bus sekolah


Ingatkah kau kawan pada proyek Bus Sekolah yang diadakan Dinas Perhubungan DKI Jakarta lebih dari setahun yang lalu? Berikut sedikit kliping yang saya kumpulkan tentang kabar Bus Sekolah DKI (dulu ada blognya lho).

Pertengahan Juli 2007 yang lalu, 37 bus dilepas oleh Pemda DKI Jakarta untuk melintasi empat trayek utama dan dua penghubung. Trayek utamanya adalah Lapangan Banteng-Kemayoran, Tanjung Priok-Pulogadung, Kampung Melayu-Taman Mini Indonesia Indah (TMII), serta Pasar Minggu-Kawasan CSW Kebayoran Baru. Sementara dua rute penghubung yaitu Cawang-Grogol dan Cawang-Plumpang. Sejak Januari 2008, berarti genap sebelas bulan bus sekolah tidak lagi berjalan dan kabarnya diparkir begitu saja di Pool Bus TransJakarta.

bus-sekolah

Kabarnya, proyek ini mengalami keterlambatan pencairan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI tahun 2008 sehingga berhenti karena ketiadaan dana operasional. Menurut Sekretaris Komisi B DKI Jakarta Nurmansyah Lubis, bus sekolah ini tidak beroperasi karena pihak Pemprov DKI terlambat menerbitkan surat penyediaan dana (SPD) atau surat keterangan otoritas (SKO). SPD atau SKO ini merupakan surat permohonan penyediaan dana sebelum memulai suatu kegiatan. Sebuah perkara yang sungguh ringan, tapi tidak dikerjakan dengan serius oleh Pemprov DKI.

Pada 27/2/2008, Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta bilang, “Saya sudah perintahkan ke Kepala Dinasnya agar bus sekolah dioperasikan kembali.” Hari yang sama, Nurrachman, Kepala Dishub DKI Jakarta,  bilang, “Saya siap untuk mengoperasikan, tetapi saya harus mengikuti aturan yang ada. Sistem kontrak pelelangan operator bus ini dibayar terlebih dahulu, baru dioperasikan. Sehingga ketika tidak ada anggaran, maka bus sekolah terpaksa dikandangkan.”

Nah, Sihol Sijabat, Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) Dishub DKI Jakarta, pada 7 Agustus 2008 menambahkan alasan, “Saat ini masih dalam tahap proses lelang operasional operator. Lelang terlambat karena terjadi perubahan tarif per kilometer menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak. Sebelum kenaikan BBM, harga per kilometer adalah Rp 4.100. Tapi, setelah bahan bakar naik, terjadi penyesuaian tarif menjadi Rp 4.700 per km.

23 November 2008, Sihol kembali menambahkan, “Kami (sedang) berusaha memilih perusahaan yang konsisten memberikan pelayanan publik di bidang transportasi ini.

Perusahaan operator kabarnya dipilih berdasarkan rekam jejak, penawaran harga, dan kelengkapan administrasi. Tak hanya itu, pihak Dishub juga akan memilih perusahaan mana yang cara pengelolaan busnya lebih baik. Pempov DKI kabarnya akan menyiapkan dana untuk kontrak selama enam bulan (kok cuma 6 bln ya?) sebesar Rp4 miliar yang akan digunakan untuk biaya bahan bakar, gaji sopir, pemeliharaan, konsumsi.

*) note:  tulisan dikumpulkan dari berbagai sumber.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

6 thoughts on “bus sekolah”

  1. jah, yg bener2 buat publik luas macam tranjakarta aja gak terawat, apa lagi yang dikhususkan anak sekolahan ini…

    jadi gitu toh ceritanya, pantesan gak pernah keliatana lagi itu bis2

  2. lagi-lagi DKI JAKARTA berulah… org2 yg memimpin jkt tidak ada yg berkompeten… cuma bernafsu jd penguasa yg menghisap darah rakyat…

  3. Wah, sebenarnya konsep bagus… tapi kenapa eh kenapa… selalu saja terbengkelai seperti itu…

    Sepertinya Bangsa ini hanya suka untuk memiliki hal-hal baru… tetapi tidak suka untuk merawatnya…

    Tanya Kenapa?

    Kenapa Tanya?

    Salam dari saya… hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s