Pemanasan Global dan Kita


Isu pemanasan global beberapa bulan terakhir sedang hangat dibicarakan berbagaii kalangan, baik lokal maupun internasional. Di negara kita sendiri, di Bali tepatnya sejak medio november yang lalu telah dimulai persiapan konferensi internasional yang dibawahi anak organisasi PBB yaitu, UNFCCC (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perubahan Iklim). Tulisan saya ini tidak akan membahas konferensi itu, tetapi lebih kepada masalah perubahan iklim yang sedang terjadi saat ini, dan apa kiranya yang dapat kita lakukan sebagai masyarakat awam yang berhadapan langsung dengan perubahan iklim tadi.

Pemanasan global seperti yang mungkin banyak kalangan tahu adalah sebuah proses dimana bumi semakin panas atau semakin dingin karena menipisnya lapisan ozon yang menjadi selimut bumi. Selimut bumi yang menipis tadi disebabkan oleh berkurangnya hutan (deforestasi) di bumi kita yang seharusnya berfungsi sebagai salah satu penyerap radiasi sinar matahari. Akibatnya, radiasi sinar matahari tadi bukannya diserap oleh hutan, malahan diserap secara langsung oleh bumi kita baik didarat maupun di laut. Penyerapan radiasi didarat menghasilkan bumi panas di berbagai dalam cakupan yang luas sehingga menyebabkan kekeringan, dan di laut menyebabkan penguapan dalam jumlah besar, sehingga menyebabkan hujan dalam debit air yang besar. Panas yang diserap bumi tadi menyebabkan ketidakseimbangan dalam lingkungan hidup, dan mendorong lebih lanjut kepada perubahan iklim yang tidak pasti atau bersifat anomali karena penyimpangannya.

Berkurangnya hutan tidak hanya berdampak itu saja, gas CO2 yang seharusnya diserap pepohonan, untuk kemudian dirubah menjadi O2 dan digunakan oleh sebagian makhluk hidup di daratan bumi untuk bernafas, menyerap radiasi sinar matahari dan terbawa kembali ke atmosfer untuk sebagian memantul ke angkasa, dan sebagian lagi memantul kembali ke bumi. Berita buruknya hádala CO2 tidak melepas radiasi sinar matahari tadi, sehingga menumpuk menjadi semacam selimut di bawah atmosfer bumi yang akan semakin menebal bila pemanasan globall terus berlangsung. Atmosfer kemudian tidak lagi dapat menjalankan tugasnya dengan baik sebagai penahan radiasi bagi bumi, sehingga Bumi kita semakin panas oleh radiasi tersebut.

Bumi kita yang panas disertai udara berisi karbon yang menahan radiasi sinar matahari menyebabkan kutub-kutub bumi kita di utara dan selatan mencair, wilayah Greenland di sebelah timur Kanada, secara signifikan mencair, pegunungan-pegunungan tinggi seperti Himalaya, yang dipuncaknya terdapat lapisan es pun begitu. Hal ini akan berakibat pada naiknya permukaan laut secara signifikan dan merusak ekosistem yang ada di laut, serta menghabisi wilayah kepulauan yang tidak begitu luas seperti wilayah kepulauan di Samudera Pasifik. Menakutkan!

Radiasi sinar matahari sebenarnya tidak menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Sejak dimulainya revolusi Industri di Barat, manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan teknologi yang dikembangkan di pelbagai bidang. Teknologi, yang menjadi basis pengembangan sarana transportasi, pabrik-pabrik industri yang selama ini tumbuh dan terus berkembang pesat di negara-negara di seluruh dunia, selama ini masih bergantung pada bahan bakar fosil yang zat buangnya berupa karbon (CO2) langsung dilepaskan ke udara lepas, ini kemudian menjadi pemicu menipisnya lapisan atmosfer bumi kita. Dan karbon tadi karena tidak dapat terserap dan berproses menjadi O2, sekali lagi menguap ke udara dengan menyerap radiasi matahari dan menupuk di bawah atmosfer kita.

Pemanasan di bumi berdampak luas pada seluruh makhluk hidup yang tinggal bersama kita, manusia. Kelak bila pemanasan terus berlanjut, maka akan terjadi banyak hal yang menakutkan bagi kelangsungan hidup kita sebagai manusia. Coba bayangkan kekeringan yang berkepanjangan, krisis sumber air dunia, krisis pangan dunia karena gagal panen di banyak wilayah pertanian, naiknya permukaan laut sehingga banyak pulau berpenghuni yang mungkin tenggelam, dan masih banyak lagi hal yang mungkin terjadi karena pemanasan global yang berkelanjutan.

Apa yang dapat kita lakukan? Sebagai manusia, sebagai masyarakat awam, sebagai sesama makhluk yang hidup di bumi? Sebetulnya ada beberapa hal yang menurut saya mudah untuk dilakukan, salah satunya adalah dengan memulai gaya hidup sederhana. Mari kita bayangkan bila gaya hidup sederhana dilakukan dalam keseharian kita, berapa banyak energii yang mampu kita hemat, dan berapa banyak zat karbon yang tidak terbuang ke udara dan tidak merusak fungsi atmosfer bumi. Lantas apakah gaya hidup sederhana yang dimaksudkan,

1. menggunakan air seperlunya, sebatas untuk menjaga kesehatan tubuh

2. menggunakan listrik di rumah maupun di tempat kerja seperlunya, bila memang tidak digunakan, untuk apa dibiarkan menyala?

3. tidak berlebihan dalam menggunakan pendingin atau pemanas ruangan.

4. menghemat bahan bakar minyak yang digunakan dalam kendaraan yang kita pakai, klo gak perlu-perlu sekali, buat apa pake kendaraan pribadi? Toh kita bisa jalan kaki, atau kalau jauh, gunakan moda transportasi umum

5. berjalan kaki, menggunakan sepeda untuk perjalanan jarak dekat, dan menggunakan kendaraan umum.

6. memisahkan sampah organik dan non-organik sehingga dinas kebersihan dan instansi terkait dapat melakukan re-cycle dengan sampah yang ada.

7. membuang sampah pada tempatnya tentunya.

8. menggunakan kembali perkakas perkakas yang sekiranya masih layak pakai agar tidak teronggok dan menjadi sampah.

9. sesedikit mungkin menggunakan kertas, tissue, dan plastik.

10. mulailah memelihara tanaman di rumah, agar udara lebih bersih

11. mulailah untuk peduli dengan lingkungan kita sendiri, karena dengan lingkungan yang nyaman, toh kita sendiri yang merasakan manfaatnya.

12. ingatkan kerabat, sahabat dan orang-orang terdekat untuk memulai gaya hidup sederhana ini.

13. berpartisipasilah dengan masyarakat dunia untuk memerangi pemanasan global.

Pertanyaan besar yang harus kita tanyakan pada hati nurani kita adalah, apakah kita mau keadaan yang sedikit banyak saya gambarkan diatas terjadi??

Saya TIDAK, Bagaimana dengan ANDA?? Karena tidak akan pernah cukup bila para pemimpin kita sudah mulai bertindak, tetapi kita TIDAK BERGEMING dan mulai PEDULI pada masalah ini.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s