transport di jakarta


Kita mungkin tahu sama tahu kalau jalanan di Jakarta sudah sangat padat dengan kendaraan. Tapi kita sama-sama belum sadar untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Semua orang ingin naik kendaraan pribadi, motor maupun mobil. Alasannya bisa jadi beragam, dari masalah kepraktisan dan kenyamanan, hingga alasan keamanan menggunakan kendaraan umum. Buat saya, alasan-alasan itu sah-sah saja disampaikan, toh kita tinggal di negara demokrasi.

Masalahnya, apakah kita sadar bahwa penggunaan mobil pribadi yang berlebihan, selain memicu pemborosan biaya di berbagai sektor, juga mempercepat pemanasan global. Menurut Kompas, jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta ada 9.529.259 unit (dengan pertumbuhan rata-rata 9%-11% per tahun). Jumlah tadi terdiri atas 2.021.168 unit kendaraan pribadi, 6.663.564 unit motor, 536.150 unit truk, dan 308.377 unit angkutan umum.

Untuk mengatasi kemacetan, PEMDA DKI Jakarta berencana menerbitkan sebuah Peraturan Gubernur yang isinya memajukan jam masuk anak sekolah (dari jam 7.00 menjadi jam 6.30 wib). Kabarnya peraturan ini akan efektif berlaku sejak Januari 2009. Buat saya peraturan ini mungkin bisa berguna untuk melatih disiplin anak sekolah supaya bangun lebih pagi, apalagi mereka yang jarak antara rumah dan sekolahnya jauh. Tapi, tidak sesederhana itu kan. Ada para orang tua yang juga kemudian akan terpengaruh oleh peraturan ini.

Ya, ketidaktersediaan angkutan publik dan pertimbangan biaya (doubled) akan memaksa orang tua untuk juga berangkat kerja lebih pagi. Padahal si orang tua (misalnya PNS) mungkin baru masuk akan masuk kerja jam delapan pagi. Mesakke tenan to yo..

Kesimpulannya, kemacetan mungkin akan berpindah menjadi lebih awal, tapi kemudian tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya yaitu soal ketersediaan moda transportasi publik.

***

Lagi-lagi kita tahu sama tahu bahwa Jakarta sebagai sebuah kota sangat tidak ramah dalam mengelola mobilitas penduduknya. Kabar yang berdesis pemerintah sejak beberapa tahun yang lalu telah merencanakan sebuah pola transportasi makro untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Keempat pola tersebut adalah penyediaan Bus TransJakarta, MRT, kereta dan angkutan air. Belakangan, malah terdengar kabar baru bahwa pemerintah akan membangun jalur subway di bawah tanah untuk menghubungkan Terminal Lebak Bulus dengan stasiun kereta Dukuh Atas. Berarti sudah lima pola yang ditawarkan pemerintah. Lalu implementasinya bagaimana?

Hingga penghujung tahun 2008 ini, baru Bus TransJakarta yang terealisasi, pun hanya sebagian. Bus TransJakarta kini memiliki tujuh koridor (sdh beroperasi) dan tiga koridor (dalam persiapan). Lalu apakabar pola lainnya? tanyakan pada Ahlinya.

***

Saya punya ide, bagaimana bila semua orang beralih menggunakan kendaraan umum. Ide yang buruk ya? Ya ya ya, saya tau. Anda mungkin akan menjawab,

“enggak ah naek ‘umum’ panas. Sumpek. Bau. Penuh.“

Oke. Oke. Bagaimana dengan ide semua orang menggunakan sepeda, seperti di Bogota sana itu?

“ealah, capek mas. Kemeringet. Mana panas banget lagi!”

Anyway, Anda tahu gak berapa nilai kerugian (nilai waktu, biaya bahan bakar, biaya kesehatan) per tahun karena kemacetan lalu lintas? 12, 8 trilliun rupiah! Lalu kerugian lainnya seperti: Pencemaran dan kerusakan lingkungan; Infeksi saluran pernafasan (ISPA) dan kanker; Gangguan otak pada anak-anak dan ancaman bagi ibu hamil.

