Calling for #Help to #saveGOA, NOW!

December 4, 2012 § Leave a comment

Generation Of Action (GOA) is a Non Governmental Organization (NGO) formed in 2010 dedicated to combating environmental problems in the City and District of Pematangsiantar Simalungun in central Sumatra. These problems range from water, air and soil pollution to protecting our remaining forest areas from illegal logging and clearing for palm oil and other agricultural pursuits.

We as the younger generation that make up GOA have a responsibility to enhance and preserve the environment for future generations living not only in the City and District of Pematangsiantar Simalungun but to Indonesia as a whole. We believe future generations have a right for a cleaner, greener and more sustainable future.

Mission

  1. Grow and plant ten thousand native trees every year in various locations throughout the municipality of Simalungun (including lake Toba).
  2. Provide guidance and assistance to local govermant, district councils, village chiefs and the wider community about the importance of environmental conservation.
  3. Educate members of the community who have the potential to provide solutions to existing environmental problems.
  4. Work with local government to adopt a clean city program through the greater placement of rubbish bins, recycling centres and strategically placed landfill sites.
  5. Coordinate with other NGO’s to pressure the Local and district governments to protect all remaining forests, crack down on illegal logging and other forms of land clearing and to create new National Parks and Forest Protection Areas.

GOA has undertaken the following programs:

  1. Organised the Cleaning of residential areas, markets and other public places.
  2. Planted 23,000 native trees and supplied native seeds for reforestation programs
  3. Worked with governments to create new landfills and recycling centres in the distict.
  4. Through funding from Pertamina; designed, developed and erected 12 large signs along roadsides to educate the community about forest protection and appropriate disposal of rubbish.

In addition to the above program, GOA offers counseling and guidance to district governments, schools and other educational institutions, church leaders and companies in the city and county of Simalungun.

PROBLEMS:

Being a Non-Government Organisation has up to this point in time functioned without any incoming funds, operating day-to-day activities at the personal expense of its organizers. Funding was allocated for project specific purposes only. 

ITEM’S THAT REALLY NEED FUNDING SUPPORT:

Office + Nursery Rent for 3 years: $ 1,000/year
Trees (seeds, soil, pots, fertilizer) 10,000 package: $ 500.00
In Total (USD) $ 3,500.00

With the participation of the society in our programs, GOA assures that this program will be very beneficial directly to aspects of society, especially the municipalities and counties Simalungun.

And also for the donors, among others:

  • Contribute to improving the knowledge and human resources in the field of environmental conservation.
  • Contribute to the long-term preservation of the environment.
  • Provide a good image in the development of human resources and district municipalities Simalungun

If the institution for donors who willing to participate in sustainability programs we have explained above, The donors can confirm and call Generation Of Action Chairman: Marcus Lamhot (085358233393).

Thanks for your kind attention to this blog-post.

——————————————————————

Information on Generations of Action (GOA)
GENERATION OF ACTION (GOA) - Environmental NGO’s (Non-Governmental Organizations)
  • KOTA PEMATANGSIANTAR DAN KABUPATEN SIMALUNGUN | Alamat : Jl. Nias No. 2 kel. Toba – Kec. Siantar Selatan PEMATANGSIANTAR – INDONESIA
  • No. Reg. STTPKO P. SIANTAR 245 240
  • No. Reg. STTPKO Simalungun 220/71/Kesbangpol – Linmas/2011
  • No Telp : 085358233393 – 085358614822

Bagaimana Fokus & Indikator Waktu serta Kinerja @Jokowi_Do2 (?)

September 21, 2012 § 1 Comment

Laporan BPS tahun 2010 menyebutkan bahwa ada 9.607.787 jiwa penduduk ber-KTP Jakarta dan tidak lupa lebih-kurang 18 juta jiwa penduduk wilayah Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Nasib mereka untuk 5 tahun mendatang terhitung sejak Pelantikan Kepala Daerah DKI Jakarta terpilih tanggal 7 Oktober 2012 kelak ditentukan oleh Program yang akan dijalankan oleh Pasangan Pemenang Pemilukada.

