Pahlawan Teror


Mereka yang pernah berjuang untuk membantu negeri ini menjadi nyata, tidak pernah mengharapkan gelar. Hidup mereka memang sudah digariskan menjadi seorang pejuang. Gelar “pahlawan” ditambah embel-embel kata “nasional”, saya rasa tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran. Saya percaya mereka saat ini sudah tenang karena tugas sudah dibayar tunai. Walaupun perjuangan tidak pernah mengenal garis final. Soal bagaimana sebuah perjuangan dilanjutkan, itu sudah menjadi urusan kita-kita, generasi yang masih bernafas di bumi pertiwi.

Menyoal penghormatan cukup diberikan dengan melanjutkan perjuangan mereka setulus hati. Tidak perlu kemudian berpolemik soal siapa yang pantas dan kriteria apa yang menjadi standar baku agar seseorang bisa mendapat gelar. Sudahlah, mereka yang pahlawan saja tidak pernah meributkan soal itu. Kenapa kita yang masih hidup malah ribut? Apa iya mereka sempat menulis wasiat kepada anak cucunya agar suatu hari diajukan proposal mengenai pemberian gelar pahlawan nasional? Kan tidak.

Kalaupun ada sebuah wasiat misalnya, pasti isinya pesan yang singkat soal melanjutkan tugas yang mereka perjuangkan selama ini. Itu yang lebih penting. Negeri ini hanya butuh satu hal : mereka yang mau berjuang. Tidak lagi butuh mereka yang senang beradu otot, atau senang berteriak-teriak. Ibu pertiwi sudah lelah melihat darah yang mengalir. Ini sedikit ribut. Itu sedikit lempar batu. Agh STOP!

Teror. Itu kata yang melompat-lompat di kepala saya. Negeri ini penuh teror. Ada yang hanya main-main. Mungkin otak dan hatinya sudah pindah ke bawah kaki. Ada juga yang dengan semangat, mengepalkan tangan, dan berteriak, “Kami akan melanjutkan perjuanganmu Ya Amrozi! Ya Mukhlas! Ya Imam Samudera!”. Nah yang ini mungkin otaknya sudah digadai dengan dendam. Lugu, berwawasan sempit, dan yang paling berbahaya, gelap mata.

Saya mengelus dada, ketika melihat berbagai tayangan di televisi mengenai eksekusi mati trio bomber Bali. Beragam komentar, beragam argumen, dan lagi-lagi polemik menyoal hal-hal yang buat saya non-sense. Yang satu melarang mereka menggunakan kata ‘mujahidin’, yang satu tidak mau kalah ‘bombastis’. Dikatakan, “mereka yang melarang kami menggunakan kata ‘mujahidin’ berarti melanggar HAM!”.

Seminggu terakhir ini melihat berita di televisi terasa melelahkan. Ya ya ya, silahkanlah kalau anda-anda mau pakai gelar pahlawan. Terserah sajalah. Bukan tidak peduli, bukan. Satu hal yang diinginkan orang awam seperti saya ini, kedamaian, itu saja.

Ya Allah, berikan negeri kami hidayahMu, luruskan pandangan kami tentang agamaMu, bersihkan pikiran dan hati kami dari kata dendam, dan suudzon, rahmati kami dengan keadilanMu, jauhkan negeri kami dari kemiskinan, dan lapangkan kami rizkiMu, Ya Allah. Sesungguhnya Engkau yang Maha Mengabulkan segala permintaan. Kabulkanlah permohonan kami. Amiin.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

7 thoughts on “Pahlawan Teror”

  1. *mengamini doa diatas*

    saya masih terheran-heran dengan fenomena banyaknya yang memuja mereka sebagai pahlawan.

    kenapa gak sekalian aja dieksekusi pas hari pahlawan?🙄

  2. Iyo e, kok bisa dianggep pahlawan tu darimana asalnya ya?

    Pahlawan itu ya tukang becak yang seharian nyari duit buat ngasih makan anak dan istrinya, mereka yang bekerja keras demi keluarganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s