Sepotong Masalah di Jakarta Selatan


Hampir setiap sore ruas jalan Ciledug Raya, tepatnya yang mengarah ke pertigaan Cipulir, selalu dipadati kendaraan. Tersedia dua lajur yang biasanya dipadati oleh angkot, bus dan kendaraan pribadi. Dua lajur ini padat sekali, pun berjalan pasti tersendat. Apa yang ajaib dari jalanan yang macet saban sore ini? Satu yang aneh bin ajaib! Para pengendara motor lebih memilih menggunakan lajur yang berlawanan arah sebelum akhirnya bergabung dengan kendaraan yang searah di pertigaan Cipulir. Saya tidak tahu siapa yang memulai kebiasaan yang sangat buruk tersebut.

Setiap melewati lajur yang diterabas para pengendara motor, ingin rasanya menabrak mereka semua. (Sangat tidak disarankan untuk melakukannya, karena jadi sama-sama melanggar peraturan lalu lintas.)

Ya, saya kesal. Dan bukan hanya saya, kerap kali mereka yang kebetulan beriringan di depan atau belakang saya membunyikan klakson sekencang mungkin.

Hebatnya, setelah diklakson pun, mereka tidak bergeming. Terus berjalan, memasang muka polos, dan kadang malah ada yang marah dan merasa benar. Seolah karena ruas jalan macet, apa yang mereka lakukan dapat dibenarkan secara hukum.

Rasanya benar-benar tidak ada polantas yang peduli, pun ada pasti melelahkan menilang entah berapa ratus motor dalam waktu bersamaan. Sepertinya memang perlu ditempatkan beberapa polantas untuk menjaga ruas jalan Ciledug Raya ini sambil menanamkan disiplin kepada pengendara motor. Hmm.. bagaimana bila kemudian hanya menjadi terbiasa bila diawasi? tapi kemudian kembali melanggar ketika tidak ada polantas yang mengawasi jalan? lalu bagaimana dong?

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

8 thoughts on “Sepotong Masalah di Jakarta Selatan”

  1. per4an cipulir?? per4an ulujami kah? kalo itu sie udah byasa di situ.. seakan semua yg dilakuin pemerintah di situ ga berarti, ga guna… liat aja, dulu jalanan cm 2 track skrg udh bikin 4 track, 2 ke arah ciledug, 2 ke arah kebayoran lama… msh ditambah embel2 papan pengatur kalo bis dan atau angkot plus sepeda motor mesti lewat track paling kiri.. tetep aja kacau… lucunya, di ujung track itu, jalanan menyempit… ruwet… syp yg salah dong?

  2. isi blog ini mengingatkan gw akan tweet gw beberapa hari yang lalu

    “Penyebab utama kemacetan di jakarta adalah ego manusianya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s