Ada beberapa poin yang menjadi catatan saya dari Program yang dikampanyekan oleh Gubernur dan Wakil terpilih, diantaranya:

  1. Bidang Penataan Kota: melakukan intervensi sosial untuk revitalisasi pemukiman padat dan kumuh, dan membangun super-blok untuk menengah ke bawah dengan kelengkapan taman, pasar dan pusat layanan kesehatan.
  2. Bidang Pengentasan Banjir: membentuk Otoritas Pengelola Sungai yang bermuara di Jakarta bersama pemerintah Bodetabek, membangun embung/folder penampung hujan di level kecamatan dan kelurahan, membeli daerah tangkapan air untuk mengendalikan debit air yang masuk dan mengintegrasikan saluran drainase dengan kanal pembuangan air
  3. Bidang Transportasi: membentuk Otoritas Pelayanan Transportasi bersama pemerintah Bodetabek untuk penanganan mobilitas warga lintas daerah, mengganti sebagian lajur Busway menjadi Railbus untuk peningkatan kapasitas angkut TransJakarta, mengutamakan People Mobilization bukan Car Mobilization, mengganti dan memperbanyak armada angkutan umum (metromini, kopaja dan bis lain) yang lebih layak dan nyaman, membangun monorail, merintis pembangunan MRT/Subway, membatasi penggunaan kendaraan pribadi dengan Electronic Road Pricing, menaikkan biaya Sewa Parkir, pengaturan nomor kendaraan ganjil-genap dan jam kerja kantor.
  4. Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat: mengganti Surat Keterangan Tidak Mampu dengan Kartu Sehat yang berlaku di Rumah Sakit milik pemerintah dengan biaya ditangguh Pemerintah DKI Jakarta, membangun Mall Khusus untuk Pedagang Kaki Lima agar lebih tertib dan tidak memakan bahu dan badan jalan raya, merevitalisasi Pasar Tradisional agar memiliki daya saing.
  5. Bidang Kebudayaan dan Pelayanan Publik: membangun kebudayaan warga kota berbasis komunitas, menyediakan ruang-ruang publik sebagai fasilitas pergaulan warga dan sarana tempat mengekspresikan diri, mengembangkan pusat-pusat kebudayaan Jakarta di lima wilayah administratif, melaksanakan Reformasi Birokrasi agar bersih, transparan dan professional, mempercepat segala bentuk perizinan (paling lama 6 hari kerja), meniadakan kelengkapan seperti pentungan pada Polisi Pamong Praja.

Masyarakat dalam hal ini tidak lagi bisa berpangku tangan hanya pada Program yang dijalankan oleh Gubernur dan Wakil terpilih, tetapi juga harus berpartisipasi aktif dalam mendukung dan mengawasi jalannya pemerintahan daerah. Karena tanpa hal tersebut, niscaya Jakarta akan menjadi kota yang sama dengan Jakarta di masa Gubernur Fauzi Bowo.

Yang kemudian perlu ditanyakan dan dicatat adalah, dari program-program yang tersebut diatas, apa yang akan menjadi fokus dalam 100 Hari Pertama, Capaian Tahun Pertama, Kedua, Ketiga sampai Kelima dari Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta? Lalu apa indikator waktu dan kinerja dari masing-masing program tersebut? 

Mari Tagih Program Kampanye #JakartaBaru

September 21, 2012 § 2 Comments

Visi Misi Pasangan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama: “Jakarta Baru”

Visi

Jakarta baru, kota modern yang tertata rapi, menjadi tempat hunian yang layak dan manusiawi, memiliki masyarakat yang berkebudayaan, dan dengan pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan publik.

