koin dan kesempatan


Kawan-kawan, mungkin kita sama-sama mengenal istilah CSR (Corporate Social Responsibility). Wikipedia mendefinisikan CSR sebagai “a concept whereby organizations consider the interests of society by taking responsibility for the impact of their activities on customers, suppliers, employees, shareholders, communities and other stakeholders, as well as the environment”. Saat ini, hampir semua perusahaan-perusahaan di level lokal dan global membentuk sebuah divisi yang bertugas khusus untuk melaksanakan program terkait.

Program-program CSR bisa dilakukan melalui berbagai hal, mulai dari penanaman pohon di lingkungan perusahaan hingga pemberian beasiswa pendidikan. Pemberian pelayanan kesehatan gratis hingga pembangunan sarana infrastruktur. Secara umum, program CSR (paling tidak) berfungsi untuk ‘membayar’ tanggung jawab sosial kepada lingkungan dan mengingatkan ke masyarakat awam atau publik menyoal eksistensi mereka. Secara filosofis, CSR bertujuan untuk mencari titik keadilan sosial dalam lingkungan dimana korporasi berada.

Sekarang anggaplah para blogger beserta komunitasnya sebagai sebuah organisasi yang besar walaupun bentuknya abstrak, maya. Saya sebut abstrak karena tidak ada yang mengikat diantara blogger yang satu dengan yang lain. Pun begitu, sifat yang abstrak tadi tak mengurangi dan menghalangi kesempatan blogger-blogger untuk berbuat sesuatu, dalam konteks CSR. Beberapa minggu yang lalu, seorang teman yang baik hatinya merencanakan sebuah program sosial blogger melalui pengumpulan koin-koin (recehan) untuk ditukarkan dengan sebuah kesempatan mengenyam pendidikan bagi mereka yang kurang beruntung. Hanny, teman saya ini, berkolaborasi bersama temannya untuk membuat sebuah blog bernama Coin A Chance.

bannercoin4251

Pada dasarnya yang dilakukan cukup sederhana. Para coiners (sebutan untuk mereka yang ingin ikut serta) mengumpulkan keping demi keping koin yang mereka miliki. Koin-koin ini mungkin saja terserak di sudut-sudut rumah. Teronggok begitu saja, kadang sampai berdebu, bahkan ikut tersapu. Buat mereka-mereka yang ‘mampu’, mungkin koin-koin ini tidak berharga. Namun untuk mereka yang kurang beruntung? Koin-koin yang bersama-sama dikumpulkan mungkin akan sangat bermanfaat. Tidak main-main, bisa mengangkat harkat martabat!

Diawal tulisan tadi, saya sempat membahas soal CSR. Sekarang bolehlah kita berkenalan dengan teman baru kita, panggil dia PSR (Personal Social Responsibility). Bagi saya, PSR merupakan jalan alternatif untuk mencapai keadilan sosial. Mungkin terlalu jauh ya, tapi tidak ada salahnya kan bermimpi tentangnya. PSR sangat bergantung pada individu-individu yang hidup didalam sebuah lingkungan sosial. Seperti juga CSR, PSR bisa dilakukan dengan berbagai cara, besar dan kecilnya yang dilakukan pun tidak menjadi masalah. Kadang apa yang dilakukan pun tidak terlalu penting, karena yang terpenting pada akhirnya adalah semangat saling berbagi.

Semangat berbagi yang sama pernah ada di zaman Pak Harto dulu, disebutnya sebagai Kesetiakawanan Sosial. Dulu, setiap tanggal 23 Desember dirayakanlah Hari Kesetiakawanan Sosial.

Saya ingin membagi sebuah cerita tentang seorang tukang ojek di Pasar Taman Puring. Namanya Husin, suami dari seorang istri dan bapak dari dua orang anak. Perjumpaan kami diawali ketika saya kelelahan dan lebih memilih untuk menumpang ojek daripada angkot. Dia bertanya pada saya, “Biasanya berapa bang emang kalo ke rumahnye?”. Saya menjawab dengan harga terendah, “Lima belas rebu, bang!”. Lalu saya takjub mendengar Husin bereaksi terhadap jawaban saya, “Sip, berangkat. Gimana biasanya aja dah, kagak usah tawar-tawaran.” Perjalanan kami dimulai.

