racau #3: histeria


Baru semalam racauan saya soal rasa takut dan prinsip kenal diri ditulis. Dan hari ini, dua kejadian yang memprihatinkan terjadi di dua mall besar Jakarta: siang hari, seorang perempuan kabarnya bunuh diri dari lantai 5 di Grand Indonesia; selepas maghrib, seorang laki-laki dikabarkan berlari sebelum kemudian lompat dari lantai 5 di Senayan City.

Bunuh diri bisa terjadi karena beberapa alasan, termasuk depresi, putus asa, tekanan emosional, sakit fisik, rasa malu, rasa bersalah, kecemasan, kesulitan keuangan, atau situasi yang tidak diinginkan lainnya. Nah, sejauh yang saya tahu, bunuh diri merupakan sebuah fenomena yang dapat digolongkan ke dalam “histeria”.

Ingat kasus kesurupan massal yang beberapa kali terjadi di sejumlah sekolah, lagi-lagi sejauh yang saya tahu itu merupakan contoh dari “histeria”. Ada rasa takut yang seolah ditularkan dari sebuah kejadian, kadang berlangsung sangat cepat, kadang juga bisa memakan waktu panjang: bahkan tahunan. Bergantung kepada kontrol emosi dan lingkungan pergaulan dari individu yang mengalaminya.

Histeria, menggambarkan keadaan pikiran yang tidak dapat diatur karena rasa takut atau sebagai ekses dari emosi. Rasa takut kerap disebabkan oleh kejadian-kejadian di masa lalu seseorang yang melibatkan jenis konflik yang parah; keadaan dimana histeria terjadi bisa disebut sebagai “histeris”. Orang yang “histeris” kerap kehilangan kontrol diri karena sangat ketakutan. (via wikipedia)

Kadang manusia tidak sadar, dalam keadaan emosi tertentu, mendapatkan pengaruh yang begitu besarย  melalui media tertentu untuk melakukan hal yang sama. Apa yang baru saja terjadi di Jakarta hari ini, bisa jadi merupakan salah satu contoh kasus yang patut di cermati dokter jiwa.

Indonesia, mungkin masih beruntung, karena kasus-kasus bunuh diri tidak se-massive seperti yang terjadi di Jepang. Bayangkan, hanya karena depresi atas hasil ujian seorang siswa di Jepang bisa melakukan bunuh diri. Belakangan karena krisis global, menurut Media Indonesia angka bunuh diri di Jepang per April 2009ย  bahkan mencapai 100 orang per hari.

Solusi yang paling sederhana untuk mengurangi hal ini salah satunya dengan meningkatkan kepedulian padaย  keluarga, sahabat, dan teman. Seorang psikiater biasanya mengobati gangguan kejiwaan pasiennya dengan mengajaknya untuk membagi pengalaman yang dialaminya, salah satu caranya dengan projective technique. Disadari atau tidak, proses ketika seseorang bercerita/berbagi mengenai apa yang sedang dialaminya melupakan salah satu metode pelepasan tekanan/stress.

Nah, sudahkah anda melepas stress dengan bercerita hari ini?

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

4 thoughts on “racau #3: histeria”

  1. I already released my stress yesterday… Buktinya gue crita ke lo soal kerjaan gue kann? hahaha.. *ketawa miris* Tapi emang bercerita itu membantu melepaskan stres koq. At least mengurangi lah….๐Ÿ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s