Nggumun


Media, tradisional dan baru, begitu mempesona kekuatannya, menggiring berita, membentuk opini, mengajak diskusi bebas tak pernah tuntas.

Hari ini berita tentang status tersangka penyalahgunaan wewenang, esok harinya sudah berganti berita tewas terbunuhnya gembong teroris yang kabarnya no.1 di Asia Tenggara. Berita lama kemudian mendadak usang, tenggelam. Isu terorisme lebih sexy, katanya. Sexy? Ratingnya tinggi, yah lebih laku dijual lah.

Kasihan ya mereka yang jadi tersangka penyalahgunaan wewenang, betul-betul awam soal ini, mau coba dirasionalkan ya tetap saja ndak masuk kepala ini. Berita soal mereka ndak begitu meledak karena kalah sexy. Padahal kalau beritanya meledak, dan orang-orang menyaksikannya berhari-hari. Minimal bisa jadi bahan diskusi di warung kopi.

Tapi, ternyata masih ada yang lebih kasihan lagi, mereka yang jadi korban bencana banjir bandang di Mandailing Natal, Sumatera Utara. Sudah sulit dijangkau bantuan, sepertinya tak terjangkau media pula. Mereka menunggu saja. Entah sampai kapan. Partai kirim bantuan? Wah, mungkin tunggu lima tahun lagi, udah lewat masa turun ke lapangan. Lihat saja Gempa terakhir di Tasikmalaya, apa partai turun? Itu saja masih di Jawa, bagaimana di Sumatera Utara?

Rasanya sudah berat ya, ternyata..lho, ternyata masih ada yang lebih menyedihkan lagi. Di ranah media baru, Twitter.com, baru saja diramaikan dengan kisah Janji Joko, tentang sutradara Joko Anwar yang membuktikan tulisannya di akun twitternya sendiri untuk bertelanjang di Circle K, Bintaro Jaya setelah mendapat 5000 follower. Lho, dimana menyedihkannya? Ternyata, banyak yang terhibur oleh aksi ini.

Mungkin teman bertanya, apa hati ini terhibur melihat tindakan yang dilakukan Joko? Jujur saja, tidak sama sekali. Saya malu. Untuk kali pertama,

SAYA MALU JADI ORANG INDONESIA.

Kita betul-betul tidak butuh tontonan seperti ini. KITA BETUL-BETUL TIDAK BUTUH SAMPAH!!!!

AGHHHH!!!!

Negeri ini sedang butuh teladan, karena masyarakat butuh belajar secara sosial. Masyarakat belajar dari apa yang dilihatnya, masyarakat merekam apapun yang ditangkap oleh setiap sel dalam memori visual di kepalanya. Apa yang dipelajari masyarakat dari menonton Joko? Untuk mereka yang berfikir, mungkin mengambil hikmah, bahwa menjadi politisi harus memegang janjinya, seperti yang ditulis Joko di akun twitternya. Untuk yang tidak berfikir, mungkin kemudian hanya tertawa-tawa, entah dimana sisi lucunya. Atau jangan-jangan malah ditiru?!

Seandainya Joko melakukan itu dengan alasan memberi contoh pada politisi untuk memegang janjinya, cara yang dilakukannya mungkin jalan yang paling rendah. Lunas, membayar janji di depan publik untuk bertelanjang.

AGHHHH!!!

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

3 thoughts on “Nggumun”

  1. tenang, dit…negeri ini sedang mencari jati diri…entah sampai kapan, yg penting jangan kita sebagai individu yang ikutan begitu๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s