Selang beberapa menit, ditengah perjalanan Husin meminta izin untuk menepikan kendaraan. “Bentar ya bang, ane mau bayar zakat ya…”, ucap Husin. Dalam genggaman tangannya beberapa lembar uang tergulung. Gulungan tadi diserahkannya pada seorang tukang parkir di depan sebuah apotik. Tukang parkir ini memiliki tubuh yang kurang sempurna –maaf-, jalannya terseok ke kanan dan ke kiri akibat polio yang mendera kakinya, badannya bungkuk dengan mata yang agak juling. Bapak tukang parkir tersenyum bahagia, senyuman yang sama seperti ketika seseorang mendadak menerima hadiah undian. Husin membalas dengan senyuman yang tulus dan tatapan mata benderang serupa bintang. Saya sedang menumpang malaikat yang menjelma sebagai tukang ojek, pikir saya.

Saya merenteng pertanyaan pada Husin, “Itu zakat apa bang? Bapak tadi itu keluarga abang? Apa tetangga abang? Emang abang tau dia berhak apa enggak?”.

Husin menjawab perlahan seperti da’i yang sedang menasehati muridnya, “Saya orang Islam. Dalam Islam, kita kenal yang namanya zakat penghasilan atawa maal. Saya yang cuman tukang ojek, penghasilannya gak nentu tiap harinya bang. Saya kumpulin duit saya kalo lagi ‘ada’. Yang penting kewajiban buat nafkahin keluarge, sama ngasih duit jajan anak ude kepenuin. Nah kalo udah gitu tu, baru dah duit bisa dibagi bang. Dibersiin kalo kata ustad. Emang si gak nentu, kadang baru bisa mbagi seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Yang ente perlu tau ni ye bang, abis ngebagi zakat yang 2,5% ntu, hati rasanya adem bang, pikiran tenang, tidur juga nyenyak. Walopun misalnya seharian ane narik cuma dapet lima belas rebu. Rasanye ane masi beruntung bisa dapet duit segitu bang. Banyak yang lebih miskin dari kite. Pan yang terpenting bang, kaya hatinye. Ya gak bang?

Saya terenyuh mendengar jawaban Husin malam itu. Dia sudah dua tahun lebih berusaha membagi penghasilannya kepada mereka yang kurang mampu. Ada dua orang yang ia bantu secara rutin. Kadang ia mengajak teman-teman sesama pengojek untuk bantingan (patungan) memberikan sumbangan. Husin bercerita kadang ada temannya yang menolak memberikan bantingan sembari beralasan ‘kite nyang kerja, ngapa mereka nyang dapet, Sin’. Husin maklum dengan jawaban itu. ”Yang namanya manusia, kadang susah sadarnye…,” gumam Husin.

Kawan, apa yang dilakukan Hanny dan Bang Husin merupakan salah satu contoh dari Personal Social Responsibility dan implementasi dari istilah Kesetiakawanan Sosial. Hanny yang kabarnya berduit meteran dan bekerja di salah satu perusahaan komunikasi punya kesadaran untuk berbagi. Begitu juga Bang Husin yang hanya tukang ojek di Pasar Taman Puring. Keduanya memang tidak saling mengenal, tapi berbagi ide dan semangat yang sama untuk membantu mereka yang kurang beruntung.

Kawan, mereka bisa, kenapa kita tidak?  Bergabunglah bersama Hanny dan kawan-kawan sebagai pengumpul koin di sini.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

3 thoughts on “koin dan kesempatan”

  1. adiiiiittt *peluk-peluk adit* makasih tulisannya🙂 semoga semua yang ditulis di atas itu menjadi doa yang benar-benar bisa terwujud dengan baik di 2009 (*terutama soal meteran*) wakakakak. thanks a lot, dit! pemikiran-pemikiranmu itu memang suka mengejutkan!😀 sukses di 2009 ya, dit… dan awet-awetlah selalu hehehe.

  2. Wah, bagus banget ceritanya.

    Untuk mahasiswa, kita juga sering ngumpulin koin. Dimasukin ke celengan. Kalo lagi, ada teman yang butuh, ato lagi ke habisan duit, kita manfaatkan celengan itu.

    Ya, mungkin kita juga berbagi, sesama teman dulu aja deh. Tapi, kita coba untuk berbagi ke sesama yang lebih membutuhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s