Catatan tentang “Solo Initiatives” dan Rio+20

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup berusaha untuk memperkuat perannya dalam tatanan global dengan meramu paket rekomendasi yang beberapa hari lagi disebut sebagai “Solo Initiatives”. Karenanya, Indonesia menjadi host-country dari sebuah dialog yang dinamakan: High Level Dialogue on Institutional Framework on Sustainable Development yang diadakan di Solo, 19-21 Juli 2011. Catatan ini bukan catatan harian si boy, tapi hasil pendengaran saya.

—-

Mengenai “Sustainable Development” atau juga dikenal sebagai Pembangunan Berkelanjutan, ada beberapa yang harus dirubah, utamanya adalah studi-studi yang dilakukan dari sekedar mendalami masalah lingkungan hidup, kini lebih jauh hingga keterkaitannya dengan masalah-masalah ekonomi dan sosial. Dus, tidak lagi sekedar membahas masalah seperti: preservasi ekosistem; sustain life support system, biodiversity, biocapacity; adaptasi dan mitigasi perubahan iklim; dan manajemen air bersih.

Tapi juga membahas hal-hal yang lebih kompleks seperti: (a) dari sisi ekonomi; ketahanan pangan, ketahanan energi, kebutuhan dasar, pembangunan infrastruktur, penghapusan kemiskinan, (b) dari sisi sosial; pembangunan sumber daya manusia, kesehatan, keadilan sosial, dan keterhubungan sosial. Luasnya bidang yang menjadi concern dari Pembangunan Berkelanjutan, membuat koordinasi lintas sektoral menjadi sangat penting di tingkat nasional dan lokal. Dan bila dipetakan dalam peta stakeholders kepentingan, dapat dibagi menjadi tiga: (1) Pemerintah, terkait sumber daya alam yang digunakan untuk pembangunan; (2) Pengusaha, terkait keuntungan ekonomi dari pembangunan; dan (3) Masyarakat Sipil, terkait keuntungan sosial dari pembangunan.

Saya tidak mewakili Pemerintah maupun Pengusaha ketika hadir dalam dialog ini, maka saya mewakili Masyarakat Sipil; saya, anda, kita semua. Dari catatan yang saya punya, Prof. Emil Salim menekankan pentingnya partisipasi masyarakat sipil dalam pembangunan yang berkelanjutan, karena mereka-lah yang paling berkepentingan di setiap masalah-masalah yang dibahas lebih lanjut di atas.

Pada tatanan global, negara-negara yang terlibat dalam penyusunan segala hal yang berkaitan dengan Pembangunan Berkelanjutan tentu saja memiliki kepentingan masing-masing yang dibawa dari tingkat regional, nasional dan lokal. Bayangkan tumpukan kepentingan-kepentingan itu dan bayangkan bagaimana cara membuatnya menjadi satu.

Oke, pembahasan ini masih panjang, nanti saya lanjutkan lagi. hehe…

Bersambung.

Indonesia di AFF

Saya memang bukan pengamat persepakbolaan yang baik. Tapi, kali ini saya ingin menulis sesuatu yang mungkin dirasakan juga oleh mereka yang sesama -bukan pengamat bola-.

Selama 10 tahun terakhir, sepakbola tidak pernah menjadi olahraga kebanggaan Indonesia. Kita bahkan hampir tidak punya kebanggaan sama sekali, hampir untuk semua hal. Saya ulangi, hampir semua hal. Kecuali mungkin pada beberapa olimpiade ilmu pengetahuan, seperti fisika, matematika dan dunia. Itu pun sangat jarang mendapatkan momentum hingga menjadi kebanggaan Indonesia. Nah, sepakbola dalam dua minggu terakhir mendapatkan momentum tersebut.

Momentum, momentum, momentum.

Titik yang mungkin belum tentu bisa dicapai lagi bahkan dalam hitungan dekade. Sebuah titik yang bila bisa dicapai akan membuat perubahan yang begitu besar pada suatu keadaan, keadaannya Indonesia.

