tentang Jong Djakarta


Kota bukan hanya tempat untuk ditinggali, Kota adalah Amanah. Kalimat yang barusan telah saya modifikasi agar terasa pas dengan konteks yang ingin saya bicarakan: Kota, dan Warganya.

Bicara soal Warga, saya tidak ingin berbicara soal yang lebih luas daripada golongan angkatan saya sendiri. Mereka yang lahir setelah tahun 1980-an. Mereka yang saat ini masih mencari diri dan kemapanan. Mereka yang masih membentuk karakternya masing-masing. Ya, saya ingin bicara soal Jong Djakarta.

Kata “Jong” berasal dari aksara Belanda yang sepadan dengan kata “young” yang kemudian diterjemahkan bebas sebagai “anak muda”. Cukup lama kata “Jong” ini tidak terdengar digunakan oleh kita, orang Indonesia. Bukan karena sebab apapun, selain karena kita bukan orang Belanda. He..he..

Sejarah mencatat, pada zaman pergerakan Bangsa Indonesia pernah terbentuk perkumpulan pemuda dari berbagai daerah dan golongan: seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond dan lain-lain. Maka sejarah secara tidak langsung memberikan makna bagi kata tersebut. Yang lalu saya tangkap sebagai sekumpulan pemuda-pemudi yang bergiat untuk sesuatu yang positif/ lebih baik.

Anda kemudian bertanya, lalu apa? Lantas kenapa? Ada apa dengan Jong dan Jakarta? Jong Djakarta? Apa lagi itu?

Begini, Seorang Jong yang baik, adalah yang melakukan sesuatu yang positif untuk kotanya. Tidak, tidak. Saya tidak bilang bahwa saya adalah Jong yang baik. Belum, saya belum cukup baik. Karena saya sendirian, dan saya belum berhasil mengajak kalian untuk berdiri di barisan yang sama, Jong Djakarta lainnya!

Seorang kolumnis, Rikard Bagun, suatu hari di kala hari Sumpah Pemuda pernah menulis dalam Harian Kompas bahwa dibutuhkan banyak sumpah pemuda untuk bisa membangkitkan bangsa ini kembali. Rikard juga menekankan bahwa sebuah bangsa tidak boleh kehilangan nilai-nilai dasar kebangsaannya. Permasalahannya kemudian adalah apa kontribusi para Jong baru Indonesia ini sekarang? Apakah mereka sudah tenggelam dalam arus? Dan sedang mengalami kesulitan menantang arus besar konsumsi dan hedonisme yang riuh ramai? Yang perlu diingat saat ini sistem ditentukan dengan model survival of the fastest, bukan lagi survival of the fittest.

Coba ganti kata Indonesia pada paragraf di atas, dengan kata Jakarta. Sebuah ruang lingkup yang lebih kecil tetapi juga penting bagi proses pembentukan ke-Indonesiaan kita.

Jong Djakarta, apakabarmu kawan?

Manners maketh man’, ucap William of Wykeham, seorang uskup dari Winchester, Inggris. ‘Manners make us human’, mungkin itu yang dimaksud sang uskup. ‘Manners’, secara luas dapat dimaknai sebagai karakter, kepribadian, dan kemampuan untuk menjadi diri sendiri. Uskup William menggunakan kalimat ini sebagai motto yang dipegang teguh oleh Winchester dan New College nun di Oxford, Inggris sana. Beliau menginginkan para pemuda yang tengah dididik di kemudian hari dapat memiliki karakter, seperti apapun itu, yang utamanya bertata krama, dan menjadi diri sendiri.

Seorang penyanyi gaek nan melankolis dari Inggris, Sting mengamini ucapan William dengan menciptakan lagu “Englishman in New York”.

If, “Manners maketh man” as someone said/ Then he’s the hero of the day/ It takes a man to suffer ignorance and smile/ Be yourself no matter what they say … … Modesty, propriety can lead to notoriety/ You could end up as the only one/ Gentleness, sobriety are rare in this society/ At night a candle’s brighter than the sun/ Takes more than combat gear to make a man/ Takes more than a license for a gun/ Confront your enemies, avoid them when you can/ A gentleman will walk but never run …  (Sting, Englishman in New York)

Sejarah manusia seharusnya mengajarkan kita banyak hal, telah begitu banyak manusia yang sejak muda sudah berani memiliki karakternya sendiri, dan berakhir dengan menjadi sesuatu. From nothing to something, a nobody to somebody. Arnold Toynbee menyebut mereka yang ‘membentuk’ sejarah ini sebagai, “Minoritas Kreatif”, kaum minoritas yang bergerak melawan zaman.

Mereka yang menjadi minoritas kreatif seperti disebut Toynbee tidak pernah menunggu, mereka pemain dan selalu bergerak bersama mimpi. Hidupnya penuh gairah dan gelora. Optimisme sudah terpatri didalam pikirannya. Merekalah yang berdiri ditengah keberagaman. Sorot matanya tajam, menunjukkan dedikasi yang tinggi bahkan pada hal-hal yang kecil mendetil. Tangannya selalu diatas dan penuh kelembutan, walaupun terbiasa menghantam batuan zaman yang keras. Kakinya selalu memijak bumi, seolah dunia hanya sementara, sedang tujuan akhir adalah beribadah kepada Tuhannya.

Buat saya, Jong Djakarta adalah minoritas kreatif yang berkumpul dan bergiat untuk melakukan perubahan bagi kota Jakarta. Apapun yang dilakukannya selama itu positif dan berdampak positif bagi Kota.

Bukan tugas ringan menjadi “Jong” semacam itu, tetapi proses itu masih terus bergulir. Terus dan terus hingga akhir zaman. YB Mangunwijaya berucap mengutip ungkapan yang menjadi semboyan Raja-raja Ligne, “Quo res cumque cadant, stat semper linea recta!” Biarpun semua roboh, tetaplah di garis lurus!

Saya, ingin mengajak Anda, kawan! Bergabung bersama dalam barisan Jong Djakarta. Sumbangkan kontribusi Anda melalui tulisan… kirimkan tulisan Anda ke ruangjkt@gmail.com !

Salam Jong Djakarta!

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

4 thoughts on “tentang Jong Djakarta”

  1. mungkin akan mencoba mengirimkan tulisan, tapi yang macam mana itu, bang?
    barangkali selain ‘yang menggugah dan menghidupkan’ bisa ditambahkan pula kriteria yang lain, bang?
    ah atau kau tulislah dulu itu contoh-contoh yang banyak di sana, nanti saya ikut-ikutan hehehe
    maaf riwil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s