cerita dari salemba


Mengomentari catatan saya tentang 9desember, seorang kawan lalu bercerita cukup panjang mengenai seorang Ibu yang berdagang minuman botol di tengah kampus salemba. Saya gemetar membacanya. Lalu nafas saya sesak dan mata saya basah.

—–

Ya ya ya.. Demo demo demo.. Akhirnya muncul pertanyaan mendasar, menguntungkan siapa?

Wacana mengenai kerusuhan, seakan malah memaksa masyarakat mengingat luka 1998. Luka yang mungkin kita sebut sebagai reformasi, tapi bagi sebagian orang lain adalah mimpi buruk. Bagi mereka yang dirampas hartanya, bagi mereka yang direnggut keperawanannya, bagi mereka yang tidak bisa mencari nafkah dihari itu, sedangkan ia harus pulang membawa nasi untuk keluarganya. Inikah reformasi yang dibanggakan Indonesia??

Gw semalem secara gak sengaja ngobrol sama Ibu penjual air mineral di kampus, Dit (pasti lo sering ngeliat juga). Dengan ramahnya beliau menyapa mahasiswa-mahasiswa yang pulang kuliah dan menawarkan air minum dagangannya: “ayo dek yang haus…”, “mampir dulu dek minum…”, “baru pulang dek, gak haus?”. Gw sebenernya udah lama juga liat beliau, dari pertama kali keluar kelas sampe sekarang, perawakannya dan sapaannya yang khas bikin gw mudah mengingatnya. Dari jauh sambil duduk di halaman kampus, gw merhatiin beliau dengan tulus menjajakan dagangannya, meski sering juga ada mahasiswa yang melengos pergi karena buru-buru. Tapi senyum selalu ada dibibirnya.

Nah, semalem pas banget gw duduk di halaman itu sambil nunggu seseorang. Gak gitu lama datanglah Ibu itu, karena mungkin kita saling mengenal meski cuma dari tatap muka, Ibu itu ngelempar senyum ke gw, bertanya dan menawarkan minuman, “Nunggu siapa, mas? Gak minum dulu, mas…“. Karena gw gak gitu haus, gw tolaklah dengan sopan. Malem itu,  gw ngeliat si Ibu nggak make sandal. Dari kejauhan Gw denger Ibu itu menawarkan dagangannya ke orang lain “Mas minum mas, sendal Ibu
putus mas diluar…”

(entah kenapa gw mendengar kata-kata Ibu itu tidak dengan maksud ingin meminta sendalnya diganti, tapi hanya ingin mencurahkan keluhannya ke orang lain)

Denger begitu gw secara refleks langsung mendekati dan belilah satu botol air mineral. Dan obrolan pun dimulai …

Intinya Ibu itu menjelaskan kalo beliau takut seandainya besok (hari ini.red) terjadi kerusuhan kayak tahun 1998. Ibu hanya takut tidak bisa jualan dan gak bisa membiayai anaknya sekolah. Lalu gw kaget ketika Ibu itu bilang bahwa anaknya yang sekarang duduk di kelas 2 SMK di kawasan salemba terancam nggak bisa ikut ujian gara-gara belom lunas bayar uang ujian sebesar Rp 150,000.

Ibu itu baru membayar Rp 80,000 dari hasil menjual perabotan rumah tangganya dan cincin serta anting yang itu juga bukan dari emas, “perabotan rumah udah ludes kejual mas, ini 15 ribu juga gak laku mas, bingung Ibu mau jual apa lagi” sambil menunjuk ke 2 cincin dan anting miliknya yang masih tersisa. “belum lagi sekarang udah mau libur gini, dagangan sepi“, Ibu sampe bosen bolak balik ke sekolah buat tanda tangan perpanjangan, ini udah yang ketiga, dan besok pagi terakhir, ini udah hampir jam 12 dan Ibu belom dapet juga 70 rIbunya, pusing Ibu mas” cerita si Ibu sambil tetap tersenyum, tapi gw ngeliat tatapan berat sang Ibu dengan mata sedikit berlinang pun beliau berusaha tetap menahan air itu jatuh. “Ibu udah bilang kalo saya gak bisa bayar, udah dibalikin ajah uang pangkal anak saya, keluar ajah gak papah anak saya

Tapi ama sekolahan gak boleh, mas“, lanjut Ibu. Gw cukup surprise dengan kata-katanya, dan lagi-lagi pendidikan kita tidak berpihak pada rakyat yang memang betul-betul banting tulang untuk mendapatkan uang untuk bayar sekolah.