Misi

  1. Mewujudkan Jakarta sebagai kota modern yang tertata rapi serta konsisten dengan rencana tata ruang wilayah.
  2. Menjadikan Jakarta sebagai kota yang bebas dari masalah-masalah menahun seperti macet, banjir, pemukiman kumuh, sampah dan lain-lain.
  3. Menjamin ketersediaan hunian dan ruang publik yang layak serta terjangkau bagi warga kota.
  4. Membangun budaya masyarakat perkotaan yang toleran, tetapi juga sekaligus memiliki kesadaran dalam memelihara kota.
  5. Membangun pemerintahan yang bersih dan transparan serta berorientasi pada pelayanan publik.

Program yang dikampanyekan kandidat Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama: 

Bidang penataan kota

  1. Melakukan intervensi sosial untuk merevitalisasi pemukiman padat dan kumuh, tetapi meniadakan penggusuran.
  2. Pembangunan super-blok untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Berupa one stop living yang terdiri dari hunian vertikal (rumah susun), ruang publik berupa taman, pasar, dan pusat layanan kesehatan.

Mengatasi banjir

  1. Pembangunan embung/folder untuk menangkap dan menampung air hujan di setiap kecamatan dan di setiap kelurahan.
  2. Membeli daerah tangkapan air seperti situ/waduk di hulu sungai agar debit air yang masuk ke Jakarta bisa dikendalikan.
  3. Bekerja sama dengan pemerintahan di sekitar Jakarta untuk membuat sebuah otoritas yang mengatur dan mengelola sungai-sungai yang bermuara di Jakarta.
  4. Mengintegrasikan seluruh saluran drainage agar terkoneksi dengan kanal-kanal pembuangan air.

Bidang transportasi

  1. Bekerja sama dengan pemerintah sekitar Jakarta untuk membuat otoritas pelayanan transportasi jabodetabek agar persoalan mobilitas warga bisa ditangani oleh badan yang memiliki otoritas lintas daerah.
  2. Mengganti sebagian besar busway menjadi railbus sehingga kapasitas dalam mengangkut penumpang jauh lebih besar. Mengutamakan people mobilization, bukan car mobilization.
  3. Memperbanyak armada angkutan umum, terutama busway di koridor-koridor yang tetap dipertahankan sebagai jalur busway.
  4. Mengganti kendaraan umum seperti metromini, kopaja, dan bis dengan kendaraan yang jauh lebih layak agar warga merasa nyaman untuk menggunakan kendaraan umum.
  5. Pembangunan monorail.
  6. Merintis pembangunan mrt/subway sebagai angkutan massal warga kota.
  7. Melengkapi penyediaan transportasi massal dengan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi melalui sistem electronic road pricing (erp), sewa parkir yang tinggi, pengaturan kendaraan berdasarkan nomor polisi genap-ganjil, dan pengaturan jam kerja.

Bidang kesehatan

  1. Memperpendek jalur birokrasi pelayanan kesehatan yang saat ini menggunakan surat keterangan tidak mampu (sktm) menjadi kartu sehat yang berlaku di rumah sakit pemerintah, dan pembayarannya ditanggung oleh pemerintah.
  2. Menyediakan pusat kesehatan masyarakat di pasar-pasar tradisional, terutama pasar-pasar yang dibangun di super blok untuk kalangan menengah ke bawah.

Bidang kesejahteraan masyarakat

  1. Membangun mall khusus untuk pedagang kaki lima agar lebih tertib dan tidak memakan badan jalan.
  2. Merevitalisasi pasar tradisional agar tetap bisa bersaing dengan pasar modern dan menggerakkan perenomian warga kota.

Bidang kebudayaan

  1. Membangun kebudayaan warga kota berbasis komunitas.
  2. Menyediakan ruang-ruang publik sebagai fasilitas pergaulan warga dan sarana tempat mengekspresikan diri.
  3. Mengembangkan pusat-pusat kebudayaan Jakarta di lima wilayah administratif.
  4. Merevitalisasi melengkapi fasilitas kawasan old batavia agar menjadi daya tarik wisata sejarah dan budaya di Jakarta.

