diplomasi kita


Lagi-lagi saya gumun, ah memang kerja saya gumun bin ngelamun. Jadi begini, suatu hari, kemarin tepatnya, dalam sidang Khusus Dewan HAM PBB mengenai krisis pangan dunia, delegasi RI, meminta Dunia meninjau ulang mekanisme produksi pangan, pasokan dan perdagangan dalam upaya menyelesaikan krisis pangan dunia. Lantas kenapa saya gumun?

Begini, dalam dunia Hubungan Internasional, kita mengenal yang disebut sebagai two-level games, dimana proses diplomasi dan negosiasi itu memiliki dua tolok ukur keberhasilan, yaitu di dalam dan luar negeri. Saya tidak akan membahas hal perihal two-level games. Tapi yang akan saya bahas adalah masalah bargaining position (posisi tawar) dalam berdiplomasi. Posisi tawar bisa didapatkan seandainya saja, kita sebagai diplomat mewakili sebuah negara yang memiliki prestasi atau paling tidak berhasil menjalankan suatu bidang dengan baik.

Dalam konteks keindonesiaan, permintaan delegasi RI untuk meninjau ulang mekanisme tata kelola pangan dunia, adalah sesuatu yang sia-sia. Mungkin didengar, tapi nihil bila digubris oleh delegasi lainnya. Kenapa? Bayangkan, selama ini ketahanan pangan Indonesia pun morat-marit. lantas, bagaimana bisa delegasi berbicara mengusulkan suatu hal, bila di negara delegasi tersebut, masalah yang sama pun tidak terurus dengan baik. Kan jadi seperti tong kosong nyaring bunyinya.

Tapi, memang pada nyatanya, keadaan diplomasi kita seperti itu, mungkin kita berani berbicara di luar negeri, permasalahannya adalah di dalam negeri masih banyak urusan dalam bidang perjuangan yang sama yang tidak terurus. Belum lagi kita tidak punya daya tawar untuk menekan negara lain, apalagi dunia.

Itu yang bikin saya gumun. Karena buat apa kita kirim diplomat banyak-banyak dengan biaya yang besar, kalo keadaan di dalam negeri pun masih morat-marit. Mungkin anda menganggap saya pesimis, itu terserah anda. Ibarat kata, buat apa ngurus orang lain, kalo ngurus diri sendiri saja belum bisa!

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

8 thoughts on “diplomasi kita”

  1. Penerapan konsep two-level games atau bargaining position dalam membahas usulan Indonesia di PBB tentang mekanisme pengelolaan pangan dunia di atas, menurut saya, terasa kurang pas.
    Usulan tersebut justru merupakan cerminan dari konsep two-level games tersebut. Pada tingkat domestik, usulan tersebut sejalan dengan kepentingan sebagian besar masyarakat yang sedang dililit kesusahan karena melonjaknya harga pangan. Pada tingkat internasional, usulan tersebut juga sejalan dengan kepentingan sebagian besar masyarakat internasional yang menghendaki kestabilan harga bahan pangan.
    Tujuan diplomasi pada akhirnya adalah tercapainya kepentingan nasional (national insterests). Salah satunya adalah terwujudnya mekanisme pengelolaan pangan dunia yang lebih adil.
    Selama tata politik dunia masih bertumpu pada negara (states) sebagai aktor utama, diplomasi akan tetap menjadi salah satu mekanisme terpenting dalam hubungan internasional. Diplomat Indonesia, dengan demikian, tetaplah diperlukan.
    Tantangan ke depan yang harus diatasi adalah bagaimana menciptakan Indonesia yang makmur. Sehingga biaya mengirimkan diplomat tidak lagi dianggap sebagai beban.

  2. mungkin saya pesimistis, tapi saya rasa sebaik apapun diplomasi yang dilakukan, sebesar apapun biaya yang dikeluarkan, selelah apapun para diplomat berbicara di hadapan dunia internasional, tidak akan ada gunanya, selama di dalam negeri masih morat marit. karena apa yg terjadi di dalam negeri tidak selalu berkaitan dengan internasional. terlebih krisis pangan kita, masalah ini kan pemerintah sendiri yang buat, mereka sendiri yang lalai. sistem dibuat memang untuk menguntungkan kelompok tertentu. lantas kejadiannya seperti ini, masa iya kita mau ribut nyalahin pbb misalnya? gk bisa seperti itu.
    apalagi mau memberi usulan. tidak layaklah. makanya pada pandangan saya, lebih baik kembali ke negara dulu, baru ke luar.