Satu informasi lagi, menurut survey Bank Dunia, pencemaran udara merupakan pembunuh kedua bagi balita di Jakarta. Nah lho!

Cuntel*.


*cuntel : rumit seperti benang kusut

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

14 thoughts on “transport di jakarta”

  1. Tidak juga ide buruk Dit…
    saya pribadi lebih suka naik busway
    sebaiknya armada busway dan koridornya ditambah jadi orang semakin banyak yang naik busway…

  2. emang susah, ya. angkutan umum yang bagus pun sebentar saja jadi kumuh di jakarta. lihat saja halte trans jakarta dan bisnya😀 sudah mulai bercopotan di sana-sini😀 aku rasa kalau angkutan umum murah, nyaman, aman, orang-orang ga keberatan sih naik angkutan umum😀

  3. Salah satu alasan mereka mereka yang memilih mobil pribadi mgkin karena mereka bisa sesuka hati menentukan waktu perjalanan mereka karena toh kendaraan udah tersedia. jadi lebih santai, ndak perlu mikir ngejar ngejar angkutan umum. jadi, punya mobil sendiri, jelas lebih enak..tp buat yang ga punya mobil, tetep angkot dan abang ojek is the best..*curcol*😆

  4. angkutan umum di sini salah kaprah dan permainan politik dagang (jepang). di mana2 pake kereta, entah di atas atau di kolong. lagipula, transportasi publik harusnya full subsidi, bukan cari untung. di negara maju, transportasi umumnya selalu rugi, tapi itu wajar karena pelayanan.

  5. huehehehe…transport di jakarta makin hari makin ngeselin. mau naik busway, nunggunya amit-amit. lama bener! naik bus, macet! naik kendaraan pribadi, bensin mahal! jalan kaki, gak nyampe-nyampe! doh!

    *komen ra mutu*

  6. ada satu solusi, yang seharusnya bisa diterapkan mereka yang berkantong tebal, pemilik mobil-mobil yang memenuhi jakarta, yaitu folding bike. seriously, keren bgt ini sepeda.

  7. salah satu ciri khas negara berkembang adalah tingginya tingkat kepemilikan kendaraan pribadi. Karena motivasi kepemilikan tsb msih berada pada level tersier..

    di aussie (khususnya Canberra), org2 menggunakan boil pribadi ketika weekend. Kenapa? krn di samping fasilitas transport publik yg memadai…biaya parkir juga melambung tinggi. Perjam nya bisa sekian dollar..wah lumayan bgt kan..nah, pas weekend, justru baiay parkir gratis…

    makanya pas weekdays angkutan umum penuh…
    gimana supaya org2 pada mau pake angkutan umum ya mestinya fasilitasnya juga harus memanusiakan. yg adem ayem,,,layak pakai (gakk kyk kopata jogja yg mengerikan..hehe)…

  8. massive rapid transportation..MRT is a must, Memang biaya tinggi, tapi nggak ada solusi lain.
    Bussway , juga diperbanyak armadanya…
    Pajak kendaraan bermotor dibuat progresive ..

  9. Dit, masalah transportasi di Jakarta memang gak ada beresnya, yang jadi masalah adalah sarana kendaraan umum memang tak pernah cukup untuk memenuhi penduduk jakarta yang lebih dari 10 juta orang itu. Di negara2 maju fasilitas angkutan umum tak cuma bus way/jenis kendaraan berbahan bakar lainnya, tapi juga dilengkapi dengan underground yang sedikit banyak menyembunyikan jumlah orang dan kendaraanya di permukaan tanah, belum lagi ada sarana tram, yang juga tidak polusi, ditambah lagi dengan fasilitas untuk pedesteriannya. Masalahnya adalah seberapa besar pemda mau berkorban untuk menyediakan fasilitas itu semua, selama tidak ada usaha dari pemda, maka penduduk jakarta akan mengusahakan sendiri sarana transportasinya, yaitu dengan berkendaraan pribadi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s