tentang “Solo Message”

Catatan ini berlanjut, kali ini terkait isi dari “Solo Message”, hasil dari High Level Dialogue on Institutional Framework on Sustainable Development.

—-

Solo Message

The High-Level Dialogue on the Institutional Framework for Sustainable Development

This is an extraction from the Chair’s Report of the High-level Dialogue on the Institutional Framework for Sustainable Development, held in Solo, Indonesia 19-21 July 2011

1.    Delegates of more than 100 member states, IGOs and major groups met from 19-21 July 2011 in Solo, Indonesia to discuss the institutional framework for sustainable development in preparations for the United Nations Conference on Sustainable Development, the ‘Rio+20 Conference’, to be held in June 2012 in Rio de Janeiro, Brazil.

2.    This message has been compiled by the host country and reflects the convergence of views arrived at during the two-day discussions.

3.    To achieve our shared goal we need to renew our political commitment for sustainable development. We also need to translate this commitment into implementation.

4.    We need to ensure that the economic, social and environmental pillars work together with each pillar integrating the goals of the other two pillars.

5.    At the international level we need an organisation to enhance the integration of sustainable development. Various options were discussed, ranging from an enhanced mandate for ECOSOC and reviewing the role of CSD to the establishment of a Sustainable Development Council.

6.    At the national level, there is a need for more integrated support for national strategies. Various options were discussed including Delivering as One.

7.    There is a need to strengthen UNEP and a number of options were discussed.

8.    More broadly, sustainable development governance at the local, national and regional level needs to be reviewed and supported.

9.    New and additional financing is necessary to enable implementation for capacity building and technology transfer.

—————————————

Dari “Solo Initiatives” ke “Solo Message”

Catatan ini merupakan lanjutan dari catatan saya sebelumnya yang berjudul: Catatan tentang “Solo Initiatives” dan Rio+20.

—-

Dari pengamatan saya selama acara High Level Dialogue on Institutional Framework on Sustainable Development, isu Pembangunan Berkelanjutan lebih menjadi concern bagi banyak negara-negara berkembang. Perwakilan dari negara-negara berkembang mengajukan intervensi terhadap dialog hampir di setiap sesi yang ada. Sementara negara-negara maju lebih memilih untuk mendengarkan, mungkin hal ini disebabkan karena pembahasan belum mencapai ke isu pendanaan kerja.

Secara garis besar, seperti yang sudah saya tulis pada catatan sebelumnya, isu Pembangunan Berkelanjutan membahas tiga masalah besar: Lingkungan Hidup, Ekonomi dan Sosial. Keterkaitan diantara ketiga masalah besar ini menjadi perhatian para delegasi yang hadir, karena pembangunan diharapkan berkelanjutan dan terintegrasi satu sama lain.

Apa yang menarik perhatian saya?

Pada hari pertama lobby (sambil sarapan, hehe) antara Indonesia dengan under-secretary general of UN, Mr. Sha ZuKang, disepakati bahwa hasil dari dialog ini akan menggunakan nama “Solo Initiaves”. Mr. Sha lebih menekankan pada pentingnya “institusionalisasi” dalam menjalankan program pembangunan berkelanjutan menuju RIO+20, sehingga beliau membuka seluas-luasnya ide, tanggapan dan saran yang diajukan delegasi selama dialog berlangsung untuk kemudian dirangkum ke dalam hasil dialog. Yang terpenting bagi Mr. Sha, pengelolaan program pembangunan berkelanjutan bisa meningkat hingga ke tingkat Council dibawah Majelis Umum PBB. Sementara bagi Indonesia, yang terpenting adalah kita bisa memainkan peran yang lebih besar dari sekedar “commenting the text”. Indonesia harus mulai memainkan peran sebagai negara yang “producing the text“.

