9desember


People’s power. Vox populi vox dei. Gerakan Sosial.

Istilah-istilah ini kembali mengisi frekuensi pendengaran kita beberapa minggu terakhir. Kabarnya, 9 Desember besok akan ada gerakan sosial yang dimotori berbagai elemen masyarakat. Jika anda bertanya, siapa yang memperluas kabar ini? Presiden SBY mungkin salah satu yang melemparkan ‘ketakutannya’ di muka publik ketika berhadapan dengan wartawan. Ketakutan atas adanya gerakan sosial yang massive, atau atas penggulingan kekuasaan yang mungkin diinginkan para penunggang angin.

Siapa yang mungkin akan bergerak 9 desember nanti? Salah satu yang belakangan mencuri perhatian adalah Kompak (Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi) yang diisi pengamat seperti Fadjroel Rachman, Effendy Gazali, dan Yudi Latif. Semangat anti-korupsi yang diusungnya bolehlah kita acungi jempol, bila melihat aksi damai Indonesia Sehat yang dilakukan di Bunderan HI, beberapa minggu lalu.

Tapi kemudian jempol saya terpaksa saya turunkan, karena ternyata mereka nanggap Trio Macan untuk menghibur massa aksi yang tak begitu besar. Maaf, bukan saya tidak menaruh hormat pada Trio Macan atau musik dangdut, tapi saya rasa mereka pun hanya digunakan sebagai ‘pemanis’ aksi saja. Karena pakaian ketat dan rambut warna-warni yang digunakan yang saya rasa berlebihan merusak seisi acara. Terlebih mereka duduk di depan saat pembacaan inti aksi.  Aduh, mbak..mbak..

Lalu juga kabarnya ada elemen-elemen mahasiswa, seperti HMI dan GMNI yang juga ingin mencurahkan isi hatinya soal negara, menunjukkan perasaannya sebagai anak bangsa (eh, maksudnya ya sederhana unjuk rasa!).

Siapa penunggang angin? Ah, jangan tanyakan pada saya, karena saya tidak punya jawabannya. Saya hanya bisa menebak-nebak, siapa di belakang siapa, dengan kepentingan apa. Satu yang pasti, bukan orang yang punya kepentingan ekonomi. Terlalu riskan bagi mereka yang memiliki kepentingan ekonomi untuk merusak makro ekonomi yang sedang memperbaiki diri dengan mendukung aksi. Kecuali jika memang mau bikin pasar ambruk, lalu bermain-main disana. Yah, paling-paling kalaupun ada kepentingan ekonomi, hanya untuk sesaat. Dan kita, tidak mungkin diuntungkan.

Aih, bagaimana dengan soal penggulingan kekuasaan? Kalau kata orang Afro-Amerika di AS, “Penggulingan kekuasaan my ass!”

Ingatan yang mengerikan soal peristiwa 1998 beterbangan, seperti gelembung-gelembung kecil yang ditiup seorang anak kecil yg bermain air sabun. Memang mengerikan kalau yang dibayangkan sebesar 1998 lalu, sudah satu dekade lewat. Mengingat peristiwa itu, di kepala saya masih berbayang ban-ban yang terbakar sepanjang jalan yang saya lewati dari sekolah ke rumah, wajah ayah saya yang gusar soal keselamatan anaknya. Lalu teringat kisah teman-teman yang kebetulan berdarah Tionghoa tentang kakaknya yang diperkosa beramai-ramai, ayahnya yang diseret sampai mati, tokonya yang dijarah, rumahnya yang dibakar. Ah, banyak kisah lain yang lebih mengerikan, yang rasa-rasanya tidak lagi perlu kita alami.

Indonesia. Indonesia. Indonesia. Biarkan saya memejamkan mata dan merapal mantra dulu.

Di tahun 1998, perut rakyat lapar ingin mencerna makanan, lidah mereka lapar bicara sesukanya, pikiran mereka lapar ingin mengutarakan berpendapat, hati nurani mereka lapar ingin berkelompok. Mereka lapar, mereka juga lelah dibungkam 32 tahun. Kini, setelah 10 tahun lebih berusaha bangkit kembali, setelah 5 tahun mencoba berdiri dan berlari. Apakah Ibu Pertiwi akan menggerakkan anak-anaknya yang jauh dari lapar?