Kenapa momentum dalam pertandingan-pertandingan sejak semifinal piala AFF menjadi begitu penting? Jawabannya sesederhana, rakyat Indonesia membutuhkan sesuatu yang bisa dibanggakan oleh mereka, yang bisa dibagikan dalam cerita di hari-hari esok walaupun kepada teman sendiri yang mungkin juga menyaksikan hal yang sama. Tapi, toh mereka bisa tersenyum mengenangnya.

Anda lihat kekecewaan rakyat Indonesia saat menyaksikan timnas yang kalah saat bermain tandang di Kuala Lumpur? Anda, harusnya bisa sadar dan dengan jelas mengatakan bagaimana wajah Anda saat melihat kiper timnas, Markus, di sorot dengan laser hijau? Atau saat Firman Utina sebagai pemimpin tim di lapangan memilih mengajak walk-out dari pertandingan setelah berusaha menerjemahkan kekhawatiran rekan-rekannya karena ditekan secara psikologis oleh pendukung tim Malaysia?

Saya ingin bertanya, bagaimana kecewanya wajah Anda saat menyaksikan pertandingan final AFF leg-1 di TV/ mendengarkannya di Radio? Bahwa setelah ditekan secara psikologis, mental pemain timnas Indonesia merosot tajam, dan kehilangan fokus untuk menjaga pertahanan hingga akhirnya gawang jebol tiga kali? Bagaimana kecewanya wajah Anda? Hancur ya? Berkeping-keping ya? :p

Agregat skor sementara untuk Indonesia 0-3.

Tim Indonesia sebetulnya beruntung karena pertandingan berlangsung dua kali menggunakan sistem home and away. Dan kita beruntung karena kesempatan kedua adalah pertandingan home, yang berarti kita punya home-supporters advantages. Karenanya, jangan kecewa dulu, sadari keuntungan itu. Hidupkan energi positif yang kita punya sehingga mental pemain tim kita bisa bangkit kembali. Anda sadarkan kalau energi, baik positif maupun negatif bisa menular? Bayangkan bila kita keburu kecewa, dan menularkan energi negatif kepada para pemain timnas? Habislah mereka. Sejarah tentang Indonesia yang juara piala AFF bisa batal ditulis. Kan?

Sekarang bayangkan juga bila rakyat Indonesia bisa menularkan energi yang positif kepada para pemain timnas? Terbayang kelak hasilnya? Mungkin, mungkin agregat skor sementara yang 0-3 itu bisa berubah menjadi 6-3. Mungkin? Kan?

Ingat energi dari Rakyat kita bila dikumpulkan bisa begitu besar. Semuanya dikembalikan kepada Anda, apakah ingin membantu timnas dengan membentuk medan energi positif dan mendorong timnas untuk segera bangkit, atau menjatuhkan timnas sendiri karena medan energi negatif yang tidak terkontrol, menular dan membuat mental pemain terperosok lebih jauh?

Saya? Saya sudah memilih untuk menularkan energi positif. Bagaimana dengan Anda?

 

Tiga cara pandang sebuah Partai Politik

National Institute for Democratic Governance (NIDG) tempat saya saat ini membangun karier merupakan sebuah lembaga yang berusaha untuk menjadi motor yang dapat mengubah Dewan Perwakilan Rakyat menjadi Lembaga Legislasi yang memiliki tata-kelola yang lebih akuntable, transparan, efektif dan efisien.

Dalam keseharian kerja kami, kerap berlangsung diskusi yang menarik terkait issue-issue tertentu. Di suatu sore yang sejuk, Bapak Marzuki Darusman, Advisor NIDG berbagi sedikit ilmu yang beliau miliki setelah bertahun-tahun berkarya di dunia politik. Berikut catatan saya ..

Cara pandang sebuah Partai Politik dapat dibagi ke dalam tiga hal, yaitu:

1. Cara pandang atas Pertumbuhan

Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang muncul adalah: Bagaimana Partai Politik melihat sektor ekonomi sebagai pendukung kehidupan berbangsa dan bernegara? Bagaimana kepentingan nasional itu akan diperjuangkan oleh Partai Politik untuk negara?

Partai Politik harus memiliki sikap dan cara pandang yang jelas dalam melihat, dan mendorong aspek Pertumbuhan Ekonomi.

Partai Politik sebagai representasi konstituen perlu menjadi yang terdepan dalam menjaga eksistensi (survivalitas) Bangsa dalam aspek pertumbuhan ekonomi.

Partai Politik saat ini cenderung bersikap oportunistik, ketimbang pragmatis. Seharusnya, sebuah Partai Politik memandang segala hal dengan pendekatan Pragmatis, sehingga dengan sadar mencari jalan keluar dari masalah yang menimpa Negara dan Bangsa tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dan nilai yang ada.

2. Cara pandang atas Persatuan dan Kesatuan

Dalam berbangsa dan bernegara, Partai Politik harus menjunjung prinsip Keadilan dan Kesamarataan. Karena kedua prinsip itu yang menjadi dasar penggerak dari terbentuknya Persatuan dan Kesatuan.

Bagaimana Partai Politik memandang individu yang hidup dalam sebuah masyarakat? Aspek tersebut bisa dilihat dari bagaimana Partai Politik memandang individu dalam masyarakat.

Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti: Bagaimana cara pandang dalam konservatifisme memperlakukan individu sebagai entitas yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri? Bagaimana cara pandang dalam liberalisme memperlakukan individu sebagai bagian utuh dan pelengkap dari masyarakat?

3. Cara pandang atas Hubungan Internasional

Bagaimana Partai Politik memperjuangkan nilai-nilai yang dijunjung oleh negara-negara di dunia?

Dalam memandang negara sebagai bagian dari lingkungan regional dan atau Internasional, Partai Politik harus mendorong negara dalam menginternasionalisasikan nilai-nilai universal yang dijunjung bersama. Sebagai negara demokrasi, misalnya, maka Indonesia harus menyebarkan nilai-nilai yang selama ini terinstitusionalisasi di dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Bagaimana Indonesia bisa bertahan dengan prinsip-prinsip demokrasi bila lingkungan negara-negara di sekitarnya tidak demokratis. Hal ini menjadi penting karena berpengaruh terhadap ruang gerak dalam internal lingkungan regional seperti ASEAN, atau dalam scope lainnya yang lebih kecil.

Demikian pointers acak yang bisa saya catat mengenai diskusi tersebut. Sebetulnya tulisan ini baru draft saja, nanti saya coba kembangkan lagi ya.

 

Diplomasi Ala Bugis

Sebelum saya menjabat sebagai WAPRES, karakter dan watak orang Bugis sangat jarang yang mengenalnya di belahan nusantara ini. Bahkan ada banyak pendapat yang keliru dan menyangka orang bugis adalah bangsa yang keras dan tidak pernah kenal kompromi. Ini jika melihat dari sejarah banyak yang menganggap bahwa orang bugis adalah bajak laut pada masa silam. Anggapan ini sungguh tidak berdasar dan keliru.

Orang bugis sebenarnya mempunyai cirri khas yang menarik. Dari sejarahnya kerajaan bugis didirikan bukan pada pusat-pusat ibu kota dan sangat jauh dari pengaruh India. Itulah sebabnya di Bugis tidak ada candi. Ini berbeda dengan kerajaan jawa yang mebangun pusat kerajaannya pada ibu kota dan bersifat konsentris.

Namun demikian, orang bugis sudah terkenal memiliki kebudayaan, mereka memiliki tradisi lisan maupun tulisan. Bahkan orang bugis memiliki salah satu epos terbesar di dunia yang lebih panjang daripada epos Mahabarata yakni cerita tentang lagaligo yang sampai saat ini sering dibaca dan disalin ulang dan menjadi budaya yang mengakar pada masyarakat bugis.

