populis


Saya mencoba membayangkan bagaimana Indonesia di semester kedua tahun 2008 hingga masuk 2009. Bulan-bulan Juni-Juli terakhir saya melihat intel2 berkeliaran, entah serse, densus, atau petugas lapangan  lainnya. Ya, memang belakang negeri ini seolah penuh, sumpek, hiruk pikuk. Penuh pengalihan issue, juga penuh oleh peluh keringat rakyat yang hanya tau bekerja untuk makan tanpa mengeluh. Saya penasaran sekaligus curiga, apa jadinya negeri ini. Yang rakyatnya mau kerja keras, tapi negaranya boleh dibilang lumpuh.

Kenapa saya bilang lumpuh? Ya, negara tidak berfungsi untuk mensejahterakan rakyatnya. Kata sakti yang digunakan Pertumbuhan ekonomi. Bukan pemerataan kesejahteraan. Kata pemerataan apalagi kesejahteraan tidak terdefinisi untuk sang rakyat yang maha banyak. Kata itu hanya berlaku untuk birokrat, pejabat, tikus berdasi, penjahat kerah putih, dan mereka-mereka itulah. Negaranya lumpuh, hukumnya patuh pada negara yang sudah lumpuh. Memang tidak mungkin juga lantas menjustifikasi hukum jalanan, bisa makin kacau negeri ini. Lalu mau percaya pada siapa?

Saya mungkin akan menjawab, percaya pada diri sendiri, untuk percaya dapat terus bekerja, melakukan apa yang baik, bukan apa yang menguntungkan. Ingat, apa yang baik, berbeda dengan apa yang menguntungkan. Ketika tidak ada jalan lain untuk berbalik, lebih baik bersama-sama menerobos jalan yang ada. Hari ini, seisi kabinet perekonomian negeri ini berisi kroni neolib, para pembabat jalan pasar bebas, adil memang, tapi tidak akan adil bagi yang tidak mampu, atau belum punya kemampuan.

2008 akhir, mungkin BBM akan kembali naik, alasannya lagi-lagi harga minyak dunia naik, APBN terbebani, untuk mengalihkan issue itu paling muncul tokoh konflik baru, gerakan teror baru, agama baru. Si jubir paling akan bilang, kita sudah berusaha melakukan sebaik mungkin, ini memang sulit, kebijakan ini sangat tidak populis. Populis gundulmu kui! Yang dipikir kok ya populis/tidak melulu.

2009? perang popularitas..

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

4 thoughts on “populis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s