Bidang pelayanan publik

  1. Melaksanakan reformasi birokrasi agar pemerintahan berjalan bersih, transparan, dan profesional
  2. Mempercepat dan memperpendek waktu pengurusan izin, waktu pengurusan izin paling lama hanya sampai enam hari kerja.
  3. Meniadakan pentungan dan perlengkapan yang memungkinkan polisi pamong praja melakukan kekerasan terhadap warga
  4. Gubernur dan wakil gubernur berkomitmen untuk tidak menggunakan voorrijder sehingga bisa merasakan keadaan yang sesungguhnya sedang dialami warga
  5. Gubernur dan wakil gubernur hanya akan berada di kantor selama 1 jam saja, dan sisanya meninjau proses pembangunan dna pelayanan publik di lapangan

—-

Sumber: Website Resmi Pasangan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama

Ini soal Masa Depan. Titik!

September 20, 2012 § Leave a comment

Masa depan dari 9.607.787 jiwa penduduk ber-KTP Jakarta (menurut BPS, 2010) dan tentu tidak lupa lebih-kurang 18 juta jiwa penduduk wilayah Bodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) akan di tentukan oleh 6.996.951 pemilih berdasarkan ketetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta untuk putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta pada hari ini (20 September 2012), dengan rincian:

  • wilayah Kepulauan Seribu tercatat 16.367 pemilih,
  • wilayah Jakarta Pusat tercatat 789.484 pemilih,
  • wilayah Jakarta Utara tercatat 1.168.988 pemilih,
  • wilayah Jakarta Barat tercatat 1.510.159 pemilih,
  • wilayah Jakarta Selatan tercatat 1.512.913, dan
  • wilayah Jakarta Timur tercatat 1.999.040 pemilih.

Bagi saya, hari ini sungguh bersejarah karena incumbent yang berasal dari Partai Politik pemenang pemilu dan rekan-rekan koalisi partainya ditantang oleh kandidat dari hasil koalisi dua Partai Politik yang sebetulnya tidak memiliki basis suara yang cukup besar dari sisi kader Partai. Hasil survey pada seminggu sebelum pemilihan putaran pertama menggambarkan sesuatu yang berbeda: incumbent pasti menang. Ternyata survey tinggal survey, tim sukses pongah hingga salah ambil langkah catur. Waktu seminggu sebelum pemilihan nampaknya cukup untuk merobek-robek hasil survey banyak lembaga. Persentase suara (yang walaupun tidak sampai 50%) untuk kandidat penantang di putaran pertama sebetulnya merupakan isyarat bahwa sebagian besar pemilih di DKI Jakarta menginginkan perubahan pada kepemimpinan. Sesuatu yang mengejutkan bagi banyak kalangan, termasuk kedua kandidat yang bertarung di pemilihan umum.

Meskipun melaksanakan putaran berikutnya artinya biaya tambahan yang membengkak untuk semua pihak (Negara dan kedua kandidat). Apa boleh buat pemilihan umum putaran kedua tetap harus dilaksanakan demi nilai-nilai demokrasi di Ibukota tercinta.

Tulisan ini tidak ingin bermain dengan tebak-tebakan hasil pemilihan putaran kedua, karena sejujurnya saya pun tidak bisa meramalkan dengan tepat. Satu hal yang pasti, kedua tim sukses kandidat sudah bekerja dengan segenap pikiran dan tenaga yang maksimal. Hingga bahkan berulang-ulang mengganti status BlackBerry Messenger (BBM) dengan pesan (bernada kampanye) yang sama dalam satu hari, padahal dari seluruh contact di BBM-nya paling-paling hanya 30% yang punya hak pilih. Mari kita tertawakan saja hal tersebut.

Kalau dan hanya kalau saya boleh berbicara selugas ini, sebetulnya kita (Indonesia secara umum) berada dalam masa krisis kepemimpinan, masa dimana pemimpin tidak lagi memiliki wibawa dan penegakan hukum lebih mirip “macan ompong dan bahkan tanpa kuku yang tajam”. Disaat yang bersamaan, rakyat membutuhkan suri tauladan dan inspirasi bagi keseharian mereka. Entah siapa yang salah.