Jadi, buat apa kita teriak-teriak nuntut ini, nuntut itu, selesaikan kasus Century lah, berantas korupsi lah, kalo orang disekitar kita untuk sekolah susah, buat makan aja susah. Coba dipikir dengan bijak siapa lagi yang mau dijadikan korban dari sebuah kekuasaan yang “keji”?

Buat apa bikin-bikin spanduk menentang pemerintah, coba dipikir berapa harga spanduk? Dengan mudah kita ngeluarin duit untuk itu, sedang disamping orang masih butuh uang itu untuk makan.

Pikir matang-matang kalo pengen demo, jangan malah jadi “perang urat syaraf” kayak tukang bemo. Atau usaha untuk mendapatkan kursi dan akhirnya senang dengan dasi dan perut gendutnya. Coba perhatikan berapa banyak aktivis yang dulunya berkoar-koar turun kejalan sekarang duduk manis di gedung yang katanya terhormat dengan pakaian serba trendy dan mobil mewah.

Gw, cuma pengen berbagi cerita, bukan maksud provokatif. Hehe..

Salam,

—–

ps: tulisan diatas sudah saya edit seperlunya, agar lebih mudah terbaca.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

16 thoughts on “cerita dari salemba”

  1. Di dalam cita-cita luhur pendiri bangsa ini, terselip kata-kata “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Sebuah ironi sistem pendidikan nasional ketika negara justru menciptakan sebuah halangan bagi cita-citanya sendiri.

    The state constructed it’s own threat to itself.

    Terbukti sistem pendidikan kita ternyata tidak memberikan peluang bagi sebagian warganya yang tidak mampu memenuhi “standar-standar” yang ditetapkan oleh penyelenggara pendidikan untuk ikut andil dalam menikmati “pencerahan”.

    Ada 2 kemungkinan kenapa sistem pendidikan kita “salah urus”:

    1. Konsep pendidikan nasional yang memang tidak dirancang dengan baik.
    2. Pelaksana sistem pendidikan yang hanya menjalankannya (kalo orang bule bilang) “by the book”, dan bersifat mekanis. Dengan kata lain, sistem pendidikan kita bukan dijalankan oleh manusia, tapi oleh robot.

    Apabila kemudian fakta menunjukkan bahwa kecenderungan faktor nomer 2 lebih tinggi, maka apabila kita runut ke belakang, kita akan melihat faktor yang menyebabkan mereka menjadi “robot”.
    Ternyata “robot-robot” itu merupakan hasil dari sistem pendidikan itu sendiri, dengan kata lain, ini sudah merupakan sebuah lingkaran setan. Sistem yang menghasilkan robot – robot yang kemudian menjalankan dan mengelola sistem – penyempurnaan sistem oleh robot. Inilah siklus lingkaran setan yang terbentuk.

    Kembali pada kasus ibu tadi, kita sebagai orang-orang yang dipandang oleh masyarakat sebagai kalangan “terdidik” justru mempunyai sebuah pertanyaan besar yang harus kita jawab bersama: Apa yang bisa kita lakukan?

    Jawabannya ada pada diri anda masing-masing.

    Wassalam.

  2. wogh,kadang gw pikir yang didemo pun gak denger apa yang didemo.

    malah karena demo, jalanan macet… supir taxi kehilangan waktu, supir bis gak bisa ngejar setoran, orang kantor telat ke kantor, lom lagi polusi karena macet. Efek paling besar bukan ke kalangan atas, tapi kekalangan bawah malah..

  3. ya ya ya dilema memang. cuman yang di atas itu bebal sih, kalau gak didemo sampai berdarah-darah juga pura2 gak ngerti.
    sabar ya bu,
    mari sama2 berdoa punya pemimpin yang tak usah di demo pun tahu kewajibannya jadi tak ada lagi rakyat yang susah…

  4. Dit, gw setengah setuju dan setenga lagi kurang setuju dengan cerita dari salemba lo. Tapi semoga aja perbedaan kita bermuara satu tujuan. Gw yakin generasi kita ingin mencapai masa depan yang jauh lebih baik dari saat ini. Karena itulah pemuda, mahasiswa, komponen bangsa lainnya berdemo. Untuk apa, untuk sesuatu yang lebih baik tentunya. Ada sesuatu yang salah, ada isu yang harus diselesaikan.