Bagi suku-suku lain, orang Bugis sering dianggap sebagai orang yang berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Bila perlu demi kehormatan, orang bugis bersedia melakukan kekerasan. Namun dibalik sifat itu semua, sebenarnya orang bugis adalah orang yang sangat ramah, menghargai orang lain dan menjunjung tinggi kesetiakawanan, bahkan bersedia menjadi bumper demi kesetiakawanan. (itulah mungkin sebabnya mengapa Golkar pada masa pemerintahan SBY-JK sering menjadi Bumper karena ia dipimpin oleh seorang yang sangat berwatak bugis).

Meskipun sebagai bangsa perantau, orang bugis selalu membawa identitas bugisnya di mana mana. Beberapa orang-orang di singapura dan Malaysia meskipun sudah menjadi warga Negara sana, dan mereka sudah bergaya hidup modern tapi mereka selalu mengaku sebagai orang Bugis meskpun sudah merupakan keturunan yang kesekian dan belum pernah menginjak tanah bugis.

Begitu juga dengan saya, selama terjun ke dunia politik saya tidak pernah melepas karakter bugis saya yang blak-blakan, dan sering dianggap kurang santun bagi mereka yang sangat menghargai etiket. Tapi itulah saya, saya sering mengatakan kepada teman-teman, jangan paksa saya jadi orang jawa. Menjadi orang bugis dan berkarakter keras kadang berguna juga. Waktu menyelesaikan kasus ambalat untuk pertama kalinya, saat itu saya menggunakan gaya diplomasi ala Bugis yang anda tidak dapatkan dalam literature strategi diplomasi.

Waktu itu saya ke Malaysia bertemu dengan Perdana Menteri yaitu Najib. Saat itu ia ditemani oleh 5 Menteri dan saya juga ditemani oleh 5 Menteri plus Dubes kita. Saat pertemuan itu saya bilang ke Najib, “Najib…Ambalat itu masalah sensitive, itu bisa membuat kita perang. Kalau kita perang, belum tentu siapa yang menang. Tapi satu hal yang mesti you ingat, di Malaysia ini ada 1 juta orang Indonesia, 1000 orang saja saya ajari Bom, dan mereka Bom ini gedung-gedung di Malaysia maka habislah kalian”.

Saat itu pak Najib kaget, dia sadar sebagai sesama Bugis, ancaman saya bukan hanya gertakan belaka. Dia bilang ke saya, “pak Jusuf, tidak bisa begitu”.

Saya bilang ke dia “makanya mari kita berunding, terus terang saya kadang tidak suka sama you punya Negara, Buruh-buruh Ilegal dari Indonesia ditangkapi kayak binatang, sedangkan majikannya tidak ditangkap, padahal kalau ada buruh Ilegal maka tentu ada juga majikan illegal. Setiap ada Ilegal loging pasti orang Malaysia yang ambil, begitu ada kebakaran hutan mereka marah-marah, padahal hampir sepanjang tahun mereka menghirup udara segar yang dihasilkan oleh hutan-hutan di Indonesia, satu bulan saja ada kabut asap mereka marah marah. Dan juga setiap ada ledakan Bom di Indonesia selalu orang Malaysia dalangnya”.

Waktu itu Pak Dubes langsung bisiki saya “Pak, Ini sepertinya sudah melewati batas diplomasi” Saya langsung bilang ke dia “kau kan Dubes, yah sudah kau perbaikilah mana yang lewat”.

Setelah itu, untuk menunjukkan ketidaksukaan saya kepada Malaysia saya menolak menginap di Kuala Lumpur, saya bilang saya mau menginap di kampong Bugis di Johor sana. Akhirnya pak Najib ikut juga saya ke sana. Di atas mobil, dalam perjalanan menuju Johor Pak Najib Bilang ke saya “ Kayaknya bapak terlalu keras tadi waktu berunding”.

Saya cuman bilang ke dia “kamu kan juga orang Bugis, kenapa kau tidak keras juga tadi?” mendengar itu dia cuman ketawa saja.

