#Politik adalah Hasil

August 8, 2012 § Leave a comment


Dulu, politik menurut Aristoteles berarti usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Di kemudian hari di Indonesia, usaha yang disebut oleh Aristoteles diatas diterjemahkan dengan berkampanye sembari melempar janji-janji atau bakal capaian dengan akhiran berupa merchandise kampanye dan “uang transport”. Usaha yang sama dan berulang selama hampir 4 dekade ini kemudian merusak cara berfikir dominan masyarakat dalam memilih. Dus, kekuatan politik lebih sering didapat dengan cara yang instan dan berakibat pada instabilitas sistem. Padahal stabilitas politik berpengaruh begitu besar terhadap stabilitas sosial dan ekonomi.

Jika sekumpulan rakyat di sebuah wilayah dikuantifikasikan sebagai angka, maka mereka bisa menjadi ukuran dari sebuah kekuatan politik bila menggunakan hak pilihnya atas politisi tertentu. Tentu, angka tersebut kecil bila politisi yang bersangkutan tidak memberikan kontribusi/ hasil yang diharapkan oleh kumpulan rakyat. Dan tentu saja, angka tersebut besar bila politisi yang bersangkutan memberikan kontribusi/ hasil yang diharapkan oleh kumpulan rakyat.

Kalau kita lihat lagi di paragraf pertama dikatakan bahwa telah dilakukan usaha-usaha instan oleh politisi untuk mendapatkan kekuatan politik dalam sebuah pemilihan, dan berakibat butuk pada sistem, maka perlu dilakukan transformasi usaha. Ini kemudian harus dimulai dari mereka-mereka yang bekerja sebagai konsultan komunikasi politik. Kenapa? Karena mereka beserta para politisi lah yang bertanggung jawab atas kerusakan sistem.

Coba bayangkan bila seorang politisi mau berkampanye dengan melakukan tindakan yang riil di masyarakat dengan mempromosikan inisiatif, ide, dan aksi yang membawa perubahan bagi masyarakat. Bukan dalam jangka waktu 1-2 bulan sebelum pemilihan. Coba lakukan dalam jangka waktu 2-3 tahun sebelum pemilihan. Sulit? Memang begitu seharusnya. Bukankah seorang pemimpin itu ditempa oleh ujian-ujian yang sulit baru kemudian dipilih oleh masyarakat?!

Dari proses 2-3 tahun itu sudah barang tentu ada hasil yang muncul kemudian. Dari urusan harga cabai rawit, sampai urusan kedelai impor. Dari urusan bis kota sampai urusan pajak kendaraan mewah. Dari urusan cara masyarakat berpendapat sampai urusan ormas yang anarkis. Dari urusan A sampai urusan Z. Multidimensional? Kompleks? Jangan jadi politisi kalau kemudian menyerah dengan urusan-urusan itu. Lebih baik jadi badut berjas dan dasi saja sana.

Perkara hasil dari usaha 2-3 tahun memuaskan atau tidak, itu urusan lain. Yang jelas dan pasti, politisi tersebut kemudian akan dikenal sebagai seseorang yang memiliki integritas dan reputasi atas bidang yang diperjuangkannya. Kalau berhasil, maka ketika pemilihan politisi tersebut akan memiliki kekuatan tersendiri. Jika gagal, paling tidak politisi tersebut berusaha dengan cara yang pasti diamini oleh Aristoteles.

Benar kan, Politik adalah hasil.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading #Politik adalah Hasil at Aditya Sani.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,598 other followers

%d bloggers like this: