krisis pangan atau krisis moral (?)


krisis pangan atau krisis moral, itu menjadi pertanyaan yg hinggap di kepala saya pagi ini. bila membaca banyak media cetak yang menulis berita mengenai kelaparan, gizi buruk, kesenjangan sosial, hingga kemiskinan, semuanya berkaitan dengan data statistik BPS yang menyebutkan angka-angka produksi, konsumsi, distribusi, impor, ekspor, ah pokoknya semua yang bisa dinilai dengan angka dan hanya dianggap sebagai sederet angka saja. naif memang. tapi itulah kenyataannya, segala hal memang secara ilmiah dapat di’bukti’kan dengan angka statistik. di lain pihak, angka itu juga sebenarnya tidak 100% menggambarkan keadaan di dunia nyata Indonesia.

Pertanyaan saya diatas, jelas tidak dapat saya jawab sendiri saat ini, perlu banyak diri, manusia Indonesia yang ikut serta mempertanyakan pada dirinya pertanyaan krisis pangan atau krisis moral (?). Saya akan berusaha menjawab pertanyaan ini, sesederhana mungkin. Dalam kamus Umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. Moral dalam istilah dipahami juga sebagai (1) prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk. (2) kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah. (3) ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik (dikutip dari NU.or.id) . Setelah kita tau pengertian moral, berarti kita dapat menyimpulkan apa makna dari krisis moral, yaitu krisis dimana manusia tidak lagi mampu memahami perbedaan benar dan salah, atau tingkah laku yang baik. 1 pertanyaan terjawab. masih ada 2 pertanyaan berikutnya.

krisis pangan, dapat kita lihat dari ketersediaan pangan bagi manusia, dari tingkat harga, kualitas gizi, kemampuan konsumen menggapai harga produk, dll. hal -hal yang menjadi indikator tersebut berkaitan erat dengan perihal ke-ekonomi-an (produksi, distribusi, konsumsi). bila kita lihat perkembangan keadaan nyata terkait dengan krisis pangan, kita melihat beberapa kasus kematian karena kelaparan, kasus gizi buruk di berbagai daerah, ibu yang tega membunuh anak-anaknya, dan kasus-kasus lainnya. ingat satu hal, berita-berita itu hanya sebagian kecil dari keadaan yang terekspos media, bila kita mau mencari kenyataan di lapangan, maka sangat mungkin kita menemukan banyak lagi kasus serupa, atau bahkan lebih buruk.

krisis moral dan krisis pangan memiliki keterkaitan satu sama lain, krisis moral merupakan pemicu munculnya banyak krisis pangan di Indonesia, begitupun krisis pangan membuat banyak manusia Indonesia cenderung memikirkan diri sendiri, dan melupakan lingkungan sekitarnya (tidak memiliki welas-asih sederhananya). bayangkan bagaimana bisa seorang ibu dan anak meninggal setelah diduga kelaparan selama 3 hari, jika saja ada tetangganya yang peduli pada si ibu dan anak.  lalu bagaimana bisa terjadi gizi burukdi mana-mana, jika saja pemerintah beserta aparatnya di daerah peduli terhadap rakyatnya. bagaimana bisa kita ekspor beras seperti yang direncanakan pemerintah, ketika di dalam negeri sendiri pangan belum mencukupi. Dimana si moral? dimana hati nurani? Hilang? atau mungkin kalah sama prinsip untung-rugi ekonomi? Dimana si BULOG yang’ katanya’ regulator bagi produksi, dan distribusi pangan?

siapa yang salah? saya sendiri bertanya-tanya tentang itu. krisis pangan atau krisis moral ? menurut saya, Moral.

APA SOLUSINYA, taruhlah jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan 230juta orang, lalu jumlah penduduk yang miskin, atau berada dibawah garis kemiskinan sekitar 40juta orang. Kitabulatkan angka itu, menjadi 230juta dan 40juta. berarti penduduk yang tidak miskin dan tidak berada dibawah daris kemiskinan ada 190 juta. angka 190 juta ini kemudian dibagi 40 juta. hasilnya 5 : 1.

lalu kenapa dengan 5 : 1? apa maksudnya? oke, maksud saya adalah 5 orang bertanggung jawab untuk peduli dan membantu 1 saja orang yang miskin. berikan bantuan secara berkesinambungan, entah dalam bentuk modal usaha,  bantuan pendidikan, atau apapun yang bisa membantu. dan ingat berkelanjutan. bantuan ini jangan disamakan dengan bantuan langsung tunai yang diberikan saat menjelang hari raya, jelas tidak membantu, nanti yang ada malah makin miskin mereka.

dengan cara yang sederhana tadi, mari bayangkan, bagaimana kemiskinan dapat kita perangi.

Selamat pagi dan Selamat bekerja!

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

2 thoughts on “krisis pangan atau krisis moral (?)”

  1. salah satu cara untuk mengurangi (meminimalisir) bangsa yang sedang krisis moral yaitu dengan cara membentuk kepribadian yang penuh dengan akhlakul karimah seperti yang di ajarkan RASULULLAH SAW.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s