Malamnya di Johor, kita makan malam dan nyanyi-nyanyi, mengundang Siti Nurhaliza, sampai jam 1 malam dan kita ngantuk. Keesokan paginya kita main golf, dan saat itu juga masalah Ambalat selesai. Dengan gaya Diplomasi ala Bugis, saya tidak perlu memakai bahan yang sudah disiapkan oleh DEPLU semua spontanitas saja. Dan sampai sekarang kalau ada tentara Malaysia datang lagi di Ambalat, saya tinggal telpon Najib “Hey Najib, jangan lagi kau kirim, you punya tentara ke Ambalat, kita bisa perang nanti”.

Demikan juga waktu saya menyuruh EXXON supaya angkat kaki dari Blok Natuna. Waktu itu saya dikejar oleh orang-orang EXXON mereka mau melobi. Tapi saya selalu menolak ketemu dan menghindar. Saya ke Riyadh, mereka mau nyusul ke sana, saya ke Jedah mereka mau datang, tapi saya tolak karena saya mau ibadah dan sampai di belahan bumi manapun mereka kejar saya. Akhirnya waktu itu Di Makassar karena melihat kegigihan mereka, saya suruh mereka datang. Dan datanglah itu Chairman Exxon mereka 4 orang dan saya hanya ditemani oleh Sekretaris saya.

Saat pertemuan di Hotel Sahid Makassar, orang Exxon bilang ke saya, “Mr.Vice President, anda kalau membatalkan kontrak dengan EXXON, maka besok akan saya SU”. Saya langsung pukul meja saya dan bilang ke dia “kalau kau berani SU, maka saya akan SU kau 10 kali, Its my country, not your country, jangan kau datang ke sini mau ancam-ancam saya”.

Saat itu dia langsung minta maaf. Dan saat itu Blok Natuna kembali ke tangan kita pengelolaannya, meskipun pada akhirnya lepas lagi ke EXXON karena wewenang saya dicabut dan control tidak lagi berada di tangan saya. Apa pun itu, untuk kehormatan bangsa, kita jangan mau didikte oleh bangsa lain, kalau mereka keras, maka kita balas lebih keras lagi. Jangan pernah takut kita akan dibuat susah dan macam-macam. Selama kita yakin Tuhan selalu bersama kita, maka bangsa lain tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap kita.

oleh: Jusuf Kalla

Pemanasan Global

Definisi Pemanasan Global

Pemanasan global adalah peningkatan suhu udara di permukaan Bumi dan di lautan yang dimulai sejak abad ke-20 dan diprediksikan terus mengalami peningkatan. Ilmuwan lebih sering menggunakan terminologi “perubahan iklim” dengan asumsi: yang terjadi sekarang ini tidak hanya fenomena bertambah panasnya suhu udara, tetapi juga iklim yang berubah-ubah. Lho kok bisa? Ya, semuanya berasal dari bertambah panasnya suhu udara di Bumi yang kemudian terbawa oleh arus angin dan laut ke segala penjuru bumi. Pergerakan panas ini kemudian merubah pola iklim secara global, seiring berubahnya curah hujan dan salju yang turun ke suatu tempat.

Gejala Pemanasan Global

Suhu rata-rata udara di permukaan Bumi meningkat 0,75ºC pada abad lalu, tetapi naiknya berlipat ganda dalam 50 tahun terakhir. Badan PBB, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), memproyeksikan bahwa pada tahun 2100 suhu rata-rata dunia cenderung akan meningkat dari 1,8ºC menjadi 4ºC – dan skenario terburuk bisa mencapai 6,4ºC – kecuali dunia mengambil tindakan untuk membatas emisi gas rumah kaca. Sepertinya, angka itu tidak begitu berarti bagi Anda. Akan tetapi, Anda perlu tahu, selama Zaman Es terakhir sekitar 11.500 tahun yang lalu, suhu rata-rata dunia hanya 5ºC lebih rendah daripada suhu udara sekarang, dan saat itu hampir seluruh benua Eropa tertutup lapisan es tebal! Tren pemanasan ini terus berlanjut: 11 tahun terpanas dalam sejarah semuanya terjadi dalam 12 tahun terakhir.

