@SirKenRobinson: Changing Educational Paradigm | #TEDTalks #AMustSEE

August 7, 2012 § Leave a comment

Very many people go through their whole lives having no real sense of what their talents may be, or if they have any to speak of. Ken Robinson

#Bagaimana Menginspirasi Orang Lain? | #TEDTalks

August 6, 2012 § Leave a comment

“If you hire people just because they can do a job, they’ll work for your money. But if you hire people who believe what you believe, they’ll work for you with blood and sweat and tears.” (Simon Sinek)

#Bagaimana: Pulang Malu, Tak Pulang Rindu

July 18, 2012 § 7 Comments

Kamu mungkin pernah merasa sendirian dan tidak berdaya di tengah masyarakat? Saya pernah. Terutama ketika, sedang mengendarai mobil sendiri di tengah macet dengan pengendara lain yang bergerak zigzag karena terburu-buru ingin segera sampai tujuan, atau menekan klakson begitu sering seolah polusi suara masih kurang di langit-langit jalan raya Jakarta. Sudah seperti itu pun keadaannya, seperti saya, kamu tetap berusaha untuk berkendara dengan tertib, taat lajur, memperhatikan marka, dan kendaraan lain. Sesekali bosan, lalu kita tweetkan info mengenai kepadatan di jalan yang sedang dilalui. Begitulah sebagian kecil porsi hidup di Jakarta, yang dialami sebagian penduduk Jakarta.

Lalu tiba-tiba, dari sisi kanan seekor motor yang ditunggangi jokinya memotong patah kendaraanmu. Macam kuda pacuan saja. Tidak cukup, seekor motor lainnya melibas panel spion kiri karena berusaha menyalip diantara padatnya angkutan umum dan kendaraan pribadi. Ternyata, ujian belum selesai. Pagi itu, diantara langit yang cerah, sebuah bus mendorong mobilmu agak kencang. Aha! Didorong. HAHAHA. SUKURIIN!

Kira-kira kalau ilustrasi diatas terjadi, apa yang akan kalian lakukan? Tersenyum karena ternyata ujian dari Yang Maha Kuasa begitu hebat? Atau kalian akan turun dari mobil lalu mengumpat-ngumpat? Kalau saya, memilih tertawa saja. Ya, karena Allah SWT selalu punya cara yang yaaaaa tidak terlalu lucu untuk bercanda dengan hamba-Nya.

Saya masih beruntung, karena saya masih tinggal di daerah Jakarta Selatan, dengan jarak tempuh kendaraan ke kantor lebih kurang 6 km. Bagaimana dengan mereka yang tinggal di daerah satelit ibukota, pinggiran Jakarta? Serenade para komuter yang bekerja di Jakarta. Bagus kalau gaji mereka masih cukup untuk hidup sehari-hari dan mungkin menafkahi istri dan anak. Bagaimana kalau ternyata gaji itu tidak cukup? Tentu mereka hidup seperti bom waktu bersumbu pendek. Yang terpancing sedikit saja emosinya, bisa meledak, lalu senyap.

Bayangkan mereka yang berangkat ba’da shubuh dari rumah dan pulang jauh selepas isya. Apa masih ada tenaga untuk berbicara dengan keluarga? Bersilaturahmi dengan tetangga sebelah rumah?

Suruh siapa datang Jakarta? Tidak ada yang meminta mereka datang ke Jakarta. Kenyataannya, bukan saja negara yang sentralistik, perusahaan-perusahaan itu pun sentralistik. Jadi, yang ada di kepala adalah, uang dalam jumlah besar di negara ini semua berputar di ibukota. Terserah uang itu akan terciprat ke kita atau tidak, yang penting usaha dulu. Begitu kan pikiran-pikiran perantau sebelum masuk ke ibukota. Padahal, bekerja dan berusaha tidak pernah semudah itu. Padahal, kalau kita bisa memahami karakter pasar di daerah masing-masing, sudah barang tentu lebih baik bagi kita untuk tetap tinggal di daerah masing-masing, berusaha dan berkarya. Yaaa, menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang diminta pasar. Berdagang.

Mindset atau cara pandang itu seperti do’a, begitu kata seorang teman baik saya. Kenapa? saya bertanya. Ya, karena do’a bukan hanya di ijabah oleh Allah SWT, tetapi juga dibentuk oleh cara pandang dan usaha yang kita lakukan.  Hal yang positif akan menghasilkan hal positif lainnya, dan sebaliknya. Jadi pilih mana? Berfikir positif dengan tindakan yang beriringan, atau mau sebaliknya? Tentu itu pilihan masing-masing yang cenderung lebih banyak dipengaruhi oleh emosi. Sering kan kita dipengaruhi sama emosi ketika bertindak? Padahal dari jaman Nabi Adam AS sekalipun, Allah SWT sudah mengajarkan: bertindak atas nama emosi sesaat, menghasilkan hasil yang buruk.

Makanya, berfikir, berucap dan bertindaklah dengan logika yang sehat dan pikiran yang tenang. 

Kembali ke masalah perantauan, kalau saya boleh titip saran, teman-teman yang merantau dan tidak seberuntung harapan, lebih baik pulang ke kampung masing-masing. Saya selalu mengingat kalimat yang kerap ditulis di samping gerobak pemulung, atau di pantat truk: Pulang Malu, Tak Pulang Rindu. Pulang malu, tak pulang rindu. Pulang malu, tak pulang rindu. Pulang malu, tak pulang rindu. Kalau disuruh memilih, kamu pilih yang mana? Malu karena tidak berhasil? Atau membayar lunas rindu dengan pulang kampung?

Saya pribadi, lebih memilih malu dan melunasi rindu dengan pulang kampung, daripada hidup sengsara di ibukota. Saya harap, kalian memilih hal yang sama.

