krisis ekonomi lagi . . .


10 tahun yang lalu perekonomian Asia diterjang sebuah krisis finansial yang berat. Setelah sempat dianggap sebagai benua yang mampu membuat keajaiban ekonomi, dikenal sebagai Asia’s miracle. Asia akhirnya jatuh secara finansial, tingkat inflasi melonjak tinggi, nilai tukar mata uang anjlok, bahan bakar minyak mengalami kelangkaan, harga-harga bahan pokok melambung. Di Indonesia sendiri krisis finansial ini berakibat pada gejolak sosial dan politik, dari maraknya penjarahan dan kerusuhan di beberapa kota besar hingga pergantian kepemimpinan Orde Baru.

Orde Reformasi pun maju ke barisan terdepan, penuh dengan janji manis untuk sebuah perubahan. Hasilnya? kecil sekali perubahan. Bisa dibilang politik memang dekat dengan uang, dekat pula dengan kebusukan, prihatin rasanya dengan tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang memang baik dan tulus berusaha untuk memperjuangkan reformasi, namun kehilangan momentum karena tidak ada dukungan berupa ‘investasi politik’*). Perjuangan berjalan dengan terseok-seok, dan tersia-sia. 10 tahun berjalan dengan cepat, namun perubahan kesejahteraan rakyat, bukannya meningkat naik, malah menurun perlahan. Seperti sebuah bom waktu, krisis pasti akan datang lagi.

Memasuki tahun 2008 ini, seminggu terakhir kita menghadapi kelangkaan gas elpiji bagi rumah tangga. PLN menerapkan tarif baru, dengan mekanisme insentif dan disinsentif. Masyarakat disuruh berhemat, padahal masyarakat jelas-jelas sudah benar-benar mengencangkan ikat pinggang, lha wong bli makan aja susah kok! Di berbagai daerah, terjadi kasus kelaparan, gizi buruk, bahkan yang paling memprihatinkan kasus ibu dan anaknya yang kelaparan dan tewas dirumahnya. Harga bahan pangan mulai merangkak naik, antrian masyarakat yang berdesakkan menunggu jatah Raskin kembali marak (saya jadi ingat cerita eyang kakung yang menceritakan peristiwa seperti ini pada masa Bung Karno dulu). Pagi ini ( 4/4/2008 ) di Kompas memasang Headlinenya yang mengerikan “Ekonomi Menuju Titik Nadir”. Di kolom bagian bawah pun ada sebuah artikel dengan judul kepala “Gizi Buruk” dan sub judul “Mereka ada dimana-mana”. Membaca dua artikel Kompas itu saja cukup rasanya untuk membuat kita sadar bahwa memang krisis ekonomi sudah datang perlahan, dan akan menemui gelombangnya yang lebih besar lagi.

Maka bangsa ini perlu belajar dari pengalaman yang lalu, bukan dengan melakukan demonstrasi menuntut pergantian kepemimpinan (pergantian kepemimpinan yg bukan pada saatnya, hanya akan memperburuk keadaan, karena seluruh tenaga dan biaya akan tersedot untuk ‘investasi politik’ yang tidak perlu), tapi dengan melakukan demonstrasi diri untuk terus bergerak dan bergiat memperjuangkan kesejahteraan lingkungan sekitarnya. Kita kenal istilah “Gotong Royong”, maka tunjukkan kebersamaan sebagai anggota masyarakat. Bantu yang tidak mampu dengan apapun yang kita bisa. Ikhlaskan. Niatkan. Niscaya kita bisa melawan krisis bersama! Selamat pagi dan selamat bekerja!

*) investasi politik yang saya maksud adalah kebiasaan para simpatisan kelas menengah ke atas (konglomerat) untuk membiayai kampanye politik dengan menggelontorkan dana sebesar-besarnya dengan imbal-balik yang ‘harus mereka dapat setelah politisi tersebut terpilih.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s