Hubungan Pemanasan Global dengan Efek Gas Rumah Kaca

Bumi ini sebetulnya secara alami menjadi panas karena radiasi panas matahari yang masuk ke atmosfer. Panas ini sebagian diserap oleh permukaan Bumi lalu dipantulkan kembali ke angkasa. Karena ada gas rumah kaca di atmosfer, di antaranya karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitro oksida (N2O), sebagian panas tetap ada di atmosfer sehingga Bumi menjadi hangat pada suhu yang tepat (60ºF/16ºC) bagi hewan, tanaman, dan manusia untuk bisa bertahan hidup.3 Mekanisme inilah yang disebut efek gas rumah kaca. Tanpa efek gas rumah kaca, suhu rata-rata di dunia bisa menjadi -18ºC. Sayangnya, karena sekarang ini terlalu banyak gas rumah kaca di atmosfer, terlalu banyak panas yang ditangkapnya. Akibatnya, Bumi menjadi semakin panas.

Penyebab Pemanasan Global

Dalam laporan, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), satu badan PBB yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas. Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir! IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan nitro oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.

Marilah sekarang kita membahas apa saja yang menjadi sumber gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

Peternakan

Pada tahun 2006, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengeluarkan laporan “Livestock’s Long Shadow” dengan kesimpulan bahwa sektor peternakan merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global. Sumbangan sektor peternakan terhadap pemanasan global sekitar 18%,6 lebih besar dari sumbangan sektor transportasi di dunia yang menyumbang sekitar 13,1%.2 Selain itu, sektor peternakan dunia juga menyumbang 37% metana (72 kali lebih kuat daripada CO2 selama rentang waktu 20 tahun)2, dan 65% nitro oksida (296 kali lebih kuat daripada CO2).

Anda mungkin penasaran bagian mana dari sektor peternakan yang menyumbang emisi gas rumah kaca. Berikut garis besarnya menurut FAO:

Anda mungkin penasaran bagian mana dari sektor peternakan yang menyumbang emisi gas rumah kaca. Berikut garis besarnya menurut FAO:

1.     Emisi karbon dari pembuatan pakan ternak

a.   Penggunaan bahan bakar fosil dalam pembuatan pupuk menyumbang 41 juta ton CO2 setiap tahunnya

b.   Penggunaan bahan bakar fosil di peternakan menyumbang 90 juta ton CO2 per tahunnya (misal diesel atau LPG)

c.   Alih fungsi lahan yang digunakan untuk peternakan menyumbang 2,4 milyar ton CO2 per tahunnya, termasuk di sini lahan yang diubah untuk merumput ternak, lahan yang diubah untuk menanam kacang kedelai sebagai makanan ternak, atau pembukaan hutan untuk lahan peternakan

d.   Karbon yang terlepas dari pengolahan tanah pertanian untuk pakan ternak (misal jagung, gandum, atau kacang kedelai) dapat mencapai 28 juta CO2 per tahunnya. Perlu Anda ketahui, setidaknya 80% panen kacang kedelai dan 50% panen jagung di dunia digunakan sebagai makanan ternak.

e.   Karbon yang terlepas dari padang rumput karena terkikis menjadi gurun menyumbang 100 juta ton CO2 per tahunnya

2.     Emisi karbon dari sistem pencernaan hewan

a.   Metana yang dilepaskan dalam proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton per tahunnya.

b.   Metana yang terlepas dari pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per tahunnya.

3.     Emisi karbon dari pengolahan dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen

a.   Emisi CO2 dari pengolahan daging dapat mencapai puluhan juta ton per tahun.

b.   Emisi CO2 dari pengangkutan produk hewan ternak dapat mencapai lebih dari 0,8 juta ton per tahun.

