reformasi bangsa kapas


sulit rasanya untuk tidur tanpa berfikir. 12 mei 1998, 10 tahun yang lalu, adalah sebuah mimpi buruk bagi bangsa Indonesia, gejolak sosial dan politik di berbagai kalangan (dari akar rumput hingga akademisi) yang sedemikian rupa besarnya sehingga perubahan terasa begitu cepat, mendadak, bahkan boleh dibilang, bangsa ini belum siap untuk sebuah perubahan yang besar.

Reformasi! ya, itu gaung yang disambut seluruh elemen bangsa 10 tahun yang lalu. Reformasi menjadi setara dengan Kebebasan, mungkin karena kungkungan yang dipaksakan pemerintah Orde Baru pada Bangsa selama 32 tahun begitu kuat dan mengakar. Hingga anak bangsa pun takut dan segan pada garangnya pemerintah kala itu.

10 tahun lewat, reformasi berjalan tanpa arah, bangsa kita seperti kapas yang mudah ditiup kesana kemari, mengikuti kemana angin berhembus, tanpa ada tujuan yang jelas. bayangkan Indonesia adalah sebuah bangsa kapas, negara-negara maju beserta elemen pendukungnya (IMF, World Bank, MNC’s, dll) adalah angin kencang yang berhembus begitu dahsyatnya. Kita, si bangsa kapas, tertiup angin itu, ikutlah kita kemana angin itu pergi. ikut, ikut dan ikut. dahsyat? ya, tentu. dahsyat. pemimpin bangsa hanya ingat, tahun 98 kita reformasi, berarti masuk ke era kebebasan, bebas ikut asing, bebas diinjak asing, bebas ini bebas itu, tidak ada integritas, tidak ada prinsip, tidak ada harga diri. Kenapa begitu? Ya wajar, wong kita bangsa kapas kok.

Dari jaman Orde Baru, hingga hari ini, apa yang tidak berubah? Bangsa kapas ini paling senang makan janji, makan komitmen, makan iming-iming, makan pujian, makan bangsa sendiri. Janji calon pemimpin dimakan mentah-mentah, komitmen pemerintah baru tidak diawasi implementasinya, iming-iming uang bikin lupa segalanya, pujian sering bikin puas mendadak, ah bangsa sendiri dimakan juga. Politik itu memang ranah bagi pertarungan kepentingan, tetapi dengan cara apa kepentingan tadi diperjuangkan. Elegan atau Kotor? Nah, si bangsa kapas paling senang dengan maen lumpur, lha wong sampe ada iklan yang bilang “Berani Kotor itu Baik”. Lucu? memang. bahkan iklan mengajarkan kita untuk bertindak kotor, bukan elegan.

Saya sendiri, memang bukan orang alim, bukan orang pintar, bukan apa-apa lah. saya, ya bagian dari bangsa kapas itu. tapi ya itu, kapas seperti saya ini, juga punya hati, punya air mata, punya teman kapas lain yang menyedihkan. apa yang kalian pikirkan pemimpin kapas? mau jadi pelayan Uang? mau jadi pelayan Angin? mau apa???

he alah Gusti Gusti, tahun 2009 sudah ada pemilu lagi. mungkin pemimpin kita diganti lagi, atau malah mungkin pemimpin kapas hari ini membentuk rejim seperti yang sudah-sudah. lagi-lagi kita cuma bangsa kapas, ketiup angin ya ngikut….. wuusshhhhhhhh….

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s