#Bagaimana: Pulang Malu, Tak Pulang Rindu


Kamu mungkin pernah merasa sendirian dan tidak berdaya di tengah masyarakat? Saya pernah. Terutama ketika, sedang mengendarai mobil sendiri di tengah macet dengan pengendara lain yang bergerak zigzag karena terburu-buru ingin segera sampai tujuan, atau menekan klakson begitu sering seolah polusi suara masih kurang di langit-langit jalan raya Jakarta. Sudah seperti itu pun keadaannya, seperti saya, kamu tetap berusaha untuk berkendara dengan tertib, taat lajur, memperhatikan marka, dan kendaraan lain. Sesekali bosan, lalu kita tweetkan info mengenai kepadatan di jalan yang sedang dilalui. Begitulah sebagian kecil porsi hidup di Jakarta, yang dialami sebagian penduduk Jakarta.

Lalu tiba-tiba, dari sisi kanan seekor motor yang ditunggangi jokinya memotong patah kendaraanmu. Macam kuda pacuan saja. Tidak cukup, seekor motor lainnya melibas panel spion kiri karena berusaha menyalip diantara padatnya angkutan umum dan kendaraan pribadi. Ternyata, ujian belum selesai. Pagi itu, diantara langit yang cerah, sebuah bus mendorong mobilmu agak kencang. Aha! Didorong. HAHAHA. SUKURIIN!

Kira-kira kalau ilustrasi diatas terjadi, apa yang akan kalian lakukan? Tersenyum karena ternyata ujian dari Yang Maha Kuasa begitu hebat? Atau kalian akan turun dari mobil lalu mengumpat-ngumpat? Kalau saya, memilih tertawa saja. Ya, karena Allah SWT selalu punya cara yang yaaaaa tidak terlalu lucu untuk bercanda dengan hamba-Nya.

Saya masih beruntung, karena saya masih tinggal di daerah Jakarta Selatan, dengan jarak tempuh kendaraan ke kantor lebih kurang 6 km. Bagaimana dengan mereka yang tinggal di daerah satelit ibukota, pinggiran Jakarta? Serenade para komuter yang bekerja di Jakarta. Bagus kalau gaji mereka masih cukup untuk hidup sehari-hari dan mungkin menafkahi istri dan anak. Bagaimana kalau ternyata gaji itu tidak cukup? Tentu mereka hidup seperti bom waktu bersumbu pendek. Yang terpancing sedikit saja emosinya, bisa meledak, lalu senyap.

Bayangkan mereka yang berangkat ba’da shubuh dari rumah dan pulang jauh selepas isya. Apa masih ada tenaga untuk berbicara dengan keluarga? Bersilaturahmi dengan tetangga sebelah rumah?

Suruh siapa datang Jakarta? Tidak ada yang meminta mereka datang ke Jakarta. Kenyataannya, bukan saja negara yang sentralistik, perusahaan-perusahaan itu pun sentralistik. Jadi, yang ada di kepala adalah, uang dalam jumlah besar di negara ini semua berputar di ibukota. Terserah uang itu akan terciprat ke kita atau tidak, yang penting usaha dulu. Begitu kan pikiran-pikiran perantau sebelum masuk ke ibukota. Padahal, bekerja dan berusaha tidak pernah semudah itu. Padahal, kalau kita bisa memahami karakter pasar di daerah masing-masing, sudah barang tentu lebih baik bagi kita untuk tetap tinggal di daerah masing-masing, berusaha dan berkarya. Yaaa, menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang diminta pasar. Berdagang.

Mindset atau cara pandang itu seperti do’a, begitu kata seorang teman baik saya. Kenapa? saya bertanya. Ya, karena do’a bukan hanya di ijabah oleh Allah SWT, tetapi juga dibentuk oleh cara pandang dan usaha yang kita lakukan.  Hal yang positif akan menghasilkan hal positif lainnya, dan sebaliknya. Jadi pilih mana? Berfikir positif dengan tindakan yang beriringan, atau mau sebaliknya? Tentu itu pilihan masing-masing yang cenderung lebih banyak dipengaruhi oleh emosi. Sering kan kita dipengaruhi sama emosi ketika bertindak? Padahal dari jaman Nabi Adam AS sekalipun, Allah SWT sudah mengajarkan: bertindak atas nama emosi sesaat, menghasilkan hasil yang buruk.

Makanya, berfikir, berucap dan bertindaklah dengan logika yang sehat dan pikiran yang tenang. 

Kembali ke masalah perantauan, kalau saya boleh titip saran, teman-teman yang merantau dan tidak seberuntung harapan, lebih baik pulang ke kampung masing-masing. Saya selalu mengingat kalimat yang kerap ditulis di samping gerobak pemulung, atau di pantat truk: Pulang Malu, Tak Pulang Rindu. Pulang malu, tak pulang rindu. Pulang malu, tak pulang rindu. Pulang malu, tak pulang rindu. Kalau disuruh memilih, kamu pilih yang mana? Malu karena tidak berhasil? Atau membayar lunas rindu dengan pulang kampung?

Saya pribadi, lebih memilih malu dan melunasi rindu dengan pulang kampung, daripada hidup sengsara di ibukota. Saya harap, kalian memilih hal yang sama.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

7 thoughts on “#Bagaimana: Pulang Malu, Tak Pulang Rindu”

  1. yuk pulang kampung saja, aku sudah mempertimbangkannya baik-baik. tapi alasannya bukan hanya sebatas macet, sentralistik, malu atau rindu… tapi jauuuuh lebih dari itu…..

    mmm…… nanti aja kali ya ceritanya😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s