tentang Sani


Seminggu terakhir, saya menghabiskan waktu saya di P. Bangka, tempat kelahiran ayah saya, dan tempat sebagian besar keluarga Sani di besarkan. Banyak pesan dan nasehat yang saya dapat dari beberapa sesepuh keluarga yang juga saya anggap sebagai ayah saya sendiri. Pesan dan nasehat tersebut secara garis besar berisi kerinduan yang mendalam terhadap prestasi keluarga, keinginan untuk kembali bangkit, family awakening.

Keluarga Sani mungkin memang keluarga biasa-biasa saja saat ini. Tapi dulu, -tanpa bermaksud membesar-besarkan- keluarga Sani ikut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik ini. Saya mendengar itu semua dari para sesepuh, dan sejujurnya saya bangga akan hal tersebut. Mudah-mudahan saya bisa membawa nama keluarga saya untuk sebuah Awakening.

Dulu, almarhum H. Sani, beserta anak-anaknya berjuang di P. Bangka, bahu membahu ikut berperang pada masa kemerdekaan. Mereka bergabung bersama Pahlawan Dua Belas. Turut pula membantu perjuangan kedua Bung Besar, Dwitunggal proklamator Indonesia yang kala itu diasingkan di P. Bangka. Bung Hatta pernah menyebut suatu ketika, “Ada dua percaturan Internasional yaitu United Nations dan P. Bangka” *)

Lepas dari masa perjuangan kemerdekaan, para sesepuh keluarga berjuang dijalannya masing-masing.

Kini, keluarga Sani telah menyebar ke banyak kota, ada yang kemudian tinggal di Singapura, Australia, Belanda, Swiss, Jakarta, Jogja, dan banyak kota lainnya. Secara etnografis pun, tidak lagi murni Bangka, terlebih bagi generasi saya yang merupakan generasi ke empat. Ya, saya bahkan punya keponakan yang berdarah Afrika, bayangpun. Saya belum mendengar ada prestasi yang memuncak dari generasi ini.

—————

Buat saya pribadi, ada beberapa contoh yang bisa dijadikan teladan dalam keluarga, yaitu Kartono Sani (Ayah saya sendiri), Reeda Fathia Sani dan Rasio Ridho Sani (keduanya kakak sepupu saya). Masing-masing teladan dalam keluarga saya ini memiliki keahlian yang berbeda. Ayah di bidang energi dan pertambangan, Kak Reeda di bidang Perhotelan dan Kak Roy di lingkungan hidup.

Kalau dihitung, saya punya ratusan saudara sepupu, berarti potensi untuk berprestasi itu semakin besar. Seorang Pakwo (kakak dari Ayah) berucap sambil menghela nafas panjang, “Dit, buat prestasi di bidang yang kamu suka, jangan setengah-setengah, apapun bidang itu, politik, olahraga, musik, kelimuan, apapun. Om liat, di keluarga kita belum pernah ada yang berprestasi, semuanya biasa-biasa aja“.

Itu pesan, itu amanat. Jadi? Bismillah

*) thanks to zen rs.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

6 thoughts on “tentang Sani”

  1. adinda itu marga sani bukan?๐Ÿ˜†
    mau ponakan berdarah goop?
    nanti dibandingkan sama yang berdarah afrika, hihihi

    duh maap paman, dia bukan sani..yg lain aja ya?๐Ÿ˜€

  2. hihi..why u don’t a proud of me ?..I LOVE MY BIG BIG SANI..Sometimes u can visiting us..Am a part of Sani in Australia now..

    hihi..maaf maaf..I’m so proud of you my dear cousin..:D udh diedit tu..;)

  3. Dit sampe skrg msh wonder sama garis keturunan sani n amak tau informasi keturunan amak itu dari mana ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s