Saya seorang muslim, dan saya (sangat) malu menjadi bagian dari negara mayoritas muslim dimana korupsi terjadi membabi buta. Bahkan Al-Qur’an pun dijadikan bancakan oleh koruptor di negeri ini. Karenanya, ketika memilih pemimpin, saya tidak akan pernah menggunakan indikator keimanan sebagai tolak ukur. Miris betul rasanya hati dan pikiran saya, ketika isu agama dimanfaatkan sebagai alat kampanye. Terlepas dari ikatan emosional masing-masing individu dengan agamanya, ini merupakan sebuah kemunduran bagi demokrasi dan akal sehat rakyat.

Simbol-simbol Suku Agama dan Ras (SARA) tidak selayaknya digunakan sebagai alat kampanye di kota yang sebetulnya melting-pot dari ke-Bhinneka-Tunggal-Ika-an Indonesia. Founding Fathers kita mungkin sedang menangisi cara berfikir rakyatnya yang dipecah belah isu SARA, dan lupa bagaimana leluhur meregang nyawa untuk menyatukan Indonesia. Hari ini, kita memilih pemimpin untuk mengarahkan bagaimana sebuah kota harus dikelola, bukan untuk menjadi Imam dalam sholat berjamaah atau berdzikir bersama. Agama itu soal Hablum-min-Allah; bersifat vertikal; bukan antar manusia. Sementara, menjadi warga kota yang baik itu soal Hablum-min-annas; bersifat horizontal; antar manusia. Karenanya, berfikir dan memilih dengan akal yang sehat dan hati yang tulus.

Banyak hal lain yang lebih mendasar dari persoalan kepemimpinan dan manajerial dalam mengelola Ibukota. Kita memerlukan pemimpin sekaligus manajer yang mampu untuk:  Mengelola dan memelihara sustainability kota sekaligus membangun dengan inovasi; Berfokus tidak hanya pada sistem dan struktur, tetapi juga pada sumber daya manusianya; Memiliki reputasi dan wibawa sehingga mampu mengontrol dan dipercaya oleh rakyat; Memiliki jangkauan berfikir dalam jangka pendek menengah dan panjang, dalam artian menguasai taktik dan strategi; Berani mengambil langkah catur ketika ketidakadilan terjadi; Dan tidak terikat pada bentuk kontrak politik apapun yang menghalangi arah kebijaksanaan.  Itu baru yang namanya Meritoktrasi dalam kepemimpinan.

Apapun hasil dari pemilihan putaran kedua ini, entah incumbent atau pun penantang, pemenang tidak akan bisa bekerja sendiri dari atas menara gading. Pemenang akan membutuhkan 9.607.787 jiwa penduduk ber-KTP Jakarta dan lebih-kurang 18 juta jiwa penduduk wilayah Bodetabek untuk berusaha sekuat tenaga dan menjadi warga kota yang baik, memiliki disiplin yang tinggi serta berpartisipasi aktif dalam proses pemerintahan. Tanpa hal tersebut, niscaya tidak akan ada perbaikan dan perubahan yang terjadi. Percaya pada saya!

Pendidikan dan Memasang Lampu di Langit-langit

September 19, 2012 § Leave a comment

Saya punya kebiasaan aneh (yang sepertinya juga dilakukan banyak orang) membaca cepat sembari duduk di closet, kamar mandi. Sebuah waktu nan singkat, tetapi begitu efisien digunakan. Biasanya, dalam waktu yang singkat tersebut saya membaca sebuah bab dari buku yang saya miliki. Apapun bukunya. Salah satu yang paling rutin saya baca adalah majalah Tempo. Pagi ini, saya membaca sebuah sub-bab berjudul “March to Modernity” dalam buku “New Asian Hemisphere”, yang ditulis oleh Kishore Mahbubani.

