mimpi Indonesia


Saya membayangkan Indonesia memiliki sistem peradilan yang kuat dan tegas, dalam artian membuat jera dan tidak melenakan si terhukum. Misalnya penerapan hukuman mati untuk koruptor dan pelaku (pengedar dan pemakai) narkoba. Keras? jelas. Tegas? tentu saja. Bikin jera? tentu saja. Tapi apakah baik? belum tentu.

Sejujurnya, saya tidak tahu perihal seluk beluk ilmu hukum. Yang saya tahu, sebuah konsep sederhana, bahwa mereka yang terbukti bersalah, patut dihukum, dan mereka yang benar, patut mendapat keadilan.

Begini, mungkin Anda pernah mendengar atau membaca perihal kasus-kasus korupsi di China dan bagaimana lembaga peradilan mengatasi ‘penyakit’ tersebut. Mereka, yang terbukti melakukan korupsi di Cina akan mendapatkan vonis mati dan dieksekusi mati. Namun, berbagai pihak menentangnya karena hukuman mati dianggap melanggar HAM dan dapat digunakan sebagai alat penguasa untuk menyingkirkan mereka-mereka (sebutlah, oposisi) yang tidak diinginkan. Karenanya seperti yang saya sebutkan diatas, hukuman mati belum tentu baik.

Indonesia. Saya mengingatnya sebagai negara yang carut marut sistem peradilannya. Bagaimana bila, hukuman mati diterapkan di Indonesia? Mungkin kah kasus2 korupsi menurun tingkatnya? Atau mungkin kah justru dimanfaatkan penguasa untuk berlaku tidak demokratis?

Kedua opsi tadi, memiliki persentase kemungkinan yang sama. 50 : 50. Bayangkan bila kasus BLBI yang sekarang seolah memiliki efek domino itu, kemudian dapat dibuktikan didepan hukum, lantas menyeret sekian puluh birokrat atau pejabat atau koruptor berjama’ah yang terlibat di dalamnya. Dan mereka yang memang bersalah, mendapat hukuman mati. Dooorr! tewas. Jera. Mungkin ruang sidang perwakilan rakyat kita akan sepi, atau mungkin lembaga eksekutif kita dibekukan. Mungkin? mungkin.

Bayangkan lagi bila, hukuman mati ternyata menjadi alat penekan oposisi. Dalam artian, mereka yang bersuara sumbang terhadap pemerintah, kemudian dihukum mati secara legal, atau hilang begitu saja seperti ditelan bumi. Mungkin kita tidak lagi menjadi negara yang ‘demokratis’. Mungkin kita akan mengalami deja vu, seolah di negara ini pernah mengalami hal seperti itu. Mungkin? mungkin.

——–

Ah, tau apa saya.

Sekarang, saya lebih ingin bermimpi tentang Indonesia yang manusia-manusianya belum terkorupsi pikirannya, yang dalam hidupnya tidak hanya memikirkan materi sehingga ‘terpaksa’ korupsi. Yang semua sistem dalam negaranya bekerja dengan baik, efektif, dan efisien. Muluk memang, tapi saya juga punya hak kan untuk memimpikan Indonesia? :))

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

6 thoughts on “mimpi Indonesia”

  1. Negara Aman. Adil, Tentram, Makmur, dan Sejahtera adalah harapan semua warga negara yang sadar, tetapi sayangnya dinegara kita orang-orang yang sadar sudah sangat minim.

    Kekuasaan, kekuatan, dan kekayaan merupakan senjata untuk mencapai kemakmuran diri dan golongannya, menghancurkan serta mengorbankan orang dan golongan lain sudah dianggap wajar dalam mencapai cita-cita tersebut.

    Banyak sudah sejarah membuktikan kehancuran sebuah negara dan kebudayaan diakrenakan orang-orang HAUS dan RAKUS atas kekuasaan, tetapi orang sudah BUTA HATI dan PIKIRAN untuk menyadarinya.

    .::he509x::.

  2. hukum itu alat. alat itu bekerja sesuai dengan empunya yang menggunakannya. jadi…, ya tergantung yang make…

  3. belum tentu hukuman mati bisa menurunkan tingkat korupsi….hukum pun pada dasarnya hanya salah satu cara menekan kejahatan…jadi masih ada cara lain yg bisa ditempuh… soal hukuman mati, PBB sendiri lwt Mahkamah Internasional memperbolehkan pelaksanaan hukuman mati bagi kejahatan-kejahatan tertentu….

  4. hmm..jangan lupa bangun dari mimpi yo mas..tiliki teles opo ora..yahahaha.

    hukuman seumur hidup lebih menjadi opsi dibandingkan hukuman mati.. “mengekang” kebebasan untuk hidup lebih memberikan efek jera dibanding “mengambil” kehidupan itu sendiri,mungkin..mungkin lho mass..

    saya yakin keduanya memberi efek jera, mslhnya pada opsi hukuman seumur hidup, dengan tingkat korupsi yang setinggi saat ini, saya tidak bisa membayangkan berapa banyak penjara lagi yang harus dibangun negara ini. bisa overloaded mungkin..

  5. lha yo opo mesti dipenjara tho mas.. lha wong kae nang senayan isih akeh seng kongkang sikil karo udat-udut..sing irung e gedhe seko partai bringin kae??hehe..

    waduh OOT, njenengan nunjuk tokoh yang satu almamater sama kita lho..

  6. Daripada hukuman mati ala Cina, saya lebih suka sistem gulag-nya Soviet. Suruh saja mereka kerja paksa di Papua sana… lumayan kan sekalian membangun daerah tertinggal๐Ÿ˜†

    sebenernya banyak opsi, tapi kenapa ya yg diterapkan paling banter cuma penjara 5 taunan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s