems bigger than both of us. Yet it seems so small, when I begin to cry.

I’m so much better than you guessed, I’m so much bigger than you guessed,
I’m so much brighter than you guessed.

I think God can explain.

~splender

I think God can explain

on October 27, 2009 by aditya sani

Leave a Comment

t

(soundtrack: lemar, what about love)

rindu, mungkin aku mulai terdengar ragu ketika mencoba menyamakan apa maumu, apa mauku. ya, aku takut. kamu pasti tau betul aku suka padamu.

define suka, mungkin begitu kamu bertanya. suka itu: ketika hanya dengan melihatmu pun aku bisa tersenyum. suka itu: ketika aku dengan senang hati menemanimu berjalan menuju depan kampus untuk mencari taksi. suka itu: ketika aku dengan langkah seribu turun ke lantai dasar dan berkeliling ke warung dan toko untuk mencari minyak telon yang kamu mau.

itu suka menurutku, menurutmu?

***

rindu, pernah kamu merasa kesepian?

ketika seolah ruang kamar tempat kamu memang terbiasa sendiri, terasa begitu luas dan lapang. tapi ketika itu juga kamu merasa ada yang kosong. seisi ruang itu terasa kosong, bahkan terasa tanpa daya gravitasi. lalu kamu merasa mengambang, terhuyung ke kanan dan kekiri. dan oh, yang menemanimu hanya bayanganmu yang dibentuk oleh satu-satunya lampu yang tergantung diatas kepala. itu pun terlihat kerdil.

aku kadang merasakannya, rindu.

***

aku masih duduk di pinggir balkon setinggi 50meter. menatap langit menjelang senja, merona merah. malu-malu.

rindu duduk disampingku, berjarak. bukan aku tak mau berimpitan, tapi jarak harus selalu ada. sesempit apapun ruang dan waktu, selalu ada yang pribadi bagi kami berdua. saat-saat dimana aku memikirkan aku, dan rindu memikirkan rindu. tapi, aku selalu memikirkan rindu, tidak memikirkan aku.

***

kamu tau apa yang dapat menghilangkan kesepianku?

kamu, rindu.

***

kepingan fragmen #3

on October 26, 2009 by aditya sani

7 Comments

t

If I could bottled the smell of the wet land after the rain. I’d make it a perfume and send it to your house. If one in a million stars suddenly will hit satellite. I’ll pick some pieces; they’ll be on your way.

In a far land across. You’re standing at the sea. Then the wind blows the scent. And that little star will there to guide me.

If only I could find my way to the ocean. I’m already there with you. If somewhere down the line. We will never get to meet. I’ll always wait for you after the rain.

~Adhitia Sofyan



after the rain

on October 25, 2009 by aditya sani

Leave a Comment

t

(soundtrack: yiruma, kiss the rain)

jarum jam tangan menunjuk ke angka sembilan, di lorong gedung tempat kami biasa berjalan. dedaunan kering terserak seolah musim gugur. rindu tidak lagi datang mulai malam ini.

bangku kelas yang biasanya kubiarkan kosong untuk didudukinya. kali ini benar-benar kosong. jadilah aku pura-pura sibuk membaca buku, padahal pikiranku pada rindu.

aku tidak mengerti pada apa yang dialaminya. low self-esteem? anxiety attack? manic depression?

lantas tidak lagi datang solusinya.

***

rindu. rindu. rindu. gadis jawa bali yang periang. kehadirannya selalu mengundang tawa. candanya selalu mengundang decak. kadang mengejutkan mendengar bagaimana rindu mencecar orang lain pun dengan canda.

hingga datang suatu masa, dia yang pergi, kembali. pulang mencarinya. pria yang ditunggu rindu, kembali.

departure

lalu, tawa candanya hilang. seolah pria itu memakannya habis. tapi, dia yang ditunggu rindu. bukan aku.

***

kelas kami begitu tenang. kecuali kami yang duduk di sudut, saling berbisik dengan kertas. ya, berbisik, suara gesekan karbon pada pensil bertemu kertas seadanya.

aku mengajaknya makan malam itu. aku butuh ruang. dimana orang lain tidak lagi mengenal kami. soal ruang dan waktu.

ruang yang tak pernah cukup, waktu yang selalu sempit. itu yang membuat setiap detik bersama rindu menjadi begitu berharga.

kepingan fragmen #2

on October 15, 2009 by aditya sani

4 Comments

t

(soundtrack: noriyuki asakura, departure, ost.rurouni kenshin)

malam itu, hujan terasa hangat. lingkar mata yang sembab. beriring dengan aroma hujan yang lembab. aneh memang suasananya terasa begitu hangat. ada rasa percaya, lalu lahir cerita. hanya masa lalu, katanya.

di langit-langit kota, gedung-gedung itu terasa begitu asing. yang ramai dibawah sana, terasa senyap. kulit kota yang bergeliat merayap, tak nampak di ujung mata. lagi, sembap.

***

namanya rindu. ia akan datang esok pagi, gadis jawa-bali yang pernah duduk bersama, beberapa tahun lalu. datang setelah hilang asa.

berpuluh kartu pos, dengan gambar belakang sebuah negeri di timur tengah. tak pernah terbalas. ada keinginan, namun entah apa yang harus dikatakan. semua tak pernah cukup untuk berakhir dalam satu baris kalimat, paragraf, bahkan lembaran kertas.

tak ada kata cukup, tak ada kata henti. ia selalu datang di saat riak hati tenang. sayangnya, hati ini tak pernah cukup untuk memenuhi puluhan kartu pos. berisi rindu itu sendiri.

***

wajah di dalam kaca taksi biru itu sayu. pilu. cahayanya yang terpancar beberapa tahun lalu lenyap.

***

kartu pos terakhir dari jakarta:

define what love is again, dear..is it only about trust? is it about understanding? or is it about the experience you’ve been through with him?

if your love, was all about experiencing. then, you don’t have to talk to me, there’s no need to go back to jakarta. you don’t need me. the only experience that i have with you, was on the phone. always on it. yes, we shared the same laugh and cry. but, it’s on the phone.

you never want to see me inside my eyes. my eyes, dear. you know, eyes never lied.

it’s me who likes you. it’s him that you chose, a few years ago.

let me ask you, once again, can you define what love is.


kepingan fragmen

on October 12, 2009 by aditya sani

2 Comments