Politik Makpret


Politik..eh Politisi (kata @ndorokakung politisinya yang gak mutu) sebulan ini menjadi komoditas..eh tontonan paling tak bermutu, benang kusut yang terjadi pada masa koalisi ternyata hanya setarik garis kepentingan, dan..umm..’persepsi’ (seperti kata Suryadharma Ali tempo hari-red).

Apa kepentingannya? Bangsa? Atau jatah kursi di Kabinet? Atau Departemen/Kementerian  yang paling basah?   Tergantung Partai banyak diisi teknokrat/industrialis/pedagang akan menentukan siapa dapat apa. Karenanya pula, Suryadharma lebih senang menari bersama PDI-P, jangan-jangan setelah posisi di Departemen Koperasi dan UKM, beliau dijanjikan posisi Meneg BUMN oleh PDIP? Jangan-jangan. Jangan-jangan pula, Bachtiar Chamsyah dijanjikan tetap di posisi Menteri Sosial atau malahan Menkokesra yang lebih basah oleh PD.

Untuk Partai, mungkin Departemen/Kementerian bisa menjadi sapi peras, demi pembiayaan konstituen di daerah, para pahlawan tanpa tanda jasa yang berdarah-darah mengumpulkan massa agar supaya Kampanye terlihat ramai.

Ah, soal konstituen, saya punya cerita..

Sewaktu pemilihan legislatif, saya terkaget-kaget dibuatnya oleh orang-orang di kampung saya. “Lo milih ape, cing?“, sapa teman saya di mushola kampung. “Eits, rahasia..“, ucap saya sembari tersenyum penuh misteri. Halah.. Teman-teman yang lain ikut bertanya, “Et dah, milih ape tadi??“. “PKS..“, ucap saya pelan. Serentak mereka berkomentar satu sama lain, “Dulu gw milih PKS..skrg mah males..bla..bla..bla…” “Iya, PKS kan..bid’ah sudahlah…“. Saya tertawa cekikian. Seorang teman kembali bertanya, “Cing, lo emang ikut-ikutan kumpul sama anak-anak PKS?”. “Enggak, ngapain emang?“, saya balik bertanya.”Mereka tiap kali pengajian kan ngelarang kita sodaqoh, tahlilan buat yang udah meninggal, bla..bla..bla…“, sergap teman saya beribu alasan.

Saya kembali tertawa, “Jadi berkurang yak jatah tahunan lo dari Sodaqoh…“, tanya saya sembari menyindir. Teman saya tadi tidak meneruskan pembicaraan. “Lo pilih Demokrat aja kalo gitu, biar dapet BLT lagi..siapa tau kan..ada lagi kalo menang…“, lagi-lagi saya menyindir. Dasar mulut sendiri nyinyir, pikir saya dalam hati.

——

Ada cerita lainnya..

Hari itu Kampanye Akbar PDI-P, tetangga saya yang caleg DPRD melalui Ketua RT ,yang juga fans beratnya ,memanggil pemuda-pemudi harapan bangsa, yang entah kenapa lebih memilih jaga kontrakan dan ngojek ketimbang sekolah, untuk menghadiri acara tersebut. Di Gelora Bung Karno, bisik Ketua RT kepada perwakilan pemuda. “Ada uang bengsin sama rangsum buat anak-anak ntar..“, Ketua RT kembali berbisik. “Berape bang?“, tanya pemuda harapan bangsa yang matanya kini hijau seperti usianya yang belia. “Ade lah gocap (Rp 50.000,-) mah..“, bisik Ketua RT lagi. “Mane duitnye?“, tanya pemuda yang tiba-tiba ileran. “Nih … “, Ketua RT menggenggam dua buah amplop coklat, tanpa logo, tanpa wajah. “Eit..ceban (Rp 10.000,-) dulu yak buat panjer (uang muka), bakal beli bensin dulu. Sisanya ntar gampang…“, tegas Ketua RT melihat pemuda hendak meraih amplop.  “Ya elaaah..medit lo kaya arab!“, cela si pemuda. “Ya udah, ntar gw panggil anak-anak biar berangkat, gw siapin knalpot dulu biar berisik…“, ucap si pemuda setengah bersemangat.

“Reng..teng..teng..teng..treeenng..treeeng…”, suara motor bertalu-talu (gendaaang kali bertalu-talu!). Tet teret teret…Pasukan Bonek majuu jalaan!!

Sepulangnya kampanye, dengan perut lapar lagi keroncongan, masih berbaju merah marah meriah, perwakilan pemuda mendatangi rumah caleg. “Salamlekuum..“, teriak pemuda sembari mengetuk pintu. Seorang pembantu tergopoh-gopoh, “Nyari siapa bang?“. “Bapak ada?“, tanya si pemuda tak tau basa-basi. “Ada keperluan apa Bang?“, tanya si pembantu. “Mau ambil duit rangsum..“, tegas si pemuda. “Ohh, tadi Bapak pesan, duitnya dititipkan ke Ketua RT katanya…

“Jreng jreng jreeeeengg….”, suara gitar spanyol mengiringi aksi ‘banteng-banteng muda’ yang marah mendengar jawaban si pembantu.

Tergopoh-gopoh dengan hati yang panas seperti matahari siang itu, pemuda-pemudi mencari Ketua RT dari pangkalan ojek sampai kantor kelurahan. Dan ditemukanlah sang Ketua RT sedang bermain catur bersama tukang ojek di pangkalan ojek merah. “Bang, mana janji lo?“, tanya pemuda setengah berteriak. “Apaan? Kagak ada, yang dateng kagak rame, lo gagal ngejalanin tugas!“, tegas Ketua RT, masih asik memegang pion catur.

“Jreng jreeng jreeeeenggg….”, suara gitar kedua kali ini dengan sebuah kain merah melambai-lambai, memancing banteng marah.

Lo liat ya bang! PDI P kagak bakal menang di kampung kite! Pegang omongan gw!“, si pemuda kali ini berteriak sembari meludah dan menunjuk muka Ketua RT. Ketua RT tak bergidik, ah bahkan berfikir pun sepertinya tidak.

Kemana ya duit sisanya? Hehehe..Jangan tanya saya, Bapak tadi pesan, duitnya sudah dititipkan ke Ketua RT!

Sore, dihari pemilihan legislatif, sang caleg DPRD, duduk termangu. Feeling-nya buruk, tak lagi murah senyum, wajahnya kusut. Ia tak terpilih menjadi anggota legislatif DPRD.

———-

Lucu ya kelakuan orang-orang, gak caleg, gak ketua RT, gak anak-anak muda, sama saja. Politik dan Koalisi seperti kata Ketua Umum PPP, memerlukan kesamaan persepsi. Persepsi yang sama: dimana ada uang, disana disayang.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

13 thoughts on “Politik Makpret”

  1. Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
    Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
    TENTANG
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

    Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

    REFERENSI :

     Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
     Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s