meretas optimisme bangsa


Optimisme dalam meretas jalan kebangkitan bangsa. Masa lalu memang tak boleh dilupakan, masa lalu seharusnya dijadikan bahan ajar untuk masa depan yang lebih baik. Dalam berkeadaban bangsa, kita perlu menghormati apa yang baik dan memaafkan apa yang buruk dari masa lalu. Dengannya maka bangsa dapat menumbuhkan rasa percaya diri, dan mampu meningkatkan perihal daya saing. Tidak pantang menyerah, kemudian berani untuk bersabar sambil bekerja menuai hasil perjuangan.

Indonesia, mengalami degradasi mental berkebangsaan. Malu menjadi sebuah bangsa, karena banyak hal buruk yang terlalu sering diingat oleh diri bangsa. Sejarah yang berulang. Demikian pula perilaku yang berulang. Karena yang dipelajari dalam bersejarah adalah perihal buruk yang dilakukan tokoh di masa lalu. Maka sejarah yang buruk seolah menjadi teladan bagi perilaku bangsa dalam konteks kekinian.

Aku malu menjadi Indonesia. Begitu mungkin yang terpikir dalam benak sebagian besar masyarakat. Kenapa? Karena negaraku terkenal dengan korupsinya, karena negaraku terkenal sebagai perusak hutan, karena negaraku terkenal dengan ketidakamanannya, karena negaraku memang memalukan.

Kita punya banyak tokoh bangsa. Berasal dari berbagai golongan. Ada kiai, ada ekonom, ada pengusaha, ada tentara, ada rakyat sipil biasa, ada pula mereka yang hilang entah kemana. Tapi tokoh kita tidak punya kesatuan, paling tidak kesatuan tujuan. Bersama-sama memajukan bangsa. Tokoh-tokoh saling menjatuhkan, karena mereka punya kepentingan. Mereka lupa kepentingan bangsa. Mereka lupa tugas mereka sebagai teladan bangsa. Maka, rakyat linglung, rakyat bingung, teladan bangsa blingsatan marah sana-sini, ribut sana-sini.

Lagi, aku malu menjadi Indonesia. Negaraku dikata demokratis, tapi tak mampu menerima hal yang kritis.

Kita perlu merapatkan barisan, sadarlah bangsa ini besar, bangsa ini kaya. Anak bangsa jangan sampai jadi generasi yang hilang. Sudahi perangmu sendiri, pasti rakyat lelah mendengarnya. Seolah Indonesia hanya menyoal dirimu dan oposanmu. Hidup adalah perbuatan, begitu kata seorang politisi sebuah partai. Meskipun baru, dia sadar, memang hidup adalah perbuatan. Berdemokrasi adalah soal berani menerima kritisi, soal berjiwa besar bangun bersama. Berdemokrasi bukan soal bebas melakukan apa saja. Berbuatlah sesuatu untuk bangsa ini. Ajak teladan bangsa itu bekerja sama, berdiskusi dengan mereka. Ingat slogan mu dulu, “Bersama Kita Bisa”.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

1 thought on “meretas optimisme bangsa”

  1. kata komentator bola di RCTI (setelah timnas kalah 1-5 dari fc bayern munchen) :

    “bangsa kita adalah bangsa yang mau belajar, kan bung?!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s