Vox populi vox dei. Suara rakyat suara Tuhan. Perasaan saya bilang Tuhan akan memilih diam saja besok. Tidak akan berteriak, apalagi marah. Rakyatnya toh sedang sibuk bekerja mencari nafkah. Jangan-jangan rakyat malah marah karena aksi besok mungkin akan buat jalanan macet parah. Aduh kalimatnya ber-rima.

Paling-paling, pun ada yang esok bergerak, massa seukuran penduduk kecamatan, tak lebih tak kurang. Itu pun tidak sedang lapar, yah lapar sih, atas kekuasaan.

Oiya, izinkan saya untuk menambahkan beberapa saran ke dalam tulisan ini, kalau besok memang ada yang mau demonstrasi:

Gunakan saja area Monas untuk berunjuk rasa, kan luas sekali. Lalu, jangan pake bis lah ke Monasnya (kalau memang mau di Monas), konvoi bisnya pasti bikin macet. Coba pake kendaraan lain, yang kecenderungan ugal-ugalan nya rendah. Jalan kaki kek, pake Sepeda kek. Kalo gitu kan niat baik kalian tidak mengganggu ketertiban umum, dan hak orang lain.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

10 thoughts on “9desember”

  1. Bener Dit , knapa nggak di MONAS yah demonya? yang areanya luas.Kalau di Thailand sekarang ada tempat khusus demoloh, disekitar jalan gedung DPR, jadi nggak terlalu menggangu lalu lintas jalan utama., juga demonya diem ,nggak jalan2 kemana-kemari.

  2. Oy dit,,

    sedih juga kalau dugaan lo bener, besok yang bergerak haus akan kekuasaan. mungkin gw ga akan terlalu naif untuk melihat besok 9/12 menjadi hari bersejarah pergerakan rakyat secara bulat melawan korupsi. Kalau begitu yang terjadi gw rasa kita akan kehilangan momentum yang “too good to be true” melawan korupsi.

    Menurut gw juga besok semoga (moga – moga Ya Allah) ngga akan seperti 98, karena kondisi ekonomi kita tidak dalam kondisi penuh tekanan. Meskipun memang ada yg coba melakukan penetrasi atas situasi kondusif ibukota dgn sabotase gardu PLN, tapi toh rakyat masih juga sabar, meski kegiatan mencari nafkahnya terganggu. Rakyat kan hanya ingin hidupnya sejahtera, as simple is that. Tapi kesejahteraan akan sulit kalau tidak ada keadilan (bukan promo partai) haha! Yah, besok cuma salah satu wujud rakyat yang ingin cari keadilan. Meskipun cuma sekecamatan, tapi kalau perubahan yang didambakan tercipta kan kita juga senang ‘dit.

    hmm, yah,, moga2 aja besok ngga semakin macet ditambah dengan deretan kendaraan protokoler dari menteri dan pejabat negara lainnya.

    Kapan niyh ke jogja lagi, ngga pernah ngabarin lo!

  3. Biasanya selalu ada dua sisi cara pandang.
    Terakhir ini setelah tersiarkan asas demokrasi berkembang jadi tiga sisi.
    . sisi penguasa
    . sisi calon penguasa yg sbenernya masih dikuasai (orang ga punya pendirian)
    . sisi yg dikuasai

    Bila masih merasa bagian dari bangsa ini, harusnya tetap dalam dua sisi, yaitu Ya atau Tidak, cara boleh sesuai kemampuan.
    Justru yg harus lebih diwaspadai adalah mreka yg ada di tengah (dua sisi).
    Smoga tulisan ini tidak berarah kesitu.
    ^^

  4. mudah2an banyak orang Indonesia yg seperti km dit…lebih tau diri…daripada unjuk rasa mendingan forward blog biar bisa d komentarin orang lain…g bikin macet sama sekali tp kmgknan d marahin sama bos jg tetap ada soalnya kerja kok malah baca blog hahahaha…no comment buat Indonesia lah…unjuk rasanya tu wrong place in the wrong time..kalo mau berbenah lebih baik dari diri sendiri dulu..udah bener ato belon..eh ak kok malah jadi marah2 d sini…thanks udah d forward blognya🙂

  5. hmmm dari dulu negara kita memang kerjaanya itu mulu koq. mau dari kerajaan majapait juga penggulingan kekuasaan yang paling efektif ya dari dalm kerajaan bukan diserang ma kerajaan lain. dan mada akhirnya abis di gulirkan bikin kerajaan baru

    kaya indonesia sekarang abis ganti kekuasaan gantii sistem, sistemnya cuman keliatan baik sebentar ujung ujungnya bakal keliatan ancur trus digulingin lagi deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s