Bicara Kemandirian


Bicara soal memilih siapa yang akan saya dukung, akhirnya keputusannya sudah bulat. Saya memilih menjadi pendukung Pak Jusuf. Pun saya tidak terlalu menyukai Jenderal yang mendampingi Ketua Umum Partai Golkar tersebut. Karena issue-issue terkait pelanggaran HAM sebelum masa reformasi. Saya tidak terlalu mau ambil pusing. Saya yakin keduanya individu yang sama-sama memiliki integritas.

Bila memang lembaga peradilan kita bersungguh-sungguh untuk menuntaskan masalah pelanggaran HAM, sudah barang tentu dituntaskan sejak lama. Pun masalah ini diluruskan, tetap akan menjadi issue yang seksi untuk dimainkan sebagai salah satu komoditas dalam kampanye politik. Masalahnya sekarang yang terdengar di telinga awam (seperti saya) semua Jenderal yang maju menjadi Capres/Cawapres kala itu sedang menduduki jabatan-jabatan dalam struktur komando TNI. Hampir tidak mungkin bila hanya salah satu Jenderal saja yang dikenai sanksi/hukuman. Semua terlibat, karena berada dalam satu rantai komando.

Maka bila issue ini memang harus diungkap, ketiga Jenderal yang sedang beradu dalam Pilpres harus bersepakat dulu, mengambil tanggung jawab masa lalu bersama-sama. Ketimbang terlarut dalam saling tuding dan perdebatan tak lekang waktu di ranah publik.

Walaupun perdebatan semacam itu mungkin menguntungkan bagi penulis-penulis โ€˜buku putihโ€™ untuk menerbitkan sesuatu dan melakukan cross publishing, bila tidak ingin dikatakan saling copy-paste isi tulisan. Bila saatnya masyarakat bosan dan terdesak kebutuhan yang lebih melekat, pasti issue-issue ini teralihkan dengan sendirinya. Sama seperti kasus Manohara yang menurut Budi Suwarna, Kompas: melodramatis. Heran kan kenapa drama dan melankolisme laku keras di negeri ini?

Mungkin, karena Bangsa Indonesia punya kadar empati dan simpati yang tinggi? Lalu kemana kadar keduanya ketika berurusan dengan tetangga di lingkungan sekitar yang kekurangan secara ekonomi? Lupa? Atau jangan-jangan buat kita mereka kurang melodramatis? Hidupnya kurang sulit sehingga belum menyentuh rasa hati dan mengajak kita berfikir?

Kembali ke Jusuf Kalla. Mungkin ada pertanyaan: kenapa memilih berada dibarisannya? Hanya satu hal yang menjadi alasan saya. Dari ketiga pasang calon yang maju hanya Pak Jusuf yang berani mengajak kita kepada Kemandirian. Buat saya, itu hal yang paling penting untuk dieksplorasi lebih jauh. Ketimbang berdebat soal mana yang lebih baik antara prinsip neoliberalisme dengan ekonomi kerakyatan. Tak akan selesai, dan sekali lagi terlalu melodramatis. Nanti diujung perdebatan pasti seolah ada yang teraniaya, seolah menjadi korban dari black campaign. Ajang kampanye yang seharusnya diisi dengan unjuk kualitas malah berubah menjadi episode sinetron ala India.

Kemandirian harus dimulai dengan memberikan keteladanan, itu yang dikatakan Pak Jusuf suatu kali. Tanpa keteladanan tidak akan ada proses meniru di masyarakat. Usaha yang dilakukan beliau dalam mengangkat industri sepatu nasional merupakan salah satu contoh yang bagus. Tapi, ingat problem kita bukan hanya industri sepatu. Indonesia punya potensi pasar industri kreatif yang luas, demand begitu tinggi, tapi masih under supply. Kita punya Bandung dan Jogjakarta, anak-anak muda di dua kota tersebut begitu dinamis dan menjadi trend-setter. Mereka butuh dukungan yang nyata, bukan sekedar pidato yang menginspirasi.

Sekarang soal bagaimana kita, orang Indonesia, bisa mengoptimalkan fungsi, baik sebagai pelaku industri, konsumen, maupun pembuat kebijakan. Pertanyaan saya, apakah kita memiliki kemauan yang kuat untuk memajukan Indonesia?

Ah iya, pada dasarnya Indonesia dipimpin siapapun sama saja..karena sejauh yang saya tahu, Bappenas sudah memiliki Rencana Pembangunan Jangka Panjang (untuk 25 tahun kalau saya tidak salah). Jadi apa yang dikoar2kan para Capres/Cawapres sebagai program sebetulnya sudah memiliki acuan dasar. Salah bila Ibu Mega mengatakan bahwa negara ini seolah tidak punya arah, karena tidak punya GBHN.

Jadi mau lebih cepat lebih baik, mau melanjutkan, asal tidak sekedar slogan ekonomi kerakyatan, ndak masalah..hahaha

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

6 thoughts on “Bicara Kemandirian”

  1. “Jadi mau lebih cepat lebih baik, mau melanjutkan, asal tidak sekedar slogan ekonomi kerakyatan, ndak masalah..hahaha”

    setuju! haha๐Ÿ˜€

  2. ahakss, yang milih JK..

    sebenernya sih milih siapa juga sama aja ya, punya kelebihan dan kekurangan masing2
    ada yang anti China, ada yang ga lulus SMA, ada yang gabisa berpolitik,
    sama yah semuanya.

    saya sendiri barusan milih bukan karena hati,
    tapi karena saran dari dosen saya nan ganteng yan susah sekali untuk ditolak,
    maka jadilah saya memilih Jaiko,
    hihihi..

    cheers,
    manda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s