Dialog intensif  pun berlangsung tiga hari (sejak pagi hingga menjelang maghrib), diselingi dengan dua kali makan malam kebudayaan yang dengan hebatnya disuguhkan oleh keluarga besar Kasunanan Surakarta dan kelompok kesenian yang dikelola Kabupaten Karanganyar. Sesuatu yang buat saya mengharukan adalah kedua kepala lembaga dan daerah sadar akan pentingnya mempromosikan budaya lokal sembari menghibur para delegasi yang tentu saja malam-malam itu berdecak kagum.

Dari Solo Initiatives ke Solo Message

Malam ketiga dialog menjadi menegangkan bagi delegasi Indonesia, karena menjadi titik penentuan bagi pengambilan kesimpulan dan hasil dialog yang akan disampaikan pada pagi hari keempat. Tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Luar Negeri berkumpul dalam satu ruangan, membaca setiap arsip verbatim record (detail notulensi dialog) yang tercatat sambil berusaha menarik benang merah dari setiap masalah yang dibahas. Hingga tiba saatnya kepada penentuan penyebutan hasil dialog … Tim dihadapkan pada dua pilihan, yaitu “Solo Initiatives” dan “Solo Message”.

Singkat cerita … Bagi Indonesia, intervensi yang berkepanjangan akan menjadi harga yang  terlalu mahal untuk dibayar,  pemilihan kata inisiatif bisa mengundang intervensi para delegasi dari negara lain. Pengambilan kesimpulan dialog tanpa intervensi adalah harga akhir. Maka pada diskusi internal yang berlangsung hingga sekitar pukul tiga pagi itu dipilihlah nama “Solo Message”. Untuk menghindari intervensi, Indonesia kembali melakukan lobby kepada Mr. Sha ZuKang, agar segera mensinkronisasikan pidato penutupnya pagi itu dengan substansi “Solo Message”.

Pagi hari keempat High Level Dialogue on Institutional Framework on Sustainable Development pun berlangsung. Sangat indah. Pidato penutupan dari Mr. Sha dilanjutkan dengan pidato dari Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Gusti Muhammad Hatta saling tersinkronisasi, bahwa dialog ini menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi terkait Pembangunan Berkelanjutan Global yang disebut sebagai “Solo Message” dan segera dibawa ke tingkat pembahasan berikutnya.

Catatan ini belum berakhir, saya akan membahas lebih dalam lagi. Sesegera mungkin.

Bersambung.

Catatan tentang “Solo Initiatives” dan Rio+20

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup berusaha untuk memperkuat perannya dalam tatanan global dengan meramu paket rekomendasi yang beberapa hari lagi disebut sebagai “Solo Initiatives”. Karenanya, Indonesia menjadi host-country dari sebuah dialog yang dinamakan: High Level Dialogue on Institutional Framework on Sustainable Development yang diadakan di Solo, 19-21 Juli 2011. Catatan ini bukan catatan harian si boy, tapi hasil pendengaran saya.

—-

Mengenai “Sustainable Development” atau juga dikenal sebagai Pembangunan Berkelanjutan, ada beberapa yang harus dirubah, utamanya adalah studi-studi yang dilakukan dari sekedar mendalami masalah lingkungan hidup, kini lebih jauh hingga keterkaitannya dengan masalah-masalah ekonomi dan sosial. Dus, tidak lagi sekedar membahas masalah seperti: preservasi ekosistem; sustain life support system, biodiversity, biocapacity; adaptasi dan mitigasi perubahan iklim; dan manajemen air bersih.

Tapi juga membahas hal-hal yang lebih kompleks seperti: (a) dari sisi ekonomi; ketahanan pangan, ketahanan energi, kebutuhan dasar, pembangunan infrastruktur, penghapusan kemiskinan, (b) dari sisi sosial; pembangunan sumber daya manusia, kesehatan, keadilan sosial, dan keterhubungan sosial. Luasnya bidang yang menjadi concern dari Pembangunan Berkelanjutan, membuat koordinasi lintas sektoral menjadi sangat penting di tingkat nasional dan lokal. Dan bila dipetakan dalam peta stakeholders kepentingan, dapat dibagi menjadi tiga: (1) Pemerintah, terkait sumber daya alam yang digunakan untuk pembangunan; (2) Pengusaha, terkait keuntungan ekonomi dari pembangunan; dan (3) Masyarakat Sipil, terkait keuntungan sosial dari pembangunan.