    Gw juga ga menutup mata akan realitas sosial yang ada saat ini. Ekonomi sulit, pendidikan mahal, Pengangguran, dsb. Tapi itu bukan berarti semua permasalahan itu bisa mengecilkan arti dari orang – orang yang berdemo dit. Ibarat kita mandi dit, kalau kepala dibasuh bersih tentu bersih pula bagian kaki. Ini akan sama halnya dengan sistem kebijakan; kebijakan diambil oleh penguasa dan tentu yang merasakan rakyat, seperti ibu penjual minuman itu. Jadi kembali lagi ada campur tangan negara untuk mensejahterakan rakyatnya. Bukankah Indonesia sebuah Welfare State?

    Gw melihat scope yang berbeda untuk masalah ibu (mikro) dan masalah demonstrasi(makro). Kita sesama manusia punya kewajiban saling membantu. Tapi manusia akan bergerak saat melihat sesuatu yang tidak beres. percaya Dit, masih banyak orang yang mau bantu ibu itu, mungkin dari cara lo share lewat blog lo ini ada dermawan yang tergugah(andai gw mampu, gw juga mau bantu kok dit).

    Masalah Aktivis yang berubah 180 derajat saat punya kedudukan itu emang udah rahasia umum. Mengingatkan gw akan betapa mahalnya harta seorang pemuda yang bernama “idealis”. I can’t do anything.But perhaps they’ll hear their own heart whisper!

  5. mau jawab rendika dan adit juga..bukan cuma idealis yg mahal..tapi kenyataan bahwa uang bisa bikin manusia bertindak seperti setan.

  6. Kadangkala demonstrasi dibutuhkan, sejauh itu tetap murni dan ga mengandung maksud pribadi (baca: benefit induvidu/golongan). Namun skalanya jadi sporadis karena banyak hal-hal kecil yang ternyata tak tersentuh.

  7. saya jadi inget film Gie, seseorang yg d posisi ga enak memperjuangkan segalanya untuk jadi enak, tp terkadang begitu udah enak jd lupa sama apa yg dulu dia rasakan. mudah2an generasi kita bisa memberikan yg lebih baik

  8. Ironi memang,disatu sisi terlihat jelas bagaimana susahnya seorang ibu untuk berjuang sekuat tenaganya agar anaknya dapat bersekolah dan mendapatkan kehidupan yang layak daripada dirinya,..Namun disatu sisi,..terlihat Indonesia mempunyai gap sosial yang sangat tinggi,..terutama jakarta.Diidalam Plaza Indonesia contohnya ada beberapa orang yang berbelanja menghabiskan jutaan rupiah demi sesuatu yang tidak penting,atau hanya untuk menambah tingkat sosial dikalangan mereka,namun berjarak beberapa meter dideket pintu keluar ada banyak anak kecil yg harus berjualan asongan demi mencari uang untuk biaya sekolah.

    Dan kita sebagai generasi muda agar dapat lebih berpikir rasional bagaimana mengatur dan menata ulang semua ini,..dan bagaimana menjadi Agent of Change,..bukan untuk menjadi Tool of Change..Agar kedepan nya kita terus ada dalam barisan untuk membawa perubahan yang lebih baik..

  9. memang, pada kenyatannya dimana2 setiap kali orang demo,jalanan jadi macet alias menggangu pengguna jalanan tp bagaimana jika orang2 penting lewat!!!? jalanan jadi macet ga y??.
    bahkan pedagang kecil yg berjualan dipinggir jalanan disalembapun dilarang berjualan ketika gubernur lewat,sehingga pedagang itupun berkeluh kesah lalu, pa itu yg disebut adil!!. seblum pra kemerdekaan bangsa ini dalam lingkaran setan kekuasaan Belanda,,, lalu bagaimanakah para pejuang terdahulu merebut kemerdekaan dari tangan Belanda tanpa adanya sebuah reaksi kemarahan bangsa ini alias dari sebuah aksi (demonstrasi)???…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s