Industri peternakan terkait erat dengan pola konsumsi daging. Baru-baru ini, badan PBB yang lain, yaitu United Nations Environment Program (UNEP) menegaskan dalam buku panduan “Kick The Habit” bahwa pola makan daging untuk setiap orang per tahunnya menyumbang 6.700 kg CO2. Saat ini, penduduk Bumi berjumlah sekitar 6,7 miliar orang. Bila 5 miliar orang di antaranya adalah pemakan daging, coba Anda hitung berapa triliun CO2 yang dihasilkan setiap tahunnya? Kita perlu memprogram ulang kebiasaan makan kita. Dan Anda perlu tahu, vegetarian, menurut laporan UNEP, hanya menyumbang 190 kg CO2 per tahunnya.

Pembangkit Energi

Sektor energi merupakan sumber penting gas rumah kaca, khususnya karena energi dihasilkan dari bahan bakar fosil, seperti minyak, gas, dan batu bara, di mana batu bara banyak digunakan untuk menghasilkan listrik. Sumbangan sektor energi terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 25,9%.

Industri

Sumbangan sektor industri terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 19,4%. Sebagian besar sumbangan sektor industri ini berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik atau dari produksi C02 secara langsung sebagai bagian dari pemrosesannya, misalnya saja dalam produksi semen. Hampir semua emisi gas rumah kaca dari sektor ini berasal dari industri besi, baja, kimia, pupuk, semen, kaca dan keramik, serta kertas.

Pertanian

Sumbangan sektor pertanian terhadap emisi gas rumah kaca sebesar 13,5%. Sumber emisi gas rumah kaca pertama-tama berasal dari pengerjaan tanah dan pembukaan hutan. Selanjutnya, berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk pembuatan pupuk dan zat kimia lain. Penggunaan mesin dalam pembajakan, penyemaian, penyemprotan, dan pemanenan menyumbang banyak gas rumah kaca. Yang terakhir, emisi gas rumah kaca berasal dari pengangkutan hasil panen dari lahan pertanian ke pasar.

Alih Fungsi Lahan dan Pembabatan Hutan

Sumber lain C02 berasal dari alih fungsi lahan di mana ia bertanggung jawab sebesar 17.4%. Pohon dan tanaman menyerap karbon selagi mereka hidup. Ketika pohon atau tanaman membusuk atau dibakar, sebagian besar karbon yang mereka simpan dilepaskan kembali ke atmosfer. Pembabatan hutan juga melepaskan karbon yang tersimpan di dalam tanah. Bila hutan itu tidak segera direboisasi, tanah itu kemudian akan menyerap jauh lebih sedikit CO2.

Transportasi

Sumbangan seluruh sektor transportasi terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 13,1%. Sektor transportasi dapat dibagi menjadi transportasi darat, laut, udara, dan kereta api. Sumbangan terbesar terhadap perubahan iklim berasal dari transportasi darat (79,5%), disusul kemudian oleh transportasi udara (13%), transportasi laut (7%), dan terakhir kereta api (0,5%).

Hunian dan Bangunan Komersial

Sektor hunian dan bangunan bertanggung jawab sebesar 7,9%. Namun, bila dipandang dari penggunaan energi, maka hunian dan bangunan komersial bisa menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang besar. Misalnya saja dalam penggunaan listrik untuk menghangatkan dan mendinginkan ruangan, pencahayaan, penggunaan alat-alat rumah tangga, maka sumbangan sektor hunian dan bangunan bisa mencapai 30%. Konstruksi bangunan juga mempengaruhi tingkat emisi gas rumah kaca. Sebagai contohnya, semen, menyumbang 5% emisi gas rumah kaca.

Sampah

Limbah sampah menyumbang 3,6% emisi gas rumah kaca. Sampah di sini bisa berasal dari sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah (2%) atau dari air limbah atau jenis limbah lainnya (1,6%). Gas rumah kaca yang berperan terutama adalah metana, yang berasal dari proses pembusukan sampah tersebut.

Sumber Acuan:

1 Wikipedia

2 IPCC

3 News BBC

4 European Commision

5 National Geographic

6 FAO

7 Pubmedcentral

8 Control.com.au

9 UNEP