Saya tidak mewakili Pemerintah maupun Pengusaha ketika hadir dalam dialog ini, maka saya mewakili Masyarakat Sipil; saya, anda, kita semua. Dari catatan yang saya punya, Prof. Emil Salim menekankan pentingnya partisipasi masyarakat sipil dalam pembangunan yang berkelanjutan, karena mereka-lah yang paling berkepentingan di setiap masalah-masalah yang dibahas lebih lanjut di atas.

Pada tatanan global, negara-negara yang terlibat dalam penyusunan segala hal yang berkaitan dengan Pembangunan Berkelanjutan tentu saja memiliki kepentingan masing-masing yang dibawa dari tingkat regional, nasional dan lokal. Bayangkan tumpukan kepentingan-kepentingan itu dan bayangkan bagaimana cara membuatnya menjadi satu.

Oke, pembahasan ini masih panjang, nanti saya lanjutkan lagi. hehe…

Bersambung.

jalur gaza

Entah apa yang ada di benak Ehud Olmert ketika memberi perintah serangan yang membabi buta ke wilayah pemukiman penduduk di jalur Gaza. Kemarin siang, Olmert memberikan keterangan mengenai serangan tersebut bahwa serangan dilakukan untuk memerangi HAMAS dan bukan penduduk di pemukiman di Gaza. Namun, Israel akan menyerang siapapun mereka yang memiliki kaitan langsung dengan HAMAS, tambah Olmert.

Olmert dan seisi pemerintah Israel sedang bermain-main nampaknya. Mungkin mereka ingin menguji reaksi Internasional, dan tentu saja saudara tua Israel, Amerika Serikat. Presiden SBY meminta Dewan Keamanan mengambil langkah-langkah untuk menghentikan lontaran-lontaran bom Israel. Ban Ki Mon, sekjen PBB, telah memerintahkan gencatan senjata. Pemerintah Israel tidak ambil peduli. Hingga tadi malam, serangan yang membabi buta terus berlanjut.

Lagu perubahan yang dinyanyikan Obama pada saat kampanye, minggu ini diuji. Hanya Amerika yang mampu mematahkan dominasi kekuatan militer Israel di Timur Tengah. Amerika? Ya, negara-negara Arab terpecah belah terbagi menjadi faksi-faksi sejak Perang Teluk I, menyebabkan Timur Tengah mudah dikuasai sudut demi sudut secara geopolitik. Dan dari sekian banyak negara Arab, hanya Iran yang mungkin memiliki kekuatan besar dan non-sekuler. Masalahnya, Iran juga berpotensi untuk menyulut perang besar lainnya dengan Israel tentunya. Dendam kesumat baru yang takkan berkesudahan.

Israel punya nuklir. Israel saat ini juga memiliki teknologi paling mutakhir untuk menciptakan senjata perang. Iran juga mengembangkan hal yang sama. Demi menjaga keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Dunia percaya Iran tidak akan menggunakan sumber daya tersebut bila tidak terdesak. Tapi, dunia tidak akan pernah bisa percaya pada Israel. Ambisi pemerintah Israel dengan dalih holocaust di Jerman untuk berjuang merebut kembali tanah suci Jerusalem, telah mengorbankan banyak nyawa yang tidak terlibat dalam perang dan tidak memilik dendam sama sekali.

Alih-alih menghabisi HAMAS, serangan-serangan Israel yang serampangan justru menyulut api-api kecil dendam di dalam hati rakyat Palestina. Dan di keesokan hari mungkin lahir martir-martir muda HAMAS yang siap memecah kerumunan penduduk Israel.

Untuk Jihad?  Bukan, mereka sekedar membayar trauma dan dendam atas kehilangan.

::Arsip foto-foto pasca serangan Israel ke jalur gaza::