Pilih Idenya


Masa kampanye yang sesungguhnya semakin dekat dengan kita, Kawan. Spanduk, poster, kalender sampai leaflet sudah memenuhi sudut-sudut kota. Jakarta atau daerah, sama saja. Seminggu terakhir di kampung betawi, tempat saya tinggal, sudah berdiri dua posko partai. Satu partai ‘kebo ireng’ dan yang satu partai ‘pake hati’.

Begini ceritanya.. di mobil pribadinya, caleg yang kabarnya berhati nurani itu memajang stiker besar logo partai. Di atas kap mesin, di kanan-kiri pintu, dan di atas kap bagasi mobil. Sebagai pemanis ditambahkan stiker dengan latar bendera partai dan foto dua orang calon: tetangga saya, anggota legislatif dan koleganya, jenderal wiranto. Mobil itu mendadak terasa ramai, seolah siap ikut karnaval. Saya geleng-geleng kepala melihatnya.

Pak caleg dari partai kebo ireng lain lagi caranya. Suatu kali di suatu sore yang lengas, mushola mengumandangkan sebuah pengumuman. Konon katanya akan diadakan pengajian, eh syukuran di rumah pak caleg. Semua orang diundang, begitu kata berita yang tersiar. Pengajian pun dimulai ba’da isya’. Khidmat pengajian dipimpin oleh imam mushola yang kabarnya pendukung partai ‘pake hati’. Bubar pengajian sembako senilai dua puluh ribu rupiah dibagikan. Yang lucu, beberapa tetangga kemudian mendesis,

“ah mending juga dibagiin duit, kita mah gak butuh sembako…”.

Kejadian diatas mungkin tidak hanya terjadi di kampung saya saja. Satu kejadian lagi kemudian berlaku pada saya. Suatu siang di dalam angkot (angkutan kota), mata saya memicing pada kaca belakang kendaraan ini. Pemandangan cutting stiker besar, tertulis disana “DJUANDA, SH : Mari lawan ketidakadilan” dengan pemanis foto sang caleg berhati nurani. Senyum saya menyimpul, tergelitik untuk mencari tau apakah ada angkot lain yang memasang stiker yang sama. Saya turun di depan pasar kebayoran lama, tempat menumpuknya segala jurusan angkot -dari dan ke- ciledug. Lima belas menit saya mencari-cari, sudah lima angkot yang memajang stiker yang sama. Pikir saya, narsis juga bapak yang satu itu.

Belum cukup rupanya hanya menempel cutting stiker diangkot. Dipasangnya pula bendera-bendera berukuran satu kali setengah meter. Entah berapa ratus jumlahnya. Tak lupa, namanya, logo partai dan nomor yang kabarnya sakti, enam. Puas dengan cutting stiker dan bendera? Oh belum. Ada satu trik lagi untuk membantu ingatan masyarakat. Spanduk-spanduk besar dengan tulisan yang sama besar, DJUANDA SH. Entah apa tujuan spanduk itu, karena kali ini hanya namanya saja, tanpa embel-embel. Mengambang, persis seperti masyarakat pemilih Indonesia pada umumnya.

Sampai dirumah, saya merasa ‘mabuk djuanda’. Bagaimana tidak? di angkot, di ujung gang, di atas ruko, di pagar pembatas jalan layang, di mana-mana.

***

Setiap kali saya berfikir tentang siapa yang akan saya pilih Pemilu nanti. Tiap kali itu juga saya diam karena tidak punya jawaban. Apa kiranya kriteria caleg atau capres yang layak dipilih?

1. Sering mengadakan pengajian lalu bagi-bagi sembako atau duit
2. Foto, dan taglinenya mejeng dimana-mana
3. Kebetulan ‘yang bersangkutan’ tetangga sendiri

Tiga kriteria diatas mungkin sering menjadi acuan para pemilih mengambang. Masalahnya, bila hanya tiga poin diatas yang jadi bahan pertimbangan, bisa-bisa berabe semua urusan yang berhubungan dengan publik.

Lalu apa ya yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan?

Ide atau solusi yang dibawa oleh sang caleg atau capres. Ide bukan sekedar janji, apalagi tagline beo seperti Mari Lawan Ketidakadilan. Kita sama-sama tahu masalah publik di masyarakat dan negara begitu banyak. Tapi, sudah seharusnyalah seorang caleg atau capres maju ke depan dan menyampaikan ide-ide yang mereka ingin tanamkan dalam rencana kerja setelah terpilih. Kenapa? sederhana saja, orang Indonesia sudah lelah dijanjikan ini itu.

Saya ambil contoh sederhana saja, Kawan. Indonesia misalnya punya beberapa issue penting, sebutlah ketahanan pangan, penanaman modal asing, dan penguatan industri nasional. Ketiganya saling berkaitan, langsung maupun tidak langsung. Lalu timbul pertanyaan, dari ketiga issue tadi mana yang harus didahulukan sehingga ketiganya tumbuh-kembang secara berkelanjutan dan mendorong kesejahteraan?

Nah, caleg atau capres yang layak pilih akan dengan berani mengajukan sebuah proposal berisi ide-ide untuk menjadi solusi permasalahan yang ada.

***

Sudah bertemu caleg atau capres yang punya proposal seperti itu, Kawan?

Anyway, Kawan merasa ‘mabuk djuanda’ juga gak? hahaha..

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

2 thoughts on “Pilih Idenya”

  1. Saya tidak mabuk Djuanda, Dit.
    Saya mabok Widi*****. Bos saya juga maju jadi caleg DPR. Bosen dan mual2 saya liat baliho, banner, stiker, poster, kalendar, bermuatan fotonya.

    Apa yang sudah dilakukan sehingga pantas jadi caleg?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s