#Bagaimana Bekerja dengan Efektif

May 23, 2012 § Leave a comment

Eisenhower Matrix: Alat bantu untuk memutuskan prioritas kerja :p

Bekerja dengan baik, tidak sama dengan bekerja dengan efektif. Bekerja dengan keras, juga tidak sama dengan bekerja dengan pintar.Sejak tahun 2000-an, banyak eksekutif muda di Jakarta yang bila diwawancara oleh majalah bertema gaya hidup, selalu dengan bangga mengatakan, “Oh, I work hard, and play hard as well!“.

The ugly truth is, they work hard so hard up to an almost maximum level of stress because they live in effin’ Jakarta. If only they have the choice to have less salary but better place to stay, they might chose not to live in Jakarta. Now, its not enough to work hard, one should work smart to earn better living.

Kita seringkali terjebak untuk mengejar semua pekerjaan yang (secara tidak sadar) dirasa sebagai tanggung jawab pribadi. Karena (perintah) atasan secara tidak langsung mengamanatkan demikian. Padahal, tidak mungkin sebuah pekerjaan secara umum dikerjakan oleh individu. Sebuah sistem manajemen yang baik, pasti memerlukan adanya kerja kelompok yang baik. Prioritas dan pembagian kerja itu penting. Bagaimana mengelola prioritas kerja? bisa dilihat pada pada diagram Eisenhower yang terdapat di atas.

Lalu, ingat struktur manajerial dalam sebuah pekerjaan, dari level strategis hingga ke level administrasi. Bagi pekerjaan sesuai dengan prioritas kerja dan struktur manajerial. Level of trust itu sangat-sangat penting. Seperti juga Anda yang berada di level manajer, tentu Anda ingin dipercaya oleh direktur regional atau atasan Anda. Sudah barang tentu, staff yang berada dibawah supervisi Anda juga ingin dipercaya menjalankan tugasnya.

Kalau kepercayaan ada di seluruh lini manajerial, tentu pembagian tugas bisa dilakukan kepada kolega kerja, dan tugas menjadi jauh-jauh lebih ringan. Sekarang, Anda tidak perlu lagi bekerja terlalu keras, sampai rela-relanya mengerjakan pekerjaan lembur orang lain. Ya kan?

Selamat menikmati hari Rabu!

#Bagaimana Bernegosiasi

May 15, 2012 § 1 Comment

Bernegosiasi itu ibarat menawar harga barang di sepanjang Malioboro. Susah-susah-mudah. Susah-susah karena salah pasang harga, Anda mungkin di caci maki oleh pedagang. Pun bernegosiasi mirip dengan berbelanja di Malioboro, tetapi sebenarnya ada perbedaan yang cukup besar dalam masalah yang menjadi kepentingan. Kalau di Malioboro, barang yang Anda negosiasikan itu jelas dan nampak di depan mata. Sementara kalau di meja perundingan / meeting room / ruang rapat / meja interview, mungkin barang yang di negosiasikan tidak kasat mata.

Lalu, lalu, lalu, #Bagaimana sih caranya bernegosiasi yang baik:

1. Anda harus tahu terlebih dahulu, apa yang menjadi target maksimum hasil negosiasi Anda dan target minimum tentu saja. Ini penting agar Anda tetap fokus pada kepentingan yang Anda bawa. Dan seburuk-buruknya hasil nantinya, Anda tetap membawa pulang sesuatu dari negosiasi tersebut.

2. Lihat poin ke-1, camkan baik-baik bahwa hasil negosiasi akan selalu berkutat pada dua hal tersebut.

3. Pelajari apakah pihak lawan memiliki keinginan/ kepentingan yang serupa dengan Anda. Level your game play. Jika tidak Anda tidak akan pernah mencapai kesepakatan, paling-paling Anda akan manyun sambil berunding.

4. Pertahankan kredibilitas Anda. Konsisten pada apa yang Anda tawarkan, ingatkan lawan bahwa apa yang Anda tawarkan adalah harga mati, tanpa bisa ditawar. Ingat konsisten! Jangan mencla-mencle, menye-menye, apalagi mellow di depan lawan. 

5. Lihat poin ke-4, buat mereka mempercayai apa yang Anda tawarkan, berikan alasan-alasan yang jelas dan tepat sasaran. Jangan buat mereka mengira kalau Anda bisa ditekan dan rela mengalah.

6. Anda tahu lagunya Lady Gaga yang judulnya Poker Face? Nah, coba dengarkan lagu itu berulang-ulang. Rata-rata negosiator yang baik di dunia kerja berperan sebagai Diplomat, atau Lobbyist. Mereka memiliki wajah yang dingin sedingin Don Corleone dari Godfather.

7. Jangan pasang posisi terlalu tinggi, lebih baik Anda diam dan tetap tenang. Semakin tinggi posisi Anda, semakin kecil kemungkinan negosiasi bisa Anda menangkan.

8. Bersabarlah, bersabarlah, bersabarlah. Paulo Coelho, penulis novel kesayangan saya, pernah bilang begini: “Life was always a matter of waiting for the right moment to act.

9. Sadari bahwa negosiasi sangat mungkin menjadi proses panjang yang melelahkan. Jadi, sebelum maju ke meja negosiasi, buatlah tahapan yang akan Anda lakukan. Ini juga untuk menjaga agar Anda tidak terlalu terlihat menginginkan apa yang Anda tawarkan.

10. Poin terakhir, sebelum bernegosiasi, pastikan Anda dalam kondisi emosional yang tenang. Setenang air di tengah laut dalam.

#Bagaimana sudah siap untuk negosiasi Anda hari ini?

Selamat berhari Selasa!

Where Am I?

You are currently browsing the Bagaimana category at Aditya Sani.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,598 other followers