Kembali ke Politik


Kembali ke Politik. Hari-hari belakangan ini media-media online sedang ramai dengan Kasus Ibu Prita vs. RS Omni Internasional. Lebih dari 80.000 orang memainkan jemarinya untuk bergabung dengan aplikasi Cause di Facebook yang meminta pembebasan Ibu Prita dari tahanan. Di saat-saat yang sama, di televisi berita tentang Manohara diputar berulang-ulang. Keduanya, menjadi public attention grabber. Mereka yang peduli pada Ibu Prita berasal dari kelas menengah yang biasanya menjadi motor penggerak perubahan. Sedang yang peduli pada Manohara, sama seperti mereka yang peduli pada infotainment dan berita seputar selebritas Indonesia, kelas bawah.

Manohara yang menghadapi sadomasochism dan kehilangan haknya untuk bersosialisasi secara normal (dengan orang tua dan lingkungan) karena terikat perkawinan dengan pangeran dari Kelantan, dan Ibu Prita yang kehilangan haknya untuk menyuarakan pendapat karena dianggap melanggar pasal-pasal karet dari UU ITE.

Mendengar kedua berita tersebut, terlebih mengenai Manohara, membuat kita menjadi miris. Ada yang salah dengan negeri ini, tetapi juga ada yang masih bisa kita banggakan.

Peranan media massa sedemikian hebatnya untuk mengangkat atau sebaliknya menenggelamkan sebuah berita. Tidak ada yang salah dengan hal itu, tetapi di kemudian hari ketika ada issue yang penting namun mendapatkan hanya sedikit exposure dari media massa, issue tersebut akan tenggelam dan tidak terbaca oleh publik. Ironis memang, tetapi begitulah keadaan yang sebenarnya. Lihat kasus Antasari Azhar yang sampai sekarang mengambang dan tak lagi menjadi pilihan headline di meja redaktur media massa. Apa kabar ia disana? Saya sendiri tidak tahu. Atau soal pengusutan kasus Sisminbakum yang melibatkan salah seorang Guru Besar Hukum di sebuah kampus negeri ternama. Apa kabar kasus tersebut? Saya juga tidak tahu.

Mungkin salah saya karena tidak menyempatkan diri membaca lebih banyak koran-koran yang setiap hari datang ke rumah. Tetapi, mungkin juga pilihan-pilihan berita yang sebenarnya penting ternyata menurut Redaktur tidak menjual. Ah, tahu apa saya …

Pergerakan masyarakat yang melek internet diantaranya blogger dan pengguna Facebook begitu membanggakan, dan harus diakui berpengaruh menggemakan tuntutan atas ketidakadilan. Masih sebatas itu memang. Mungkin beberapa hari ke depan, akan lebih membanggakan bila ada capres yang berani menjamin keadilan atas Ibu Prita. Daripada sekedar menjenguk dan mengatakan, “Kasus Ibu Prita adalah bagian dari akibat neoliberalisme … ” dan malah terlihat sangat sangat bodoh karenanya.

Kembali ke Politik, itu tema saya hari ini. Ya, pagi hari tadi, setibanya di kantor, seorang sahabat mendadak mengajak saya berdiskusi. Menentukan sikap, berdiri di belakang SBY atau JK. Obrolan panjang di pagi hari, ditemani sebatang rokok dan teh hangat. Saya masih belum bisa menentukan sikap saya sampai sore ini. Menjadi bagian dari tim penggalangan konstituen muda bagi SBY begitu menggiurkan, begitu juga menjadi tim siluman bagi JK.

Kalau Anda jadi saya, lebih percaya siapa? SBY atau JK?

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

5 thoughts on “Kembali ke Politik”

  1. mungkin OMNI waktu “menekan” mbak prita ndak ngitung kekuatan yang bisa digalang di internet. soal politik? kalo saya yang penting bukan mbok mega😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s