Dalam sub-bab itu dinarasikan bagaimana modernitas begitu didambakan oleh 6,5 miliar orang yang hidup di Asia dan Afrika, dan bagaimana kemiskinan selama ini dirasakan baik oleh Mahbubani, maupun miliaran orang lainnya. Kemiskinan yang disebut Mahbubani sebagai masa ‘pramodern’ dengan indikator tidak adanya ‘flush toilet’, dan barang-barang lain seperti televisi berwarna, kulkas dan mesin cuci di dalam rumahnya.  Barang-barang yang menjadi indikator tersebut memang simbol-simbol dari modernitas, dimana dunia menjadi semakin paralel, dan tangan-tangan manusia yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga sekalipun mulai digantikan oleh mesin-mesin.

Ketika banyak kalangan menengah yang berpendidikan begitu menentang televisi karena memiliki kemampuan merusak (bila terjadi kecanduan menonton). Mahbubani justru menganggap kehadiran televisi berwarna dengan tayangan-tayangannya menghadirkan mimpi dan harapan bagi orang-orang yang menyaksikannya, termasuk dirinya sendiri ketika masa mudanya.

Saya kemudian tergelitik dengan sub-bab yang baru saja saya baca, dan mulai berimajinasi. Imajinasi saya tiba-tiba terhubung dengan bagaimana seseorang mengganti lampu yang mati di langit-langit rumahnya, sementara tinggi orang tersebut hanya 160 cm dan tinggi langit-langit rumahnya 220 cm. Tentu ada alat bantu yang akan dibutuhkan untuk orang tersebut melampau selisih tinggi 60 cm antara dirinya dengan langit-langit rumah. Apakah sebuah bangku untuk dipijaknya, meja atau mungkin lebih baik lagi sebuah tangga. Sebentar, lalu apa hubungannya dengan tulisan dari Kishore Mahbubani?

Begini, anggaplah kondisi dimana lampu mati di rumah orang tadi adalah kondisi yang sama dengan kemiskinan. Langit-langit rumah sebagai cakrawala berfikir, atau ilmu pengetahuan di dalam pikiran kita. Ketika, lampu mati tentu terasa tidak ada harapan, bahkan nyala lilin-lilin kecil sekalipun. Lampu (yang juga merupakan simbol modernitas) dalam kondisi menyala saya sejajarkan dengan kondisi dimana seseorang mendapatkan pencerahan. Dapat melihat sekelilingnya dengan lebih baik karena memiliki sesuatu yang menyala di langit-langit rumahnya.

Orang dalam ilustrasi diatas adalah kita, bagian dari 6,5 miliar penduduk Asia dan Afrika. Untuk bisa menyalakan lampu tadi, tentu dibutuhkan alat bantu dalam bentuk apapun. Bagi saya, alat bantu yang saya maksud adalah pendidikan. Semakin tinggi tangga pendidikan yang bisa kita pijak, maka semakin tinggilah capaian pencerahan yang bisa kita capai. Dus, impian yang selama ini hanya ada di depan televisi berwarna tidak lagi sekedar impian. Ketika itulah kemudian modernitas di alam pikiran mampu kita capai. Sebuah modal yang sangat mendasar untuk mendapatkan hidup yang jauh lebih baik.

Tangga seperti juga pijakan lain yang kita gunakan sebagai alat bantu, tentu tidak akan datang begitu saja. Tidak mungkin terjadi di dunia ini, sebuah tangga menghampiri orang yang akan mengganti lampu di rumahnya. Karenanya, kita harus mencari sendiri dengan berusaha. Hal yang sama yang terjadi dengan pendidikan. Kita tidak mungkin tiba-tiba menjadi berwawasan, pasti ada usaha yang dilakukan. Cara yang paling mudah untuk mengawalinya adalah dengan memulai kebiasaan membaca.

Where Am I?

You are currently browsing the AT WORK category at Aditya Sani.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,598 other followers