  3. Saya pikir RI dalam posisi memberikan usulan atau inisiatif. Tujuannya adalah untuk mencari solusi masalah global. Tidak ada kata-kata menyalahkan PBB dalam usulan tersebut. Yang ada adalah ususlan agar seluruh bangsa-bangsa di dunia bersama-sama mencari solusi masalah pangan ini. Jadi, tidak perlu menunggu masalah domestik beres. Lah wong usulan ini juga bertujuan untuk mengatasi masalah dalam negeri kita kok.
    Fenomena interdependence perlu kita simak. Persoalan domestik sering kali merupakan akibat dari persoalan pada tingkat global. Termasuk krisis pangan ini. Makanya pokok bahasan sidang PBB adalah krisis pangan dunia, bukan krisis pangan Indonesia.
    Konsep ‘jangan berdiplomasi sebelum masalah di dalam negeri beres’ perlu dikritisi. Justru diplomasi merupakan salah satu tool untuk mencapai tujuan dalam negeri. Bukankah kemerdekaan kita diakui juga merupakan hasil diplomasi? Apakah waktu itu kita harus menunggu sampai kondisi Indonesia benar-benar aman, baru mengajukan usulan di PBB?

  4. anda terlalu optimis, atau saya yg terlalu pesimis. pandangan saya berbeda dengan anda bung kaze. saya tidak bicara soal diplomasi ketika kemerdekaan. saya bicara soal keadaan negara yg pemerintahnya tidak hentinya membuat dirinya terikat dalam dependencia. saya lebih berfikir apa yg terjadi dengan negara kita saat ini, terutama krisis pangan, ya akibat diri kita sendiri yang terlalu membuka diri, dan mental yang terkorupsi. PBB itu amerika bung, bahkan anggaran belanja PBB pun tidak lebih besar dari anggaran kepolisian New York. Padahal, lebih dari 50 % anggaran PBB, didapat dari AS. Lantas kita mau bicara usul apa skrg? Mengatasi krisis pangan dengan cara apa? Ha?
    Bhwa mengusulkan sesuatu pada forum PBB adalah hal yang baik, memang iya.
    Maaf mungkin anda percaya pada diplomasi krisis pangan Indonesia, tapi saya tidak.

  5. permasalahan disini adalah masalah bagi2 paket kerjaan.

    Mungkin bagi bung kaze, diplomasi ke PBB adalah sekedar tanggung jawab sebagai warga dunia.
    Sementara buat lu Dit, diplomasi ke PBB adalah urusan berkompromi dengan kelompok asing.

    Bagi gue, pendapat bung kaze juga ga salah. Karena toh beliau melihat demikian, sekedar bentuk tanggung jawab warga dunia yang harus berusuara.
    .
    Dan pendapat lu juga bener. No time for compromize about our crisis. krisis kita punya penyelesaian hanya dari dalam, yang bahkan punya pengaruh pada kebijakan berurusan dengan dunia luar.

    Bagi gue, selama adanya sinergisasi antara vocalize kita di PBB dan usaha-usaha real kita sendiri, maka keduanya menjadi tool yang kuat menyelesaikan krisis.

  6. Ok. Peace. Damai. Hehehehe….

    Ya inilah tujuannya berdiskusi. Saling bertukar pendapat. Tujuannya agar menambah wawasan. Bung Leksa, thanks for the conclusion.

    Sedikit ralat, Amerika tidak menyumbang 50% anggaran PBB, melainkan 22%. Tetapi, Paman Sam ini lebih banyak ngemplangnya. Pada awal tahun 2008, utang Amerika kepada PBB tercatat sebesar US$ 1.5 milyar atau setengah dari utang seluruh anggota PBB. Informasi lebih lengkap dapat dilihat di http://www.betterworldcampaign.org/issues/funding/growing-us-debt-to-the-un.html

    Anyway, saya senang dengan diskusi ini. Sukses untuk temen-temen HI UGM.

  7. Hehe.. Bung Kaze, yang saya jabarkan itu merupakan salah satu pelajaran yang saya dapat dikelas. jadi bilamana terdapat kesalahan persentase, mohon maaf. tapi, berapapun besar anggaran, AS tetap dominan di berbagai organisasi internasional. Karenanya, bagi saya ya seperti itu, bergabung dengan OI, semacam PBB, maka mau tidak mau, kita harus mencari jalan yang paling licin sehingga bisa mengakomodasi kepentingan AS juga. Dan itu tentunya sangat sulit dijalankan.
    Benar apa yang dikatakan lo, Lek. Keduanya bisa jadi tool yang kuat dalam menyelesaikan krisis.

    Senang bisa berdiskusi dengan anda bung Kaze. Thanks jalan tengahnya, Lek.
    Walaupun gw tetep keukeuh sama apa yg gw pikir. hehe. Peace!

  8. Wah, seru banget diskusinya…

    Terima kasih banyak buat ilmu baru yang belum pernah saya dengar selama ini…

    Terima kasih Bung Adityasani, Bung Kaze, dan Bung Leksa…

    Salam kenal dari saya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s