Obsesi #2


Ada satu pertanyaan dalam kepala saya: seberapa sering kita di dikte untuk melakukan sesuatu? Di jejali gagasan yang berasal dari seorang guru dan orang tua.

Sejak kecil mungkin, bergantung kepada lingkungan seperti apa yang membesarkan kita. Saya termasuk beruntung karena jarang di dikte dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan gagasan sendiri. Imajinasi, adalah ruang yang mungkin hanya dapat dijangkau oleh mereka yang berpikiran bebas. Bebas dalam artian yang positif, yang membuat alam berpikir punya kesempatan untuk mencipta tanpa dibatasi alasan-alasan yang tidak masuk akal dan cenderung subjektif.

Sistem pendidikan yang cenderung mendikte anak didik tanpa disadari membentuk kaum muda yang cenderung memilih diam. Tidak bergerak kalau tidak didorong. Kasarnya, cenderung menunggu perintah. Padahal, kaum muda lah yang seharusnya saat ini menjadi dinamo untuk menggerakkan perubahan dan mengatur ritmenya. Karena sistem pendidikan yang tidak membebaskan alam berpikir, maka hilanglah satu generasi.

Sadar atau tidak, saya hanya ingin mengingatkan bahwa pada dasarnya setiap manusia diberikan kemampuan untuk berpikir secara logis dengan bantuan kapasitas otak yang begitu besar. Kini saya teringat pada sebuah anekdot yang sebenarnya tidak lucu:

Pada sebuah pertemuan pedagang pasar gelap yang menjual otak manusia, kala itu tersedia tiga buah otak. Sebuah otak bekas-pakai milik seorang Jepang, milik seorang Amerika dan milik seorang Indonesia. Peringkat harga otak tersebut dijual berdasarkan kerusakannya. Maka otak milik orang Indonesia menempati harga tertinggi. Kenapa? Karena kabarnya jarang digunakan untuk berpikir.

Anekdot diatas untuk sebagian kalangan mungkin bisa mengundang tawa, tapi tidak bagi saya. Rasanya lebih seperti sindiran yang pedas.

Pertanyaannya kemudian: apa betul manusia Indonesia itu jarang berpikir? Jangan terlalu luas deh, bagaimana dengan manusia Jakarta alias Homo Jakartanensis?

Apakah manusia-manusia Jakarta mau berpikir untuk kotanya? Atau jangan-jangan hanya bisa mengeluh dan mengeluh? Inikah output yang dihasilkan oleh sistem pendidikan yang wajib ditempuh setiap warga selama 12 tahun? Yang karena ditekan kebiasaan didikte kemudian tidak lagi mampu berpikir hal lain, selain mencari jalan pintas?

Mungkin saya terlalu berharap banyak pada warga Jakarta, tetapi kepada siapa saya harus berharap ketika pemerintah tidak lagi memiliki inisiatif untuk merubah kota menjadi lebih baik. Apa yang kita lihat sehari-hari di jalan raya adalah cerminan dari bagaimana warga Jakarta berpikir dan bertindak. Banjir, kemacetan, polusi kendaraan, dan banyak masalah lainnya adalah ekses dari apa yang kita lakukan sebagai warga kota.

Apa yang dilakukan warga Jakarta selain mengeluh dan mengambil jalan pintas? Aspirasi tidak biasa kita keluarkan, akibatnya inisiatif untuk memulai perubahan mendekati nihil. Padahal, kebebasan berpendapat dan demokrasi kabarnya sudah datang ke negeri ini.

Teman,

Apa yang sebenarnya kita inginkan sebagai warga Jakarta? Apa yang bisa kita tawarkan kepada kota ini? Jangan pernah minta dilayani kota ini, kota ini hanya benda mati. Kita-lah, warga Jakarta, yang seharusnya menghidupkannya.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

3 thoughts on “Obsesi #2”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s