Pendidikan dan Memasang Lampu di Langit-langit


Saya punya kebiasaan aneh (yang sepertinya juga dilakukan banyak orang) membaca cepat sembari duduk di closet, kamar mandi. Sebuah waktu nan singkat, tetapi begitu efisien digunakan. Biasanya, dalam waktu yang singkat tersebut saya membaca sebuah bab dari buku yang saya miliki. Apapun bukunya. Salah satu yang paling rutin saya baca adalah majalah Tempo. Pagi ini, saya membaca sebuah sub-bab berjudul “March to Modernity” dalam buku “New Asian Hemisphere”, yang ditulis oleh Kishore Mahbubani.

Dalam sub-bab itu dinarasikan bagaimana modernitas begitu didambakan oleh 6,5 miliar orang yang hidup di Asia dan Afrika, dan bagaimana kemiskinan selama ini dirasakan baik oleh Mahbubani, maupun miliaran orang lainnya. Kemiskinan yang disebut Mahbubani sebagai masa ‘pramodern’ dengan indikator tidak adanya ‘flush toilet’, dan barang-barang lain seperti televisi berwarna, kulkas dan mesin cuci di dalam rumahnya.  Barang-barang yang menjadi indikator tersebut memang simbol-simbol dari modernitas, dimana dunia menjadi semakin paralel, dan tangan-tangan manusia yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga sekalipun mulai digantikan oleh mesin-mesin.

Ketika banyak kalangan menengah yang berpendidikan begitu menentang televisi karena memiliki kemampuan merusak (bila terjadi kecanduan menonton). Mahbubani justru menganggap kehadiran televisi berwarna dengan tayangan-tayangannya menghadirkan mimpi dan harapan bagi orang-orang yang menyaksikannya, termasuk dirinya sendiri ketika masa mudanya.

Saya kemudian tergelitik dengan sub-bab yang baru saja saya baca, dan mulai berimajinasi. Imajinasi saya tiba-tiba terhubung dengan bagaimana seseorang mengganti lampu yang mati di langit-langit rumahnya, sementara tinggi orang tersebut hanya 160 cm dan tinggi langit-langit rumahnya 220 cm. Tentu ada alat bantu yang akan dibutuhkan untuk orang tersebut melampau selisih tinggi 60 cm antara dirinya dengan langit-langit rumah. Apakah sebuah bangku untuk dipijaknya, meja atau mungkin lebih baik lagi sebuah tangga. Sebentar, lalu apa hubungannya dengan tulisan dari Kishore Mahbubani?

Begini, anggaplah kondisi dimana lampu mati di rumah orang tadi adalah kondisi yang sama dengan kemiskinan. Langit-langit rumah sebagai cakrawala berfikir, atau ilmu pengetahuan di dalam pikiran kita. Ketika, lampu mati tentu terasa tidak ada harapan, bahkan nyala lilin-lilin kecil sekalipun. Lampu (yang juga merupakan simbol modernitas) dalam kondisi menyala saya sejajarkan dengan kondisi dimana seseorang mendapatkan pencerahan. Dapat melihat sekelilingnya dengan lebih baik karena memiliki sesuatu yang menyala di langit-langit rumahnya.

Orang dalam ilustrasi diatas adalah kita, bagian dari 6,5 miliar penduduk Asia dan Afrika. Untuk bisa menyalakan lampu tadi, tentu dibutuhkan alat bantu dalam bentuk apapun. Bagi saya, alat bantu yang saya maksud adalah pendidikan. Semakin tinggi tangga pendidikan yang bisa kita pijak, maka semakin tinggilah capaian pencerahan yang bisa kita capai. Dus, impian yang selama ini hanya ada di depan televisi berwarna tidak lagi sekedar impian. Ketika itulah kemudian modernitas di alam pikiran mampu kita capai. Sebuah modal yang sangat mendasar untuk mendapatkan hidup yang jauh lebih baik.

Tangga seperti juga pijakan lain yang kita gunakan sebagai alat bantu, tentu tidak akan datang begitu saja. Tidak mungkin terjadi di dunia ini, sebuah tangga menghampiri orang yang akan mengganti lampu di rumahnya. Karenanya, kita harus mencari sendiri dengan berusaha. Hal yang sama yang terjadi dengan pendidikan. Kita tidak mungkin tiba-tiba menjadi berwawasan, pasti ada usaha yang dilakukan. Cara yang paling mudah untuk mengawalinya adalah dengan memulai kebiasaan membaca.

Author: Aditya Sani

I would love to encourage people to read, to think and to typewrite. Founder of Midjournal.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s